Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 160 - Jangan Bertindak Gegabah


__ADS_3

Uriel yang pertama bereaksi. Namun gerakan Leon lebih cepat darinya.


Dalam sekejap mata, Leon telah terbang ke sisi Lina.


Saat ini Lina sedang berjongkok di tanah, dengan kedua tangannya menutupi kepalanya. Dia terlihat takut dan juga tidak berani bergerak.


Tidak jauh darinya, ada api kecil. Percikan arangnya menyiprat ke mana-mana, dan juga terlihat ada benda hitam di tanah. Tidak tahu benda apa itu.


Sebelum Leon berani untuk mengangkat tubuh Lina, dengan gugup dia bertanya, "Ba bagaimana keadaanmu?"


Pada saat ini, Uriel yang berlari juga sudah sampai dimana Lina berada, dia sedang memperhatikan Lina dari atas sampai kebawah, untuk memastikan bahwa selain wajahnya yang pucat karena ketakutan, juga tidak ada tanda-tanda cedera di tubuh gadis kecilnya.


"Jangan takut, sudah tidak apa-apa," kata Uriel kemudian dia berjongkok untuk memeluk Lina.


Pada saat ini, Nano dan yang lainnya juga sudah tiba di sini.


Saat melihat keadaan setelah ledakan, Nano pun tidak bisa menahan lidahnya, "Pangeran kedua, pasangan anda benar-benar hebat. Dia bisa membuat suara keras, hanya dengan bermain dengan apa pun yang dia suka."


Lina pun merasa bersalah karena kejadian ini.


"Aku hanya ingin menguji hasil dari percobaanku, tapi aku tidak menyangka kalau eksperimen ini bisa meledak. Untungnya saja tadi aku segera menjauh lebih jauh lagi, kalau tidak, entah apa yang akan terjadi padaku."


Setelah berpikir seperti itu, dia pun membuka mulutnya dan berkata kepada Uriel, "Aku baik-baik saja," kemudian Lina melepaskan dirinya dari pelukan Uriel dan pipinya terlihat memerah karena malu sambil berkata, "Aku baru saja mencoba melakukan sesuatu, tapi aku gagal. Maaf.."


Uriel pun berkata dengan suaranya yang terdengar nyaman di telinga Lina, "Untungnya kamu baik-baik saja."


Saat Leon mendengar apa yang Lina katakan, dia pun mengerutkan keningnya dan berkata, "Lain kali, jangan bermain dengan hal-hal yang berbahaya semacam ini. Apa yang harus aku lakukan jika kamu tadi sampai terluka karena ledakan?"


Lina pun bertingkah seperti anak kecil yang bersalah, yang sedang merasa malu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sambil berkata, "Lain kali aku pasti akan lebih berhati-hati."


Setelah Nano dan para Orc laki-laki dari Kamar Dagang kembali ke tempat memanggang barbekyu, Lina mengambil kembali cawan lebur, mencucinya dan memasukkannya kembali ke dalam ruang penyimpanan. Kemudian dia berpikir, "Meskipun tidaklah mudah mencoba hal-hal tentang alkimia, tapi mungkin lain kali aku akan mencobanya lagi. Tapi jika gagal, resikonya adalah meledak! Hmmm.."


Membuat suatu penemuan memang berharga, tapi harga dari keselamatan diri jauh lebih tinggi.


...........


Uriel memotong daging ayam panggang yang paling empuk dan meletakkan seluruhnya di depan Lina. Setelah itu, dia dan Leon menghabiskan seluruh daging panggang yang tersisa.


Untuk Nano dan yang lainnya, mereka semua memanggang dan memakan barbekyu mereka sendiri, tapi jika dilihat dari tampilan barbekyu yang mereka panggang, bisa terlihat kalau rasanya tidak seenak buatan Uriel.


Itu karena mereka tidak berani meminta Yang Mulia Pangeran kedua, untuk memanggangkan ayam panggang untuk mereka.


Setelah selesai makan dan minum, pesta pun dilanjutkan.


Lina berbisik kepada Bubu, "Bubu, aku sudah melakukan semuanya sesuai dengan yang ada dalam instruksi di buku manual. Tapi kenapa tiba-tiba saja meledak?"


Suara dalam benak Lina pun menjawabnya, "Ada banyak alasan. Mungkin bahan yang anda pilih salah, atau suhu api yang tidak sesuai, atau anda memasukan bahan dalam urutan yang salah. Anda harus mencari tahu sendiri apa alasannya."


"Lalu, bagaimana caranya menemukan di mana letak kesalahannya?" Tanya Lina Lagi.


"Cobalah beberapa kali lagi, anda pasti akan menemukan jawabannya." Jawab suara dalam benak Lina.

__ADS_1


Mendengar itu, ekspresi wajah Lina langsung berubah sedikit kecewa. Dia masih belum lupa dengan kejadian yang baru saja terjadi.


"Coba beberapa kali lagi? Harus sampai berapa kali aku mencobanya?" Tanya Lina kepada Bubu dan juga untuk dirinya sendiri.


“Begitulah para penemu menciptakan temuan mereka. Mereka pasti akan menghadapi kegalalan berkali-kali banyaknya, sebelum akhirnya mereka berhasil. Selain itu, bukankah anda pernah mengatakan kalau kegagalan adalah buah dari kesuksesan? Anda harus semangat dan juga harus kuat." Ucap si Bubu.


Mendengar ceramah dari suara dalam benak Lina, dia pun menarik sudut mulutnya dan tersenyum kecut.


”Semangatku sangat kuat, tapi tubuhku sangat rapuh. Bagaimana jika kamu yang diledakkan? Kamu pasti bisa terbang ke langit." Ucap Lina sedikit mengejek si Bubu.


"Ayolah, jangan begitu, saya pasti akan selalu memperhatikan anda!" Kata si Bubu.


Lina hanya bisa tertawa, "Hahahaha."


Lina tidak berani lagi untuk mempelajari alkimia. Dia pun hanya bisa mengalihkan perhatiannya ke hal yang lain.


Kemudian dia mengeluarkan kompas dari dalam ruang penyimpanan.


Jarum penunjuk arahnya berputar-putar, dan kemudian tiba-tiba saja berhenti di satu arah.


"Hah?"


Untuk sesaat, hal itu telah membuat Lina tercengang.


"Kenapa jarum penunjuk arahnya tiba-tiba saja berhenti?"


Pada saat Lina masih merasa bingung, suara dalam benak Lina berkata dengan riang, "Itu berarti, ada Urat Bijih di sekitar sini."


Kini wajah Lina terlihat semakin bingung lagi.


Lalu dengan segera dia memberitahukannya kepada Uriel, tentang penemuan ini.


Uriel memperhatikan kompas kecil yang ada di tangan Lina, mengikuti kemana jarum penunjuk arahnya menunjuk dan melihat sebuah pegunungan yang tak berujung.


Uriel menganggap, "Urat Bijih adalah harta yang langka, yang tidak mudah untuk dicari." Setelah berkata seperti itu, dia berhenti sejenak sambil menatap mata gadis kecilnya. Setelah itu dia berkata lagi, "Karena kita telah berada di sini, mari kita pergi kesana dan melihat-lihat."


Jika mereka menemukan Urat Bijih yang belum ditambang, mereka bisa meninggalkan tanda di sini dan kembali terlebih dulu ke Gunung Batu.


Lalu Uriel memanggil Leon dan memberitahu padanya tentang Urat Bijih.


Leon tidak terkejut tentang Urat Bijihnya, tapi tertarik pada kompas kecil yang ada di tangan Lina.


"Sebelumnya aku belum pernah melihat barang yang seperti itu. Katakan yang sebenarnya padaku, memangnya berapa banyak barang bagus yang ada di tanganmu?"


Karena takut Leon akan mengambil kompasnya, dengan cepat Lina pun segera menyembunyikan kompas yang sedang dia pegang.


"Aku hanya punya beberapa hal, kamu juga sudah pernah melihatnya."


Leon tidak mengajukan pertanyaan lagi kepada Lina. Sebaliknya, dia menatap Uriel dengan penuh arti.


Saat Lina sedang tidak memperhatikan, Leon berbisik kepada Uriel, "Pantas saja kenapa kamu selalu ada di dekatnya, ternyata dia bisa menyembunyikan begitu banyak rahasia. Jika sampai diketahui oleh orang lain, dia pasti akan sengsara."

__ADS_1


"Kami pasti akan melindunginya," kata Uriel,


"Apa kalian tidak takut jika hanya kalian bertiga saja? Kenapa tidak menambahkan satu lagi, yaitu aku?" Tanya Leon.


Uriel tidak meng iyakan ataupun menolak, tapi berkata dengan pelan, "Lina tidak menyukaimu, meskipun jika kekuatanmu sudah tidak lagi kuat."


"Itu.."


Sehari-harinya, Tetua Leon selalu menjadi Orc yang galak dalam berkata, tapi sekarang seperti telah dikutuk untuk tidak bisa berkata-kata.


Lina datang mengampiri Uriel dan Leon, kemudian bertanya, "Apa yang sedang kalian berdua bisikkan?"


"Tidak ada," kata Uriel, kemudian dia mengusap kepala gadis kecilnya dan berkata lagi, "Kami hanya membicarakan tentang Urat Bijih."


"Oh."


...........


Untuk sementara, Uriel mengubah rutenya dan memberi tahukan kepada semuanya tentang rencananya, tapi dia menyembunyikan kebenaran tentang tambang itu. Dia hanya mengatakan kalau dia akan pergi ke gunung yang ada di depan, untuk mencari ramuan langka.


Nano dan yang lainnya tidak merasa ragu kalau disana ada tanaman langka, dan mereka semua setuju dan mematuhi Yang Mulia Pangeran kedua.


Mereka semua membutuhkan waktu setengah hari untuk sampai ke kaki gunung, sebelum akhirnya matahari terbenam.


Pegunungan ini terlihat cukup megah.


Sepanjang jalan, Uriel telah mengamati kalau ternyata ada beberapa orang di sekitar sini.


"Seharusnya tidak ada orc yang tinggal di gunung ini??" Pikir Uriel.


Saat Mereka akan mendekati gunung, mereka melihat sekelompok Orc yang sedang berada di kaki gunung!


Uriel pun segera berhenti dan berkata kepada semua yang ada di belakangnya, "Ada orang di depan. Sembunyi dulu. Aku akan pergi dan melihat siapa mereka."


Pada saat yang sama, Leon turun dari langit dan mendarat di tanah.


Lalu dia berkata, "Kamu tidak harus pergi. Tadi aku sudah terbang untuk melihat-lihat. Orang-orang itu adalah para penjaga yang dikirim oleh Kota Bulan Gelap. Mereka semua adalah Orc yang telah membangkitkan roh Binatang Buas mereka. Selain itu, si penanggung jawab tim adalah Heli Belang."


Saat Uriel mendengar nama Heli Belang disebut, dia terlihat sangat terkejut.


"Dunia yang sempit!"


Lalu Uriel bertanya, "Bukankah seharusnya dia ada di Kota Bulan Gelap? Tapi kenapa bisa ada di sini?"


Lalu Leon berkata, "Lihatlah postur mereka, mereka juga pasti mengincar benda itu."


Sulit bagi Leon untuk mengatakan Urat Bijih, karena ada Nano dan yang lainnya tepat di belakangnya.


Tapi Uriel dan Lina mengerti apa yang dimaksud oleh Leon.


"Heli Belang juga datang untuk menambang Urat Bijih? Masuk akal juga, sebab ini adalah bisnis!" Pikir Lina.

__ADS_1


Pada saat ini, Leon tengah melakukan gerakan melompat-lompat kecil seperti sedang melakukan pemanasan, dan dengan sangat bersemangat berkata, "Siap untuk beraksi?"


Saat mendengar apa yang Leon katakan, Uriel pun merenung sejenak, setelah itu dia berkata, "Jangan bertindak gegabah, kita lihat dulu situasinya."


__ADS_2