Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 207 - Ayah dan Anak


__ADS_3

"Aa aku.."


Bingung bagaimana menjawab pertanyaan dari Lina, satu tangan Leon segera memegang batang pohon besar yang ada di sebelahnya, lalu berkata dengan suaranya yang terdengar lemah, "Kakiku masih terasa sangat sakit.. Aku harus menahan rasa sakit ini dan tetap melompat, demi untuk menyelamatkanmu.."


Mendengar apa yang Leon katakan, Lina pun menundukkan kepalanya, menarik napasnya dalam-dalam, lalu menatap Leon sambil tersenyum hangat dan berkata, "Jadi, ini hanyalah salah paham?"


"Ya.." Kata Leon yang merasa bersalah, dan tak berani menatap Lina.


"Hmm.. Rupanya hanya salah paham," kata Lina sambil tersenyum lembut. Setelah itu, dia lanjut berkata lagi, "Sebagai kompensasi atas kesalahpahamanku, bagaimana jika aku menciummu?"


Begitu mendengar apa yang baru saja Lina katakan, saat itu juga sorot mata Leon segera berubah cerah, dan segera memalingkan wajahnya untuk menatap Lina, dengan wajahnya yang kini terlihat penuh harap.


Saat ini, Lina yang dengan sadar pun mulai berjalan mendekati Leon sambil menundukkan kepalanya.


Begitu dia telah berada di dahadapan Leon, dia segera melompat keperut Leon yang bertubuh tinggi, dan kedua tangannya dia rangkulkan ke tengkuk Leon, lalu menundukkan kepalanya, dan segera menggigit leher Leon!


"KRESH!"


Karena Lina sedang merasa sangat marah, tanpa dia sendiri sadari, dia telah menggigit leher Leon sangat keras, hingga membuat kulit leher Leon robek dan mengeluarkan darah berwarna merah cerah!


Merasa takut Lina akan terjatuh, Leon pun segera memeluk tubuh Lina.


"Pelan-pelan saja." Kata Leon.


Setelah menggigit leher Leon hingga berdarah, Lina pun menjulurkan lidahnya, menjilati darah Leon dan menelannya.


Merasakan ada sentuhan basah dan lembut pada lehernya, membuat seluruh tubuh Leon seketika itu juga menjadi kaku. Dan sesuatu yang biasanya menggantung di antara kedua kakinya, kini tiba-tiba saja mengeras dan mendongakkan kepalanya.


Lina yang sama sekali tidak menyadari adanya perubahan pada tubuh bawah Leon, saat ini sedang tajam menatap Leon dengan kedua matanya yang besar dan bulat, kemudian dia berkata, "Bukankah kamu sedang keracunan? Jika aku menelan darahmu, bukankah aku juga akan ikut keracunan?"


Mendengar apa yang baru saja Lina katakan, membuat Leon bingung harus berkata apa.


"Sial! Aku ketahuan berbohong! Jalan satu-satunya hanyalah mengakuinya, untuk membuat suasana kembali melunak." Pikir Leon.


"Ehem.." Setelah terbatuk pelan, Leon pun berkata, "Aku tidak sepenuhnya membohongimu.. Hampir saja aku mati karena racun Ular.." Baru setelah itu, dia bisa terbebas dari maut, setelah racun King Kobra dihancurkan oleh darah Lina.


"Dasar burung br*ngs*k! Kenapa kamu tega menipuku dengan cara seperti itu?! Padahal aku benar-benar berpikir kalau kamu akan mati! Aku.. aku.."


Melihat Lina yang semakin marah hingga membuatnya tidak bisa berkata-kata lagi, Leon pun segera mendekati dan mengusap lembut punggung Lina untuk membantunya menenangkan diri, lalu mencoba berkata untuk mengakui kesalahannya, "Aku salah. Seharusnya aku tidak menjadikan hal-hal seperti ini untuk bercanda denganmu. Aku janji tidak akan pernah mengulanginya lagi. Jika kamu masih merasa sangat marah denganku, gigitlah aku beberapa kali lagi. Aku pasti tidak akan pernah melawan." Begitu Leon selesai berkata seperti ini, dia segera menundukkan kepalanya dan menyodorkan lehernya kehadapan Lina, supaya Lina bisa menggigitnya lagi dengan leluasa.


"Dasar burung b*j*ng*n! Dia selalu saja mau mengakui kesalahannya, tapi tidak pernah berubah!" Pikir Lina sambil melotot ke arah Leon.


Tapi Lina segera mendorong Leon sambil berkata dengan marah, "Aku tidak akan pernah lagi mempercayai apa pun yang kamu katakan." Selesai berkata seperti itu, dia pun segera berbalik dan berjalan pergi, mencoba untuk menjauh dari si burung br*ngs*k.


"Jangan coba-coba mengikutiku! Melihatmu saja sudah membuatku sangat marah!" Kata Lina mencoba untuk memperingatkan Leon.


"Memangnya kamu akan pergi kemana?" Tanya Leon dengan ekspresi heran.


"Aku ingin segera pulang!" Jawab Lina yang terus saja berjalan, tanpa sedikitpun menoleh ke belakang.

__ADS_1


"Gunung batu kearah sini. Kamu menuju ke arah yang salah." Kata Leon yang sedang menatap punggung Lina, sambil satu tangannya menunjuk kearah yang berlawanan dengan Lina.


Lina, "....."


Mendengar apa yang baru saja Leon katakan, Lina pun segera menghentikan langkahnya lalu berbalik, memelototi Leon, kemudian berkata, "Tidak usah kamu beritahu juga aku sudah tahu!"


Kali ini, Leon memutuskan untuk mengejar Lina, "Biar aku gendong kamu."


Tapi Lina berusaha untuk melepaskan tangan Leon dan berkata, "Tidak usah pedulikan aku, aku bisa jalan sendiri!"


"Tapi, dengan kecepatanmu berjalan, meskipun jika kamu telah berjalan selama satu setengah tahun, Gunung Batu mungkin masih tetap tidak akan bisa kamu lihat."


Lina, "....."


Merasa di ejek oleh Leon, Lina yang berkaki pendek pun segera membalas perkataan Leon, dengan nada suaranya yang masih terdengar sangat marah, "Mentang-mentang mempunyai kaki yang panjang, sudah merasa dirinya paling hebat, hah?! Memangnya apa hebatnya jika memiliki kemampuan untuk terbang, hah?!"


Sebenarnya, saat melihat Lina yang saat ini sedang sangat marah, membuat Leon ingin tertawa.


Tapi, agar amarah gadis mungil itu tidak semakin meledak, Leon mencoba untuk menahan tawanya, memasang ekspresi serius, kemudian berkata, "Kakiku tidak terlalu panjang, jika kamu tidak percaya, kita ukur saja kakiku." selesai berkata seperti itu, dia pun segera menggunakan jari-jarinya untuk mengukur kakinya yang panjang, dan hasil ukurannya berhenti sampai di pinggangnya, yang ternyata setinggi dada Lina.


Tentu saja hal ini membuat Lina semakin bertambah marah.


"Selain berbohong padaku, burung br*ngs*k ini bahkan mempermalukanku dengan menggunakan tinggi badannya?! Sepertinya dia benar-benar minta di hajar sampai parah!"


Selesai berpikir seperti itu, Lina pun segera menunjuk ke Leon, sambil berkata dengan marah, "Kubucil! Gigit dia!"


Detik itu juga, Kubucil segera melompat dari rambut Lina sambil membuka mulutnya yang berada di tengah-tengah kelopak bunga, meraung dan segera menggigit bahu Leon.


"Rerrr! Rerrr!"


Di gigit oleh Kubucil, Leon pun segera menutupi dadanya, tubuhnya juga bergetar dua kali, dan dengan ekspresi wajahnya yang terlihat kesakitan dia berkata, "Kamu.. Kamu bahkan menyuruh si pria kecil untuk menggigitku? Dia ini anak kita.. Kenapa kamu bisa begitu kejam?"


"Yang dia gigit kan bahumu! Untuk apa kamu menutupi dadamu?!" Kata Lina dengan dingin.


"Hatiku yang terasa sakit.." Sahut Leon.


Lina yang wajahnya kini mati rasa karena sangat marah, sudah tidak ingin lagi meladeni si burung br*ngs*k ini, yang sebelumnya hampir tewas tergigit Ular Berbisa.


Melihat sikap Lina yang biasa-biasa saja, Leon pun menghela nafasnya, "Hhhh.."


"Gadis mungil ini hatinya sekeras batu!" Batin Leon.


Pada saat ini, Kubucil pun mulai mengendurkan gigitannya pada bahu Leon.


Meskipun barusan cara menggigit Kubucil terlihat sangat ganas, tapi dia sama sekali tidak mengerahkan kekuatannya. Bahkan jubah yang Leon kenakan, sedikitpun tidak ada yang terkoyak.


Melihat hal ini, Lina pun mencibir, "Huh! Ayah dan anak bekerjasama untuk membodohiku!"


Kubucil pun segera mendekati Lina dan menggosok punggung tangannya, kemudian berkata dengan lembut dan sopan, "Jangan marah, Ibu.."

__ADS_1


Tapi Lina segera sedikit mendorong Kubucil untuk menjauh, sambil berkata, "Tidak ada gunanya kamu bersikap seperti itu. Berani-beraninya kamu juga menipuku? Kalian berdua memang sama saja!"


Mendengar apa yang Lina katakan, membuat Kubucil merasa bersalah.


Dia segera kembali mendekati Leon, melingkarkan ranting pohonnya ke pergelangan tangan Leon, lalu berkata dengan suaranya yang terdengar menyedihkan, "Ayah.."


Melihat ini, Leon pun menyentuh kelopak bunga Kubucil, lalu berkata kepada Lina, "Jika kamu marah, marahlah padaku, jangan memarahi Kubucil. Dia ini masih anak-anak."


"Ya. Dia masih anak-anak. Anak-anak yang baru bisa membuka mulutnya, tapi sudah bisa membodohiku." Kata Lina dengan ekspresi tidak peduli.


Mendengar apa yang Lina katakan, daun-daun di tubuh Kubucil pun berguncang karena merasa semakin bersalah dan sedih.


Meskipun saat ini Lina sangat ingin menghajar Leon habis-habisan, tapi karena perbedaan yang besar dalam segi kekuatan antara dirinya dan Leon, dan tingkat keberhasilannya hanyalah kurang dari satu persen, akhirnya dia hanya bisa pasarah sambil menahan amarahnya.


...........


"BLAK! BLAK! WUSHHH!"


Pada saat ini, Leon telah memeluk dan membawa Lina terbang, untuk kembali ke Gunung Batu.


Meskipun Lina ingin segera cepat pulang kerumah, tapi Leon bersikeras untuk memperlambat laju terbangnya.


Awalnya, Leon berencana ingin mencari Dukun di suku terdekat, untuk memeriksa luka di punggung Lina, dan beristirahat semalam di suku itu.


Tapi tanpa di duga, begitu mereka telah mendekati wilayah suku yang hanya berjumlahkan sedikit Orc, dari ketinggian, Leon mencium bau darah dan busuk yang sangat kuat, dan dengan penglihatannya yang sangat tajam, Leon juga bisa melihat dengan jelas situasi di yang ada di bawahnya.


Suku itu dipenuhi dengan potongan-potongan tubuh yang telah membusuk, dan ada sekitar selusin Orc yang masih bergerak-gerak.


"Tidak, mereka tidak lagi bisa disebut sebagai Orc, kulit dan daging mereka telah membusuk, pergerakan mereka sangat kaku, dan wajah mereka juga sudah tidak dapat dikenali lagi." Pikir Leon.


Hal yang paling mengerikan, mereka menggerogoti tulang-tulang rekan mereka sendiri yang sudah mati, hingga suara tulang-tulang itu berderak dan terdengar menjijikkan.


Lina yang kemampuan penglihatannya terbatas, tentu saja tidak bisa melihat situasi yang ada di bawahnya dengan jelas. Dia hanya bisa melihat beberapa sosok yang seperti sedang berdiri di sekitar suku itu, kemudian bertanya, "Suku ini terlihat sangat tenang. Ada apa?"


"Para Orc di suku ini semuanya telah mati. Mereka semua telah terinfeksi penyakit darah mati." Kata Leon sambil mengerutkan kedua alisnya.


"Mereka semua mati?" Kata Lina sambil membuka matanya lebar-lebar, lalu dia lanjut berkata lagi, "Apa di antara mereka masih ada yang bergerak?"


"Para Orc malang yang masih bergerak, sudah terinfeksi dan menjadi boneka iblis." Kata Leon.


Suku ini tidak lagi bisa diselamatkan, dan Leon juga tidak bisa membiarkan wabah penyakit darah mati ini menyebar sampai ke tempat lain yang ada di sekitarnya.


Setelah berkata seperti itu, dia pun segera mengumpulkan energi api pada satu tangannya hingga padat menggumpal.


"WUT! WUT! WUT!"


Lalu menjatuhkan bola api itu.


"SYUTTT!"

__ADS_1


Dan saat bola api itu menyentuh tanah dan meledak, segera membakar seluruh wilayah suku itu hingga menjadi abu.


"DUARRR!"


__ADS_2