Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 158 - Tergantung Situasinya


__ADS_3

"Sepertinya kamu benar-benar mencintai wanita itu?"


"Karena dia layak untuk dicintai," kata Uriel.


Mendengar itu, Martin pun menunjukkan senyum puasnya sambil berkata, "Ayah khawatir, setelah ayah pergi, kamu akan bersaing dengan adikmu, untuk memperebutkan takhta, tapi sekarang sepertinya ayah lebih mengkhawatirkan adikmu."


Setelah berkata seperti itu, dia menarik napasnya, dan kemudian melanjutkan untuk berkata lagi, "Dulu, karena kematian Devina, ayah selalu menyimpan dendam terhadap Azka. Ayah selalu berpikir kalau dialah penyebab dari kematian Devina, oleh karena itu ayah sengaja mengabaikannya untuk waktu yang lama, yang membuatnya telah banyak menderita. Sekarang ayah benar-benar menyesal, karena telah membuatnya marah.. Dia tidak bersalah.. Ayah sangat menyesal, tapi sekarang tubuh ayah sudah seperti ini, ayah anggap sebagai balasan dari para Dewa karena telah mengabaikan adikmu.. Tidak ada cara lain untuk ayah menebus semua kesalahan ayah, hanya dengan cara memberikan tahta kepada adikmu.. Ayah juga tahu kalau Azka selalu ingin mewarisi tahta, dia telah melakukan banyak upaya untuk bisa menjadi Raja.. Jika dia bisa sampai naik takhta, dia pasti akan sangat senang.."


Dengan pidato yang begitu panjang, Martin merasa sangat kelelahan.


Dia mengerahkan seluruh tenaganya yang tersisa, untuk mengulurkan tangan kanannya dengan gemetaran.


"Uriel.."


Uriel pun dengan cepat meraih tangan ayahnya sambil berkata, "Saya di sini."


"Azka memang terlihat selalu ceria, tapi sebenarnya dia sangat sensitif.. Ayah tidak bisa mendampinginya.. Setelah ayah pergi, kamu harus membantu ayah untuk menjaganya.. Jangan biarkan dia sampai terpengaruh oleh orang-orang jahat, terutama oleh orang-orang dari Kuil, yang ..."


Meskipun kata-katanya belum selesai, tapi Uriel sudah mengerti artinya, dengan cepat dia mengangguk dan menjawab, "Saya pasti akan menjaga Azka!"


"Jangan sedih.. Meskipun tubuhku sudah mati, jiwaku akan segera bersatu kembali dengan Devina.." Setelah berkata seperti itu, Martin berhenti sejenak untuk mencoba menarik napasnya dalam-dalam dan berkata sambil matanya menatap ke langit-langit kamar, "De vi na.. Sa yangku.. Tu nggu a ku..."


Setelah berkata lirih dan terbata-bata, Martin pun memejamkan matanya, dan tangan kanannya jatuh terkulai tanpa daya.


Melihat hal ini, Uriel segera berlutut, lalu satu tangannya menutup mata ayahnya yang terbuka.


"Selamat jalan ayah.."


Saat itu juga, air mata Uriel jatuh, dalam diamnya.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Setelah mendengarkan cerita dari Uriel Azka tertegun untuk waktu yang lama.


Setelah dia mulai tersadar, dia mulai bergumam, "Kamu pasti bohong, kan? Selama ini ayah tidak pernah menyukaiku. Mana mungkin dia menyerahkan tahtanya untukku? Jelas-jelas kamu pasti sudah berbohong padaku?"


Uriel merubah wujudnya ke bentuk Orcnya, dia menarik cakarnya dari leher Azka, dan berkata, "Kamu selalu berpikir kalau kami semua selalu membodohimu, pernahkah kamu berpikir untuk mempercayai kami sekali saja? Kamu lebih suka mendengar semuanya dari orang luar, daripada keluargamu sendiri. Selain itu, kamu bahkan sudah menyakiti Lina!"


Setelah berkata seperti itu, Uriel pun mengepalkan tinjunya dan memukul Azka tepat di pipinya, untuk memberikan Azka pelajaran.


"DUAGH!"


Namun tidak berhenti sampai di situ saja. Setelah memukul pipi Azka, kepalan tinjunya tetap berada di pipi Azka dan dia tekan dengan kuat ketanah!

__ADS_1


Kini Azka telah dipukul hingga bengkak, dia juga tidak sanggup untuk melawan balik Uriel.


Di satu sisi, dia terlalu takut untuk menyadari perbuatannya. Di sisi lain, karena Uriel benar-benar telah memukulnya terlalu keras, yang membuat Azka sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk melawan balik Uriel.


Kekuatan dari roh Binatang Buas bintang lima sudah sangat kuat, bahkan jika itu hanya kepalan tangan dalam wujud Orc Uriel, tapi sudah sangat cukup untuk bisa melumpuhkan Azka.


"DUAGH! DUAGH! DUAGH! DUAGH!"


Uriel memukul Azka beberapa kali lagi, setelah itu dia berdiri dan menatap Azka sambil berkata, "Jika kamu bukan saudaraku, aku pasti sudah mematahkan lehermu!"


Kini Azka telah kembali ke wujud Orcnya. Dia tergelatak di tanah dan bisa merasakan kalau beberapa tulang di dadanya patah.


Dia juga tidak tahu, berapa lama dia harus berbaring untuk pemulihan, belum lagi dengan wajahnya yang babak belur dan bengkak.


Dia telah dipukuli dengan keras oleh Uriel, sampai wajahnya tak bisa dikenali lagi dan terlihat sangat menyedihkan.


Azka mencoba dengan susah payah untuk mengangkat kepalanya, kemudian berkata dengan suaranya yang terdengar lemas, "Ayah selalu mengatakan kalau karena akulah ibu meninggal, ayah juga selalu memarahiku tanpa sebab. Apakah ibu benar-benar meninggal karena kebakaran yang tidak disengaja?"


Mendengar itu, Uriel pun berkata tanpa ekspresi, "Ya. Ibu memang seharusnya bisa lolos dari api, tapi dia meninggal demi untuk menyelamatkanmu."


Kini Azka pun membeku lagi karena sangat kaget mendengar apa yang baru saja Uriel katakan.


"Ba bagaimana mungkin.."


Mendengar itu, Azka tidak bisa menahan tubuhnya yang gemetar, "Ke kenapa aku tidak ingat apa-apa ..."


"Waktu itu kamu sedang sakit parah. Kamu sudah tidak sadarkan diri selama beberapa hari. Itulah kenapa kamu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Saat kamu sudah tersadar, dan supaya tidak membuatmu menyalahkan dirimu sendiri, kami hanya bisa mengatakan kalau ibu meninggal karena kecelakaan." Kata Uriel.


Azka hampir pingsan saat mendengar apa yang Uriel katakan. Dia pun memegangi kepalanya dan meringkuk seperti bola.


"Kenapa semua ini bisa terjadi? Bagaimana bisa.."


Saat ini Uriel sedang memejamkan matanya, seolah-olah dia sedang mengingat-ingat lagi kejadian waktu itu.


"Kata-kata terakhir yang ibu katakan kepada kami adalah, "Ibu mencintaimu! Ibu mencintaimu!""


Mendengar itu, Azka tampaknya benar-benar seperti telah kehilangan akal sehatnya.


"AAAAAHHHH!"


"HUAAAAAA!"


"Kenapa ini bisa terjadi.. Kenapa semua ini terjadi.. Kenapa.."

__ADS_1


Dia hanya bisa mengulangi kalimatnya.


Saat ini Uriel telah siap untuk pergi. Sebelum pergi, dia menatap Azka lagi.


"Kematian ibu adalah sebuah kecelakaan. Jadi, kamu tidak perlu meyalahkan dirimu sendiri dan merasa kalau kamu lah yang jadi penyebab kematian ibu."


Namun sepertinya Azka tidak mendengar apa yang Uriel katakan, dia masih tenggelam dalam dunianya sendiri, dan terus mengulangi kalimatnya itu.


"Kenapa.. Kenapa ini bisa terjadi.. Kenapa.."


Sampai saat Uriel berkata lagi, "Api itu mungkin sengaja dibuat oleh seseorang."


Tiba-tiba saja Azka berhenti berkata pada dirinya sendiri. Lalu dia menatap Uriel dengan matanya yang terbuka lebar.


"Siapa yang melakukannya? Siapa yang telah sengaja menyalakan api?"


"Setelah ibu meninggal, secara diam-diam ayah dan aku telah menyelidiki masalah ini, dan menemukan kalau api itu mungkin disebabkan oleh imam besar. Tapi kami tidak mempunyai bukti, dan juga ada Kuil yang melindunginya. Kami tidak bisa berbuat apa-apa kepada dia." Ucap Uriel.


Seperti orang yang akan tenggelam di air dan berusaha untuk tetap mengapung, tiba-tiba Azka meraih sepotong kayu yang ada di dekatnya untuk menyandarkan tubuhnya, sambil berbaring di tanah.


"Kenapa dia membunuh ibu?” Tiba-tiba saja kini hatinya dipenuhi dengan kebencian, yang bahkan telah mengalahkan kebenciannya pada dirinya sendiri. "Tidak peduli untuk apa dia melakukan hal itu, aku akan membalas dendam! Aku pasti akan melakukannya!"


Saat Uriel menatap adiknya yang seperti ini, dia pun merasa kasihan.


"Jangan bertindak impulsif. Imam besar telah menempatkan dirimu di atas takhta. Dan kamu juga pasti akan dikendalikan olehnya. Kamu bisa mengambil kesempatan ini, untuk memenangkan kepercayaannya. Saat kamu sudah menstabilkan kekuatanmu, kamu bisa mencoba untuk membalaskan dendam kematian ibu, kepada mereka semua."


Azka pun mengepalkan tinjunya.


"Aku tahu apa yang harus dilakukan."


Setelah Azka berkata seperti itu, Uriel segera berbalik, tapi baru saja berjalan beberapa langkah, dia mendengar suara Azka dari arah belakangnya.


"Kakak, apa suatu saat nanti kakak akan kembali ke sini lagi?"


Saat mendengar itu, Uriel tidak tahu apakah itu karena rasa bersalah atau karena cederanya. Suara Azka terdengar lemah.


Uriel menghentikan langkahnya dan berkata dengan tidak menoleh ke belakang, "Tergantung situasinya nanti." Kemudian dia segera berjalan pergi tanpa melihat ke belakang lagi.


Kini Azka hanya bisa melihat saudaranya pergi selangkah demi selangkah.


Orc pria tampan yang berjalan pergi itu adalah satu-satunya kerabat terakhirnya di dunia Orc ini, tapi sekarang dia telah pergi.


"Di istana yang besar ini, aku akan bertarung sendirian! Pantang menyerah, tidak boleh sedih dan pantang untuk menyesalinya!"

__ADS_1


Seketika, semua emosinya muncul dalam sekejap.


__ADS_2