Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 175 - Bambu


__ADS_3

Dari hari ke hari, cuaca semakin terasa dingin. Dan terasiring yang ada di gunung sebelah, secara bertahap mulai terlihat bentuknya.


Saat ini Wiro berada di pegunungan, untuk mencari adanya aliran air. Setelah Saga dan Wiro menemukan adanya aliran air di gunung tersebut, mereka berdua bersama-sama dengan Orc yang lainnya, membuat saluran air menuju ke terasiring yang sudah mereka buat, yang berada dekat dengan kebun sayuran baru mereka.


...........


Untuk menghindari dari terkubur oleh salju saat musim dingin, para Orc di kediaman sementara yang ada di kaki gunung, pindah ke sebuah bukit kecil yang ada di dekat Gunung Batu.


...........


Saat rebung di hutan bambu sudah matang, Uriel menggali semua rebung itu dan membawanya pulang.


Begitu Carli melihat rebung yang segar itu, mulutnya segera berair.


"Waah.."


Persediaan makanan di rumah Lina sangat banyak, dan juga tidak pernah kekurangan rebung. Jadi, dengan murah hati, dia memberikan banyak rebung untuk Carli makan.


"Terima kasih.." Ucap Carli berterima kasih kepada Lina.


"Kak Vanda benar, bisa datang ke Gunung Batu, adalah hal yang sangat membahagiakan!" Batin Carli.


"Aku akan membuat beberapa acar rebung." Kata Lina.


Setelah itu, dia mengambil beberapa rebung, memotongnya menjadi banyak potongan, memasukkannya ke dalam toples batu, memasukkan beberapa buah liar yang rasanya asam, lalu menutupnya dan menyimpannya.


Setelah itu, Lina meminta Uriel untuk memotong beberapa bambu lagi. Itu karena Carli juga sangat tertarik dengan bambu.


Carli pun segera mendekati bambu yang akan Uriel potong-potong dan mengendusnya. Matanya segera berbinar.


"Hmmm.. Baunya terasa sangat enak.." Kata Carli.


Anak-anak Serigala juga ikut mencoba menciumi bau bambu-bambu tersebut. Tapi, tak peduli bagaimana baunya, mereka tidak berpikir kalau bambu itu berbau harum.


Sebaliknya, mereka lebih menyukai aroma barbekyu.


Setelah bambu-bambu selesai dipotong oleh Uriel, kemudian Lina memberikan beberapa bambu tersebut untuk Carli.


Carli pun merasa sangat senang, hingga dia berguling ke tumpukan bambu dan memakan bambu-bambu tersebut dengan tenang.


Pada saat ini, Lina ingin memotong bambu menjadi potongan-potongan yang tipis. Sayangnya, kekuatannya terlalu kecil. Selain itu, hasilnya juga tidak sempurna, hingga membuat jarinya hampir saja ikut teriris.


Saat melihat hal itu, akhirnya Uriel membantu Lina memecahkan masalahnya.


Uriel mengeluarkan cakarnya, dan hanya dengan sapuan cakarnya, bambu-bambu itu telah terpotong tipis-tipis.


Lina mengambil potongan bambu-bambu tersebut, lalu mengangguk dan berkata, "Bagus!"


Kemudian dia duduk, dan mulai mencoba untuk membuat keranjang kecil dari potongan bambu tipis tersebut.

__ADS_1


"Keranjang jenis ini sangat pas untuk menampung buah-buahan dan sayuran. Jika dijaga dan dipergunakan dengan baik, tentu keranjang ini bisa digunakan untuk waktu yang lama. Selain itu, bobotnya juga jauh lebih ringan daripada tas kulit." Kata Lina kepada Uriel.


Setelah Uriel mengambil beberapa bambu lagi, dia segera ikut duduk di dekat Lina dan memotong semua bambu tersebut menjadi potongan yang tipis, lalu belajar bagaimana caranya menganyam dari Lina dan mulai membuat keranjang bambu.


Uriel adalah Orc yang cerdas, dia cepat belajar. Dengan cepat, dia bisa membuat beberapa keranjang bambu yang indah. Dan kini selusin keranjang bambu dengan berbagai ukuran, telah dianyam oleh Uriel.


Pada saat ini, Lina bangkit dari duduknya, ternyata dia juga telah selesai membuat bola kecil dari potongan bambu.


Dia melemparkan bola bambu ke anak-anak Serigala dan menyuruh mereka untuk bermain.


"Anak-anak.. Tangkap bola ini.. Bermainlah di luar.."


Untuk pertama kalinya, anak-anak Serigala melihat mainan baru dan bermain-main dengan bola tersebut sepanjang sore. Hanya ketika Uriel telah selesai menenun keranjang bambu dan menyuruh mereka untuk makan malam, anak-anak itu baru berhenti.


Sebagai kakak perempuan dan yang tertua, Wirna merasa bertanggung jawab untuk menjaga dan membawa bola bambu tersebut, bersama dengan ketiga adik laki-lakinya yang mengikutinya dengan penuh semangat.


Menu makan malam ini adalah, rebusan rebung dan ayam yang dicampur dengan sup tulang.


Sup tulang yang kaya akan rasa, dicampur dengan rebung, membuat rasa sup itu terasa menyegarkan.


Selain itu juga ada daging ayam berbumbu yang kemudian dibungkus dengan daun bambu, dan dikukus. Aroma wangi dari daun bambu dan ayam menyatu.


"Mmmm.. Aromanya sangat enak!" Kata Lina.


Malam ini, keluarga Lina makan dengan sangat senang.


...........


Sedangkan Uriel, dia berada di toko. Dia juga meletakkan beberapa keranjang bambu yang telah dia buat.


Selain berjualan buah-buahan dan sayuran, kini dia juga menjual beberapa keranjang bambu yang dia anyam sendiri.


Pria di toko sebelah pun segera memperhatikan keranjang itu. Dia menuju ke toko Uriel dan bertanya, "Tuan, keranjang ini terlihat sangat menarik. Bisakah anda menjual dua keranjang kepada saya?"


Saat mendengar itu, Uriel pun segera memberikan dua keranjang bambu kepada pria itu sambil berkata, "Ini dua keranjang yang terakhir, untukmu saja."


"Ah.. Terima kasih tuan.." Setelah berkata seperti itu, Nano pun segera mengambil kedua keranjang tersebut dan mengeluarkan sepasang boneka, lalu menyerahkan boneka tersebut kepada Uriel, "Ini adalah sepasang boneka yang saya bawa dari Kota Binatang Buas. Boneka ini memang tidak bernilai banyak uang. Tuan, anda bisa memberikannya kepada anak-anak."


Itu adalah boneka dua harimau kecil. Boneka itu diukir dengan halus dan terlihat sangat mirip.


Uriel pun segera menerima kedua boneka itu.


Saat Uriel telah kembali ke rumah, dia hanya menemukan Lina yang sedang memotong bambu. Sedangkan Carli dan anak-anak Serigala tidak terlihat.


Dia pun segera bertanya, "Di mana anak-anak?"


"Mereka sedang bermain sepak bola," jawab Lina tanpa mengangkat kepalanya.


Karena sekarang mereka memiliki mainan bola bambu, anak-anak Serigala itu pun bermain dengan bola bambu selama seharian ini. Jadi, Lina menyuruh mereka keluar untuk mencari tempat yang terbuka dan datar, untuk mereka bermain sepak bola.

__ADS_1


Wirna membawa ketiga adiknya ke area belajar yang ada di lantai sebelas, karena di sana ada tempat yang datar dan luas, yang memang disediakan untuk tempat bermain bagi para anak-anak yang ada di Gunung Batu.


Selain itu, area tersebut juga belum pernah digunakan, dan tidak apa-apa untuk mereka bermain sepak bola di tempat itu.


Dengan bola bambu yang dipegang oleh Wirna dan bersama dengan adik-adiknya yang mengikutinya di belakangnya, hal itu segera menarik banyak perhatian anak-anak lain. Kini, permainan sepak bola mereka pun menjadi semakin ramai.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya Uriel kepada Lina.


"Aku ingin membuat busur panah." Jawab Lina


"Busur panah? Apa itu?" Tanya Uriel.


"Itu adalah senjata. Apabila ada anak panahnya, busur panah bisa digunakan untuk menembak musuh. Bisa digunakan untuk pertahanan diri di saat-saat kritis." Jawab Lina.


Senjata terkuat para Orc adalah diri mereka sendiri. Mereka dapat merobek mangsanya hanya dengan cakar mereka yang sangat tajam. Mereka jarang menggunakan senjata dan alat bantu lainnya, karena mereka itu sangat kuat.


Tapi bagi Lina yang tidak memiliki cakar dan kekuatan seperti para Orc, dia hanya bisa menggunakan senjata, untuk dia bisa mempertahankan dirinya.


Meskipun Lina sudah memiliki pisau tulang, tapi jika dia juga memiliki busur panah, kedua senjata itu bisa dia gunakan untuk pertahanan diri jarak dekat dan jauh.


Kemudian Uriel pun segera membantu Lina menghaluskan bambu, lalu dengan tenaganya yang kuat membengkokkan bambu tersebut, dan mengikat kedua ujung busur tersebut dengan menggunakan tali yang terbuat dari urat hewan yang sudah kering.


Kini sebuah busur panah yang tidak terlalu panjang dan sederhana, telah selesai dibuat.


Bobot busur panah itu sangat ringan. Untuk kekuatan Lina yang sangat kecil, busur panah tersebut sangat pas untuknya.


Lina mencoba menarik talinya dan merasa kalau pegangan pada bambu itu agak licin. Lalu dia mengambil tali rami yang tipis dan melilitkannya sebanyak delapan liltan. Lalu dia pun mencobanya lagi.


"Sekarang pegangannya sudah tidak terasa licin lagi."


Setelah itu, dia mengambil bambu kecil yang telah dipotong tajam pada ujung atasnya, lalu meletakkan ujung belakang bambu kecil itu di tali busur, kemudian menariknya, dan menembakkan anak panah itu ke dinding.


"SWIIING!"


"PLETAK!"


Anak panah bambu pun meluncur keluar, menabrak dinding dan jatuh ke tanah.


Uriel mengambil anak panah bambu tersebut dan mengamatinya dengan hati-hati.


"Ujung depan anak panah ini perlu diasah lagi, dan sesuatu juga harus ditambahkan di ujung bagian belakangnya. Jika tidak, arahnya pasti akan melenceng jauh dari sasaran."


Setelah mendengar apa yang Uriel katakan, Lina teringat dengan anak panah yang pernah dia lihat di dunianya sebelumnya.


"Kenapa tidak kita tambahkan beberapa bulu?" Kata Lina.


Uriel berpikir sejenak, lalu berkata, "Sepertinya bagus."


Kemudian, mereka mengambil beberapa tulang ikan dan bulu ayam yang sempat Lina buang di tempat sampah, dan kemudian mengikatnya di masing-masing ujung anak panah.

__ADS_1


"Tulang ikan berduri jenis ini, jika tertusuk olehnya dan saat ingin menariknya keluar, dapat langsung mengeluarkan sepotong besar daging dan darah. Meskipun jika duri ini tidak bisa untuk membunuh orang, setidaknya bisa untuk melukai mereka." Kata Uriel.


Tak lama kemudian, Uriel pun membuatkan sekitar dua belas anak panah dan memberikannya kepada Lina, untuk senjata bagi dia mempertahankan dirinya.


__ADS_2