
Es dan salju mulai mencair, dan iklim pun mulai memanas dari hari ke hari.
Wiro telah beberapa kali meminta untuk berubah ke wujud binatangnya, sebelum dia naik ke ranjang untuk k*w*n dengan Lina. Hal itu ingin dia lakukan supaya Lina bisa hamil.
Hasilnya, dia selalu ditolak mentah-mentah oleh Lina.
Dasar Wiro, dia tetap tidak mau menyerah.
"Musim dingin hampir berakhir, jika kamu tidak hamil sekarang, kamu tidak akan bisa melahirkan bayi di musim semi!"
"Sekarang aku belum ingin hamil!" Lina tetap menolak keinginan Wiro.
Wiro bertanya dengan serius, "Terus, kapan kamu ingin hamil?"
Lina berencana menunggu sampai musim dingin berikutnya bila dia ingin hamil, tetapi dia tidak mengatakan tentang hal itu, dia hanya mendengus, "Semua itu tergantung pada kinerjamu!"
Mendengar itu, Wiro pun langsung mengerutkan keningnya.
"Apa kinerjaku tidak bagus? Jika kamu merasa tidak puas dengan kinerjaku, aku bisa mengubahnya!"
Kemudian Lina meliriknya, "Pertama-tama, kamu harus mengenakan pakaianmu."
Berlari telanjang di siang bolong, apalagi barangnya yang sangat tebal, sungguh membuat panas di mata.
Wiro tetap menolak, "Bagaimana bisa k*w*n kalau memakai pakaian?"
"Sekarang aku tidak ingin k*w*n, aku hanya ingin tidur siang."
"Kenapa?" Tanya Wiro. Kemudian dia lanjut berbicara dengan nada suaranya yang terdengar memerintah, "Bukankah semalam kamu sudah k*w*n dengan Uriel, sekarang giliranku untuk k*w*n denganmu!"
Lina tidak menggubrisnya, dia segera membungkus dirinya dengan selimut kulit binatang, memejamkan matanya dan, "Zzzzz..."
Wiro, "....."
...........
Para Orc yang terluka, kini berangsur-angsur telah pulih.
Ramuan di rumah Dukun tua semuanya telah dirampok oleh para Serigala Air Hitam, saat mereka menyerang Gunung Batu. Tapi kemudian diambil kembali oleh Wiro. Oleh karena itu, kini penyimpanan bahan obat sangat memadai, dan Lina juga tidak perlu mengkhawatirkan hal itu.
Saat ini, Lina lah yang menggantikan posisi sebagai Dukun. Jika ada yang mengalami sakit kepala dan demam, mereka akan menemuinya untuk berkonsultasi. Dan hasil umumnya, mereka semua pun sembuh.
Lina tidak memberikan mereka perlakuan yang khusus. Sebagian besar yang dia lakukan, hanya mengandalkan catatan yang ada di kulit bergambar, dan kemudian memberikan resep sesuai dengan kondisi yang sedang dialami oleh pasien.
Ada hal lain yang harus mereka selesaikan, secepatnya.
Karena es dan salju yang mulai mencair, sisa-sisa jasad Orc yang awalnya ditempatkan di pintu masuk gua juga harus segera ditangani. Jika ditunda lagi, saat es dan salju mencair seluruhnya, jasad-jasad itu akan segera membusuk.
__ADS_1
Di mata para Orc, tidak ada istilah penguburan. Cara mereka menangani jasad adalah dengan membuangnya begitu saja.
Dikatakan bahwa di belakang Gunung Batu, terdapat sebuah lubang besar. Di tempat itulah para Orc berencana membuang jasad-jasad tersebut.
Lina tidak ikut pergi untuk melihat lubang itu, dia juga tidak tertarik tentang tempat itu. Dia juga tidak menyetujui, jika membuang semua jenazah tersebut begitu saja.
"Bagaimanapun juga, merekalah yang telah mengorbankan nyawanya untuk melindungi kita. Akan sangat tidak berterima kasih, bila kita membuang jasad-jasad mereka begitu saja."
Kemudian dia berpikir sejenak, setelah itu dia berkata, "Lebih baik kita kremasi."
Selain memikirkan tentang kremasi, Lina juga berpikiran untuk memakamkan mereka. Pemakaman lebih sesuai dengan cara tradisional, tetapi dirasa akan sangat merepotkan bagi mereka. Lagi pula, ada begitu banyak Orc yang tewas. Pasti akan butuh waktu lama untuk mereka menggali lubang. Dan yang paling utama, jika suatu saat suku itu pindah, tidak mungkin juga bila makam tersebut ikut dipindahkan bersama mereka.
Jadi Lina langsung mengusulkan kremasi.
Sederhana dan sangat sesuai dengan lingkungan dan kebiasaan hidup mereka saat ini. Dijaman dan dunia yang primitif ini.
"Kremasi??" Wiro tidak mengerti apa itu kremasi.
Lina pun menjelaskan metode dan pentingnya kremasi kepada Wiro, dan fokus pada manfaat kremasi.
Setelah mendengar penjelasannya, Wiro terdiam untuk waktu yang lama.
Lina berpikir kalau Wiro tidak setuju, diapun merasa sedikit gelisah.
"Apa kamu tidak setuju bila jenazah-jenazah itu dikremasi?"
"Bukan begitu, aku hanya berpikir, andaikan saja dulu saat ayahku meninggal, aku melakukan kremasi pada jasadnya." Jawab Wiro.
"Itu sudah berlalu." Kata Lina mencoba menenangkan Wiro, sambil mengusap kepalanya.
...........
Saat ini, Wiro telah memerintahkan kepada yang lain, untuk mengkremasi jasad para Orc yang tewas.
Mereka meletakkan banyak jasad di atas tumpukan-tumpukan kayu, menyalakannya dan membakarnya. Tak lama, api pun berkobar sangat besar dan membumbung tinggi. Hembusan angin juga membawa asap beraroma daging terbakar.
Seluruh Orc dari klan Serigala Batu, keluar dari gua untuk ikut melihat proses pembakaran jenazah. Sebagian besar dari mereka yang baru pertama kali melihat api, terkejut dan tetap melihat. Beberapa orang yang takut dengan api, memutuskan untuk kembali masuk kedalam gua dan tidak berani keluar sampai api padam.
Lina yang menghadap ke arah api, dia berlutut di tanah dan mengucapkan terima kasih atas pengorbanan mereka.
Wiro yang terkejut dengan tindakannya pun bertanya, "Apa yang sedang kamu lakukan?"
Lina tidak tahu bagaimana menjelaskannya, dia mencoba memikirkannya sejenak, mencari kata yang bisa dipahami oleh mereka. Lalu dengan santai menjawab dengan sebuah kalimat.
"Aku sedang menghibur jiwa mereka yang mati, berharap mereka bisa beristirahat dengan tenang di langit."
Para Orc sangat percaya takhayul tentang hantu dan dewa. Setiap tahun, mereka mengadakan pengorbanan rutin dan memohon kepada para dewa. Mereka memohon untuk mendapatkan lebih banyak mangsa dan lebih banyak anak di tahun ini.
__ADS_1
Membayangkan bila hantu Sito Gering mungkin sedang memperhatikan dirinya, Wiro merasa seperti ada gunung yang membebani hatinya. Dia mengikuti apa yang telah Lina lakukan, kemudian berbicara dengan serius dan penuh hormat.
"Dukun tua, kami telah membalaskan dendammu, sekarang kamu bisa pergi dengan tenang."
Lina pun membiarkan Wiro ikut melakukan seperti apa yang telah dia lakukan.
Percakapan Wiro dan Lina tidak bisa disembunyikan dari para Orc lain yang berada di situ, itu karena pendengaran Orc sangat tajam.
Orc percaya akan takhayul, tetapi jika menyangkut hantu dan roh, mereka tidak perlu alasan lagi untuk bisa percaya.
Sejumlah besar Orc pun ikut berlutut, sama seperti yang Lina lakukan.
Ketika Lina berdiri, dia melihat banyak Orc yang sedang berlutut di belakangnya. Hal itu membuat dia sangat terkejut dan hampir jatuh ke tanah.
Untungnya, Uriel melihatnya dan cepat menahannya tepat waktu.
Lina masih sangat terkejut.
"Mereka.. Apa yang kalian lakukan?"
Tetapi Uriel berkata dengan lembut, "Bukankah tadi kamu mengatakan, berlutut dan menghibur jiwa mereka? Jadi mereka semua melakukannya bersama-sama. Dengan orang sebanyak ini, aku yakin kalau jiwa mereka akan mendengar kita."
Melihat semua orang berlutut dengan sangat serius, Lina akhirnya tidak membuka mulutnya untuk menjelaskan yang lebih rinci lagi kepada mereka.
Bagaimanapun juga, tidak ada salahnya untuk mendoakan nenek moyang kita. Setidaknya, mengembangkan peradaban spiritual para Orc ini terlebih dahulu.
Ketika jasad-jasad tersebut telah terbakar habis, Lina meminta orang-orang untuk memasukkan abunya ke dalam toples besar, dan menutupnya dengan rapat menggunakan kulit binatang, kemudian dia berkata kepada Wiro, "Simpan dengan baik. Semua abu para pahlawan suku Serigala Batu ada di toples ini."
Wiro hanya menganggukan kepalanya, tanda dia mengerti.
Setelah kejadian ini, identitas Lina sebagai Dukun kembali mendapat penegasan dari semua orang.
Yang disebut Dukun, biasanya mengetahui sihir tertentu.
Lina yang berlutut untuk menghibur jiwa-jiwa para korban yang tewas, di mata para Orc, itu juga semacam sihir.
Kini Lina sudah dianggap tahu tentang sihir dan obat-obatan. Tidak ada yang lebih cocok untuk menjadi Dukun selain dia.
Dalam pemahaman mereka yang aneh ini, setiap wanita yang akan melahirkan, mereka pasti selalu meminta Lina untuk hadir. Tampaknya, selama ada gadis itu, para betina itu merasa kalau mereka akan dapat melahirkan banyak anak serigala yang kuat.
Untuk itu, Lina hanya perlu merentangkan tangannya. Dan mereka pun akan sangat senang.
...........
Musim semi telah resmi datang, salju di hutan telah benar-benar hilang, dan iklim pun kini telah menjadi hangat. Cabang-cabang yang layu telah tumbuh, hewan-hewan bangun dari hibernasi mereka, dan mulai bergerak di pegunungan dan hutan.
"Akhirnya, kita bisa berburu lagi!" Seru Wiro.
__ADS_1
Wiro membawa para Orc untuk berburu di pegunungan. Sesekali, Uriel juga pergi berburu, tetapi dia hanya berburu sendirian, tidak bergerak bersama mereka.
Meskipun begitu, hasil buruan yang Uriel bawa, tidak kalah dengan para serigala.