Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 56 - Wiro vs Uriel


__ADS_3

Lina yang masih sangat kelelahan, dia hanya berbaring di rumah sepanjang hari, dan Uriel lah yang selalu tinggal di sisinya untuk mengurusnya.


Saat ini, Wiro sedang pergi untuk melihat para Orc yang terluka.


Menurut arahan Lina, Rei diminta untuk mencari beberapa Orc untuk berjaga di samping yang terluka dan merawat mereka siang dan malam.


Kemudian, suatu hari, para Orc dengan demamnya yang tinggi akhirnya sembuh.


Pendarahan pada luka mereka juga sudah berhenti, dan mulai ada tanda-tanda untuk mereka bisa sembuh.


Tentu saja hal ini sontak membuat semua orang menjadi sangat senang.


Termasuk Wiro.


Saat dia sudah tiba di rumah, dia pun segera mendekati Lina dan menggendongnya, menundukkan kepalanya dan mengecup bibir gadis itu berkali-kali.


"Luka-luka mereka kini mulai membaik. Semua itu berkat bantuanmu, kamu benar-benar hebat. Aku benar-benar pria yang sangat layak untukmu dan kamu juga beruntung menjadi pasanganku."


Lina tidak bisa berkata-kata, dia hanya bisa bicara keheranan dalam hatinya, "Pria ini. Dia sudah memujiku, tapi dia tetap tidak lupa untuk menyombongkan dirinya sendiri."


Kemudian Lina menepuk lengan Wiro.


"Turunkan aku."


Dengan rasa enggan, Wiro pun akhirnya menurunkan Lina dari gendongannya.


"Kamu jangan lupa mengingatkan mereka, untuk tetap menjaga dan merawat yang terluka. Lukanya harus dicuci dengan anggur, kemudian lukanya harus dibalur dengan buah harum segar yang sudah dihancurkan, dan mengganti perban yang lama dengan yang bersih. Lakukan itu setiap hari." Kata Lina yang mencoba mengingatkan Wiro.


Lingkungan kesehatan di zaman ini tidak terlalu baik, harus berhati-hati dalam menangani luka yang meradang dan infeksi.


Wiro mengangguk-anggukkan kepalanya, untuk menunjukkan kalau dia mengerti, kemudian dia tiba-tiba bertanya, "Apa kamu mau menjadi Dukun yang baru untuk klan Serigala Batu?"


"Eh!" Lina terkejut dengan apa yang sudah Wiro tawarkan.


Dengan cepat, Lina melambaikan tangannya untuk menolak.


"Aku bukan Dokter. Aku hanya tahu sedikit tentang pengobatan. Mana mungkin aku bisa jadi Dukun? Kamu cari saja orang lain yang mau."


"Tapi kamu sudah sangat hebat. Mereka yang terluka dan hampir mati, sudah terselamatkan olehmu. Sekarang para Orc di klan Serigala Batu sangat mempercayaimu." Kata Wiro.


Lina tetap merasa kalau dirinya tidak pantas menjadi Dukun.


Pemahaman medisnya yang sedikit, hanya bisa untuk keadaan yang darurat. Tentu saja dia belum memenuhi syarat untuk menjadi Dukun.


Kemudian Wiro berkata lagi, "Bisa dibilang, kamu itu mengetahui banyak tentang pengobatan. Dukun-dukun di setiap suku, pengetahuannya mungkin tidak sebanyak kamu."


Lina yang dipuji olehnya pun menjadi sangat malu, dia menggaruk-garuk kepalanya.


"Jangan berkata begitu, aku tidak sehebat yang kamu pikirkan."


"Kamu terlalu rendah hati, tetapi lebih baik tetap rendah hati untuk menghindari lebih banyak masalah." Kata Uriel yang ikut membuka suaranya, sambil mengusap lembut kepala gadis kecilnya.


Wiro yang melihat Lina tetap tidak ingin menjadi Dukun, dia pun tidak memaksanya, dia kemudian berpikir sejenak dan bertanya, "Jika suatu saat, ada Orc Serigala Gunung Batu yang terluka, maukah kamu membantu untuk mengobati mereka?"


Tanpa berpikir panjang, Lina langsung saja menyetujui apa yang Wiro tanyakan.


"Tentu saja."


Setelah beberapa lama bersama dengan mereka, kini Lina telah menganggap klan Serigala Batu sebagai rumahnya. Teman-temannya adalah keluarganya. Dia juga senang bila dimintai untuk membantu mereka.


Setelah berkata, Tiba-tiba Lina teringat akan sesuatu, dan segera menanyakannya kepada Wiro, "Wiro, bolehkah aku melihat pola bintang yang ada di lenganmu?"

__ADS_1


Wiro pun langsung mendekatkan lengannya kehadapan Lina, "Lihat saja."


Kemudian Lina mengamatinya dengan teliti, dia bisa melihat ditato Wiro juga ada gambar seperti mahkota dari tumbuhan merambat yang berduri, di atas kepala serigala.


Semalam, sebelum dia k*w*n dengan Wiro, dia tidak melihat ada mahkota itu. Sepertinya, apa yang sudah dikatakan oleh Uriel benar. Itu pasti ada hubungannya dengan Benih Suci yang ada di tubuhnya.


Ketika Lina sedang mengamati pola bintang, Wiro dan Uriel juga melihat kalau ternyata pola bintangnya telah berubah.


Hal itu membuat Wiro menjadi sangat bingung tidak mengerti, "Bagaimana bisa dipola kepala serigala, kini ada pola tumbuhan yang melingkar?? Sebelumnya pola itu tidak ada."


"Mungkin ada hubungannya denganku, "kata Lina.


"Benarkah??" Wiro tercengang dan semakin bingung.


Lina kemudian menatap ke arah Uriel, dia bisa melihat kalau Uriel sedikit menganggukkan kepalanya sebagai tanda dibolehkan. Barulah, Lina menceritakan tentang Benih Suci kepada Wiro.


Setelah mendengarkan apa yang Lina ceritakan, mata Wiro pun segera berubah cerah, "Jadi, jika aku k*w*n denganmu, bisa meningkatkan kekuatan roh Binatang Buasku?? Kalau begitu, apalagi yang kamu tunggu? Ayo kita segera k*w*n lagi."


Wiro ingin meraih tangan Lina, untuk segera membawa gadis itu ke kamarnya.


Tapi, Lina yang merasa takut, segera memeluk Uriel.


"Aku tidak ingin k*w*n denganmu!"


Dengan kekuatan fisik Wiro, jika Lina dipaksa untuk melakukannya setiap malam, dia pasti bisa hancur di tempat tidur.


Melihat Lina yang tidak mau menyerah, dan tetap memegang Uriel, telah membuat wiro menjadi kesal.


"Apa malam ini kamu ingin k*w*n dengan Uriel, tapi bukan denganku? Bukankah dia sudah beberapa kali lebih sering, jika dibandingkan denganku?"


Lina pun berkata, "Malam ini aku ingin istirahat. Dan aku juga tidak akan k*w*n dengan Uriel. Aku tidak ingin melakukan apa-apa selain tidur!"


Lina mengangguk cepat.


"Aku sama sekali tidak ada niatan untuk menipumu!"


Tapi, ketika sudah waktunya untuk tidur, Wiro dan Uriel mulai bertengkar tentang, dengan siapa Lina akan tidur.


"Aku!"


"Tidak-tidak. Harusnya aku!" Kata Uriel, menolak apa yang Wiro inginkan.


Wiro ingin tidur dengan Lina, tetapi Uriel bersikeras menolaknya dan menginginkan dirinya lah, yang tidur bersama gadis kecilnya.


Dua Orc pria yang bertubuh tinggi, kini terjebak di pintu kamar tidur utama untuk waktu yang lama, dan saling mengawasi satu sama lain. Mereka berdua berpikiran sama.


"Aku tidak akan membiarkan dia tidur bersama Lina!"


Pada akhirnya, Uriel yang tidak ingin mengganggu tidur gadis kecilnya pun angkat bicara, "Baiklah. Sudah-sudah. Jangan ganggu tidur Lina lagi. Aku bisa tidur bersama-sama!"


"Kamu ingin kita bertiga tidur bersama??" Lina bertanya dengan nada suaranya yang keheranan.


Uriel berkata dengan tenang, "Selama aku bisa membuat nyaman gadis kecilku, aku akan melakukan apa saja."


Wiro yang tidak mau kalah dari Uriel pun berkata, "Tidur bertiga. Ok. Siapa yang takut?"


Lina, "....."


Lina yang awalnya merasa santai, kini tidak menyangka kalau Wiro dan Uriel akan berkoalisi. Dia merasa Ini sedikit memalukan.


Ini bukan tentang siapa yang takut siapa. Ini adalah masalah integritas.

__ADS_1


Akan tetapi, tentu saja, tidak ada yang namanya integritas di dunia Orc yang liar ini.


Jadi, Lina merasa tidak akan ada gunanya, jika menggunakan masalah integritas sebagai alasan untuk dia menolak. Dia hanya bisa menggunakan alasan yang ringan dan masuk akal.


"Tapi, ranjang ini terlalu kecil untuk ditiduri oleh tiga orang. Sebaiknya kalian tidur di kamar kalian masing-masing."


Mendengar apa yang telah dikatakan gadis itu, seketika membuat mata kedua Orc pria itu bersinar, senyum lebar pun bisa terlihat di bibir mereka berdua.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Uriel dan Wiro segera mengeluarkan kuku mereka yang tajam, dan bekerjasama menggali lempengan batu yang besar dari dinding batu yang ada di dekatnya.


"CRAK! CRAK! CRAK! CRAK!"


Kemudian, mereka segera menyeret dan memposisikannya di sebelah ranjang, yang sedang Lina pakai untuk tidur.


"SREEET!"


"BRUK!"


Lalu membentangkan selimut tebal dari kulit binatang di atas ranjang batu yang baru.


Jadi, tempat tidur yang sebelumnya kecil, kini telah mereka tingkatkan menjadi tempat tidur yang super besar, yang cukup untuk lima orang berguling-guling secara bersamaan.


Kini Lina pun sudah tidak bisa beralasan apa-apa lagi.


Wiro tidur di sebelah kiri Lina, dan Uriel tidur di sebelah kanan gadis kecilnya. Lina terjepit di antara dua Orc laki-laki yang bertubuh tinggi dan kuat.


Lina berbaring lurus dengan kaku, dan melihat ke langit-langit gua, sambil berpikir kalau hal ini sungguh memalukan.


Uriel memiringkan tubuhnya ke arah gadis kecilnya dan memeluk perut gadis itu, kemudian berkata dengan lembut, "Sudah larut. Tidurlah."


Wajah Lina kini pun terlihat sangat kusut.


"Ah. Bagaimana aku bisa tidur kalau seperti ini?!"


Wiro mengangkat alisnya ketika melihat aksi Uriel, dia juga segera memiringkan posisi tidurnya menghadap Lina, kemudian merentangkan kaki kirinya yang panjang ke atas kaki Lina.


Ketika Lina menatapnya, dengan santai Wiro berkata, "Dengan kakiku, aku sedang menyelimuti kakimu."


Lina berkata dan mata bulatnya terbuka lebar, "Terima kasih! Aku tidak membutuhkannya!"


Bahkan ketika Lina berkata seperti itu, Wiro tetap tidak menarik kembali kakinya.


Tiga orang tersebut, mempertahankan postur mereka yang aneh ini, tidak ada yang mau bergerak.


Lina mengira dirinya tidak akan bisa tidur.


Tetapi.


Pada akhirnya..


Dia pun tertidur...


...........


Dipagi hari.


Ketika Lina sudah bangun dari tidurnya, dua pria yang semalam ada di sampingnya, kini sudah tidak ada lagi.


Lina mengingat-ingat kembali kejadian semalam. Meskipun dalam gambaran di pikirannya, tentang tiga orang yang sedang tidur bersama-sama itu sangat aneh, tetapi setelah dia pikir lagi, membuat dia tersenyum-senyum sendiri.


Tapi tentu saja tidurnya akan jauh lebih nyaman, jika kedua pria bertubuh tinggi itu, tidak terus-menerus mendorong tubuh mungil Lina.

__ADS_1


__ADS_2