Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 190 - Kentang


__ADS_3

Saat itu juga, tubuh Lina segera lunglai lemas dan melorot jatuh di atas pangkuan Saga.


Jika saja tadi Saga tidak segera memegang tubuh Lina yang saat ini sedang sakit parah, Lina pasti sudah jatuh ketanah.


Saga pun menatap wajah Lina yang pucat dan segera bertanya, "Ada apa denganmu?"


"Aku.. aku baik-baik saja.. UHUK! UHUK!"


Begitu hebatnya Lina terbatuk, hingga membuatnya batuk yang mengeluarkan darah!


"UHUK! UHUK! UHUK!"


Melihat hal ini, ekspresi wajah Saga pun segera berubah.


"Apa kamu sakit?"


Lina membersihkan noda darah yang ada di sudut mulutnya, lalu berkata dengan suaranya yang terdengar lemah, “Sedikit flu. Hanya butuh minum obat dan istirahat yang cukup juga sudah sembuh..”


Untungnya, sekarang ada banyak bahan obat-obatan yang Lina simpan di dalam ruang penyimpanan. Kini dia tidak perlu khawatir lagi akan kekurangan obat-obatan.


Tak lama kemudian, dia pun mengeluarkan beberapa jenis obat-obatan herbal yang dia butuhkan, lalu meraciknya untuk kemudian dia minum.


Setelah efek obat bekerja dengan cepat, Lina mulai merasa sedikit pusing dan tertidur di sebelah Saga.


...........


Selama beberapa hari berikutnya, Saga lah yang merawat Lina yang saat ini sedang terbaring lemah.


Untuk menghindari kecurigaan pamannya, setiap harinya sebelum Saga menemui pamannya seperti biasanya, dia akan selalu menyuapkan obat untuk Lina terlebih dahulu, lalu keluar menemui pamannya, dan baru kembali saat malam hari, lalu meracik obat dan menyuapkannya untuk Lina lagi.


...........


Setelah rutin selama tujuh sampai delapan hari seperti ini, kini kondisi Lina telah banyak membaik.


"Ada surat dari Uriel?" Gumam Lina saat menemukan lempengan batu berisi tulisan, dari dalam ruang penyimpanan.


"Aku dan Wiro menemukan, dan mengikuti petunjuk yang kamu tinggalkan di sepanjang jalan, kini kami telah sampai di tepi sungai. Tapi kami tidak menemukan satupun iblis di sekitar sini. Selain itu, kami berdua juga tidak bisa menyelam di dalam air, pencarian kami terhenti di tepi sungai. Saat ini Leon juga sedang kembali ke Gunung Berapi, untuk menemui Wisnu dan meminta bantuannya. Saat nanti Wisnu telah tiba, kami seharusnya bisa segera melanjutkan perjalanan kami lagi menuju ke klan iblis. Jika aku perkirakan, akan memakan waktu sekitar tiga hari lagi."


Setelah membaca isi surat dari Uriel, Lina pun segera memberitahukan hal itu kepada Saga.


"Dalam tiga hari lagi, kita akan segera keluar dari sini!"


"Ya." Sahut Saga singkat.


Dengan harapannya yang besar untuk bisa segera pergi dari tempat ini, hal itulah yang membuat Lina merasa sangat bahagia. Dia pun mengambil dua buah merah manis yang berukuran besar dari dalam ruang penyimpanan, memakan satu untuk dirinya sendiri dan memberikan yang satunya lagi untuk Saga.


"KRAUK!"


"Buah ini renyah dan rasanya juga manis. Makanlah!" Kata Lina sambil mengunyah buah di dalam mulutnya, dan satu tangannya memberikan satu buah manis yang masih utuh kepada Saga.


Meskipun saat ini buah manis sudah dia pegang di tangannya, tapi Saga hanya menatap buah itu, dan tidak juga segera dia makan.


"KRAUK! KRAUK!"


Lina yang sedang asik makan buah manis di sebelah Saga, saat melihat hal ini pun segera berkata, "Jangan konyol. Cepat makan! Buah itu rasanya manis kok!"


Melihat wajah Lina yang manis dan cantik, dengan kedua pipinya yang terlihat montok, membuat hati Saga terasa seperti meleleh.


Dia pun mencoba untuk menggigit buah manis yang Lina berikan padanya.

__ADS_1


"KRAUK!"


"Bagaimana? Rasanya manis, kan?" Tanya Lina.


Saga pun mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil menatap wajah Lina yang manis dan imut.


"Hmm.. Sangat manis."


Mendengar itu, membuat Lina merasa bahagia. Dia pun bertanya lagi sambil tersenyum manis, "Benarkah?"


Setelah satu buah manis habis dimakan, Lina pun mengeluarkan lagi beberapa jenis buah lain, dan memakannya bersama dengan Saga.


"Kalau saja kita bisa membuat api, kita pasti bisa memanggang kentang," kata Lina.


Para Orc secara alami takut dengan api, dan iblis sangat tidak suka dengan api. Selain itu, akan sangat berbahaya jika ingin membuat api di sini.


Lina tahu akan hal ini, jadi, tadi dia berkata seperti itu hanya basa-basi saja.


Tidak Lina sangka, keesokan harinya Saga benar-benar membawa banyak kayu kering. Kemudian dia mengeluarkan batu api dan membakar kayu-kayu tersebut.


Sambil berjongkok di dekat api unggun yang terasa hangat, Lina pun bertanya dengan perasaan khawatir, "Apa kita tidak akan ketahuan?"


Mendengar apa yang Lina tanyakan, Saga pun menjawabnya dengan santai, "Jika kita menutup pintu dan jendela, tidak ada yang akan tahu."


Tak lama kemudian, Lina mengeluarkan beberapa kentang, menusuknya dengan kayu, dan memanggangnya di atas api.


Kentang-kentang yang di tanam di kebun Lina, ukurannya lebih besar dari ukuran kentang normal, rasanya juga manis, tapi tidak mudah untuk dimasak. Kentang-kentang itu pun harus Lina panggang dalam waktu yang lama.


Setelah kentang-kentang yang Lina panggang telah matang, dia juga memberikan separuh dari kentang-kentang itu kepada Saga.


Kentang-kentang itu masih sangat panas. Satu tangan Lina memegang kayu yang menusuk kentang, dan satu tangannya lagi mengupas kulit kentang dengan hati-hati.


"Tunggu. Itu masih sangat pa ..."


Namun, Lina selangkah lebih lambat. Saga sudah lebih dulu menggigit kentang panas itu.


"KRESH!"


Setelah selesai mengunyah dan menelan kentang panas itu, Saga pun berkata, "Tidak apa-apa, tidak terlalu panas."


Lina yang menatap Saga dengan ekspresi terkejut pun segera berkata, "Tapi aku masih ingat, kalau dulu kamu takut terbakar!"


Tapi Saga menghindari tatapan Lina. Dia segera meraih kentang panas yang sedang Lina pegang, mengupas kulit-kulitnya hingga bersih, lalu meniup-niupnya hingga dingin, setelah itu memberikannya kepada Lina.


"Makanlah."


Lina pun mengambil kentang yang sudah dingin dan terasa manis itu kemudian memakannya, sambil terus menatap Saga dengan hatinya yang merasa sangat senang.


"Ada banyak makanan yang lezat, keluargaku juga baik-baik saja. Tidak ada yang lebih baik dari ini!" Batin Lina.


...........


Setelah Saga selesai memadamkan api, dia pun membawa baskom yang berisi air hangat ke dekat tempat tidur.


"Aku yang akan mencuci tangan dan kakimu."


Mendengar Saga berkata seperti itu, Lina segera duduk di tepi tempat tidur.


Kemudian, Saga pun segera mencucikan kaki Lina dengan lembut dan sangat hati-hati.

__ADS_1


Saat telah selesai mencuci kaki Lina, Saga pun menatap wajah Lina. Saat dia melihat bulu mata Lina yang panjang, membuatnya merasa sangat ingin menciumi wajah Lina.


Setelah itu, Saga pun segera mendekatkan wajahnya ke wajah Lina dan menatapnya.


Saat keduanya saling memandang, detak jantung Lina berdegup dengan sangat kencang.


"DUG DUG! DUG DUG! DUG DUG!"


Hal itu membuat Lina tanpa sadar menutup matanya, dan telah siap menunggu Saga untuk mencium dirinya.


Tapi, ternyata Saga benar-benar membantunya membersihkan tangan Lina, dan kemudian membaringkan Lina ke tempat tidur dan berkata dengan santai, "Sekarang kamu bisa tidur dengan tenang."


Lina, "....."


"Apa dia tidak melihat kalau tadi aku sudah siap?! Huh!" Batin Lina yang sedang merasa kecewa.


Setelah itu, Saga pun segera membersihkan kamar dan membersihkan tubuhnya sendiri, kemudian ikut berbaring di tempat tidur.


Begitu Saga berbaring, Lina segera berguling ke dalam pelukan Saga dan masuk ke dalam selimut.


Kepalanya mencuat keluar dari selimut, rambutnya acak-acakan dan matanya yang cerah sedang menatap Saga dengan aneh.


"Aku lihat, akhir-akhir ini kamu tidak banyak tertawa. Apa kamu merasa tidak bahagia?" Tanya Lina.


Meskipun Saga tidak suka tertawa, tapi sesekali dia masih mau menunjukkan senyumnya yang luar biasa.


Namun, sejak dia meminum ramuan air melupakan cinta, sedikitpun dia sudah tidak pernah tersenyum lagi, bahkan ekspresinya tidak pernah berubah sedikit pun. Sangat dingin.


Setelah mendengar pertanyaan Lina, Saga pun memeluknya, dan dengan tenang berkata, "Aku bahagia."


"Lalu, kenapa kamu tidak pernah tersenyum lagi?" Tanya Lina dengan penasaran.


Saga hanya terdiam untuk beberapa saat, mencoba untuk menghindari pertanyaan Lina, kemudian dengan entengnya dia berkata, "Sudah sangat malam, cepatlah tidur."


Tapi, semakin Saga mengelak, semakin Lina bisa merasakan ada sesuatu yang salah.


"Aku punya ide."


Setelah berpikir, dia pun berkata kepada Saga, "Bagaimana kalau aku menceritakan sebuah lelucon?"


"Ok." Jawab Saga singkat.


"Ada sebuah pertarungan, antara si batu dan si kentang. Saat si kentang sedang menunduk membelakangi si batu untuk mengambil senjatanya yang terjatuh, si batu segera melompat tinggi dan menendang b*k*ng si kentang, hingga terlempar jauh ke laut. Ha ha ha ha ha ha ha ha.."


Saga, "....."


"Di suatu tempat, ada laki-laki yang telah selama beberapa tahun patah hati.. Suatu saat, laki-laki itu memutuskan pergi kelaut untuk memancing.. Coba tebak apa yang dia tangkap?"


Lina menceritakan kisah ini dengan sangat serius, membuat Saga yang sangat asyik mendengarkan pun menjadi merasa tersentuh.


Saga hanya menggelengkan kepalanya, yang menandakan kalau dia tidak bisa menebaknya.


Setelah melihat Saga yang menggelengkan kepalanya, Lina pun menepuk tempat tidur batu sambil tertawa dan berkata, "Yang dia tangkap adalah si kentang. Ha ha ha ha!"


Lina tertawa hingga air matanya ikut menetes.


Tapi, respon Saga masih tetap dingin dan tanpa ekspresi.


Lina pun segera menyeka air matanya, kemudian bertanya, "Apa menurutmu cerita itu tidak lucu?"

__ADS_1


"Haruskah aku tertawa?" Tanya Saga dengan ragu-ragu.


__ADS_2