
Keesokan paginya.
Saat Lina terbangun dari tidurnya, dia masih terpikirkan dengan kata-kata Wiro.
Kemarin Wiro mengatakan, kalau dia ingin k*w*n dengannya.
Lina menutupi wajahnya.
"Aku harap, yang semalam itu hanyalah halusinasiku saja. Wiro kan sangat membenci wanita. Bagaimana mungkin dia ingin k*w*n denganku?"
Sebelum beranjak dari tempat tidur. Lina mengumpulkan dan memupuk mentalnya terlebih dahulu, kemudian keluar dari kamar tidurnya.
Uriel sudah membuat sarapan. Dia melihat Lina yang sudah bangun dan tersenyum lembut kepadanya.
"Ayo kita makan."
Lina melihat sekeliling, dia tidak melihat bayangan Wiro, dia pun merasa lega.
Setelah percakapan mereka semalam, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan dengannya sekarang.
"Akan lebih baik bila menghindarinya untuk sementara."
Lina menyesap kaldu yang dimasak oleh Uriel.
"Mmmm.. Enak sekali.." Dia pun memuji karena rasanya yang lezat.
Tepat setelah mereka selesai sarapan, Meli datang bersama pasangan prianya.
Lina mengeluarkan beberapa buah manis dari ruang bawah tanah dan mulai mengajari Meli cara membuat selai.
Meli memperhatikan bagai mana cara Lina membuat selai dengan sangat serius.
Pasangan prianya bernama Rei, dia tinggi dan kuat, tenang dan tertutup, dan selalu menjaga Meli dengan baik. Dia adalah Orc yang sangat andal.
Dia adalah Orc pria terkuat di seluruh klan Serigala Batu, kecuali Wiro.
Rei tak ingin mengganggu wanitanya yang sedang belajar membuat selai, dia hanya duduk di luar mengobrol bersama Uriel di kamar Lina.
Sambil memejamkan mata, Meli meregangkan tangannya.
"Akhirnya selesai juga membuat selai!"
"Apa kamu ingin istirahat?" Lina bertanya pada Meli.
Meskipun Meli adalah Orc perempuan, tapi kekuatan fisiknya tidaklah lemah. Baginya, hanya membuat sebotol selai tidak akan membuatnya merasa lelah. Dia hanya merasa bosan.
Begitu matanya terbuka, dia tiba-tiba mendekati Lina dan bertanya, "Dengar-dengar, kamu sudah meminta ketua Wiro untuk menjadi pasanganmu?"
"Menerima." Mengucapkan kata ini, sebetulnya sudah membuat Lina merasa malu, tapi dia masih menjawabnya dengan jujur, "Kami memang sudah menikah."
Meli terkejut.
"Baik sekali kamu! Bahkan laki-laki yang sangat membenci perempuan seperti ketua Wiro bisa menerimamu. Kamu sudah membuat kami para wanita Serigala Batu terheran-heran."
__ADS_1
Lina kemudian membual karena semakin malu.
"Itu terjadi karena kebetulan saja."
"Tak perlu merendah begitu! Sebelumnya, beberapa wanita di suku kami bertaruh untuk melihat siapa yang bisa memenangkan ketua Wiro. Tapi kami semuanya kalah. Pada akhirnya, kamu yang menang. Kamulah juaranya. Sekarang kamu adalah wanita paling berkuasa di suku Serigala Batu kami!"
Lina tersipu.
"Aku tidak sekuat itu.."
Meli yang melihat Lina sedang sangat malu tak bisa menahan tawa lepasnya.
"Katakan padaku, apakah ketua Wiro itu kasar? Panjang atau tidak? Apakah permainannya bagus?"
Pertanyaannya sangat membingungkannya.
Lina sangat malu, sehingga darahnya mungkin akan mengalir keluar dari hidungnya.
"Kamu.. Kamu jangan bicara yang tidak-tidak lagi. Wiro dan aku belum pernah melakukan hal semacam itu."
"Hah!" Kali ini Meli sangat terkejut.
"Kalian belum k*w*n? Terus, bagaimana ceritanya kamu bisa jadi pasangannya?"
Lina mulai sedikit tenang, kemudian dia menceritakan tentang kejadian Wiro yang berevolusi.
"Jadi begitu.." Kini Meli sudah mulai mengerti.
"Sebelumnya aku masih penasaran. Bagaimana caramu bisa memenangkan ketua Wiro. Ternyata dia dipaksa menjadi pasanganmu."
"Ya begitulah."
Meli melingkarkan lengannya di bahu Lina dan berkata sebagai dukungan untuk Lina, "Walaupun dia terpaksa melakukannya, tapi sekarang dia sudah menjadi pasanganmu. Cepat atau lambat, kamu juga pasti akan tidur dengannya. Dia sudah tidak akan pernah bisa lepas dari genggamanmu seumur hidupnya."
Lina tersipu.
"Aku tidak berani tidur dengannya."
"Kenapa begitu? Apa dia tidak mau?" Tanya Meli.
Lina kemudian memikirkan apa yang dikatakan Wiro tadi malam.
"Bukan dia yang tidak mau. Tapi aku. Aku.. juga bukannya tidak mau ..."
"Berarti kamu tetap mau kan!" Meli cepat melanjutkan kata-katanya, "Sudah kuduga, mana mungkin seorang pria menolak untuk k*w*n dengan seorang wanita? Terlebih lagi, ketua Wiro juga sepertinya sangat menyukaimu!"
Lina terkejut.
"Apa Wiro menyukaiku?"
"Kalu dia tak menyukaimu, mana mungkin dia memintamu untuk b*rs*ngg*m* dengannya? Kamu tidak lupa apa yang sudah dia lakukan pada Avi, ketika dia datang kemari untuk mencari masalah, kan? Begitulah cara dia memperlakukan wanita yang tidak dia sukai. Kamu pikirkanlah sendiri soal itu."
Diam-diam di dalam hati, Lina mulai membandingkan perlakuan dan sikap Wiro terhadap Avi dan juga dirinya, ternyata tidaklah sama.
__ADS_1
Meskipun Wiro selalu mencibirnya, tapi dia selalu berdiri di sisinya pada saat-saat kritis.
Dia bahkan memberanikan diri, untuk mencari Uriel di hutan yang tertutup salju untuknya.
Memikirkan hal ini, suasana hati Lina mulai menjadi merasa tenang.
Kemudian Meli berkata kepadanya lagi, "Kamu itu terlalu pemalu. Kalau kamu digantikan oleh wanita lain, kamu juga pasti akan maju untuk menghancurkan kepala ketua Wiro kan?"
Lina memandangi lengan dan kakinya yang kecil, "Tubuhku yang segini tidak akan bisa menghancurkannya."
"Kalau begitu, goda dia supaya tunduk padamu!"
Setiap Lina berpikir tentang k*w*n, gambaran yang pertama keluar dari pikirannya adalah kejadian malam itu. Kejadian ketika Uriel mabuk dan mencoba memaksakan benda milik Uriel, untuk menembus masuk ke pintu kecil di tubuh mungilnya.
Benda milik Uriel terlalu besar dan terlalu panjang, untuk bisa dia tampung.
Jika setiap Orc pria memiliki benda yang rata-rata panjang dan besarnya sama seperti milik Uriel, itu berarti dia tidak akan pernah berhubungan b*dan dengan Orc pria seumur hidupnya.
Memikirkan hal ini, membuat Lina mulai merasa tertekan.
"Apakah aku benar-benar tidak berguna?"
Meli bertanya, "Ada apa denganmu? Kenapa kamu murung?"
Lina mengingat adegan Meli k*w*n dengan tiga Orc jantan pada saat yang bersamaan. Dia pun memberanikan diri untuk bertanya, "Apa kamu tak merasakan sakit saat kamu k*w*n?"
Begitu pertanyaannya itu keluar dari mulutnya, wajah Lina segera memerah.
Apa yang baru saja dia tanyakan? Sepertinya dia malu-malu mau.
Tanpa menunggu Lina mengubah topik pembicaraan, Meli langsung menjawabnya, "Tidak, justru aku merasa sangat senang dan nyaman."
Meli kemudian balik bertanya, "Apa untukmu, itu menyakitkan?"
Meskipun sangat memalukan, tetapi Lina tetap menjawabnya, "Begitulah."
"Kenapa? Apa karena permainan pasanganmu yang buruk?" Tanya meli.
Lina menundukkan kepalanya, memainkan jari-jari tangannya, dan dengan suaranya yang sangat rendah, "Aku tidak tahu. Lagi pula, bagiku rasanya seperti dicabik-cabik."
Meli mulai memahami maksudnya dengan jelas.
"Mungkin karena lubang pintumu terlalu sempit, benda milik pasanganmu pun jadi susah untuk bisa dimasukkan, itulah yang sudah membuatmu merasa sangat kesakitan. Dulu di sini juga pernah ada yang sama sepertimu."
Lina pun segera bertanya, "Terus, bagaimana cara dia mengatasi masalahnya yang seperti ini?"
"Ada buah yang bisa merangsang tubuh wanita, serta membuat lubang pintu wanita menjadi lebih lentur dan elastis. Kamu bisa menggunakannya untuk meminimalkan rasa sakitmu saat k*w*n."
Lina bertanya, "Buah apa itu?"
"Buah itu disebut buah sumber. Tumbuh jauh di dalam hutan. Sangat sulit untuk menemukannya. Buah ini hanya berbuah di musim dingin saja. Kamu bisa bertanya pada Dukun tua, mungkin dia memilikinya."
Lina mengarahkan pandangan matanya, ke arah pintu masuk ruang bawah tanah.
__ADS_1
Di dalam ruang bawah tanah itu, ada toples yang terisi penuh oleh buah sumber.