Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 64 - Ingin Turun Gunung


__ADS_3

Lina telah berusaha untuk turun dari gendongan Wiro. Dia ingin sekali mengatakan sesuatu kepada Saga. Meskipun Lina tidak ada daya untuk berbicara, dia tidak ingin pergi seperti ini.


"Aku sudah menyakiti hati Saga sekali, aku tidak ingin menyakitinya lagi."


Tapi Wiro, dia sedikitpun tidak melonggarkan pegangannya pada Lina, dia terus memegang Lina dalam gendongannya dengan sangat erat. Dia takut, Linanya akan diculik lagi.


Lina berusaha menjulurkan lehernya untuk melihat ke belakang, untuk melihat Saga lagi.


Tapi, Uriel yang berjalan di belakang Wiro, telah menghalangi pandangan Lina dengan tubuhnya.


Kini Lina hanya bisa menatap Uriel, dengan sorot matanya yang masih berkaca-kaca.


Uriel pun balas menatapnya dengan tatapan sayangnya, dan dengan senyuman lembutnya yang terlihat menenangkan.


Saat Saga melihat mereka membawa Lina pergi, dia merasa, saat itulah seluruh hatinya ikut terbawa pergi.


Bahkan, hingga tiba masanya musim semi yang hangat, tetap tidak ada yang bisa memberinya kehangatan.


Dia kini harus sendiri lagi.


............


Kini Lina telah berada di rumah.


Setelah satu malam, secara ajaib, suaranya telah kembali normal.


Lina segera mengangkat selimutnya, dan begitu dia menginjakkan kakinya ke tanah, dia segera ditahan oleh Uriel yang segera masuk ke kamar.


Uriel menekan tubuh Lina untuk kembali berbaring di tempat tidur dan berkata dengan lembut, "Tubuhmu masih belum sepenuhnya pulih. Jangan kemana-mana. Kamu masih harus istirahat."


"Aku baik-baik saja. Aku tidak ingin terus-terusan berbaring di tempat tidur," kemudian Lina duduk dan lanjut berkata, "Aku ingin turun gunung."


Sebenarnya, Lina ingin turun gunung untuk mencari Saga, tapi dia bisa melihat kalau Uriel tidak suka bila dia pergi menemui Saga. Jika Lina mengatakan yang sebenarnya, Uriel pasti tidak akan setuju bila dia turun gunung.


"Tidak, kamu harus tetap berbaring di rumah, dan kamu tidak boleh pergi ke mana pun."


Nada bicara Uriel masih sangat lembut, tetapi kata-katanya sangat tegas dan tidak ada ruang bagi Lina untuk membantah.


Lina menatapnya dengan sorot matanya yang memohon, "Tapi aku harus menyirami tanaman-tanamanku.."


"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan tentang kebun. Aku sudah meminta Wiro untuk menyiraminya." Kata Uriel.


"Tapi, bukankah Wiro akan pergi berburu?" Tanya Lina dengan ekspresi bingungnya.


Uriel pun menatapnya sambil tersenyum. Sepertinya dia terpikirkan suatu cara.


"Aku pikir, kamu akan bertanya tentang luka pada kaki Wiro yang terlihat serius, tapi kamu malah memikirkan tentang kebunmu. Aku tidak menyangka, kalau kamu ternyata tidak peduli tentang hidup dan matinya Wiro. Tampaknya Wiro tidak begitu penting di hatimu."


Mendengar Uriel berkata seperti itu, Lina pun menjadi gugup dan bertanya, "Apakah Wiro terluka..? Apa yang sudah terjadi..?"


"Demi untuk merebutmu kembali, dia sampai digigit oleh ular besar. Di sepanjang jalan saat dia membawamu pulang, lukanya terus menerus mengeluarkan darah. Apa kamu tidak melihatnya?"


Lina, "....."


Mendengar itu, kepalanya pun tertunduk. Lina menundukkan kepalanya karena merasa malu.

__ADS_1


Memang, saat itu Lina mengkhawatirkan Saga, sehingga dia tidak menyadari kalau Wiro terluka.


Dengan lembut Uriel lanjut berkata, "Kalau Wiro tahu kamu tidak peduli padanya, dia pasti akan marah lagi."


Kini Lina tahu kalau Wiro dalam masalah, dan dia tidak berani membahas soal turun gunung lagi. Lina yang merasa khawatir pun bertanya, "Sekarang, bagaimana dengan kondisi luka Wiro? Apa aku bisa menemuinya?"


"Dia masih ada di kebun menyirami sayur-sayuran. Nanti dia akan kembali eh bukan, lebih baik jangan biarkan Wiro untuk pulang dulu, suruh dia untuk pergi berburu di hutan sampai malam. Bagaimana menurutmu?"


Lina memahami ironi dalam kata-katanya, dan merasa semakin malu. Dia pun berkata dengan suara lirih, "Maaf..."


"Kamu tidak perlu meminta maaf padaku. Lagi pula, bukan aku yang terluka." Ucap Uriel dengan lembut.


"Lalu, kapan Wiro akan kembali?" Tanya Lina dengan nadanya yang sedikit cemas.


Uriel memandangnya.


"Jika kamu tidak ingin dia berburu dengan keadaanya yang sedang terluka, maka kamu harus segera bangkit."


Uriel hanya tersenyum diam, sambil memandang kearah gadis kecilnya.


Ya. Benar saja, untuk memancing Lina yang berhati lembut, daging yang pahit adalah umpan yang terbaik untuk digunakan.


Ternyata, tidak sia-sia Wiro terluka.


Tak lama berselang, Wiro pun kembali.


Begitu dia memasuki ruangan, dia melihat Uriel sedang berada di dekat kamar utama.


Mereka berdua diam-diam mengintip ke arah kamar tidur utama, kemudian berjalan agak menjauh dari kamar dan berbicara dengan merendahkan suara mereka.


Wiro bertanya, "Bagaimana keadaan Lina sekarang?"


Wiro yang temperamental, sudah pasti langsung tersulut emosinya mendengar perkataan Uriel, dia pun berkata, "Tunggu sampai lukaku benar-benar sembuh, setelah itu, aku akan membawa saudara-saudara serigala untuk membunuh ular itu!"


Uriel menatapnya dengan tenang.


"Bahkan jika kamu memang membunuhnya, jangan sampai Lina mengetahuinya, atau dia pasti akan marah padamu."


Wiro bergumam dan merasa tidak puas, "Aku heran, di mana Lina bisa kenal dengan ular besar itu? Dia dingin dan jahat, dan giginya pun beracun, dia tidak pantas untuk Lina!"


Uriel melambaikan tangannya dan berkata, "Tentang itu tidak usah kamu pedulikan, saat ini kamu hanya perlu memanfaatkan keadaanmu yang terluka, untuk menahan Lina. Jangan biarkan dia turun gunung."


Wiro berkata penuh percaya diri, "Jangan khawatir, aku tidak akan membiarkan dia menemui ular itu!"


...........


Lina yang tidak bisa tidur dengan nyenyak, segera bangun saat mendengar suara-suara yang samar di luar kamar.


"Apa Wiro sudah pulang?"


Begitu suara Lina terdengar, Wiro segera menyeret kaki kanannya yang terluka dan tertatih-tatih masuk ke dalam kamar.


"Ya, aku sudah pulang."


Kakinya terbungkus kulit binatang dan lukanya terlihat sangat serius.

__ADS_1


Lina bergegas untuk memapahnya, dan membawanya untuk duduk di tempat tidur.


"Kamu sedang terluka, jangan terlalu sering turun gunung dulu."


Wiro pun mendengus, "Kalau aku tidak turun gunung, lalu siapa yang akan menyirami kebun sayur bayimu?"


Lina berkata, "Kan bisa Uriel yang menggantikanmu turun gunung, atau aku juga bisa. Lagi pula, sekarang aku sudah hampir sembuh kok."


"Tidak, kamu harus banyak beristirahat ​​di rumah selama beberapa hari ini. Kamu tidak diizinkan untuk pergi ke mana pun. Uriel lah yang bertanggung jawab untuk mengawasimu." Wiro menolak saran dari Lina.


Pada kenyataannya, Wiro sebenarnya ingin tinggal di rumah dan mengawasinya sendiri, tetapi ia menyadari, kalau Lina lebih mendengarkan kata-kata Uriel daripada dirinya. Selain itu, Uriel juga memiliki pikiran yang halus dan berhati-hati dalam setiap pekerjaannya. Selama ada dia, Lina tidak akan bisa turun gunung untuk menemui ular itu.


Meskipun bagi Wiro, Uriel itu sangat menjengkelkan, tetapi saat berhadapan dengan musuh, Wiro memutuskan untuk bersatu dengan Uriel.


Lina merasa tak berdaya sambil menatap Wiro.


"Aku bukan anak kecil yang harus selalu diawasi setiap saat."


Wiro mendengus, "Eh kata siapa? Selain tubuhmu yang kecil, kamu itu juga lebih mengganggu daripada anak kecil."


Lina pun merasa tidak terima.


"Aku keberatan! Kamu menyerang personal lagi."


Wiro pun dengan santai menyahut, "Keberatan ditolak lagi!"


Setidaknya, anak-anak tidak pergi keluar dan kembali pulang dengan membawa saingan cinta.


Lina melepaskan perban sederhana terbuat dari kulit binatang yang membalut luka di kaki Wiro, dan dengan hati-hati mengamati luka-lukanya.


"Dia hanya menyeka dengan daging buah harum segar, tapi dia tidak membersihkan lukanya. Ada tanah dan beberapa darah yang mengerak di lukanya."


"Lukanya tidak bersih, apa kamu tidak takut bila lukamu sampai meradang dan terkena infeksi?" Tanya Lina sedikit kesal.


Wiro tidak tahu apa artinya peradangan dan infeksi, kemudian dia berkata dengan gaya angkuhnya, "Aku bukan Dukun, darimana aku tahu caranya membalut luka?"


Lina, "....."


Lina hanya diam dan mengambil air ajaib, kemudian dengan hati-hati membersihkan luka pada kaki Wiro, lalu mengoleskan kembali buah harum segar dan membungkusnya dengan perban yang terbuat dari kulit binatang.


"Selama beberapa hari ini, kamu harus tetap berada di rumah untuk beristirahat. Jangan pergi kemana-mana. Lukanya juga tidak boleh terkena air. Jika lukanya sampai infeksi dan meradang, kakimu harus diamputasi!"


"Amputasi? Apa itu?" Tanya Wiro dengan alisnya yang berkerut.


Dengan ekspresinya yang dibuat serius, karena masih merasa sedikit kesal terhadap Wiro, Lina menatap serius kearah wajah Wiro, kemudian meletakan pinggir telapak tangannya pada lutut Wiro, dan membuat gerakan berulang-ulang seperti orang yang sedang memotong.


"Tahu apa maksudnya ini?!"


Wiro pun terkejut dan berkata, "Hah?! Potong kaki??"


Kemudian Lina bertanya dengan nada suaranya yang terdengar serius, "Apa kamu percaya pada kemampuanku?"


Wiro pun mengangguk-anggukan kepalanya tanpa ragu.


"Aku percaya. Aku percya."

__ADS_1


Melihat ekpresi Wiro yang mulai terlihat sedikit panik, Lina pun merasa lucu. Dalam hatinya sedikit tertawa, tetapi mulutnya tetap bicara dengan serius tentang kondisi luka Wiro yang sebenarnya, "Jika aku mengatakan aku bisa mengamputasi kakimu, aku pasti akan mengamputasinya. Jangan kamu pikir aku sedang bercanda denganmu."


Wiro melihat Lina berkata dengan sungguh-sungguh, rasa percayanya terhadap Lina pun juga semakin bertambah. Jadi, dia menuruti saja apa perkataan Lina.


__ADS_2