Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 208 - Penyesalan yang Terlambat


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang, Leon yang terbang sambil membawa Lina juga melewati beberapa suku Orc yang berjumlah besar maupun kecil. Di antara suku-suku tersebut, dua suku pertama yang mereka lewati telah terinfeksi penyakit darah mati, dan tidak ada satu pun Orc yang selamat.


Akhirnya, Leon pun memutuskan untuk membakar habis juga semua wilayah suku yang telah terinfeksi tersebut.


"BURRR! SYUUUT!"


"BLARRR! DUARRR!"


Untuk saat ini, suku-suku lainnya semuanya terlihat masih normal.


"Sepertinya tidak ada tanda-tanda, kalau suku ini terinfeksi oleh virus darah mati." Kata Lina kepada Leon, saat mereka berdua melintas diatas wilayah suku tersebut.


Meskipun tidak terinfeksi, Leon dan Lina tetap memutuskan untuk turun dan menemui para kepala suku di setiap wilayah yang mereka lintasi, dan memberi tahukan kepada mereka, sebuah berita tentang penyakit darah mati yang saat ini sedang merajalela.


Di antara para kepala suku tersebut, hanya kepala klan Musk Ox yang percaya dengan apa yang telah dikatakan oleh Leon. Kepala suku Musk Ox segera mengumpulkan orang-orang dari sukunya dan melarang mereka supaya tidak keluar dari wilayah suku seorang diri.


Dia juga memerintahkan kepada orang-orangnya, untuk melarang Orc luar yang ingin memasuki wilayah suku Musk Ox.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


NB \= Musk Ox / Muskox, adalah binatang memamah biak yang mirip dengan Bison, yang hidup di sekitaran Arktik. Meskipun mirip, tapi Muskox bukanlah Bison.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sedangkan dengan kepala suku yang lainnya, mereka sama sekali tidak menganggap serius apa yang telah Leon dan Lina beritahukan kepada mereka.


Dihadapan Leon, mereka semua tampak sangat menghormatinya dan takut dengan kekuatan dan perangai Leon yang telah terkenal di mana-mana.


Tapi, saat Leon dan Lina telah meninggalkan wilayah suku mereka, mereka pun menunjukkan ekspresi menghina.


“Hahaha! Penyakit darah mati? Heh! Penyakit itu adalah penyakit yang hanya bisa disebarkan oleh iblis. Bukankah bertahun-tahun yang lalu para iblis telah diusir dari daratan Orc? Mana mungkin sekarang ini masih ada penyakit darah mati? Kedua orang itu pasti sengaja menakut-nakuti kami dengan berita palsu seperti ini!" Kata si kepala suku, yang baru saja di temui oleh Leon dan Lina.


Beberapa kepala suku benar-benar mengabaikan peringatan dari Leon dan Lina, dan tetap menjalani hari-hari mereka seperti biasanya.


Dan benar saja, penyesalan memang selalu datang di akhir kejadian.


"GRRR!"


"TOLOOONG! AAARRGGHH!"


"LARIII! LARIII! AAARKKHH!"


"GRRR! HAU!"


Ya, setelah wabah penyakit darah mati menginfeksi seluruh wilayah klan mereka, barulah mereka menyesali, karena telah mengabaikan peringatan dari Leon.


Tapi, semua penyesalan mereka sudah terlambat dan tidak ada artinya lagi.


...........


"BLAK! BLAK! BLAK!"


"WUSSSHHH!"


Leon yang telah terbang dan berhenti untuk menyambangi beberapa suku selama lebih dari empat hari, pada akhirnya, mereka berdua telah tiba di Gunung Batu di hari kelima, saat hari telah malam.


Saat ini sudah larut malam, para Orc di Gunung Batu sudah tertidur, hingga membuat seluruh Gunung Batu terlihat sangat sunyi.


Kondisi tubuh Lina masih lemah, ditambah lagi perjalanan pulang mereka yang melelahkan. Begitu dia menapakkan kakinya di tanah, saat itu juga kakinya terasa melunak, yang membuatnya hampir terjatuh di tanah.


Melihat hal ini, Leon pun segera mengulurkan kedua tangannya, hendak membantu Lina.


"Aku akan mengantarmu pulang." Kata Leon.

__ADS_1


"Tidak usah. Aku bisa jalan sendiri." Sahut Lina yang berkata tanpa ekspresi, dan segera mendorong tangan Leon untuk menjauh, lalu bersiap untuk berjalan pulang sendiri.


Pada saat ini, seekor Ular Piton hitam sedang menjulurkan kepalanya keluar dari balik lebatnya tanaman merambat mutan.


Begitu dia melihat sosok Lina, dia pun segera keluar untuk mendekatinya, lalu menjulurkan lidah ularnya dan menjilat seluruh wajah Lina.


"Lina, akhirnya kamu kembali." Kata si Ular Piton.


"Saga? Kenapa kamu bisa ada di sini?" Tanya Lina yang sedang terkejut, dengan datangnya Saga di kaki gunung.


"Uriel berkata, dalam dua hari kedepan kamu akan sampai di Gunung Batu. Jadi aku datang kemari untuk menjemputmu." Kata Saga tanpa ekspresi.


Karena mereka semua tidak yakin kapan Lina dan Leon akan pulang, selama dua hari terakhir, hampir setiap malamnya Saga memutuskan untuk tinggal di kaki gunung.


Setiap kali dia merasakan ada seseorang yang datang mendekat, dia pun segera keluar dari balik tanaman rambat mutan, untuk mencaritahu siapa mereka.


Meskipun telah kecewa berkali-kali, tapi dia tetap memutuskan untuk menunggu di situ, sampai Lina benar-benar telah pulang.


Kini si Ular piton telah merubah wujudnya ke bentuk Orcnya, lalu memakai pakaiannya.


Rambutnya yang berwarna hitam seperti tinta, tampak hampir menyatu dengan cahaya malam. Dia berjalan menuju ke dalam benteng, sambil membopong Lina dalam pelukannya.


Sedangkan Leon, dia berjalan mengikuti di belakang Saga, sambil terus memandangi Lina yang sedang memeluk leher Saga, dengan hati dan pikirannya yang sedikit risau.


"Dalam menghadapi Saga, Wiro dan Uriel, Lina selalu berperilaku lembut terhadap mereka. Tapi, selama dia berada dekat denganku, dia akan segera berubah dengan menunjukkan taring dan cakarnya di hadapanku.. Perbedaannya terlihat sangat jelas.. Hhh.." Gumam Leon dalam hatinya.


Pada saat ini, Uriel dan Wiro sudah tertidur, tapi mereka berdua tidak benar-benar dalam keadaan tertidur lelap.


"CEKRET! KREEEEET!"


Begitu mereka mendengar suara pintu yang terbuka, mereka berdua langsung bangun dan segera keluar dari kamar mereka, untuk segera turun menuju kelantai bawah.


Ketika mereka berdua melihat Lina, mereka merasa sangat senang dan dengan mata mereka yang terlihat sedikit berkaca-kaca.


Tapi, saat mereka melihat keadaan Lina, di mata mereka Lina tidak hanya terlihat kehilangan sebagian besar berat badannya, tapi juga terlihat tampak pucat, dengan tubuhnya yang gemetaran, seperti akan pingsan kapan saja.


Melihat hal ini, Uriel pun segera melangkah menghampiri Lina, dan mengambilnya dari pelukan Saga.


"Hm? Sekarang dia terasa jauh lebih ringan dari sebelumnya.."


Setelah berpikir seperti itu, dia pun segera bertanya, "Kenapa sekarang kamu bisa begitu kurus? Apa kamu merasa sangat menderita di sepanjang jalan?"


Mendengar apa yang Uriel tanyakan, satu tangan Lina pun segera memeluk leher dan satu tangannya lagi menggosok pipi Uriel, "Aku sangat merindukanmu."


Mendengar ini, Uriel pun segera memeluknya lebih erat lagi, "Kami juga merindukanmu."


Tak mau kalah, Wiro juga segera meraih tangan Lina dan bertanya, "Kenapa tanganmu terasa begitu dingin?"


"Mungkin karena angin yang terasa agak dingin," kata Lina dengan suara pelan dan rendah.


Melihat dan mendengar apa yang baru saja Lina katakan, Leon pun segera mengeluarkan api kecil dari telapak tangannya, lalu mengirimkannya ke sekitar tubuh Lina, hingga membuat udara di sekitarnya tiba-tiba menjadi hangat. Setelah itu dia bertanya, "Apa sekarang sudah terasa sedikit lebih hangat?"


"HUH!" Sahut Lina ketus.


Lina yang masih ingat dengan apa yang telah Leon lakukan terhadapnya, hanya bersenandung pelan, lalu menoleh kearah lain karena tidak ingin memandang Leon.


Meskipun Lina begitu terhadap dirinya, tapi sedikitpun Leon tidak marah. Dia masih menahan senyum di sudut mulutnya, dan sorot mata merahnya yang semerah darah terlihat dalam dan penuh rahasia.


Pada saat ini, Wiro, Uriel dan Saga semuanya sedang fokus memperhatikan jari manis Leon.


Cincin Ikatan yang ada di jari manis Leon terlihat bersinar, saat terkena pancaran sinar dari cahaya api, yang digunakan sebagai penerangan di dalam ruangan.


Ekspresi Saga, Uriel dan Wiro saat itu juga tiba-tiba berubah.

__ADS_1


Uriel pun melirik Leon sambil tersenyum dan berkata, "Gerakanmu cepat juga."


"Tidak juga, dibandingkan dengan kalian bertiga, akulah yang paling lambat." Sahut Leon dengan tenang.


Wiro pun mendekati Leon dan menepuk pundaknya sambil berkata, "Mulai sekarang, kita akan menjadi keluarga."


Sebelumnya, Wiro pernah berjanji pada Leon, selama Leon bisa membawa pulang Lina dengan aman dan baik-baik saja, Wiro akan membantu membujuk Lina, untuk mau menerima Leon sebagai pasangan Lina yang berikutnya.


Dan sekarang, Leon telah mengenakan Cincin Ikatan, hal itu menunjukkan kalau Lina telah setuju untuk menerima Leon.


Secara alami, tentu Wiro tidak keberatan dengan ini.


Dan bagi Saga, dia juga tidak memiliki perbedaan pendapat tentang hal ini.


Bagaimanapun juga, Leon lah yang telah mengambil inisiatif untuk tetap tinggal di wilayah klan iblis, untuk membantu mereka semua. Dia juga telah mempertaruhkan nyawanya, dan dengan berani melindungi mereka supaya bisa pergi, dan dia juga telah masuk jauh ke dalam wilayah klan iblis seorang diri, untuk menyelamatkan Lina.


Leon telah melakukan banyak hal. Meskipun kelakuan Leon terkadang sangat menjengkelkan, tapi Saga harus mengakui kalau Leon adalah anggota keluarga baru, yang sangat bisa diandalkan.


Saga juga menganggap, kalau Lina mau menerima Leon, bisa dianggap sebagai hal yang biasa saja.


Hanya wajah Lina yang saat ini terlihat kebingungan.


"Apa yang sedang kalian bicarakan? Aku tidak mengerti." Tanya Lina.


Uriel yang terkejut saat mendengar apa yang Lina tanyakan pun segera berkata, "Kamu pasti sangat kelelahan setelah perjalanan selama berhari-hari, kan? Aku akan membawamu kembali ke kamarmu untuk beristirahat."


"Tapi aku mau mandi dulu." Kata Lina sambil mengusap-usap matanya yang memang sudah terasa sangat kelelahan.


Di sepanjang jalan, dia selalu membawa rasa marahnya terhadap Leon. Selain itu, dia juga hanya bisa menyeka wajah dan tangannya setiap hari, tanpa sekalipun mandi.


"Sekarang ini, aku sangat ingin mandi air hangat.." Kata Lina lagi.


"Baiklah." Sahut Uriel.


Mendengar itu, Wiro pun segera berinisiatif pergi ke dapur untuk merebus air. Meskipun dia tidak pandai memasak, tentu saja dia sama sekali tidak akan kesulitan, jika hanya merebus air.


Leon juga mengikuti Wiro menuju kedapur, dia berkata, "Soal api, serahkan padaku. Aku yang akan menyalakan apinya."


Sambil menunggu airnya mendidih, Wiro pun mengambil kesempatan untuk bertanya kepada Leon, tentang pengalaman mereka selama di perjalanan.


Sambil mengendalikan panas, Leon pun mengobrol dengan Wiro.


Sedangkan Saga, dia mengambil pakaian bersih untuk Lina.


Belum lama ini, dia telah belajar dari Uriel, bagaimana caranya membuat pakaian.


...........


Pada saat ini, setelah airnya telah selesai direbus, Uriel yang masih membopong Lina pun memasukkan tubuh Lina kedalam bak mandi kayu, yang telah diisi dengan air hangat.


"Ehmmm.. Nyaman.."


Jika dalam keadaan sadar dan baik-baik saja, sudah pasti Lina akan segera mengusir Uriel untuk keluar dari kamar mandi.


Dia tidak ingin, saat dia mandi, ada laki-laki yang melihatnya mandi, meskipun jika laki-laki itu adalah pasangannya sendiri.


Tapi malam ini, Lina sudah merasa terlalu sangat lelah.


Dengan posisi tubuhnya yang telah terendam oleh air hangat, tanpa dia sendiri sadari, kelopak matanya pun mulai terasa sangat berat, dan sedikit demi sedikit mulai menutup matanya.


Kini, dia pun dalam keadaan setengah tertidur dan setengah terjaga.


Karena itulah dia sampai melupakan suatu hal, bahwa saat ini, ada beberapa pria yang sedang berdiri di sekitarnya, tengah memandangi tubuhnya yang polos, yang sedang terendam di dalam bak air hangat.

__ADS_1


__ADS_2