
Leon mengembangkan sayapnya yang lebar berwarna merah, memegang Lina dan terbang di atas hutan.
Dari atas ke bawah, Lina bisa melihat seluruh hutan dengan jelas.
Tak lama kemudian, mereka bisa melihat Uriel.
Uriel terluka, dan bau darah dari lukanya segera menarik binatang buas yang ada di hutan.
Disebelahnya terlihat binatang besar yang tampak seperti beruang. Seluruh tubuhnya ditutupi dengan rambut hitam pendek dan terlihat sangat ganas.
Uriel hanya membutuhkan waktu sebentar saja untuk mengalahkan binatang itu.
Pada saat ini, Leon baru saja turun dari langit. Tapi sebelum Leon bisa berdiri diam, Lina sudah tidak sabar untuk melepaskan tangan Leon dan dengan cepat segera berlari ke arah Uriel.
Hal itu sontak saja membuat Uriel sangat terkejut saat melihat kedatangan Lina.
"Lina, kenapa kamu ada di sini?"
Dengan cepat Uriel menyeka noda darah yang ada di tubuhnya dan segera memeluk gadis kecilnya.
Lina tidak menyukai bau darah yang ada di tubuh Uriel, tapi dengan penuh kasih, Lina tetap memeluk dan mengusap dada Uriel.
"Aku sangat mengkhawatirkanmu, jadi aku meminta tolong pada Leon untuk membawaku kemari mencarimu."
Kemudian Uriel menatap Leon dan meminta maaf padanya, "Maaf, aku telah merepotkan dirimu."
Saat Leon melihat penampilan intim mereka berdua, dia merasa sedikit iri.
"Dia memang benar-benar masalah besar. Jika saja hari ini aku sedang tidak dalam suasana hati yang baik, aku tidak akan pernah peduli tentang hal-hal seperti ini."
Lina mengangkat kepalanya, menatap Uriel, kemudian berkata, "Aku sudah berjanji padanya, akan membuatkan dua burung panggang besar untuknya malam ini, oleh karena itulah dia setuju membawaku kemari untuk mencarimu."
Tapi Leon berkata, "Aku suka makan ayam panggang buatanmu. Ini adalah suatu kehormatan bagimu. Aku tidak suka jika orang lain yang membuatkannya untukku."
Kemudian Uriel mengusap kepala Lina, sambil matanya menatap Leon.
"Ngomong-ngomong, terima kasih telah menjaga Lina dan rumah kami selama dua hari ini."
Leon yang sudah tidak tahan melihat penampilan mereka yang intim dan lengket, segera mengepakan sayapnya dan terbang.
Sebelum dia pergi, dia tidak lupa untuk mengingatkan Lina, "Ingat, saat pulang nanti, buatkan aku burung pegar panggang!"
"Tenang saja." Jawab Lina.
Begitu Leon pergi, Lina segera bertanya kepada Uriel tentang keberadaan Saga.
Kemudian Uriel menceritakan tentang Saga yang kembali membangkitkan darah iblis monsternya, yang telah membuatnya menjadi gila dan kehilangan kendali.
Meskipun Uriel mengatakannya dengan ringan, tapi bagi Lina masih mendebarkan untuk didengar.
Lina berkata, "Sekarang Saga sedang berada di jalan buntu, dia pasti berpikiran kalau dirinya adalah bom waktu, yang tidak tahu kapan akan meledak dan membawa bahaya bagi orang-orang yang ada di sekitarnya. Kita harus segera menemukannya dan menariknya keluar dari jalan buntu."
Mendengar itu, Uriel mengerutkan keningnya dan berkata, "Aku sudah mengikuti bau milik Saga disepanjang jalan ini, tapi baunya hilang di sini. Aku sudah mencari-carinya untuk waktu yang lama, tapi aku tetap tidak bisa menemukan jejaknya."
Jika bukan karena Uriel berlari bolak-balik untuk mencari keberadaan Saga, lukanya pasti tidak akan semakin robek. Yang menyebabkan bau darahnya menarik para binatang buas, untuk mendekati dan menyerang dirinya.
Saat ini Lina sedang melihat sekeliling.
"Aku merasa familiar dengan tempat ini."
__ADS_1
"Sepertinya aku pernah datang ke tempat ini ..." Ucap Lina agak sedikit kurang yakin.
Uriel terkejut saat mendengar apa yang Lina katakan, “Kapan kamu pernah datang ke tempat ini? Dengan siapa kamu datang kemari?”
“Belum lama ini, Saga yang membawaku ke sini!” Jawab Lina.
Setelah selesai berkata, tiba-tiba Lina mulai mengingatnya.
"Tempat ini sangat dekat dengan danau yang penuh dengan kunang-kunang. Terakhir kali Saga membawaku ke danau, dia melewati tempat ini."
Setelah itu Lina segera berlari menuju ke arah danau.
Uriel segera mengejarnya dan meraih tangannya agar tidak terjatuh.
Tak lama kemudian mereka melihat danau yang tersembunyi jauh di dalam hutan.
Air danau itu tenang. Saat ini siang hari, kunang-kunang tidak keluar. Hanya sinar matahari yang masuk melalui celah-celah dedaunan, membentuk cahaya tipis yang terlihat seperti kilauan emas di air danau.
Air danau yang sebelumnya hijau dan dingin, saat ini tampak sedikit hangat.
Lina berhenti di tepi danau sambil melihat kesekeliling danau, tapi tetap tidak bisa melihat bayangan Saga. Hal ini jelas menbuat Lina tidak bisa menahan perasaan kecewanya.
"Apakah Saga tidak datang ke sini ..."
Tetapi Uriel berkata, "Dia ada di sini."
"Benarkah?" Tanya Lina yang terkejut dan sedikit merasa senang.
"Aku bisa mencium baunya," setelah berkata seperti itu, kemudian Uriel menundukkan kepalanya dan memandangi air danau yang ada di bawahnya. Tiba-tiba terdengar suara Uriel yang dalam dan serius, "Saga Bergola, jangan terus bersembunyi. Keluarlah, mari kita bicara."
Setelah hening untuk waktu yang lama, akhirnya mereka bisa melihat Ular Piton hitam perlahan-lahan muncul dari dasar danau.
"Saga, kamu benar-benar ada di sini!"
Saat ini Ular Piton sedang menatap Lina dengan sorot mata hitamnya yang dingin.
"Lina, seharusnya kamu tidak datang ke sini."
"Aku sangat mengkhawatirkan dirimu. Maukah kamu pulang bersamaku?" Lina memohon kepada Saga.
Mendengar permohonan Lina padanya, Ular Piton itu hanya berkata dengan ringan, "Aku tidak ingin bicara."
Lalu Lina berseru, "Siapa yang tidak ingin bicara?"
Ular Piton, "....."
"Tidak peduli apa yang sedang kamu pikirkan, kamu bisa memberitahukannya kepada kami, kita ini adalah keluarga. Tidak peduli seperti apa dan di mana kita sedang berada dalam masalah, kita semua harus tetap berada di perahu yang sama dan menghadapinya bersama-sama." Ucap Lina yang sedang membujuk Saga.
Ular Piton menundukkan kepalanya, sorot matanya kosong menatap ke air danau.
"Aku tidak ingin menyakitimu, sebaiknya kamu pergi bersama dengan Uriel."
Ular Piton kini siap untuk menyelam lagi ke dasar danau.
Melihat hal itu, Lina segera berteriak, "Saga! Jangan pergi!" Karena terburu-buru, Lina bahkan sampai lupa kalau ada danau di depannya.
Dia mulai mengangkat kakinya dan berlari untuk mendekati Saga.
Akibatnya, satu kakinya yang telah melangkah dan menginjak air danau, segera membuat dirinya tercebur ke danau!
__ADS_1
"CEBIURRR!"
Melihat gadis kecilnya tercebur, Uriel berusaha mengulurkan tangannya untuk meraih tubuh Lina!
"Lina! Raih tanganku!"
"HAUFFFT! HAUFFT!"
Ular Piton yang juga melihat Lina yang tercebur ke danau, jantungnya segera berdetak sangat kencang.
Saat ini Lina juga sedang merasa sangat panik!
"EBLEBLEBLEB!"
Lina tidak bisa berenang. Meskipun jika dia tidak tenggelam, dia pasti akan tersedak oleh air danau.
"HAUFFFT! EBLEBLEBLEB! HAUFFT!"
Dengan kecepatan tercepatnya, Ular Piton segera berenang, dan menggunakan ekornya untuk menangkap Lina.
"WUUSSS!"
"SLEPP!"
Lina pun segera memeluk ekor Ular Piton itu erat-erat, dan pada saat yang sama, dia juga tidak lupa untuk menatap Saga sambil berseru, "Kembalilah bersamaku!"
Ular Piton, "....."
Ular Piton hanya terdiam. Tampaknya Ular itu tidak ingin kembali bersama Lina.
Melihat si Ular Piton yang tidak menanggapi dirinya, Lina pun memasang ekspresi muka marahnya. Lina berpura-pura marah sambil berkata, "Kalau kamu tidak mau kembali bersamaku, aku akan melompat ke danau! Biarkan aku tenggelam hingga ke dasar danau!"
Mendengar kata-kata Lina, Ular Piton merasa sangat terkejut dan berkata, "Kamu jangan melakukan hal-hal bodoh seperti itu."
"Jika kamu sudah tidak menginginkanku lagi, lebih baik aku mati tercebur dan tenggelam hingga ke dasar danau!" Kemudian Lina meronta-ronta untuk mencoba melepaskan dirinya dari lilitan ekor ular, supaya bisa melompat ke danau.
Meskipun Ular Piton tahu kalau Lina tidak akan tenggelam karena ada dirinya, Ular itu masih merasa takut setengah mati. Dia takut jika Lina secara tidak sengaja akan jatuh ke danau, kemudian dia kerkata, "Jangan bergerak-gerak terus, pegangan padaku!"
Kali ini ekor ularnya menjerat Lina dengan erat, agar Lina tidak tercebur ke danau.
Uriel yang masih berdiri di tepi danau, masih sedang menatap Lina, dia tahu dengan situasi saat ini. Sambil tersenyum, Uriel menarik kembali tangannya dan tidak membuka mulutnya lagi. Uriel memberi kesempatan pada Lina, untuk memainkan aktingnya.
Kemudian Lina berkata dengan nada suaranya yang terdengar sedih, "Kenapa kamu tidak pergi? Apa lagi yang kamu pedulikan dariku? Apakah aku mati atau hidup itu bukan urusanmu. Lepaskan aku."
Melihat penampilan Lina yang terlihat menyedihkan, membuat Ular Piton itu patah hati. Dia berkata dengan suaranya yang terdengar serak, "Jangan bodoh. Meskipun tanpa aku, masih ada Uriel dan Wiro. Mereka pasti akan selalu menjagamu dengan sangat baik."
"Mereka adalah mereka, kamu adalah kamu! Tidak ada yang bisa menggantikanmu!" Dengan sorot mata tajamnya, Lina menatap Ular Piton, yang membuat Ular Piton semakin merasa tertekan.
Tapi Ular Piton masih terus berjuang.
"Aku ini monster, aku bisa menyakitimu kapanpun.."
"Kamu bukan monster! Kamu adalah pasanganku! Kamu adalah orang yang aku sukai, dan ayah dari anak-anakku kelak! Kamu adalah keluargaku!"
Ular Piton segera terpaku dan menatap Lina.
Kata-katanya bagaikan sinar matahari hangat yang menembus lapisan awan gelap, mengusir kegelapan yang dingin, yang ada di dalam hatinya.
Kemudian Lina mengulurkan tangannya pada Ular Piton, matanya yang kini memerah terlihat fokus dan penuh harapan.
__ADS_1
"Saga, pulanglah bersamaku!"