
"Bubu, bisakah kamu menghilangkan rasa sakit ini?" Tanya Lina pada suara yang ada di dalam benaknya.
"Baiklah, tapi anda harus segera menjalani perawatan." Sahut Bubu.
Saat Lina sudah tidak merasakan sakit lagi, kini dia pun merasakan tubuhnya terasa segar kembali! Tapi, tubuhnya masih sangat lemah. Dia pun hanya bisa berbaring tak bergerak di tanah, dan dengan kedua matanya yang terbuka sedang menatap lurus ke langit.
"Oh iya.. Aku tidak melihat Leon. Kemana dia pergi?" Pikir Lina.
Bicara tentang si burung Nasar k*p*r*t, tak lama kemudian dia pun datang. Ternyata dia baru saja selesai mandi di danau, dengan rambutnya yang masih terlihat basah.
Saat Leon mendekati Lina, Lina bisa merasakan hawa dingin yang terpancar dari tubuh Leon.
Tubuhnya terlihat kurus, dan kedua kantung matanya terlihat berwarna gelap. Matanya yang sebelumnya berwarna merah semerah darah, kini terlihat meredup.
Saat Leon melihat Lina yang kini telah membuka matanya, dia pun sedikit merasa terkejut, lalu terkekeh dan berkata, "Hehehe.. Aku tahu kalu kamu hanya tertidur. Apa sekarang kamu sudah bangun?"
Mendengar itu, Lina pun ingin membuka mulutnya untuk menyapa Leon. Tapi, dia melihat Leon yang tiba-tiba saja datang mendekatinya, dan tanpa berkata apa-apa langsung mencium bibirnya.
"UFFFT!"
"Dasar burung b*j*ng*n!" Maki Lina dalam hatinya, yang kini mulai merasa ketakutan.
Sekuat tenaganya, Lina telah berusaha untuk berontak dan berjuang melawan, tapi sia-sia. Dia sama sekali tidak memiliki tenaga, dan tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya.
Setelah itu, Leon pun mulai merubah posisi tubuhnya, dan kini telah berada di atas tubuh Lina dan menatap mata Lina. Rambut panjangnya yang berwarna emas, tergerai di bahu Lina.
Leon berusaha untuk tersenyum dengan sangat menawan, meskipun dia menganggap ini hanyalah sebuah ilusi baginya, sambil berkata, "Sulit bagiku untuk memiliki mimpi yang indah seperti ini. Kenapa tidak kamu berikan saja apa yang aku inginkan?"
"Jangan kurang ajar!" Seru Lina setelah mendengar apa yang Leon katakan.
Mendengar itu, Leon pun mencubit wajah Lina sambil berkata, "Ohoho.. Tidak ku sangka.. Meskipun di dalam mimpi, kamu masih tetap saja sangat membenciku. Aku semakin menyukai mimpi ini.."
"B*j*ng*n! Apa kamu tidak takut dicap sebagai pemerkosa?" Ancam Lina dengan serius.
"Apa itu pemerkosa? Kenapa kamu selalu mengatakan sesuatu yang tidak bisa kumengerti? Memangnya dari mana asalmu?" Tanya Leon dengan ekspresi curiga, sambil terus menatap Lina.
Begitu Lina melihat dan mendengar Leon yang mencurigai asal usul dirinya, dia pun segera merasa sangat gugup dan bingung harus berkata apa lagi.
Tapi, saat Lina sedang kebingungan, tiba-tiba saja Leon menjilat bibirnya, setelah itu berkata, "Hmm.. Tidak ku sangka, rasa bibirmu begitu manis meskipun di dalam mimpi.."
"Tenanglah, Leon! Aku ini belum mati!" Kata Lina yang berusaha untuk meyakinkan Leon.
"Ya ya.. Aku tahu. Kamu itu hanya tertidur." Tapi, setelah Leon berkata seperti itu, dia pun segera memeluk Lina dengan sangat erat. Dan kedua bola matanya, saat itu juga terlihat penuh dengan kesedihan.
"Tapi kenyataannya, sekarang kamu sudah mati.. Gadis bertubuh kecil yang dulunya selalu terlihat lincah dengan wajahnya yang sangat cantik, sekarang telah menjadi mayat dengan tubuhnya yang terbujur kaku, dingan dan pucat.. Aku sangat menyesal.. Jika saja aku tahu akan jadi seperti ini, saat itu aku pasti akan berterus terang padamu.." Gumam Leon sambil masih memeluk tubuh Lina.
"Aku kira.. Waktu kita untuk selalu bersama masih akan sangat lama.. Selama aku selalu bersamamu dan menghabiskan waktuku denganmu, lambat laun kamu akan bisa menerimaku. Tapi.. Apa yang sekarang terjadi? Kamu telah lebih dulu meninggalkanku dengan kematianmu. Aku tidak bisa menerima semua ini! Kenapa kamu begitu tega meninggalkanku?" Saat lanjut bergumam seperti ini, sorot mata Leon dipenuhi dengan rasa sakit, cinta, benci dan penyesalan!
__ADS_1
"Aku berada tepat di dekatmu, tapi tidak melakukan apa-apa, hingga membuat dirimu terbunuh.. Kamu sudah mempertaruhkan nyawamu demi untuk melindungiku. Sekarang.. Apa yang harus aku lakukan selama sisa hidupku?" Setelah bergumam seperti ini, Leon pun memeluk tubuh Lina dengan lebih erat lagi. Sambil berharap untuk bisa menyatukan darah dan tulangnya dengan Lina, dia pun menggesek-gesekkan tubuhnya ke tubuh Lina.
“Apa yang harus aku lakukan?? Apa yang sekarang harus aku lakukan tanpa dirimu??" Ucap Leon dengan nada suaranya yang terdengar sedih.
Pada saat ini, Lina seperti orang linglung, setelah mendengar semua kalimat yang keluar dari mulut Leon.
"Tidak pernah ku sangka, kematianku akan menyebabkan begitu banyak rangsangan pada otak Leon, yang membuatnya berbicara begitu banyak omong kosong." Pikir Lina yang masih sedang merasa bingung, dengan apa yang baru saja terjadi.
Namun, bagaimana jika sebaliknya? Bagaimana jika Leon yang mati demi untuk melindungi Lina, dan terbunuh tepat di hadapan Lina? Apakah Lina akan menjadi gila seperti Leon saat ini?
"Semua ini tidak ada hubungannya dengan cinta. Ini hanyalah semacam rangsangan emosional sesat Leon saja." Pikir Lina.
Setelah berpikir seperti itu, Lina pun menghela nafasnya, "Hhhh.."
Saat Star ingin membunuh Leon di lautan kesombongan, hal pertama yang Lina pikirkan adalah melindungi Leon.
Apa pun yang terjadi saat itu, Lina beranggapan bahwa dia memiliki Bubu yang akan melindunginya. Jika dia tewas, paling-paling dia akan di bangkitkan lagi.
Tapi Leon tidak mengetahui tentang hal ini. Dia pasti akan berpikirkan kalau dialah penyebab Lina sampai terbunuh, dan hatinya pasti akan selalu dipenuhi dengan penyesalan dan perasaan bersalah.
Jika saja Leon adalah orang dengan mentalnya yang lemah, seumur hidupnya pasti akan terus dibayangi dengan perasaan bersalah dan penyesalan.
Saat Lina memikirkan semua hal ini, dengan enggan akhirnya dia pun berkata, "Maaf, lain kali aku tidak akan pernah lagi melakukan hal yang bisa membuatmu takut."
"Aku tidak butuh permintaan maafmu, aku hanya ingin bersamamu." Setelah berkata seperti itu, kemudian dengan lembut Leon ngusap-usap kulit pinggang Lina yang halus dan terlihat pucat. Kemudian dia pun tertawa pahit dan setelah itu berkata, "Jangan pikir karena kamu sudah mati, kamu akan bisa menyingkirkanku." Setelah berkata seperti ini, Leon pun segera menundukkan kepalanya untuk mencium bibir Lina lagi. Setelah dia selesai mencium bibir Lina, dia pun berkata, "Sekarang, aku ingin melakukannya denganmu!"
"Apa maksudmu?" Tanya Lina dengan ekspresi wajahnya yang terlihat bingung.
Ternyata, apa yang Leon maksudkan adalah dia ingin k*w*n dengan Lina! Meskipun jika Lina telah mati, Leon tetap menginginkan dirinya menjadi pasangan Lina!
Mendapat perlakuan yang gila dari Leon, Lina pun mulai merasa sangat ketakutan, dia pun segera berseru, berharap supaya Leon segera menghentikan aksinya, "Leon! Hentikan! Tenangkan dirimu!"
Tapi, Leon malahan berkata dengan suaranya yang terdengar lembut untuk menghibur Lina, "Lanjutkan saja tidurmu, jangan hiraukan apa yang akan aku lakukan."
Mendengar ini, Lina yang sudah merasa sangat marah pun segera berkata lagi, "Mau kemana tanganmu?! Jangan macam-macam denganku! Jangan berbuat yang tidak-tidak! Cepat keluarkan tanganmu dari situ!"
Saat tangan Leon yang telah menyusup masuk ke balik rok bulu yang Lina kenakan, dan menyentuh CD yang ada di balik rok bulu, Leon pun merasa sangat terkejut saat merasakan tangannya yang terkena cairan hangat yang kental dan melekat di tangannya.
"Apa itu? Apakah itu darah?" Pikir Leon yang saat ini sedang sedikit terkejut.
Meskipun Lina telah sering melakukan hal seperti ini bersama dengan pasangannya, tapi dia tetap tidak bisa menahan perasaan malunya, dengan wajahnya yang memerah dia pun berseru dengan marah kepada Leon, “Aku bilang, jangan menyentuhku! Apa kamu tidak dengar?!”
Karena rasa penasarannya, Leon pun menarik keluar tangannya dari rok bulu yang Lina kenakan, dan melihat ada darah di tangannya!
"Hah?? Ternyata benar darah. Darah ini jelas masih segar dan masih terasa hangat. Tapi.. Orang yang sudah mati tidak akan berdarah. Apakah Lina benar-benar belum mati?" Pikir Leon yang saat ini sedang merasa sangat heran sekaligus bingung.
Setelah berpikir seperti itu, kemudian dengan cepat dia segera menundukkan kepalanya, dan meletakkan telinganya tepat di dada Lina!
__ADS_1
"DUK DUK! DUK DUK! DUK DUK!"
"Hah?? Jantungnya berdetak!"
Bisa mendengar degup jantung Lina, saat itu juga segera membuat Leon merasa sangat senang, "Lina! Linaa! Linaaa!"
"Iya iya.. Aku masih bisa mendengarmu. Telingaku tidak tuli. Tidak perlu berteriak-teriak seperti itu!" Kata Lina dengan santai.
Mendapat tanggapan dari Lina, Leon pun segera membenamkan wajahnya di dada Lina, dan berkata dengan suaranya yang terdengar sedikit bergetar, "Kamu tidak mati.. Sungguh ajaib.."
Pada saat ini, sebenarnya Lina sangat ingin memarahi Leon yang sebagai Orc burung b*j*ng*n mesum, karena telah berani mengambil kesempatan disaat dirinya sedang tidak berdaya.
Tapi, belum sempat dia membuka mulutnya untuk memarahi Leon, tiba-tiba saja Lina merasakan dadanya terasa basah, terkena air yang terasa panas hingga seperti hampir membakar kulit dadanya.
"Hah? Bukankah Orc burung br*ngs*k ini terkenal tidak pernah takut akan apa apun? Tapi, kenapa saat ini dia menangis?" Pikir Lina.
Meskipun dalam keadaan yang terkejut, Lina masih bisa merasakan beberapa perasaan yang dalam.
Pada saat ini, Lina sudah tidak tahu harus berkata apa kepada Leon. Dia pun hanya bisa memutuskan untuk diam dan terus menatap langit, dengan kedua bola matanya yang terbuka lebar.
"Sepertinya hari ini adalah hari yang baik.. Langitnya terlihat sangat cerah dan tidak ada awan sedikitpun.." Batin Lina.
...........
Saat keadaannya telah berangsur-angsur menjadi tenang kembali.
Leon pun mengusapkan sudut matanya yang basah ke dada Lina, lalu membalikkan tubuh Lina, dan menjulurkan lidahnya untuk menjilati luka yang ada di punggung Lina.
Saat Leon melakukan hal itu, tiba-tiba saja seperti ada arus listrik yang mengaliri tubuh Lina.
"Apa yang sedang dia lakukan padaku?" Pikir Lina yang sedang sangat terkejut. Kemudian, dia pun segera berseru, "Leon! Hentikan! Apa kamu ingin aku mati?! Atau kamu sedang mencoba mencari kesempatan lagi?!"
Mendengar Lina berkata seperti itu, Leon pun menghentikan aksinya menjilat dan berkata sambil menatap Lina, dengan kedua bola matanya yang berwarna merah darah, "Aku sedang menggunakan air liur untuk menyembuhkanmu."
Para Orc memang menggunakan air liur mereka untuk menyembuhkan luka yang mereka derita, sebagai pertolongan pertama, saat luka yang mereka derita tidak diobati dengan menggunakan obat-obatan.
Tapi, cara Leon melakukannya seperti bukan metode penyembuhan yang sederhana, tapi seperti ingin memakan dan menelan Lina kedalam perutnya.
Pada saat ini, terdengar Lina yang berkata dengan nada suaranya yang terdengar sedang marah, "Aku tidak bodoh! Cepat lepaskan aku! Atau aku ak ..."
Belum juga Lina sempat menyelesaikan kalimatnya, Leon sudah memutar tubuh Lina lagi, hingga kini dalam posisi terlentang, lalu dia mendekatkan kepalanya kewajah Lina, dan mulai menjilat wajah Lina, sambil tersenyum dengan menawan dan berkata, "Akan apa? Hm?"
Pada saat ini, tiba-tiba saja terasa aliran hangat yang familiar bagi Lina, yang sedang mengalir turun dari perutnya.
Saat merasakan hal ini, saat itu juga Lina mulai merasa resah dan bingung.
"Gawat! Saat ini darahnya sedang mengalir keluar.." Batin Lina.
__ADS_1
Karena basah terendam oleh air laut, pembalut wanita yang saat ini sedang Lina pasang, sudah tidak berfungsi lagi untuk menyerap darah yang saat ini sudah mengalir keluar dari perut Lina.
Dan kini, cairan merah itu pun telah mengalir keluar melalui samping CD yang Lina kenakan, dan membasahi di sepanjang pangkal kakinya yang kini mulai memerah, akibat basah terkena cairan hangat berwarna merah itu.