Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 211 - Tidak Mengusirku


__ADS_3

Saat Uriel sedang merebus ayam, dia melihat Lina yang sudah kembali kerumah sambil berlari, dan dengan ekspresi wajahnya yang terlihat cemberut.


Saat itu juga Uriel pun segera mencuci tangannya, lalu segera menghampiri Lina dan bertanya, "Ada apa denganmu? Siapa yang sudah membuatmu marah?"


"Siapa lagi kalau bukan si burung br*ngs*k yang menjengkelkan itu?" Kata Lina mengadu kepada Uriel. Setelah berhenti sejenak, kemudian dia lanjut berkata lagi, "Selain itu, dia bahkan telah menyebarkan kabar bohong di mana-mana. Dia bilang pada mereka, kalau aku dan dia kini telah menjadi pasangan!"


Mendengar itu, Uriel pun segera berkata, "Kamu kan telah memberinya Cincin Ikatan, bukankah itu berarti kalau kamu memang ingin Leon menjadi pasanganmu?"


Mendengar Uriel membicarakan tentang hal ini, seketika itu juga membuat Lina sangat marah.


"Aku menginginkan burung b*j*ng*n tak tahu malu itu?? Aku ceritakan kejadian yang sebenarnya." Kemudian Lina segera menceritakan kejadian, di mana dia ditipu oleh Leon, hingga mereka menjadi pasangan.


Setelah mendengarkan seluruh ceritanya, tiba-tiba saja Uriel berkata, "Sebelumnya aku memang ingin tahu, bagaimana caranya Leon bisa begitu cepat membuatmu menerima dirinya.. Ternyata seperti itu.."


"Dia itu pembohong besar! Tidak ada satupun kalimat yang keluar dari mulutnya, yang bisa dipercaya!" Kata Lina.


Melihat perilaku gadis kecil mungilnya yang sedang marah dan mengadu padanya, Uriel pun segera mengusap lembut kepala Lina, lalu tersenyum dan berkata, "Sudah, jangan marah lagi. Ayam yang aku rebus baru saja matang. Apa kamu mau mencobanya?"


Saat Lina mendengar Uriel menawarkan makanan padanya, saat itu juga dia lupa dengan marahnya. Kedua matanya yang besar dan bulat pun segera terlihat berbinar, lalu dia berkata, "Aku mau, aku mau.."


...........


"Mmhh.. Sup ayam buatan Uriel memang sangat enak.." Batin Lina saat mencoba menyeruput sup, yang telah di hidangkan di hadapannya.


Setelah itu, dia pun memegang kedua pipinya, lalu membuka lebar kedua matanya yang besar dan bulat, sambil memuji Uriel, "Masakanmu semakin lama semakin bertambah enak saja!"


Melihat tingkah gadisnya yang terlihat lucu dan menggemaskan, tentu saja membuat Uriel tersenyum. Kemudian Uriel pun segera mengulurkan tangannya, untuk menyeka noda sup yang ada di sekitar mulut Lina sambil tersenyum dan berkata, "Apa pun yang kamu suka, pasti akan aku buatkan."


Tak lama kemudian, Leon pun telah kembali kerumah.


Mendengar langkah kaki Leon yang telah kembali, Lina pun segera berkata pada Uriel, "Sudah hampir gelap, aku akan keluar mencari anak-anak supaya tidak terlambat makan malam."


Selesai berkata seperti itu, Lina pun segera berjalan keluar rumah, tanpa sedikitpun menatap Leon.


Melihat gadis kecilnya seperti ini, Uriel pun hanya diam saja. Lalu dia menatap Leon dan berkata, "Selesaikan masalah yang kamu buat ini, baik-baik." Setelah berkata seperti itu, Uriel pun segera berbalik dan berjalan menuju kedapur, untuk melanjutkan menyiapkan makan malam.


...........


Dengan tubuhnya yang tinggi dan juga kakinya yang panjang, tentu saja sangat mudah bagi Leon untuk mengejar Lina. Dia pun segera meraih tangan Lina dan berkata, "Apa kamu benar-benar tidak bisa memaafkanku?"


"Kamu kan tidak pernah berpikir kalau kamu itu yang salah. Lalu apa masalahnya jika aku tidak memaafkanmu?" Setelah berkata seperti itu, Lina pun segera melepaskan tangannya dari genggaman Leon, dan lanjut berjalan lagi.


"Aku melakukan hal itu, karena aku menyukaimu dan ingin menjadi pasanganmu. Apakah itu salah?" Kata Leon sambil berjalan mengikuti di belakang Lina.


Mendengar ini, Lina pun segera menghentikan langkahnya, lalu berbalik menghadap Leon dan mencibir, "Bukankah sebelumnya kamu pernah berkata padaku, kalau kamu telah menyukai orang lain. Tapi sekarang kamu bilang kalau kamu menyukaiku. Apa tidak ada satupun kalimat yang keluar dari mulutmu, yang bisa dipercaya?"


Leon sama sekali tidak menjawabnya, tapi malahan balik bertanya, "Apa kamu tidak takut, jika saat itu aku mengatakan yang sebenarnya?"


"Dasar burung b*j*ng*n pembohong! Tidak hanya tidak mengakui kesalahannya, tapi dia malah mencoba untuk membela diri?!"


Setelah berpikir seperti itu, Lina pun segera berkata dengan nada suaranya yang terdengar sangat marah, "Lalu kamu bisa seenaknya membohongiku, begitu?!"

__ADS_1


Jika dalam keadaan normal, tentu Leon sudah tidak akan bisa menahan kesabarannya lagi. Karena menurutnya, masalah seperti ini hanyalah masalah sepele, tapi selalu dibesar-besarkan oleh pihak lain.


Tapi kata-kata Sky masih selalu terngiang di telinganya, yang bisa membuat dirinya untuk selalu bersikap tenang.


Dia pun terus berusaha untuk menjaga sikapnya, dan mencoba untuk mengalah.


"Aku akui, mulutku memang selalu berkata buruk, dan terkadang, aku akan melakukan apa saja untuk bisa mencapai tujuanku. Hal seperti inilah yang tentu telah membuatmu tidak bisa mempercayaiku, kan? Aku yang salah, karena telah membuatmu jadi seperti ini, dan aku berjanji, aku pasti akan merubah sikapku." Kata Leon.


Tak mempedulikan apa yang baru saja Leon katakan, Lina pun segera berpaling dan berlalu pergi tanpa berkata apa-apa.


Para Orc yang sedang lewat pun saat itu juga segera berhenti untuk melihat mereka, dengan sorot mata mereka yang menunjukkan rasa ingin tahu.


"Apa yang terjadi dengan mereka?" Tanya salah satu Orc yang ada disitu.


"Aku tidak tahu." Jawab Orc lainnya yang ada di situ.


Mengabaikan tatapan ingin tahu dari para Orc yang sedang memperhatikannya, Leon pun segera mengejar dan menghadang Lina, lalu menatap wajahnya dan berkata, "Aku memang bukan pria yang baik, tapi, setidaknya aku telah jujur padamu, bahwa di dalam hatiku, hanya ada dirimu. Jika tidak, mana mungkin aku mau mengorbankan diriku untuk menyelamatkanmu?"


Mendengar ini, Lina pun teringat saat Leon menyelamatkan dirinya, saat berada di laut kesombongan. Hal ini tentu saja membuat hati Lina mulai sedikit melunak.


Bagaimanapun juga, Leon lah yang telah menyelamatkan dirinya.


Melihat Lina yang kini terlihat mulai sedikit tenang, Leon pun memanfaatkan kesempatan ini untuk lanjut berkata lagi, "Tujuanku bersedia untuk menyelamatkanmu, bukan untuk membuatmu supaya kamu mau menerimaku karena aku telah menolongmu, tapi aku berharap, agar kamu bisa melihat keputusasaanku, dan mau memberikanku kesempatan, untuk bersaing dengan adil."


Nada suara Leon memang terdengar tulus di telinga Lina. Meskipun begitu, di dalam hati Lina juga menyadari, kalau Leon adalah seorang pembohong.


Tapi, setelah dia mendengar apa yang baru saja Leon katakan, tetap saja membuatnya tertegun.


"Luka-luka itu.. Adalah bekas luka saat dia bertarung dengan klan Iblis.. Sebagian besar luka-luka ditubuhnya kini telah sembuh, dan hanya tinggal beberapa bekas luka yang terlihat berwarna merah muda dan pucat.." Batin Lina.


Hal inilah yang membuat Lina bisa melihat, seperti apa rasa sakit yang ada di hati Leon.


Lalu pada saat ini, terdengar Leon yang berkata, "Apa aku sudah tidak mempunyai kesempatan lagi, meskipun tubuhku telah terluka seperti ini?"


Para Orc yang sedang memperhatikan mereka berdua pun merasa tergerak, setelah mendengar apa yang Leon katakan. Mereka pun merasa perlu untuk mendukung Leon dan ikut berkata.


"Lihatlah dia. Dia terdengar sangat tulus padamu. Berilah dia kesempatan." Kata salah satu Orc yang ada di situ.


"Ya. Apa kamu sama sekali tidak merasa tersentuh? Dari bekas luka-lukanya saja kami bisa melihat, kalau dia telah berkorban begitu banyak untukmu." Kata Orc yang lain.


"Berikan dia kesempatan untuk mencoba lagi. Jika tidak berhasil, tendang lagi saja dia." Kata Orc yang lainnya lagi.


Lina, "....."


Mendengar para Orc berkata seperti itu, membuat Lina menjadi bingung dan hatinya pun mulai semakin merasa iba terhadap Leon.


Dia pun menatap Leon yang sedang berdiri dihadapannya, lalu bertanya dengan merendahkan volume suaranya, "Sewaktu kamu berkata, bahwa kamu menyukai orang lain, apakah yang kamu katakan itu benar?"


Dengan pendengaran para Orc yang sangat tajam, para Orc yang ada di sekitar Lina dan Leon pun segera menatap Leon dengan sorot mata mereka yang penuh dengan keraguan.


"Apakah ada betina yang lainnya lagi dihatimu?" Tanya heran para Orc yang ada di situ.

__ADS_1


Mendengar ini, Leon pun segera mengangkat satu tangannya ke atas lalu bersumpah, "Itu hanyalah kalimat bohong yang selalu aku ucapkan padamu. Aku bersumpah, di dalam hatiku, tidak ada wanita lain selain dirmu."


"Aku tidak tahu, apakah yang kamu katakan kali ini benar atau tidak." Setelah Lina berkata seperti ini, dia pun berhenti sejenak. Lalu dia mulai lanjut berkata lagi, "Tapi, karena kamu telah rela mengerobankan diri demi untuk menyelamatkanku, aku bisa mempercayaimu lagi, untuk yang terakhir kalinya." Kata Lina, dengan merasa sedikit ragu.


Mendengar apa yang baru saja Lina katakan, Leon pun tersenyum bahagia.


Namun, pada saat ini Lina buru-buru berkata lagi, "Jangan coba-coba menipuku lagi! Atau, aku tidak akan pernah memaafkanmu, seumur hidupmu!"


"Aku berjanji padamu, aku tidak akan pernah membohongimu lagi." Sahut Leon cepat.


Mendengar ini, Lina pun mulai melangkahkan kakinya lagi dan berjalan pergi, sambil berkata, "Aku akan pergi mencari Wirna dan yang lainnya. Kamu pulang saja."


Leon pun segera berjalan kehadapan Lina lagi, lalu membungkuk dan meraih tangan Lina, "Perbolehkan aku, untuk pergi bersama denganmu."


Dengan perasaan hatinya yang sudah mulai tenang, kali ini Lina tidak berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman tangan Leon.


Lina hanya berkata, "Pakai bajumu."


Detik itu juga, Leon pun segera memakai kembali jubahnya yang setengah terbuka, lalu memanyunkan bibirnya, kemudian berkata sambil tersenyum, "Tubuh dan bendaku, hanya akan aku tunjukkan padamu. Tidak kepada orang lain.


Lina, "....."


"Belum pernah aku melihat, ada orang yang berani kurang ajar seperti itu." Batin Lina.


Pada saat ini, para Orc yang tadi menonton drama dan merasa kalau saat ini Lina dan Leon telah berbaikan, mulai membubarkan diri mereka satu persatu.


...........


Setelah mencari dan bertemu dengan Wirna dan yang lainnya, Lina pun segera menyuruh mereka pulang untuk makan malam.


"Anak-anak! Kita pulang. Hari sudah mulai gelap.." Seru Lina.


Setelah Leon memandangi para anak-anak Serigala yang berbulu lebat, tiba-tiba saja dia mendekatkan mulutnya ketelinga Lina dan bertanya dengan lirih, "Kapan kamu akan melahirkan anak-anak untukku?"


"Ingatlah! Saat ini kamu masih dalam masa pengawasanku. Lebih baik kamu memikirkan bagaimana caranya menghabiskan masa pengawasanmu ini dengan baik, daripada memikirkan kapan kamu memiliki anak." Kata Lina dengan tegas.


Mendengar ini, Leon pun mencubit tangan Lina yang kecil.


"Auh! Sakit! Dasar Burung kurang ajar!" Maki Lina.


"Maaf.. Kamu terlihat sangat menggemaskan." Kata Leon.


Meskipun saat ini dia sedang dalam masa pengawasan dari Lina, tapi saat ini dia sedang merasa sangat bahagia.


"Setidaknya, kini Lina mau menerimaku, dan tidak mengusirku keluar dari kehidupannya.. Ini merupakan kemajuan yang besar untukku.. Tampaknya, apa yang dikatakan oleh Sky memang benar.. Saat menghadapai seorang wanita, aku tidak boleh keras kepala untuk melawan mereka. Tapi sebaliknya, aku harus bisa belajar untuk mengalah, dan melunakkan hati mereka.."


...........


Pada saat ini, Lina, Leon dan keempat anak Serigala telah lebih dulu kembali ke rumah, sebelum Wiro dan Saga kembali.


Pada awalnya, Lina masih memikirkan bagaimana caranya menjelaskan hubungan rumitnya dengan Leon, kepada Wiro dan Saga.

__ADS_1


Tapi, tanpa dia duga, baik Wiro dan Saga, ternyata telah lebih dulu menerima Leon yang kini telah bergabung dan menjadi keluarga mereka, dengan sangat cepat.


__ADS_2