Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 28 - Apa Kamu Tidak Tidur di Sini?


__ADS_3

Setelah mendengarkan seluruh cerita Wiro, Sito memelototinya.


"Dasar bocah b*d*h! Apa kamu tahu apa yang paling disukai wanita?! Kata-kata manis, pujian."


Mendengar itu, Wiro justru malah merasa terhina.


"Aku adalah serigala terkuat disuku Serigala Batu. Setiap kali aku bertarung, korbanku selalu yang terkuat. Aku menghancurkan mereka hanya dengan kekuatanku! Bukan dengan kata-kata manis dan pujian!"


Sito menepuk jidatnya sendiri, kemudian mengalihkan pandangannya dari Wiro.


"Kalau kamu begitu kuat, kenapa kamu masih kalah dengan posisi Uriel di hati gadis kecil itu?"


Mendengar nama harimau itu disebut, membuat Wiro merasa sangat tidak senang. Rasa permusuhan di hatinya pun timbul. Wajahnya langsung berubah berkerut menjadi sangat jelek.


"Mungkin kamu tak akan suka mendengar ini. Uriel bukan hanya Binatang Buas Bintang Tiga, tetapi juga sangat lembut dan perhatian. Dia pun merawat gadis kecil itu dengan baik. Tak mengherankan kalau gadis itu akan menyukainya!"


Jelas Wiro tidak senang mendengarnya, tetapi diapun tak bisa menyangkalnya.


Sito pun memberikannya nasehat, "Tak usah katakan apa-apa lagi, rawat saja baik-baik gadis itu. Kamu benar-benar perlu belajar dari Uriel."


Wiro menolak, "Aku tidak mau belajar dari harimau itu!"


Sito menghela napasnya, kemudian berkata, "Kalau kamu tidak belajar, kemungkinan besar kamu akan kehilangan gadis itu."


Mendengar kalimat terakhir Dukun itu, mata Wiro berubah menjadi merah lagi.


Dia sanggup menanggung apa saja, tapi dia tidak akan sanggup bila harus kehilangan gadis kecil itu.


Sito menepuk pundak Wiro.


"Kalau kamu tidak tahan, carilah cara yang terbaik. Pergilah berburu mangsa untuk menghilangkan gundahmu."


Wiro memikirkan tentang kebiasaanya berburu, kebiasaan itu sering dia lakukan untuk menenangkan suasana hatinya yang sedang buruk.


Sito berkata lagi, "Anggap gadis itu sebagai mangsamu. Caramu membunuh mangsa dengan satu serangan adalah cara terbaik yang kamu miliki. Kamu juga harus tahu, mana yang terbaik untuk dirimu sendiri."


Kemudian Wiro pun memikirkan bagaimana caranya.


Sito merasa kalau dia punya ide, jadi dia mengubah topik pembicaraan, "Kau makan malam disini denganku?"


"Tidak, aku makan malam di rumah Lina."


Setelah mengatakan ini, Wiro segera berdiri dan pergi tanpa melihat ke belakang.


Sito menggelengkan kepalanya dan berkata sambil tersenyum, "Dasar bocah b*d*h. Kalau kamu sudah memiliki pasangan, kamu pasti akan melupakan orang tuamu!"


............


Wiro sudah kembali ke rumah, tercium aroma daging yang lezat memenuhi seluruh ruangan, dia melihat ternyata Uriel yang sedang membuat barbekyu.


Lina duduk dengan memegang semangkuk sup yang mengepul. Saat dia melihat Wiro sudah kembali, dia segera melambaikan tangan padanya.

__ADS_1


"Kemari, kita makan!"


Wiro pun segera duduk.


Kemudian Lina memotong sepotong besar barbekyu dengan pisau tulang dan menyerahkannya pada Wiro.


"Cobalah, katakan bagaimana rasanya?"


Wiro menggigit daging itu, tapi tidak mengevaluasi rasanya. Dia malah berkata, "Aku masih punya beberapa daging kering di kamarku. Nanti aku akan memindahkannya ke sini."


Karena sekarang mereka adalah keluarga, makanan pun harus disatukan.


Lina berkata, "Tidak perlu, kami masih punya cukup banyak makanan di ruang bawah tanah."


"Tentu saja itu sudah kewajiban para Orc jantan untuk memberi makanan pada betinannya. Apa kamu jijik karena aku tidak mendapatkan cukup mangsa?" Wiro mulai merasa sedikit emosi lagi.


Lina dengan cepat melambaikan tangannya.


"Tidak, bukan begitu! Kamu telah membunuh begitu banyak mangsa, aku tak ada maksud untuk menghinamu!"


Setelah berhenti sebentar, kemudian dia menambahkan, "Baiklah, kalau kamu tak keberatan dengan masalah ini, bawalah makananmu kemari."


Uriel memotong daging menjadi irisan tipis dan meletakkannya di mangkuk Lina. Pada saat yang sama, dia juga berkata, "Ruang bawah tanah mungkin sudah tidak akan muat. Nanti aku akan menggali ruang bawah tanahnya sedikit lebih besar lagi."


Lina pun mengangguk.


"Ya, baiklah."


Lina mengisi mulutnya dengan barbekyu, saat dia memakannya, dia mengacungkan jempol kepada Uriel dan memuji masakannya.


Uriel pun tersenyum.


"Makanlah pelan-pelan, hati-hati tersiram air panas lagi."


Memikirkan pengalaman tersiram air panas saat terakhir kali, Lina pun tersenyum malu.


Wiro yang melihat interaksi hangat di antara mereka, membuat hatinya menjadi masam.


Dia memperhatikan barbekyu yang ada di tangannya, dia menyadari tidak hanya kalah dengan Uriel dalam kekuatan dan karakter, tetapi juga kalah dalam hal memasak.


Tampaknya dia tak memilik kemampuan apa-apa untuk bisa menarik perhatian Lina.


Setelah selesai makan dan minum, Uriel mulai menggali lubang di ruang bawah tanah. Wiro juga mulai memindahkan makanan yang dia simpan di rumahnya, ke ruang bawah tanah di rumah Lina. Lina juga ikut membantu menumpuk makanan-makanan itu supaya rapi.


Karena ketiganya bekerja sama, dengan cepat juga pekerjaan bisa mereka selesaikan.


Lina sudah berkeringat. Dia merebus air panas dan hanya menggosok tubuhnya.


Uriel membantunya merapikan tempat tidur dan menyalakan api di dekatnya.


Uriel memandang Lina dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Tidurlah, panggil aku kalau kamu membutuhkan sesuatu."


Lina duduk di ranjang batu, mengulurkan tangan dan menyentuh selimut kulit binatang yang lembut dan tebal. Kemudian bertanya, "Apa kamu tidak tidur di sini?"


Dengan suara yang sangat lembut dan sorot matanya yang penuh kasih sayang, Uriel menjawab, "Tidak. Aku akan tidur di kamar sebelah."


Uriel masih ingat kejadian ketika dia menyakiti gadis kecilnya. Meskipun Lina tak menyalahkannya, tetapi dia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.


Jadi dia memilih untuk tidur di kamar yang terpisah. Jika dia berubah menjadi wujud binatangnya saat tertidur, dia tak perlu takut karena gadis mungilnya tak berada di sebelahnya.


Lina memahami suasana hati Uriel, dia menghiburnya beberapa kata, tetapi efeknya tidaklah besar.


Uriel adalah tipe yang lembut dan perhatian, tapi dia sangat keras di dalam hatinya. Jika dia tak ingin membuka masalahnya, tak peduli berapa banyak kata yang dikatakan orang lain, tetap tak akan bisa membantu.


Lina hanya bisa melihatnya pergi. Dari cara Uriel berjalan, Lina bisa melihat kalau dia sangatlah kesepian.


Tak lama kemudian dia pun tertidur.


Sampai dia merasakan tenggorokannya sedikit kering karena haus. Kemudian dia bangun, mengambil kayu dari perapian yang ada di sebelahnya sebagai penerangan, lalu beranjak pergi ke dapur.


Tanpa diduga, tercium bau makanan yang berasal dari dapur.


"Siapa yang memasak tengah malam begini? Apa ada pencuri?!"


Lina merasakan jantungnya berdetak kencang, dengan mengendap-endap dan hati-hati, dia berjalan menuju ke dapur. Sesampainya di dapur, dia melihat ada Orc yang sedang berjongkok di dekat api, yang biasa digunakan untuk membakar daging.


Dia bisa mengenali orang itu, karena wajahnya terkena cahaya dari api pembakaran, yang ada di depan Orc itu.


"Itu Wiro!"


Indra Wiro sangat tajam, ketika Lina sedang mengendap-endap berjalan ke dapur, dia sudah bisa merasakannya.


Sampai orang itu masuk ke dapur. Dia segera mengangkat kepalanya dan melihat ternyata orang itu adalah Lina.


Keduanya pun terkejut.


Dengan cepat, Wiro menyembunyikan barang-barang yang ada di tangannya ke belakang tubuhnya, lalu menggertak karena kepanikannya, "Apa yang kamu lakukan di sini?"


Lina berjalan mendekat. Pertama, dia melihat abu arang yang ada di wajahnya, kemudian melihat potongan-potongan barbekyu yang tak sempat dia sembunyikan. Semuanya hitam, hangus terbakar tanpa sisa. Sepertinya juga tidak enak.


Dia mengedipkan matanya, mencoba untuk meyakinkan penglihatannya kalau daging itu memang benar-benar gosong.


"Kamu tidak tidur di tengah malam begini, tapi ke sini untuk membuat barbekyu? Apa semalam masih belum kenyang?"


Wiro memalingkan wajahnya, "Itu bukan urusanmu!"


Semalam dia melihat Lina memuji keterampilan memasak Uriel. Dia merasa iri, cemburu dan benci. Dia teringat kata-kata Dukun tua itu, jadi dia memutuskan untuk belajar memasak dari Uriel.


Dengan harga dirinya yang sangat tinggi, tentu saja dia sama sekali tak mungkin meminta nasihat Uriel bagaimana cara memasak.


Jadi dia menyelinap ke dapur di tengah malam, mengingat proses cara Uriel membuat barbekyu, dan meneliti setiap hasilnya dalam setiap latihannya membuat barbekyu.

__ADS_1


Tapi sangat disayangkan, ada beberapa potong daging yang gagal dan juga hangus.


__ADS_2