
Saat ini Lina sedang berdiri di tepi kolam, sambil memandangi bunga air di depannya dan menggumam, "Sepertinya memang bunga teratai. Aku tidak tahu apakah ada akar teratai yang bisa dimakan."
Begitu Lina selesai bergumam, banyak akar teratai yang terlempar ke tepian dan jatuh di rumput, tepat di samping kaki Lina.
Lina pun terkejut.
"Ada Apa ini?! Kenapa akar-akar ini bisa sampai terlempar keluar dari kolam? Terlebih lagi, semua akar ini telah dicuci hingga bersih!"
Kuncup bunga kecil yang awalnya berdiri tenang di tengah kolam, tiba-tiba miring dan dengan lembut mengusap punggung tangan Lina.
Lina kini lebih terkejut lagi.
"Hah! Teratai ini pun bisa bergerak?!"
Untungnya kuncup bunga kecil ini terlihat cantik.
Saat Lina melihat kuncup bunga itu, dia merasa seperti memiliki semacam perasaan yang dekat dan hangat, terhadap kuncup bunga itu.
Lina juga sama sekali tidak merasa takut, dia mengulurkan tangannya untuk menyentuh kuncup bunga kecil itu.
"Apa kamu yang memberikan semua akar teratai ini untukku?"
Kelopak bunga kecil berwarna merah muda pucat saat ini sedang terbuka sedikit, dan mengeluarkan suaranya yang kecil, "Itu karena ibu menyukainya, jadi aku memberikannya untuk ibu."
Lina sangat terkejut mendengar apa yang dia katakan.
"Kamu memanggilku dengan sebutan ibu?"
"Ibu! Ibu!" Kemudian kuncup bunga kecil itu kembali mengusap tangan Lina, kemudian menggosok dan mengusap perut Lina yang menggembung, "Adik laki-laki, adik perempuan.."
Lina sangat terkejut dan mematung tak bisa berkata-kata.
"Aku harap ini hanyalah mimpi, mempunyai teratai yang bisa berbicara dan memanggilku dengan sebutan ibu!"
Saat Lina masih dalam keadaan tertegun, Leon tiba-tiba turun dari langit dan mendarat tepat di samping Lina.
Leon menatap akar teratai yang ada di tanah dan dengan jelas menunjukkan senyumnya, "Apa semua akar ini adalah pemberian dari bunga air? Sepertinya kalian sangat akur?"
Ketika kuncup bunga kecil melihat Leon datang, dia segera mendekati dan melingkarkan tubuhnya di pergelangan tangan Leon, dan berkata sambil menggosok telapak tangannya, "Ayah! Ayah!"
Lina, "....."
"Tadi dia memanggilku ibu. Terus kenapa sekarang dia memanggil Leon dengan sebutan ayah?!" Sejak kapan aku menjadi keluarga dengan Orc Burung ini?!"
Leon mencium kuncup bunga kecil dengan lembut.
"Sayang.."
Lina yang merasa kebingungan pun segera bertanya, "Ada apa ini? Kenapa bunga air ini bisa sampai memanggilku ibu dan memanggil kamu ayah?"
Kemudian Leon menjelaskan, "Bunga air ini adalah spesies langka dan istimewa. Sama seperti halnya hewan yang berevolusi menjadi Orc, bunga ini telah berevolusi dari tumbuhan menjadi bentuk tumbuhan dewasa. Siapa pun yang memberi makan dan minum darah sebelum tumbuhan ini lahir, merekalah yang akan menjadi orang tuanya. Kita berdua juga telah memberikan darah kita, itu artinya kita telah menjadi orang tuanya."
Alis Lina berkerut dalam, kemudian berkata, "Kapan kamu memberikan darahmu padanya?"
"Sebelum aku memberikan benih itu kepadamu, aku sudah lebih dulu memberinya darahku."
Kemudian Lina menatapnya dengan marah.
__ADS_1
"Kamu! Apa kamu sengaja melakukan ini?!"
“Ya, aku memang melakukannya dengan sengaja.” Jawab Leon santai.
Lina, "....."
"Kenapa di dunia ini ada pria yang begitu kurang ajar seperti dia?!"
Kuncup bunga kecil itu dengan tajam memperhatikan, kalau sang ibu sedang tidak dalam suasana hati yang baik. Diapun segera menjerat pergelangan tangan Lina, menggosok ujung jarinya, dan membuat suara yang menyanjung, "Ibu! Ibu!"
Pria kecil ini sangat lucu. Belum juga Lina sempat mengeluarkan amarahnya, segera lebih dulu terhapus oleh kelembutan dari sentuhan si kuncup bunga kecil.
Lina pun balas menyentuh si kuncup bunga kecil.
"Kamu boleh kembali ke kolam."
Kuncup bunga kecil itu pun menggosok jari Lina lagi, lalu dengan enggan kembali ke tengah kolam.
Kemudian Lina memanggil Uriel, untuk membantu membawa pulang akar teratai.
Leon juga mengikuti mereka kembali ke rumah.
"Ibunya pria kecil, beri aku beberapa biji bunga matahari untuk dimakan!"
Lina, "....."
Dengan cepat Lina melemparkan sekantong biji bunga matahari goreng kepada Leon, sambil berkata, "Cepat pergi! Jangan datang lagi!"
"Setelah memiliki seorang anak, kamu sudah tidak mengenali aku lagi. Sungguh gadis kecil yang tidak berperasaan!" Kemudian Leon terbang sambil memegang biji bunga matahari.
Saat Lina menatap punggungnya, dia pun mengacungkan jari tengahnya ke arah Leon. Begitu Lina berbalik, dia melihat kalau Uriel sedang menatap dirinya, dan dengan sorot matanya yang tak bisa terlukiskan.
"Apa Leon baru saja memanggilmu dengan sebutan ibunya?" Tanya Uriel kepada Lina.
"Jangan salah paham! Dia hanya berkata omong kosong. Setiap hari dia tidak pernah bisa serius. Dia itu suka berbicara omong kosong."
Sekilas Uriel bisa melihat kegugupan gadis kecilnya, dan dia pun tidak bertanya tentang itu lagi.
Kemudian Uriel bertanya, "Apa yang ingin kamu lakukan dengan akar teratai ini?"
Berbicara tentang makan, Lina pun langsung merasa bersemangat.
"Kamu bisa mencampurnya dalam sup. Akar teratai goreng juga enak. Tapi.. sayangnya kita tidak punya minyak goreng.."
...........
Saat ini hari pasar telah dibuka lagi.
Kali ini Lina juga membawa kacang panjang, akar teratai dan biji bunga matahari goreng.
Sebagai pelanggan setia keluarganya, Bonny adalah Orc pertama yang mencicipi tiga hal baru ini. Dia tidak suka rasa dari kacang panjang, tetapi menurutnya, rasa biji bunga matahari goreng dan akar teratai sangatlah enak!
"Biji bunga matahari goreng rasanya sangat enak! Sedangkan akar teratai rasanya renyah dan menyegarkan!"
Bonny pun dengan tanpa ragu-ragu, segera membeli sekantong besar biji bunga matahari goreng dan dua bungkus besar akar teratai.
Setelah Bonny pergi, banyak Orc yang ikut membeli biji bunga matahari dan akar teratai, dan segera terjual habis.
__ADS_1
Hal ini membuat Lina sangat terkejut sekaligus merasa senang.
"Aku tidak menyangka para Orc ini juga suka memakan biji bunga matahari!"
Lina telah menjual semua biji bunga matahari goreng, dengan cara menukarnya dengan banyak rempah-rempah.
Sedangkan kacang panjang, semuanya dibeli oleh keluarga babi merah yang telah datang dari jauh. Mereka sangat menyukai rasa kacang panjang.
Keesokan harinya, Leon datang ke pintu rumah dan meminta biji bunga matahari lagi.
Lina pun terdiam menatapnya sesaat, kemudian berkata, "Kamu sudah makan begitu banyak biji bunga matahari, apa kamu tidak takut mati?"
Leon mengulurkan jarinya dan menunjukkan nyala api di ujung jarinya, kemudian berkata, "Apa menurutmu aku akan takut pada api?"
Lina, "....." dia diam sesaat kemudian berkata, "Lupakan saja! Ayam tidak akan mungkin bisa berbicara dengan bebek!"
Kemudian Lina lanjut berkata lagi, "Kemarin semua biji bunga matahari telah terjual habis, hari ini tidak ada, Kamu kembali saja dalam beberapa hari lagi."
Leon yang merasa tidak terlalu senang berkata, "Apa kamu tidak menyisakan untukku? Setidaknya kamu menyisakan untukku, karena aku adalah ayah dari si pria kecil."
Begitu dia mendengar kata ayah, wajahnya segera ditutupi dengan garis-garis hitam.
Saat ini Wiro telah kembali, tepat saat dia memasuki pintu, dia mendengar kata-kata Leon dan segera meniup rambut emas Leon.
"BUH!"
Saat Leon berbalik badan untuk melihat siapa yang ada di belakangnya, tiba-tiba Wiro bergegas meraih kerah jubah Leon dan berkata dengan nada marah, "Anak di perut Lina sudah jelas anakku! Milikku! Jangan coba-coba kamu mengaku-ngaku anak di dalam perut Lina adalah anakmu!"
Dengan cepat Lina menarik Wiro dan berkata, "Kamu tenang saja. Jangan pikirkan tentang itu, tenang.."
Kemudian Wiro memandang Lina dengan pandangan curiga.
"Anak di perutmu itu anakku, kan?"
"Ya, ya, ya! Anak ini anakmu!" Jawab Lina sambil memegang perutnya yang besar.
Mendengar perkataan Lina, Wiro pun menjadi merasa sangat senang.
Leon membenahi pakaiannya dan berkata, "Anak di perutnya sudah jelas memang anakmu. Tapi aku dengan Lina, anak kami sudah dewasa."
"Apa maksudmu?" Emosi Wiro kembali naik, kemudian dia menatap Lina dan bertanya, "Lina, sejak kapan kamu punya anak dengannya? Kalian berdua juga belum pernah k*w*n! Tidak mungkin kamu punya anak dengannya!"
"Apa kamu mau lihat anakku dengan Lina?" Ucap Leon.
"Tidak mungkin kamu punya anak dengan Lina!" Wiro sangat percaya akan hal itu.
Kemudian Leon mengangkat tangan kanannya, dan kuncup bunga kecil keluar dari lengan bajunya.
Begitu bunga kecil itu melihat Lina, bunga itu segera menjerat pergelangan tangan Lina, dan memanggil-manggilnya, "Ibu! Ibu!"
Wiro, "....."
Saat itu juga Wiro menatap kearah Lina, dengan sorot matanya yang penuh dengan keterkejutan.
Lina, "....."
Lina bingung harus memulai menjelaskan dari mana dan seperti apa, kepada pasangannya.
__ADS_1