Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 49 - Batu Kristal


__ADS_3

"Di dunia ini tdak ada yang namanya musuh abadi, yang ada hanya kepentingan abadi. Selama kepentingan yang diberikan cukup besar, mereka bisa menjadi sekutu kita," kata Uriel. 


"Apa maksudmu?" Wiro merasa bingung tidak paham dengan maksud Uriel.


Kemudian Uriel mengeluarkan Liontin Permata Hitam.


"Setelah kamu bertemu dengan kepala suku Mustang, tunjukkan ini padanya."


Secara bersamaan, Wiro dan Lina menatap ke arah batu itu.


Wiro sangat terkejut.


"Apakah ini batu kristal tingkat tinggi? Bukankah hanya bisa didapat di Kota Binatang Kelas Satu?! Bagaimana kamu bisa memiliki batu berharga seperti ini?"


"Lina yang membawanya," kata Uriel.


Kemudian Wiro segera melihat ke arah Lina, tetapi wajah Lina malah terlihat seperti sedang bingung berpikir.


Lina bingung karena dia merasa sangat akrab dengan Liontin Permata Hitam itu, tapi dia tidak bisa mengingat dari mana asalnya.


Ingatannya tentang itu. Dengan jatuh sakitnya Lina tempo hari, secara tidak disengaja dia lupa tentang asal-usul batu itu.


Tapi intuisinya memberitahukan padanya, bahwa Liontin Permata Hitam itu sangat penting baginya dan dia juga tidak ingin membuangnya.


"Bisakah kamu mengembalikannya padaku setelah kamu menggunakannya?" Lina bertanya. 


Dengan sangat sederhana, Uriel pun berjanji, "Tentu saja, ini milikmu, tidak ada yang bisa mengambilnya."


Selama Liontin itu dikembalikan padanya, Lina pun merasa lega.


Kemudian Uriel lanjut berkata kepada Wiro.


"Beri tahukan kepada kepala suku Mustang, bahwa ada banyak kristal bermutu tinggi di klan Serigala Batu, tetapi semuanya telah dirampok oleh klan Serigala Air Hitam. Jika suku Mustang mau bekerja sama denganmu, berikan saja semua kristal itu kepada mereka."


Mendengar apa yang dikatakan Uriel, Lina pun segera bertanya, "Tapi kita kan tidak punya batu kristal. Apa yang nantinya akan kita berikan kepada orang-orang dari suku Mustang?"


Uriel kemudian tersenyum dan berkata, "Soal itu, mereka harus bertanya kepada klan Serigala Air Hitam. Bagaimanapun juga, itu adalah kristal yang diambil oleh suku Serigala Air Hitam. Di mana barang itu disembunyikan? Hanya mereka yang tahu. Apa itu ada hubungannya dengan kita?"


Tiba-tiba Lina merasa bahwa pria tampan dan lembut di sebelahnya ini, memiliki sisi yang benar-benar gelap.


Wiro pun segera membuat keputusan.


"Mari lakukan apa yang kamu katakan!"


...........


Wiro menuruni gunung, menerjang angin dan salju. Secara diam-diam, dia bertemu dengan pemimpin klan Mustang.


Saat Wiro mengajukan proposal kerja sama, kepala klan Mustang sempat sedikit tertarik, tetapi akhirnya menolak.

__ADS_1


Meskipun klan Mustang membenci klan Serigala Air Hitam, tetapi menurut mereka, klan Serigala Batu belum tentu baik. Klan Mustang tidak ingin mengusir Harimau yang ada di pintu depan, tetapi malah mempersilahkan Serigala masuk dari pintu belakang.


Wiro juga telah berharap kalau pihak lain akan memiliki reaksi seperti ini, kemudian dengan tenang, dia mengeluarkan Liontin Permata Hitam dan memegang tali kalung itu sambil sedikit menggoyang-nggoyangkannya.


"Apakah anda tahu ini apa?"


Begitu kepala klan Mustang melihat Liontin Permata Hitam, dia segera membuka mata kudanya dan bertanya dengan gugup, "Kristal kelas tinggi..? Bagaimana anda bisa memiliki sebuah kristal yang sangat berharga seperti ini..?"


Kemudian Wiro mencoba menjelaskan seperti apa yang sudah Uriel katakan.


"Dulu kami mempunyai banyak batu-batu kristal seperti ini, tetapi semuanya diambil oleh suku Serigala Air Hitam. Jika anda bersedia bekerja sama dengan kami, semua batu-batu ini akan menjadi milik anda. Apa menurut anda saya salah jika saya mengambil kembali bahan-bahan kami yang telah mereka curi?"


Sambil mendengarkan perkataan Wiro, ketua suku Mustang terus-menerus menggerakan kepalanya ke kiri dan kanan, dengan mata kudanya yang tidak berkedip, mengikuti pergerakan Batu Hitam yang dipegang oleh Wiro dan berkali-kali menelan air liurnya sendiri.


"Batu mulia seperti itu, jika bisa dimiliki oleh orang-orang suku Mustang, kami pasti akan menjadi suku paling kuat di Sungai Hitam ini. Di masa yang akan datang, aku bisa menukar semua jenis bahan langka dengan batu itu dan bahkan bisa mendapatkan kualifikasi untuk tinggal di Kota Binatang Kelas Satu."


Hanya dengan memikirkan itu saja, kepala suku Mustang menjadi sangat bersemangat.


Begitu dia menggertakkan giginya, dia langsung menyetujui proposal kerjasama Wiro.


"Aku setuju bekerjasama!"


Kemudian Wiro menyimpan kembali Liontin Permata Hitamnya dan tersenyum kemudian berkata, "Pilihan anda sangat bijaksana."


...........


Wiro kembali ke Gunung Batu dan mengembalikan Liontin itu kepada Lina.


Dia mengelus-elus Permata Hitam itu dan terus memikirkan bagaimana dia bisa mendapatkan Liontin itu.


Di benaknya tiba-tiba terdengar suara yang sudah lama tidak dia dengar.


"Ting Tong!


"Selamat, anda telah memicu tugas khusus!"


"Kumpulkan batu kristal dengan lima warna yang berbeda."


"Setelah tugas selesai, anda bisa mendapatkan hadiah khusus."


"Hm??" Lina tertegun.


Ini adalah pertama kalinya dia memicu misi khusus.


"Misi khusus? Apa itu? Hadiah khusus apa itu? Kedengarannya luar biasa!" Lina bertanya-tanya dalam hatinya. Kemudian dia bertanya kepada Wiro, "Apa Kristal semacam ini sulit untuk didapatkan?"


Hanya karena diperhatikan oleh gadis kecil, dengan matanya yang cerah, hati Wiro menjadi terasa seperti berbunga. Jika dia berubah kembali ke bentuk aslinya, ekor Serigalanya pasti akan terangkat ke langit sambil berkibas-kibas, sebagai tanda kalau dia sangat senang.


Dia kemudian mengangkat dagunya, dengan gaya angkuhnya dia menjawab, "Batu Kristal berwarna ini, adalah jenis Permata berenergi khusus. Roh Binatang Buas dapat menyerap energi dari Kristal ini untuk memperkuat diri mereka. Hampir semua lokasi yang dapat menghasilkan Batu Kristal, dikendalikan oleh Kota Binatang Buas Kelas Satu. Sangat sulit bagi suku biasa, untuk bisa mendapatkan Batu Kristal berwarna seperti ini."

__ADS_1


Mendengar penjelasan Wiro, Lina pun merasa kecewa, "Jika aku ingin mengumpulkan batu kristal dengan lima warna yang berbeda, itu berarti akan sangat sulit?"


"Untuk apa kamu menginginkan begitu banyak batu kristal?" Tanya Wiro.


Lina hanya diam dan tidak bisa menjawab. Wiro yang melihat Lina kini hanya diam saja dan tidak bertanya apa-apa lagi, kemudian dengan gaya santainya, dia memberikan tas kulit berisi kristal itu kepada Lina.


"Tangkap."


Lina dengan cepat menangkap tas kulit itu. Kemudian dia membukanya dan melihat ada sepuluh Batu Kristal di dalamnya.


Semuanya transparan, kristal tidak berwarna dan hanya seukuran kuku.


Kemudian Lina bertanya, "Apakah ini juga termasuk Batu Kristal?"


Suara dalam benak Lina menjawab, "Ya."


Wiro yang mengira Lina sedang bertanya padanya juga menjawab, "Tentu saja, itu juga salah satu Batu Kristal! Batu kristal yang memiliki warna sangat langka dan susah untuk didapatkan. Saat ini, sebagian besar koin yang beredar di antara suku-suku, adalah koin Kristal yang sudah dibentuk dari Batu Kristal yang tidak berwarna ini."


Lina tiba-tiba teringat ketika dia pergi ke pasar bersama Uriel, dia juga mengeluarkan koin Kristal dan membeli banyak barang.


Ternyata koin Kristal ini adalah uang.


Lina mengeluarkan satu koin Kristal dan mengembalikan tas kulit itu ke Wiro. 


"Aku hanya butuh satu Kristal."


Wiro mengerutkan keningnya dan berkata, "Aku memberikan itu untukmu, kamu terima saja."


Sebelumnya, Wiro sudah memindahkan semua makanan dan kulit binatangnya ke ruang bawah tanah di rumah Lina. Hanya tinggal koin Kristal ini, yang selama ini masih ada bersamanya. Karena kini Lina sudah menjadi pasangannya, dia pun juga memberikan Batu Kristal ini untuknya.


Namun Lina malah mengembalikan koin Kristal milik Wiro ini.


Wiro segera berkata, "Ketika musim semi tiba, aku akan mencari hewan buruan sebanyak-banyaknya dan akan aku tukar semua hasil buruan dengan Batu Kristal, aku bisa mencari sebanyak yang kamu mau."


Lina cepat-cepat melambaikan tangannya, "Tidak usah, itu kan mangsamu. Kamu simpanlah saja sendiri."


Mendengar itu, membuat Wiro menjadi tidak senang.


"Apa kamu memandang rendah aku?!"


Lina menatapnya sambil berkata dengan tergagap, "T t tidak.."


"Jika kamu tidak memandang rendah aku, kenapa kamu tidak mau menerima barang-barangku?" Tanya Wiro kepada Lina dengan marah.


Lina tidak mengerti maksudnya dan tidak bisa menjawab.


Melihat Lina yang tidak berbicara lagi, semakin menegaskan tebakannya, dia pun segera berbalik dan pergi.


Dia berlari dengan sangat cepat, sehingga Lina tidak bisa mengejarnya.

__ADS_1


Lina yang tidak bisa mengejarnya, hanya bisa menyimpan kantong berisi koin Kristal itu dan akan dia simpan dengan baik. Dia akan mengembalikannya ketika Wiro ingin menggunakannya.


__ADS_2