
Setelah perjalanan yang memakan waktu hampir sehari, kini ketiganya telah sampai di Gunung Batu.
Begitu mereka tiba di kaki gunung, mereka melihat banyak Orc yang sedang berkumpul di situ.
"Apa yang terjadi di depan?" Tanya Lina.
Wiro menjawab, "Tidak tahu. Kita segera ke sana, lihat ada apa."
Wiro yang sedang membawa Lina di punggungnya, segera mempercepat langkahnya dan mendahului Uriel.
Ketika para Orc dari klan Serigala Batu melihat tiga orang yang termasuk Wiro telah kembali, mereka pun segera menyapa.
"Selamat datang ketua. Akhirnya ketua telah kembali!"
Lina menggunakan ekor Wiro untuk meluncur turun. Setelah itu Wiro merubah wujudnya ke bentuk Orcnya. Kemudian dia berjalan mendekati mereka dalam keadaan telanjang, tidak peduli meskipun ada banyak Orc serigala di depannya.
Lina, "....."
Lina yang tidak bisa melihat ke bawah, pada benda tebal yang menggelantung, akhirnya mengeluarkan rok bulu dari tasnya dan memakaikannya dipinggang Wiro, yang sedang bertanya pada para Orc yang berkumpul, "Ada apa?"
Rei menunjuk ke kebun sayuran yang ada di dekatnya.
"Sayuran di kebun kami telah dicuri."
Saat Wiro menoleh untuk melihat, bisa terlihat olehnya banyak sayuran di kebun yang telah digerogoti di berbagai lokasi.
Saat Lina juga ikut melihatnya, dia segera pergi bersama Uriel untuk melihat kebun sayur mereka.
Untungnya, kebun sayur mereka masih utuh dan terjaga dengan baik.
Wiro yang sedang berjalan menuju ke kebun sayur yang ada di dekatnya, melihat dan segera mengambil bulu yang tergeletak di tanah, dia mengerutkan alisnya.
"Bulu.. Ini bulu burung dari klan Bulu. Sejak kapan mereka ada di sekitar sini?"
Rei segera berkata, "Ketika ketua baru saja pergi, sekelompok Orc klan Bulu datang, mereka mengatakan bahwa mereka ingin menetap di puncak Gunung Batu."
"Sayuran kita pasti telah dimakan oleh mereka para klan Bulu. Kita harus meminta penjelasan dari mereka!" Kata Wiro dengan nada suaranya yang tegas.
Begitu kata-kata Wiro keluar, banyak Orc yang segera merespons.
"Ya! Mereka harus tahu, bahwa kita di sini tidak akan mentolerir pencuri!"
Saat mereka bersiap untuk mencari informasi tentang klan Bulu, empat laki-laki dari klan Bulu terbang turun dari puncak gunung, dan mendarat di rerumputan tidak jauh dari mereka.
"TAP! TAP! TAP!"
"TAP!"
Keempat laki-laki tersebut mengenakan jubah dengan warna berbeda, tetapi dengan gaya yang serupa.
Ketika Wiro hendak membuka mulutnya, untuk mempertanyakan tentang pencurian di kebun sayur mereka, dia mendengar salah satu dari keempat laki-laki klan Bulu, membuka mulutnya terlebih dahulu, "Di mana ular yang sudah memakan anak kami? Serahkan ular itu kepada kami, sekarang juga!"
Wiro dan yang lainnya pun tercengang.
Lina dan Uriel telah kembali dari kebun, dan melihat ke arah empat laki-laki berbulu itu dengan heran.
"Ada apa ini? Ular apa yang sedang kalian bicarakan?"
Melihat yang berbicara adalah betina, nada suara pejantan dari klan Bulu sedikit lebih lembut. Orc jantan tertua yang ada di antara mereka, maju dan menjelaskan masalah ini, dengan nada suara yang sedikit lebih tenang kepada Lina.
"Tadi malam anak-anak dari keluarga kami turun gunung, untuk bermain dengan beberapa anak-anak bulu yang lain. Tanpa diduga, mereka diserang oleh seekor ular dan anak kami telah dimakan olehnya."
Wiro segera menyahut, "Tidak ada ular di sekitar sini. Kalian pasti telah salah."
"Tidak mungkin kami salah! Anak-anak yang berhasil melarikan diri dari rumah, memberi tahu kami bahwa anak kami telah dimakan oleh Ular Piton hitam!"
__ADS_1
Mendengar mereka menyebut Ular Piton Hitam, Lina, Uriel dan Wiro secara bersamaan segera terpikirkan dengan sosok Saga, dan ekspresi wajah mereka segera berubah.
Wiro terbatuk kecil dua kali.
"Ehem. Ehem. Kami adalah klan Serigala, tidak ada ular di sini. Jika kalian tidak percaya, kalian bisa melihatnya sendiri."
Keempat laki-laki dari klan bulu tidak ingin menyerah begitu saja, dan akan mulai untuk mencari jejak si Ular Piton.
Pada saat ini, seekor Ular Piton Hitam bergerak turun dari pohon besar, dan berkata dengan suaranya yang dalam, "Aku yang telah memakan anak kalian yang nakal. Hal ini tidak ada hubungannya dengan Orc lain. Akulah yang kalian cari."
Saat Lina melihatnya muncul, dia tidak bisa menahan keterkejutannya.
"SAGA!"
Ular Piton itu sepertinya tidak mendengar suara Lina. Dia menegakkan sebagian tubuh atasnya, dan menatap ke arah empat laki-laki dari klan Bulu, dengan pupil matanya yang tajam dan dingin.
"Jika kalian ingin balas dendam, akulah yang kalian cari."
Keempat Orc laki-laki, yang baru saja kehilangan anaknya, seketika itu juga langsung marah besar. Mereka segera berubah kembali ke bentuk burungnya, dan terbang ke arah Ular Piton dengan sayap lebar mereka.
"WUSH! WUSH! WUSH! WUSH!"
Dalam hal kekuatan serangan, Saga jelas jauh lebih unggul dibandingkan dengan mereka.
Tetapi di sisi lain, pergerakan para klan Bulu tidak hanya sangat cepat dan gesit, tetapi mereka juga dapat terbang ke sana kemari, ditambah lagi dengan empat serangan diam-diam dan bergantian dari mereka, membuat Ular Piton itu tidak mampu untuk menyerang.
"Ular br*ngs*k!"
"WUSH!"
"Kenapa kau memakan anak kami?!"
"Mati saja kau di sini!"
"WUSH!"
"KRESH!"
Akibatnya, sedikit demi sedikit luka di tubuh si piton mulai bertambah.
Cakar tajam para burung telah mengelupas sisik ular piton, dan meninggalkan banyak luka dengan kedalaman yang berbeda.
"SRET!"
"Kau akan ku bunuh di sini! Ular b*ngs*t!"
"KRESH!"
Lina memandang Uriel dan Wiro, dengan air matanya yang mengalir.
"Kalian berdua.. Bantulah Saga.."
Uriel, "....."
Wiro, "....."
Uriel dan Wiro hanya saling memandang, dan tidak berbicara sedikitpun.
Melihat mereka berdua tidak bergerak, Lina melepaskan pegangan tangannya pada tangan Uriel, dan bergegas berlari menuju ke arah Saga yang berada tidak jauh darinya.
Apa yang sudah Lina lakukan, mengejutkan semua laki-laki yang ada di tempat kejadian.
"Lina, Awas!"
Saga yang berteriak dan merasa sangat cemas, saat melihat Lina masuk kedalam area pertarungan, segera bergerak dan tak mempedulikan dirinya yang terus diserang oleh para Orc suku Bulu. Ular itu segera melilitkan ekornya ditubuh Lina, dan mengangkatnya ke udara, supaya tidak terkena serangan para Orc Burung, dan membiarkan bagian tubuhnya yang lain di serang oleh mereka.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan di sini? Apa kamu tidak tahu kalau di sini sangat berbahaya?" Saga mendesis marah.
Para laki-laki suku Bulu tidak berani menyerang bagian ekor ular piton, mereka enggan karena ada betina yang sedang Ular itu lilit dengan ekornya. Mereka segera mengambil kesempatan untuk bergegas ke arah Saga, dan menorehkan tiga luka yang dalam pada bagian tubuh atas si Ular.
"CRASH!"
"CRASH!"
"CRASH!"
Seperti apa pun lukanya, Saga mengabaikan rasa sakitnya, dia tetap berusaha menahan Lina semampunya, untuk tetap di udara dengan menggunakan ekornya.
Melihat Lina yang sudah berada dalam area pertarungan, Uriel dan Wiro yang sempat terkejut, kini tidak bisa tinggal diam begitu saja.
Saat Uriel melihat kesempatan, dia segera bergerak dengan sangat cepat menggunakan kecepatan bintang tiganya, untuk menyerang tiga Orc Bulu yang menyerang turun ke arah Saga.
"DESH! BUGH! UFFGH!"
"DESH! BRAK! UGH!"
"DESH! DAGH! UGH!"
Uriel menghantam mereka bertiga, tidak dengan seluruh kekuatannya.
Mereka pun segera menghentikan para Orc suku Bulu yang saling bergantian menyerang.
"Kalian para Burung! Hentikan!" Perintah Wiro dengan suara lantang.
Seorang Orc Burung yang masih melayang diudara dan tidak menjadi sasaran serangan Uriel, memelototi Wiro dan Uriel dengan marah.
"Ini adalah permusuhan antara suku Bulu dan Ular Piton! Jangan campuri urusan kami! Pergi kalian dari sini!"
Wiro berkata tegas, "Ini adalah wilayahku! Apa pun yang terjadi di sini, akulah yang bertanggung jawab! Kalian para burung yang tidak tahu dari mana asalnya, harus lebih memperhatikan sikap kalian! Jika kalian menyinggung perasaanku, aku tidak akan segan-segan mencabuti bulu-bulu kalian semua, satu persatu!"
"Kamu!"
Keempat Orc Bulu kini semakin bertambah marah, mereka sudah bersiap akan segera menyerang Wiro, tapi para Orc tersebut terkejut dan segera menghentikan niat mereka.
"AH?!"
Mereka terkejut karena melihat para Orc Serigala Batu kini telah berkumpul di belakang Wiro, dalam wujud binatang mereka dan melotot ke arah mereka berempat.
"AUUU!"
"Jika ada dari kalian yang berani menyentuh ketua kami! Kami pasti akan mencabik-cabik tubuhnya!" Rei melolong dan berkata dengan penuh semangat.
Ada lebih dari seratus Serigala, dan hanya ada empat Burung. Jika kedua belah pihak benar-benar bertarung, keempat Orc dari suku Bulu sudah pasti akan jadi satu satunya yang paling menderita.
"Huh!"
Meskipun mereka sangat marah, para Orc dari klan Bulu hanya bisa menekan amarah di hati mereka dan berkata, "Ini belum berakhir!"
Setelah kata itu terucap, mereka segera mengepakkan sayap mereka dan terbang kembali kepuncak Gunung Batu.
Wiro yang melihat mereka terbang pergi ke puncak gunung pun mencibir, "Heh! Gunung Batu adalah wilayah kami. Jika mereka ingin tinggal di sini, mereka harus bertanya kepadaku terlebih dahulu sebagai tuan rumahnya, kan?"
Dia pun segera memberi perintah kepada Rei, "Rei, Kamu pilihlah beberapa Orc yang ganas, kalian akan ikut denganku ke puncak gunung, untuk bertemu dengan pemimpin mereka."
Rei menjawab singkat, "Ya."
Kedua belah pihak kini secara resmi telah menunjukkan wajah mereka. Masalah ini tentu belum berakhir hanya begini saja. Lebih baik mengambil inisiatif untuk menyerang, daripada menunggu pihak lain yang datang ke pintu.
Saat mereka berbicara, Uriel sudah berjalan ke samping Lina, ia memperhatikan Lina yang sedang membalut luka ditubuh Saga.
Lina yang melihatnya datang segera berkata, "Saga sedang sangat terluka, aku harus membawanya kembali untuk mengobati luka-lukanya."
__ADS_1
Uriel menatap Lina dengan sorot matanya yang dalam.
"Apa kamu masih ingat, dengan apa yang sudah kamu janjikan?"