Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 38 - Keinginan Saga Bergola


__ADS_3

Saga yang merasa khawatir meninggalkan Lina sendirian berada di gua saat dia akan pergi berburu, akhirnya membawanya ikut bersamanya.


"Srek srek srek srek srek"


Gesekan kulit ular yang melewati tumpukkan salju, menimbulkan suara gemerisik bersahut-sahutan yang sedikit keras.


Lina yang berada di punggung ular piton raksasa, membungkus ketat dirinya dengan kulit binatang dan hanya menunjukkan sepasang mata bulatnya.


Kecepatan bergerak Saga memang cepat. Lina yang sedang melihat pemandangan sekitar, matanya tidak bisa berlama-lama melihat ke satu titik, karena hanya dalam waktu sebentar saja, apa yang sedang dia lihat seolah mundur menjauh kebelakangnya dengan cepat.


Sepanjang mereka berjalan di atas salju yang putih, mereka belum melihat satu pun mahkluk hidup.


Dalam hatinya, Lina pun mulai ragu, "Dengan kondisi yang seperti ini, apakah mangsa bisa ditemukan?"


Kini Saga telah sampai di puncak bukit yang tertutup salju tebal, dia kemudian berhenti dan melihat sekeliling yang ada di bawahnya.


"Ada apa Saga?" Lina bertanya kepadanya.


Selang beberapa saat, ular itu kemudian meletakkan Lina di pohon besar dan tinggi yang berada di puncak bukit, "Tetap di sini, jangan turun dari pohon."


Lina hanya menganggukan kepalanya sebagai tanda dia mengerti.


Melihat gadis itu mengangguk, dia kemudian bergerak turun.


Tidak seluruh badannya menyentuh salju. Dia melilitkan setengah badannya ke atas, ke pohon besar di mana Lina berada.


Piton itu kemudian mengangkat ekornya dan menghantamkannya beberapa kali dengan keras, ketumpukan es tebal yang menumpuk di puncak bukit.


"BUM!"


"BUM!"


"BUM!"


"BUM!"


Setelah menghantamkan ekornya, ular itu kemudian dengan cepat melilitkan seluruh bagian tubuh bawahnya ke pohon besar.


Akibat hantaman yang keras itu, salju yang tebal kini retak di banyak bagian dan mulai meluncur kebawah. Awalnya salju itu meluncur pelan, kemudian meluncur cepat dan semakin cepat lagi.


Lina tecengang saat melihat apa yang sudah Saga lakukan. Setiap suara debuman yang keras berbunyi, seketika itu juga membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.


"Bukankah itu longsoran salju?! Dia dengan sengaja membuat saljunya longsor?!"


Beberapa ekor kelinci bernasib malang yang sedang berhibernasi di balik tumpukan salju, digulung-gulung oleh tumpukan salju dan dikubur hidup-hidup dalam tidurnya, tanpa mengetahui apa yang terjadi.


Ular itu kemudian turun dari pohon dan menyusuri salju yang kini telah berhenti longsor. Dia memasukan ekornya dan mencari-cari kemudian menarik keluar kelinci malang yang sudah tergulung longsoran salju.


Tak perlu waktu yang lama, dia sudah mendapatkan lima ekor kelinci.


Setelah merubah wujudnya kebentuk manusia dan mengikat kelinci-kelinci malang itu dengan menggunakan tanaman yang merambat, dia mengalungkan tanaman rambat itu ke lehernya. Kemudian merubah wujudnya kembali ke bentuk ular, dengan kelinci-kelinci yang terikat, yang kini telah bergelantungan di sisi kanan dan kiri tubuhnya.


Dia bergerak kembali menuju ke pohon besar, di mana Lina berada, "Kita kembali sekarang."


Baru kali ini Lina melihat metode berburu yang seperti ini.


Lina berbicara dalam hatinya, "Cara dia berburu berbeda dari cara berburu Uriel, cara berburu ular piton ini sederhana tapi sama-sama terlihat kasar, dia berburu dengan cara langsung mengubur mangsanya hidup-hidup dengan salju!"

__ADS_1


Lina kini sudah berada di punggung piton dan menuju kembali ke gua.


Sesampainya di dekat gua, Saga berubah kembali ke bentuk manusia. Tanpa pakaian, tubuh telanjangnya terlihat dengan jelas oleh Lina, yang membuatnya tersipu.


Dia pun buru-buru menutupi matanya dengan kedua tangannya.


"Kenapa tidak bilang dulu sebelum kamu berubah?"


Kepala Saga menunduk melihat kearah tubuhnya sendiri, sambil sedikit mengerutkan keningnya.


"Apa kamu tidak menyukai tubuhku?"


“Suka atau tidak, kamu tidak boleh begitu saja menunjukkan tubuh telanjangmu di depan wanita! Apa kamu tahu, jika seorang pria dan wanita yang belum menikah sedang berdua, tidak boleh saling menunjukkan tubuhnya yang telanjang?”


Saga menjawabnya dengan sungguh-sungguh, “Tidak tahu.”


Setelah Saga berpakaian, Lina melepaskan kedua tangannya yang menutupi matanya dan terlihat lah pipinya yang merah.


Saat Saga menatap wajahnya yang merah, dia kemudian mendekati Lina dan mengusap wajahnya dengan punggung tangannya yang dingin.


Dia menyipitkan mata hitamnya, perasaan yang lembut dan hangat membuatnya merasa nyaman.


Lina tersipu dengan perlakuan Saga terhadapnya dan bergegas pergi ke dalam gua.


Saga membawa kelinci-kelinci itu ke mulut gua, untuk dikupas kulitnya dan dibersihkan.


Lina yang tidak melakukan apa-apa dan mulai merasa bosan, mengambil tanaman merambat yang sudah layu yang telah dia buang.


Saat itu juga tiba-tiba terdengar suara di benaknya.


"Ting Tong!"


"Kumpulkan tiga ratus benih tanaman."


"Carilah petunjuk jenis tanaman, di buku kulit domba bergambar."


Lina segera mengeluarkan kulit domba bergambar dari tas kainnya. Saat membalik beberapa halaman, dia menemukan tanaman yang disebut pohon anggur bulu burung.


Dia merasa bentuk bulu burung yang ada di gambar itu terlihat familiar.


Kemudian dia melihat sekilas kearah tanaman merambat yang telah dia buang, kemudian mengarahkan pandangannya kembali ke kulit bergambar dan sekali lagi melihat kearah tanaman rambat yang sudah terlihat layu itu.


"Inikah anggur bulu burung??"


Menurut catatan, buah anggur bulu burung kaya akan berbagai pati, yang dapat diubah menjadi tepung, setelah dikeringkan dan digiling.


"Tepung?!" Lina membuka matanya lebar-lebar. "Jika ada tepung, aku bisa makan roti atau mie atau ... Aaah..." Lina segera membayangkan berbagai jenis makanan yang akan bisa dia olah dengan tepung. Dia menelan ludahnya dan matanya berbinar, ketika melihat tanaman merambat yang sudah layu itu.


Kemampuan hidup pohon ini sangat bandel, selama rimpangnya terkubur di dalam tanah dan diberi cukup sinar matahari, pohon ini dapat tumbuh dengan sangat subur.


Lina mengambil tanaman layu itu dan menyimpannya, berencana menunggu sampai musim semi, baru dia akan menanamnya di kebun sampai musim gugur tiba. Setelah itu barulah dia akan bisa membuat banyak makanan dengan tepung.


Saga sudah selesai memanggang daging kelinci.


"Makanlah."


Lina yang melihat jari-jari Saga kini melepuh lagi, dia pun berkata, "Lain kali, biarkan aku yang membuat barbekyu."

__ADS_1


"Apa menurutmu daging panggang buatanku tidak enak?" Saga bertanya pada Lina.


"Aku bukan tidak menyukai daging panggang buatanmu. Aku cuma tidak ingin tanganmu terbakar lagi." Jawab Lina.


Saga menatap mata gadis kecil itu, dan bertanya, "Apa kamu mengkhawatirkanku?"


"Ya." Lina menjawab dengan sangat tenang. Dia berpikir meskipun Saga selalu terlihat muram dan sulit bergaul, sebenarnya dia Orc yang baik. Lina juga sudah menganggapnya sebagai teman dan baginya itu normal untuk peduli terhadap teman-temannya.


Saga mendekati Lina dan dengan serius bertanya, "Apa kamu ingin k*w*n denganku?"


"Hah?!" Lina sangat terkejut. "Bukankah kita sedang membicarakan tentang barbekyu? Kenapa berubah menjadi k*w*n?"


Saga sedikit membuka mulutnya, menjulurkan lidahnya dan menjilati lembut wajah Lina.


"Jadilah pasanganku, kau akan aku perlakukan dengan sangat baik."


Lina yang ketakutan mendengar kata-katanya, dengan cepat mundur dan berkata, "Aku sudah punya pasangan."


"Tapi kalau kamu belum k*w*n dengannya, kamu belum benar-benar menjadi pasangannya." Saga mencoba menjelaskan kepada Lina.


Kemudian Lina berkata dengan tegas, "Bagiku, selama kami saling menyukai, kami adalah pasangan sejati."


Saga sedikit cemberut, mata gelapnya kini diselimuti cahaya dingin.


"Apa kamu menyukainya?"


Lina menjawabnya dengan hanya mengangguk, tanpa ada keragu-raguan.


Kemudian Saga bertanya kepada Lina, "Bagaimana denganku? Apa kamu menyukaiku?


Sorot matanya seperti anak panah es yang membekukan Lina.


Lina menjawabnya dengan suara pelan, "Aku juga menyukaimu, tapi itu hanya suka antara teman, bukan suka antara pria dan wanita.."


"Pria dan wanita?"


"Artinya laki-laki dan perempuan." Lina mencoba menjelaskan.


Saga menatapnya dengan dingin.


"Aku tidak butuh teman."


Lina sedikit menundukkan kepalanya sambil berbicara, "Tapi kita hanya bisa menjadi teman."


"Kenapa?" Hati Saga mulai merasa tertekan, "Kamu bisa menerimanya, tapi kenapa kamu tidak bisa menerimaku? Apa karena aku ular?!"


"Tidak, tidak ada hubungannya dengan spesies apa dirimu. Ini alasanku sendiri. Aku tidak mau memiliki banyak pasangan. Awalnya aku hanya berencana memiliki satu Orc jantan sebagai pasanganku seumur hidupku ..." kemudian Lina mulai menjelaskan tentang hubungannya dengan pasangannya yang kedua.


Dia hanya ingin memiliki satu orang pasangan saja untuk seumur hidupnya. Kehadiran Wiro yang tiba-tiba adalah sebuah kecelakaan. Sampai sekarang, dia sendiri juga tidak tahu apa yang harus dia lakukan dengan hubungannya dan Wiro.


Dia juga tidak bisa menerima pasangan yang ketiga.


"Tiga pasangan tidak banyak," kata Saga. "Banyak Orc wanita yang memiliki puluhan pasangan di sekitar mereka. Sedangkan tiga, itu sangat sedikit."


"Untukku, tiga sudah terlalu banyak." Kata Lina.


"Kalau begitu, tunggu sampai kedua pasanganmu menemukanmu, kita duel tiga pria. Yang menang menjadi pasanganmu, yang kalah harus mengalah." Saga mengancam.

__ADS_1


Mendengar Saga berkata seperti itu, membuat Lina seketika menjadi sangat cemas.


"Kenapa masalah emosional harus diselesaikan dengan duel? Meskipun kamu memenangkannya, aku tidak akan pergi bersamamu!"


__ADS_2