
Lina berharap supaya bisa cepat pulang. Adapun dengan apa yang sudah Azka lakukan terhadap dirinya, dia sudah tidak ingin memikirkannya lagi.
"Meskipun aku merasa sedikit frustrasi karena kejadian itu, aku hanya tidak ingin memikirkannya lagi."
Tapi Uriel tidak ingin seperti telah dibodohi dengan hal seperti ini. Dia menatap ke Jenderal Beruang dan bertanya dengan nada serius, "Di mana Azka?!"
Jenderal Xion menundukkan kepalanya, sambil berkata "Yang Mulia Raja ada di istana."
Kemudian Uriel menyerahkan Lina kepada Leon.
"Bawa Lina keluar kota dulu. Ada Orc yang sudah menunggu di luar kota. Pergilah dan temui mereka. Aku akan menemui Azka, ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengannya."
Leon hanya tersenyum, yang mengartikan kalau tidak masalah baginya.
Sebelum dibawa pergi oleh Leon, Lina cepat-cepat meraih pergelangan tangan Uriel dan berkata, "Ikutlah dengan kami! Ada Azka dan Alan Rebes di istana. Jika kamu menuju ke istana seorang diri, kamu pasti akan dalam masalah!"
Jempol Uriel mengusap bibir Lina, luka bekas gigitannya begitu mencolok, membuat Uriel berkata dengan suara yang dalam, "Aku adalah saudara dan satu-satunya kerabatnya di dunia ini. Aku harus mengajarinya beberapa hal."
"Tapi ji ..."
Uriel segera memotong perkataan Lina, "Kamu patuhi ucapan Leon, dia pasti bisa melindungi keselamatanmu. Aku akan pergi menemuimu, setelah aku menyelesaikan urusanku."
"Tapi aku mengkhawatirkanmu," kata Lina dengan nada suaranya yang terdengar khawatir.
"Aku janji, aku pasti akan menemuimu," lalu Uriel melepaskan tangan Lina dan berkata kepada Leon, "Tolong jaga dia sampai urusanku selesai. Kekuatanmu sangat bisa aku andalkan untuk menjaga Lina."
Leon terkekeh dan berkata, "Oke, berhentilah bicara omong kosong. Kamu adalah pasangannya, bukan ayahnya. Kenapa kamu harus khawatir begitu?"
Saat melihat Uriel ingin pergi menuju ke istana, Jenderal Beruang memberanikan dirinya untuk berkata, "Yang Mulia Raja telah memberikan perintah, Yang Mulia Pangeran kedua dan pasangan anda, tidak bisa meninggalkan Kota Matahari ..."
Sebelum dia selesai berbicara, dia melihat Leon tiba-tiba saja melebarkan sayapnya dan melompat.
Sayapnya yang berwarna merah darah, hampir bisa menghalangi sinar matahari.
Leon telah terbang, dengan membawa Lina dalam gendongannya. Dia melihat ke Jenderal Beruang dan para penjaga yang ada dibawah, dan berkata sambil mencibir, "Dengan kekuatan kalian yang hanya segitu, apa kalian masih ingin menangkapku? Mimpi!"
Ada beberapa tim penjaga di Kota Matahari, yang salah satunya terdiri dari beberapa Orc Elang, yang bertanggung jawab atas patroli udara dan pertahanan.
Jenderal Xion mengaum dan memanggil tim Orc Elang untuk datang mendukung, untuk menghalangi Leon yang akan pergi.
"HUAAARRR!"
Para Orc Elang pun segera mendengar auman itu.
"HUP! HUP! HUP!"
"BLAK! BLAK! BLAK! BLAK!"
Tapi saat mereka melihat dari kejauhan, sepasang sayap yang lebar berwarna merah darah, mereka pun segera berhenti di udara satu persatu.
Mereka semua berkumpul untuk berdiskusi dengan suara rendah.
__ADS_1
"Apa aku tidak salah lihat? Apakah itu tetua Leon dari klan Bulu?" Ucap salah satu Orc burung.
"Hanya dia satu-satunya yang bersayap merah. Sudah pasti, itu pasti dia!" Ucap yang lainnya.
"Bukankah dia seharusnya ada diklan Bulu? Tapi kenapa dia berada di sini?" Ucap yang lain.
"Kami tidak ingin pergi ke sana." Ucap beberapa Orc burung.
"Aku tidak ingin membuat masalah dengan tetua Leon. Bukankah kalian juga tahu, sifat dan kekuatan tetua Leon itu seperti apa?" Ucap yang lainnya lagi.
"Tapi sekarang kita semua telah berada di sini. Jika kita tidak bersungguh-sungguh melaksanakan tugas kita, kita akan dihukum oleh Jenderal Xion saat kembali nanti. Bonus kita pasti akan dipotong." Ucap Orc burung yang pertama kali berkata.
Demi untuk mempertahankan hadiah berupa dua batu kristal berukuran sedang setiap bulannya, tim Elang akhirnya memutuskan untuk mengambil risiko.
Saat mereka telah berjarak sekitar sepuluh meter dari Leon, mereka semua berhenti dengan serempak.
Melihat ada sekelompok Orc burung yang mencoba mendekatinya, Leon segera menatap mereka dan bertanya dengan santai, "Apa kalian semua juga ingin menghalangi jalanku? Kebetulan sekali, sudah lama aku tidak beraksi. Ayo kita bermain bersama."
Mendengar itu, para Orc Elang pun segera mundur sepuluh meter lagi.
Pada saat ini, Orc yang menjabat sebagai Kapten burung segera keluar dari kumpulan Orc burung dan memandang Leon dari kejauhan. Dia merasa sangat tersanjung sambil tersenyum dan berkata, "Mana berani kami semua bertarung dengan anda? Kami di sini hanya untuk menyapa anda. Ngomong-ngomong, tolong sampaikan salam dari kami semua, untuk Sky Letta sang pemimpin klan Bulu."
Menurut hukum, para Orc Elang ini juga milik klan Bulu, tapi mereka telah meninggalkan klan Bulu saat mereka masih sangat muda, dan telah berkeliaran di luar untuk waktu yang lama. Dan sekarang, mereka semua telah menetap di Kota Matahari.
Dan jelas saja, mereka masih sangat takut dengan kekuatan yang terkenal dari tetua Leon.
Bukan hanya karena orang ini kuat, tapi juga karena temperamennya yang tidak menentu.
Bahkan pemimpin klan Bulu sendiri pun tidak berani menghadapinya.
"Tidak, tidak ada lagi."
Mendengar itu, Leon segera terbang menjauhi para Orc Elang, bersama dengan Lina di pelukannya.
Para Elang mempertahankan sikap hormat mereka, "Berhati-hatilah diperjalanan, tetua." Sampai sosok Leon telah jauh dari pandangan mereka, kini mereka semua bisa merasa lega.
"Hoo hoo, akhirnya aku bisa mengirim Dewa Agung pergi!" Ucap sang kapten.
Jenderal Beruang yang mengawasi para Orc Elang dari bawah, mengepalkan tinjunya.
"Dasar kalian semua b*j*ng*n! Apa kalian pikir aku ini buta?! Kalian semua tidak akan mendapatkan bonus kalian! Tunggu saat semua ini selesai. Aku akan menyelasaikan urusan dengan kalian nanti!"
...........
Kini Lina telah dibawa pergi oleh Leon, dan meninggalkan Uriel sendirian di kota.
Pada saat yang sama, Jenderal Beruang bersama dengan anak buahnya, telah mengepung Uriel.
"Pangeran kedua, meskipun saya sangat menghormati anda, ini semua adalah perintah Raja baru kami, dan kami semua harus melakukannya."
"Menyingkirlah, aku akan menemui Azka!" Ucap Uriel memberikan peringatan kepada Jenderal Beruang.
__ADS_1
Tapi, baik Jenderal Beruang maupun para penjaga, tidak ada yang bergerak sama sekali.
Mekihat hal itu, Uriel pun menyipitkan matanya dan berkata, "Paman Beruang, jangan coba-coba memaksaku melakukan kekerasan."
Tapi sekali lagi, Jenderal Beruang masih tetap tidak ingin beranjak pergi dari tempatnya saat ini berdiri, sambil berkata, "Maaf Pangeran kedua, kami tetap tidak bisa mengabaikan perintah Raja."
Mendengar itu, wajah Uriel kini berubah serius, tangannya berubah menjadi cakar harimau yang tajam. Seketika itu juga, kilat segera menyambar cakarnya, dan dengan sangat cepat, tiba-tiba saja Uriel melancarkan serangannya!
"SLAPRAT!"
"JLEGER!"
...........
Saat ini Leon telah mendarat di rerumputan, di luar kota.
Orc yang dikirim oleh Kamar Dagang, juga sudah lama menunggu di sini. Mereka bingung saat melihat Leon bersama dengan Lina turun dari langit.
Sayap Leon terlihat sangat lebar, dan bulunya yang merah menyala belum pernah mereka lihat sebelumnya, yang membuat orang-orang ini bertanya-tanya dalam hati mereka, "Jenis apa dia?"
Tapi intuisi mereka memberi tahu mereka, "Pria ini pasti sangat kuat, akan lebih baik bila tidak memprovokasi orang ini."
Sementara mereka menatap Leon dengan hati-hati, Leon bersama dengan Lina berjalan mendekati mereka.
Leon melirik lambang di dada mereka, yang merupakan lambang daun emas yang unik dari Kamar Dagang.
"Apa kalian orang-orang dari Kamar Dagang?" Tanya Leon dengan tanpa ekspresi di wajahnya.
Orc jantan paruh baya yang tetlihat menonjol, dengan hati-hati dan penuh hormat menjawab, "Ya."
Lalu leon berkata, "Uriel lah yang meminta kami untuk datang menemuimu."
Orc jantan paruh baya itu, dengan cepat berkata, "Jadi kamu adalah teman dari Yang Mulia Pangeran kedua? Namaku, Nano. Aku adalah pelayan dari Kamar Dagang. Siapa namamu?"
Leon hanya meliriknya sambil berkata, "Kamu tidak pantas untuk mengetahui namaku."
Nano, "....."
Melihat hal ini, Lina pun segera menyingkirkan Leon.
"Huh! Karakter orang ini memang benar-benar buruk. Tidak heran para Elang yang barusan ini melihat dirinya, seperti melihat hantu!"
Lalu Lina membuka mulutnya untuk mengambil alih situasi saat ini, "Aku, Lina Maya. Aku adalah pasangan Uriel. Kalian bisa memanggilku Lina."
Nano yang sudah malang melintang melakukan perjalanan ke seluruh penjuru mata angin pun sangat terkejut, saat melihat Lina.
"Baru kali ini aku melihat ada seorang betina yang sangat cantik, mungil, imut dan manis. Betina kecil ini benar-benar sangat cantik. Kulitnya terlihat putih dan halus seperti salju. Matanya juga bulat besar."
Melihat ada tatapan aneh di mata Nano, Leon pun segera menarik Lina kebelakang tubuhnya.
"Sudah! Jangan coba-coba menatap gadis ini seperti itu! Atau kalian ingin hidup kalian segera berakhir di sini?!"
__ADS_1
Saat Leon mengatakan ini, dia menatap Nano dengan tatapannya yang terlihat dingin.
Kulit kepala Nano pun seketika itu juga terasa seperti mati rasa dan dengan cepat segera menarik pandangannya dari Lina.