Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 192 - Menunduklah


__ADS_3

Dilemparkan oleh Saga, bunga bakung itu pun terbang melayang hingga ke dalam gua.


"SWIIIIING! SAGAAAA!"


"PLUK!"


Begitu dia mendarat, dia pun segera bangkit dan melompat-lompat menuju ke mulut gua, berpikir hendak menyelamatkan Saga!


"Tidak! Aku harus segera kembali untuk menyelamatkan Saga!"


Pada saat ini, tiba-tiba saja!


"BLUBUK! BLUBUK! BLUBUK!"


"BYARRRR!"


Danau bawah tanah yang ada tepat di belakang Lina, tiba-tiba saja menyemburkan banyak gelembung, dan sesuatu yang besar menyembul keluar dari dalam air. Membuat seluruh gua bawah tanah mulai bergetar.


"GREDERRRR!"


Lina yang seketika itu juga ketakutan karena merasakan gua yang bergetar, segera berhenti melompat-lompat dan tanpa sadar menoleh kebelakangnya.


Terlihat kepala yang besar berwarna hijau tua, yang saat ini ada di permukaan danau.


"Ah! Itu Tuan Trenggiling!" Seru Lina saat melihat Wisnu.


Saat ini, seluruh kepala trenggiling itu telah berada di permukaan danau, tapi, dia masih tetap diam saja dan belum juga bergerak sedikitpun.


"Tempat ini sangat sempit! Kampret! Sepertinya aku terjebak!" Kata Wisnu yang sedang memaki tempat ini.


Begitu Lina melihat Wisnu datang, saat itu juga dia merasa sangat gembira, seperti sedang melihat sosok penyelamat. Lina segera merentangkan cabangnya dan melompat-lompat menuju ke arah Wisnu sambil berseru, "Tuan Wisnu!"


Trenggiling yang saat ini sedang kesulitan untuk menggerakan kepalanya karena terjepit dinding gua, hanya bisa melirik kebawah, untuk melihat ke arah sumber suara yang ada di tepi danau.


"Menakjubkan! Ternyata klan iblis sampai mengirim bunga bakung putih kecil yang bisa berbicara, untuk bertemu denganku. Benar-benar menakjubkan!" Kata Wisnu.


"Ini aku, Lina! Aku jadi seperti ini karena telah memakan biji teratai." Kata Lina yang mencoba untuk memberitahu Wisnu.


Wisnu pun sangat terkejut setelah mendengar apa yang Lina katakan.


"Hah? Ternyata itu kamu?"


"Ya. Saat ini Saga ditangkap oleh mereka, maukah anda membantu menyelamatkannya?" Kata Lina dengan berkata tergesa-gesa.


"Dengan senang hati, aku pasti akan membantumu. Tapi, sekarang aku sedang terjebak. Bantulah aku mencarikan cara untuk menarikku keluar."


Begitu mendengar apa yang Trenggiling itu katakan, Lina segera melihat kedua tangannya yang saat ini berbentuk cabang kecil dan berdaun halus, lalu menatap kembali ke si Trenggiling yang bertubuh besar seperti gunung, lalu terdiam sesaat, setelah itu dia berkata, "Tidak bisakah anda keluar dalam wujud Orc?"


Trenggiling, "....."


Setelah hening selama beberapa saat, kemudian terdengar suara si trenggiling, "Oh iya.. Aku hampir lupa kalau aku bisa berubah menjadi Orc laki-laki.. Hahaha.."


Kemudian, Trenggiling itu pun berubah wujud menjadi seorang pria tampan, dengan rambutnya yang pendek berwarna hijau tua, lalu dengan cepat dia mendarat di tepi danau.


"TAP!"


Yang lebih mengejutkan lagi, Uriel masih berpegangan pada pinggang Wisnu! Di ikuti oleh Wiro dan Leon di belakang Uriel!


"BLUEEEHH"


"HUEEEKK!"


"UHUK! UHUK!"


Kemampuan menyelam mereka bertiga tidak terlalu bagus, pada saat menyelam, mereka saling memegang pinggang yang ada di depan mereka, dan memanfaatkan tubuh Trenggiling yang besar untuk ikut menyelam.


Selama Uriel masih tetap bisa memegang dengan erat ekor si Trenggiling, mereka bertiga pasti bisa sampai tujuan dengan cepat dan selamat, meskipun mereka bertiga harus menahan napas mereka, selama si Trenggiling menyelam di dalam air.

__ADS_1


Seperti sedang berbaris, Uriel, Wiro dan Leon semuanya sedang menunduk, mencoba mengeluarkan air yang masuk ketenggorokan mereka.


"HUEEEKKK!"


"HOEEKKK!"


"BWERRRR!"


Ketiganya juga telanjang, demi kenyamanan mereka saat menyelam di dalam air.


Bagi Leon yang terkenal selalu tak pernah kenal takut, tapi dia belum pernah menyelam di dalam air, dan ini adalah yang pertama kali baginya.


Saat tadi dia sedang berada di dalam air, wajahnya pucat pasi karena sangat gugup. Selain itu, dialah yang berada di paling belakang sambil berpegangan pada pinggang Wiro.


Awalnya Uriel ingin supaya Leon kembali saja, tapi pada akhirnya, Leon merasa kalau dirinya cukup berani untuk tetap mengikuti Wisnu, Uriel dan Wiro.


Pada saat ini, Wiro memutuskan untuk tidak mengejek Leon yang sedang duduk di tanah tanpa daya, sambil terengah-engah.


"BWERRRR! UHUK! UHUK!"


Wajahnya masih terlihat sangat pucat, dengan rambut panjangnya yang berwarna emas yang basah dan berantakan.


Melihat hal ini, Wisnu pun menepuk pundaknya sambil bertanya, "Apa kamu baik-baik saja?"


Sambil masih terengah-engah, Leon hanya menganggukan kepalanya sekali, sebagai tanda kalau dia baik-baik saja, dengan ekspresi wajahnya yang terlihat seperti sedang syok.


Pada saat ini, Wiro sedang menyeka wajahnya sambil melihat ke sekelilingnya dan berkata, "Sepertinya tadi aku mendengar suara Lina. Di mana orangnya?"


"Aku disini!" Kata Lina.


Setelah itu, dia pun segera melompat ke punggung kaki Wiro, melambaikan kedua tangannya yang saat ini berbentuk cabang yang masing-masingnya berdaun satu, kemudian berkata lagi, "Menunduklah, aku di kakimu!"


Mendengar itu, Wiro pun segera menunduk dan melihat ke bawah, untuk melihat bunga putih kecil yang ada di bawahnya. Spontan saja dia langsung terkejut.


“Hah?? Lina?? Kenapa kamu bisa seperti ini? Oh tidaaak Linakuuu.. Linaaa.." Rengek Wiro.


...........


"Jangan kemana-mana. Tetaplah di sini. Kami akan pergi menyelamatkan Saga."


Setelah Uriel berpesan kepada Lina supaya tetap berada di gua bawah tanah ini, dia pun segera berubah menjadi harimau putih, dan berlari untuk segera menuju keluar gua.


Leon dan Wiro juga telah merubah wujud mereka ke bentuk binatang mereka masing-masing, dan mengikuti Uriel di belakangnya.


Sedangkan Wisnu, "Aku berjalan saja. Hahaha.."


Pada akhirnya, dia hanya bisa menggunakan kedua kakinya. Wujud binatangnya terlalu besar, gua bawah tanah ini sama sekali tidak bisa menampung tubuhnya. Dia harus menunggu sampai keluar dari gua ini, barulah dia bisa merubah wujudnya.


Lina menyadari kurangnya kemampuan dirinya, meskipun saat ini dia merasa sangat cemas. Saat ini dia hanya bisa menunggu di dalam gua ini, sampai mereka semua kembali.


"Aku sangat tidak berguna. Setiap kali aku menghadapi situasi seperti ini, aku hanya bisa bersembunyi di belakang mereka. Aku sama sekali tidak membantu apa pun," kata Lina.


Pada saat ini, Bubu mencoba untuk menghibur Lina, "Sebenarnya anda memiliki banyak keuntungan."


"Contohnya?" Tanya Lina.


"Anda bisa memasak." Kata suara dalam benak Lina yang diberi nama Bubu.


"Tapi masakanku tidak seenak buatan Uriel." Kata Lina.


Bubu, "....."


"Dalam masyarakat modern, aku hanyalah orang biasa." Kata Lina lagi.


"Anda juga lucu." Kata si Bubu.


"Dalam hal wajah saja, ketampanan Uriel bisa membuatku terlempar jauh hingga beberapa blok." Kata Lina dengan raut muka manyun.

__ADS_1


Mendengar itu, suara dalam benak Lina pun berkata, "Anda harus memiliki kepercayaan diri."


"Tapi aku mengatakan yang sebenarnya." Sahut Lina. Kemudian dia berkata lagi dengan nada suaranya yang terdengar seperti sedang tertekan, "Lupakan saja, aku memang tidak berguna. Kamu sama sekali tidak menghiburku."


Mendengar apa yang Lina katakan, terdengar Bubu yang seperti menghela napasnya, "Hhhh.."


Lalu Lina berbalik untuk menghadap ke danau bawah tanah, kemudian berkata dengan dingin, "Aku ingin diam. Jangan mengajakku berbicara!"


"Lelucon dingin anda sangat bagus! Bukankah itu juga bisa menjadi kelebihan anda?" Kata Bubu.


Lina, "....."


Merasakan Lina yang saat ini dalam keadaan putus asa, Bubu pun berkata lagi, "Sebenarnya, jika anda ingin menjadi lebih kuat, hal itu bukanlah tidak mungkin.."


Mendengar itu, Lina pun segera bertanya dengan sangat antusias, "Apa yang bisa aku lakukan?"


"Selama anda telah membangkitkan kekuatan benih-benih Ilahi di dalam tubuh anda, anda bisa mendapatkan kekuatan milik kayu Ilahi. Jika anda cukup beruntung, anda juga dapat memadatkan hati alam, hingga suatu saat anda juga akan menjadi manusia setengah dewa." Kata suara dalam benak Lina.


Kata "hati alam" telah Lina dengar lebih dari sekali.


"Kedengarannya seperti sesuatu yang kuat, tapi aku juga tidak tahu akan sekuat apa itu.. Tapi itu tidak masalah. Yang penting aku menjadi kuat." Pikir Lina.


Dia tidak ingin terus-menerus seperti sekarang ini, yang hanya bisa bersembunyi di belakang keluarganya, dan tidak bisa membantu apa-apa.


"Aku ingin bisa melindungi mereka!" Kata Lina mantap.


Kemudian dia berkata, "Bukankah kamu mengatakan kalau benih yang aku makan sudah mati? Bisakah spesies yang mati dibangkitkan?"


"Benih Ilahi adalah sumber kehidupan. Benih itu tidak mati. Benih yang diberikan kepada anda hanya terlihat seperti sudah mati, tapi sebenarnya benih itu sedang dalam tidur jangka panjangnya. Selama anda mengikuti prosedur dengan benar, anda bisa membangunkan kekuatannya yang saat ini masih tertidur nyenyak." Kata Bubu.


Kemudian, Lina pun bertanya tentang bagaimana caranya membangkitkan kekuatan Benih Ilahi.


Tapi, siapa yang menyangka kalau Bubu memberinya jawaban yang sangat menarik.


"Anda harus mati untuk bertahan hidup."


Saat mendengar itu, Lina pun merasa bingung, "Aku pernah mendengar pepatah ini, tapi aku tidak mengerti maksudnya."


"Benih Ilahi adalah simbol kehidupan. Akhir dari kehidupan adalah kematian, dan kematian adalah bentuk lain dari kelahiran kembali ..."


Sebelum Bubu sempat menyelesaikan kalimatnya, Lina segera menyela dengan nada suaranya yang terdengar ketus, "Lanjutkan saja bicara dengan tembok!"


"Singkatnya, anda harus mati sekali dan hidup lagi." Kata Bubu.


Lina pun sangat terkejut setelah mendengar apa yang Bubu katakan, "Mati? Bukankah itu terlalu kejam?"


"Anda harus percaya pada kami. Bahkan jika anda mati, anda pasti akan diselamatkan!" Kata Bubu dengan nada suaranya yang terdengar percaya diri.


"Benarkah? Apa tidak akan ada kecelakaan?" Tanya Lina dengan curiga.


"Jangan khawatir, jika anda mati, sistem saya juga pasti akan hang. Saya pasti akan menjaga hidup anda supaya tetap aman." Kata Bubu.


Setelah mendengar Bubu berkata seperti itu, hati Lina pun merasa sedikit lega.


Tapi, Tiba-tiba saja, saat ini ada yang menyentuh kelopak bunganya.


"PLUK! PLUK!"


Lina mengira kalau itu adalah Uriel dan yang lainnya, yang kini telah kembali.


"Uriel, kalian sud ..."


Lina tidak bisa menyelesaikan kalimatnya, setelah dia menoleh kebelakang dengan perasaannya yang sebelumnya merasa senang, yang tiba-tiba saja kini menjadi sangat terkejut dan ketakutan!


Karena pada saat ini, dia melihat tentakel yang tembus pandang, kini telah berada dihadapannya!


Jarak antara Lina dan tentakel itu pun hanya kurang dari satu sentimeter!

__ADS_1


"Mati aku!"


__ADS_2