
Kejadian tentang Ida Ruln yang gagal merayu Leon hanyalah sebuah tragedi kecil.
Setelah beberapa saat, keadaan mulai tenang kembali, para Orc pun melanjutkan makan dan minum mereka, dan melanjutkan untuk mencari pasangan favorit mereka.
Pada saat ini, Saga pun akhirnya datang.
Dia datang dengan membawa tiga tong kayu berukuran kecil di tangannya, yang penuh terisi dengan anggur.
Begitu Wiro melihatnya datang, dia pun cepat-cepat melambai kepada Saga.
"Di sebelah sini. Akhirnya kamu datang juga! Aku sudah lama menunggumu."
Setelah Saga duduk dan bergabung dengan mereka, Wiro segera mengambil tong kayu kecil, dan membuka penutupnya, dan langsung meneguknya.
"GLUK! GLUK! GLUK!"
"Aaahhh! Mantap! Sudah lama aku tidak minum air ajaib ini lagi. Aku juga tidak tahu apa yang terjadi. Semakin lama aku tidak meminum air ini, semakin aku merindukan rasanya. Mumpung besok tidak ada hal penting yang harus aku lakukan, tidak apa-apa jika malam ini aku mabuk!"
Kemudian Saga menyerahkan tabung kayu kecil yang lainnya kepada Uriel.
Setelah Uriel meminumnya, dia hanya menyesap sedikit dan kemudian berhenti untuk meminumnya.
"SRUPUUT! Hmmm."
Terakhir kali Uriel mabuk, dia telah menyakiti gadis kecilnya. Hal itu telah meninggalkan bayangan yang menyakitkan di hatinya. Sekarang, dia tidak akan pernah membiarkan dirinya mabuk lagi.
Wiro tahu kalau Uriel tidak ingin minum, jadi dia mengangkat anggur yang ada di tabung kayu pada Saga.
"Ayo! Ayo kita minum, Saga!"
Lina pun segera melirik Wiro sambil berkata, "Ingat dengan posisimu yang sebagai ketua klan, jangan terlalu banyak minum. Di sini ada banyak orang. Aku berkata seperti ini, untuk menghindari supaya kamu tidak mempermalukan dirimu sendiri setelah mabuk."
Tapi Wiro dengan percaya diri menepuk dadanya dan berkata, "Meskipun jika aku sampai mabuk, itu juga tidak akan menyebabkan masalah. Palingan aku akan langsung pulang dan tidur. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku!"
Lina, "....."
"Heh! Kalau begitu, siapa yang waktu itu mabuk dan berlutut di tanah sambil memegangi pahaku, dan menangis sambil meminta supaya aku tidak pergi?! Dasar Orc Serigala tak tahu malu!"
Ini adalah pertama kalinya Saga minum, tanpa diduga, ketahanannya akan alkohol ternyata tidak buruk.
Saga dan Wiro telah minum lebih dari setengah tong kecil berisi anggur. Akibatnya Wiro kini mabuk dan mulai berbicara omong kosong. Sedangkan Saga masih tetap menjaga wajah dan matanya tetap terlihat jernih, sedikitpun dia tidak terlihat mabuk sama sekali.
Saat ini api unggun sudah hampir padam, dan perut para Orc telah merasa kenyang.
Sebagian besar betina dari suku Rubah juga telah menemukan Orc jantan yang mereka sukai. Setelah mereka saling berpegangan, mereka mulai saling melepas rok bulu mereka satu persatu dan mulai rebahan di atas selimut bulu yang telah disiapkan sebelumnya.
Di tanah kosong, di udara terbuka, mereka pun mulai melancarkan aksi mereka untuk bercocok tanam.
"Hah! Betapa liarnya mereka!"
Lina merasakan matanya yang kini mulai panas. Dengan cepat Lina segera menutupi mata para anak-anak Serigala.
"Hal seperti ini tidak cocok untuk ditonton oleh anak-anak! Cepat kalian pulang."
Uriel juga merasa waktunya sudah hampir habis, kemudian dia berkata kepada gadis kecilnya, "Nanti Wiro dan aku yang akan kembali bersama anak-anak. Kamu bisa pergi berjalan-jalan dengan Saga dan membantunya menghilangkan gas anggur di perutnya."
Lina merasa terkejut mendengar apa yang Uriel katakan, ia juga tidak tahu apa maksudnya.
"Hah? Orang yang mabuk berat di tempat ini kan seharusnya Wiro. Saga sepertinya sama sekali tidak perlu menghilangkan gas anggur!"
Tapi tiba-tiba saja Wiro memeluk Lina dan menangis.
"Lina.. Aku sadar kalau aku tidak selembut Uriel dan juga tidak memiliki dua benda seperti Saga, tapi aku sangat menyukai dirimu.. Kenapa kamu tidak menginginkan aku.. Bu hu hu hu.."
Lina, "....."
Uriel, "....."
Saga, "....."
Seperti biasa, Uriel segera menarik Wiro dan menyeretnya ke samping, kemudian berkata kepada Saga, "Kamu ajak saja Lina jalan-jalan, aku yang akan membawa mereka kembali kerumah dan beristirahat."
Mendengar apa yang Uriel katakan, Saga pun melihat ke arah Lina.
Lina yang tadinya tidak tahu apa maksudnya, kini tiba-tiba saja dia seolah mengerti arti dari pengaturan Uriel.
Kemudian Lina menatap Uriel dengan heran dan ingin bertanya padanya, "Apakah kamu akan menyerahkan aku kepada orang lain?!"
Tapi sesuatu alasan menahan dirinya untuk tidak menanyakan kalimat ini.
__ADS_1
Dia tidak ingin menanyakan kalimat yang menyakitkan seperti itu.
Maksud Uriel baik. Saga juga tidak salah apa-apa, Lina pun tidak ingin menyakiti perasaan mereka.
Kemudian Uriel menatap Saga dan berkata, "Kalian akan segera menjadi pasangan yang sah. Bersikaplah lembut pada Lina."
Saga mengangguk dan berkata, "Ya."
Uriel menepuk pundak Saga, dan kemudian menyeret Wiro yang mabuk kembali kerumah. Sebelum anak-anak Serigala berjalan pergi, mereka melihat kearah Lina, baru kemudian berjalan mengikuti Uriel.
...........
Hutan yang tertutupi oleh malam, terlihat seperti dewi yang tertidur, tenang dan indah.
Saga sudah merubah wujudnya menjadi Ular Piton, dengan Lina yang sedang duduk di punggungnya. Ular itu bergerak melintasi rumput, menuju ke dalam hutan.
Beberapa hewan kecil yang melihat Ular Piton yang bergerak mendekat, segera berlarian karena ketakutan.
Kini mereka telah sampai di sebuah danau, yang terletak jauh di dalam hutan.
Di malam yang gelap ini, kunang-kunang yang tak terhitung jumlahnya terbang di atas danau, memancarkan cahaya kuning dan putih, seolah-olah seperti bintang-bintang memercik setelah jatuh ke bumi.
Air danau ini sebening cermin kaca. Bulan dan kunang-kunang tercermin dengan sangat jelas di permukaan air, seperti membentuk dunia ilusi yang indah.
"Semuanya terlihat sangat indah, seperti cerita di dalam dongeng."
Lina sedang menatap dan terpukau dengan pemandangan ini.
"Aku belum pernah melihat pemandangan malam yang begitu indah seperti ini!"
Awalnya apa yang tadi Uriel katakan sudah membuatnya merasa sedikit tidak nyaman, tapi saat ini juga perasaan itu telah sirna. Tidak ada yang lebih menarik dari pada pemandangan yang sangat indah ini.
Tubuh bagian atas Ular Piton kini berubah menjadi wujud Orcnya. Dia memeluk Lina dan membawanya berenang ke danau.
Saga berenang dengan tenang dan sangat berhati-hati, supaya tidak memercikkan sedikit pun air. Lina mengangkat tangannya, dan kunang-kunang pun hinggap di telapak tangannya.
Saga memperhatikan Lina yang sedang menatap kunang-kunang yang ada di telapak tangannya.
"Apakah kamu menyukai tempat ini?" Saga bertanya dengan suara rendah.
Lina mengangguk-angguk sambil tersenyum bahagia.
Kunang-kunang telah mengepakkan sayapnya dan kembali terbang.
Saat itu juga Saga mencium pipi Lina.
"Apakah kamu menyukaiku?"
Saat ini Lina sedang menatap Saga.
Rambut hitamnya yang panjang terurai jatuh ke dalam air. Meskipun dalam gelap, pipi pucatnya tetap dapat terlihat, seperti tidak bisa melihat jejak darah sedikitpun.
Di bawah sinar bulan, sepasang mata hitamnya seolah seperti bintang yang besar, menyala dan bersinar.
Lina kini merasakan jantungnya yang berdetak kencang.
Setelah Saga dengan hati-hati mencium bibirnya, barulah Lina tersadar kembali.
Tentu saja Lina menyukai Saga!
Bibir Saga terasa sangat dingin, seperti air di malam hari.
Sama seperti perasaan yang dia berikan kepada orang-orang, selalu bersikap dingin.
Tapi jika sudah mengenal Saga dengan baik, akan bisa menemukan kelembutan yang tersembunyi di balik dinginnya es.
Saga mencium bibir Lina berulang kali, tidak bermain terlalu dalam, tapi tengah merasakan dan mengeksplorasinya dengan sangat hati-hati.
Kemudian Lina mendengar Saga yang bertanya dengan suaranya yang dalam, seolah penuh dengan kesabaran dan kerinduan.
"Apakah aku bisa untuk memulainya?"
Ketika Saga menatap Lina dengan sorot matanya yang penuh kasih sayang, hati Lina serasa seperti meleleh.
"Tentu saja kamu bisa!" Jawab Lina.
Kemudian dengan cepat Lina mengulurkan tangan putihnya yang halus dan lembut untuk memeluk Saga.
Akibatnya, karena tindakannya yang terlalu tergesa-gesa karena merasa gugup, yang awalnya Lina ingin memeluk Saga, tapi tangannya seperti terpeleset dan akhirnya secara tidak sengaja memegang kepala Saga.
__ADS_1
Kini posisi Saga tengah dipeluk oleh Lina, dengan wajah Saga yang terbenam di antara dua gundukan yang ada di dada Lina.
Lina, "....."
"Siaaaaal! Kenapa jadi beginiiii!" Batin Lina yang meronta.
Saga, "....."
"Oh. Pandangan kedua mataku mendadak menjadi gelap." Batin Saga masih terkejut.
Setelah beberapa saat, Lina kemudian melepaskannya dengan tergesa-gesa, dan wajahnya terlihat memerah.
"Anu.. Maafkan aku! Aku tadi tidak bermaksud seperti itu!"
Saga tidak menjawabnya, saat ini dia sedang sedikit tersenyum sambil menatap Lina.
Lina tercengang untuk sesaat.
"Ini pertama kalinya aku melihat Saga tersenyum, terlihat begitu murni. Dengan rambutnya yang berwarna hitam panjang dan kulitnya yang pucat, terlihat sangat kontras dan tajam. Ketika Saga tertawa seperti ini, seolah-olah tinta hitam itu telah meleleh ke dalam air."
Sorot mata Saga terlihat penuh dengan ketidakberdayaan, dia berkata sambil tetap sedikit tersenyum, "Dasar b*d*h."
Lina sedikit terkejut dan berpikir, "Aku sering dimarahi dan dikatai orang b*d*h oleh Wiro, ini adalah pertama kalinya aku mendengar dua kata ini dari mulut Saga.."
Meskipun memang tindakannya barusan itu benar-benar b*d*h!
Ada sebuah batu besar yang ada di tengah danau ini. Saga pun meletakkan Lina dengan hati-hati di atas batu tersebut.
Permukaan batu yang dingin, membuat bagian bawah tubuh Lina bergerak-gerak.
Kemudian dengan hati-hati Saga mulai melepas pakaian Lina, seperti sedang membuka hadiah dan menantikan kejutan yang ada di dalamnya.
Ketika tubuh Lina telah sepenuhnya telanjang dan terekspos, tiba-tiba saja napas Saga menjadi berat.
Malam ini adalah malam yang agak berantakan untuk mereka berdua.
...........
Ketika Lina terbangun, Lina melihat kalau langit tidak sepenuhnya cerah.
Kemudian Lina duduk di dekat lengan Saga, dengan punggungnya yang ada di dada Saga, tubuhnya ditutupi dengan selimut kulit binatang. Keduanya masih dalam keadaan telanjang, kulit mereka saling berdempetan merekat erat satu sama lain, yang memiliki rasa keintiman yang tak terlukiskan.
Saat ini tubuh Lina terlihat sangat bersih dan segar. Apakah Saga sudah membersihkan tubuh Lina disaat Lina sedang tertidur?
Saga mendekatkan wajahnya ke telinga Lina, kemudian dia berbisik, "Kamu lapar atau tidak?"
Dengan lembut Lina menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku tidak lapar."
"Tapi tadi malam, sepertinya sulit bagimu." Ucap Saga.
Saat Lina memikirkan adegan tadi malam, mau tak mau wajahnya pun segera memerah, kemudian dengan tiba-tiba Lina bertanya, "Di mana pola bintang yang ada di tubuhmu?"
"Dibelakang." Kemudian Saga membalikkan tubuhnya dan memperlihatkannya kepada Lina.
Ada tato Ular berwarna hitam panjang di punggung sedikit kebawah, dengan teksturnya yang terlihat jelas. Tato itu menyebar ke tulang belakang, dan ujung ekor ularnya tepat berada di atas belahan f*nt*t Saga.
Tiga bintang tersebar di sekitar tato.
Lina yang penasaran pun mau tak mau mengulurkan jarinya dan menyentuh tato tersebut, ujung jarinya bergerak dengan lembut mulai dari ujung ekor dan terus bergerak naik hingga akhirnya berhenti di mana kepala Ular berada.
Ternyata, mahkota berbentuk duri juga muncul di kepala Ular.
Ujung jari Lina mengusap lembut tepat di mahkota duri.
"Sepertinya kontrak pasangan kita telah berlaku, mulai sekarang kamu sudah tidak bisa meninggalkanku sendirian."
Sekali lagi Saga memeluknya dan berjanji dengan sangat serius, "Di mana pun kamu berada, di situlah aku akan selalu ada di sisimu."
Saga mulai tersenyum lagi, dan Lina sangat puas melihat Saga yang kini sudah bisa tersenyum.
"Kapan kita akan kembali?" Bisik Lina.
"Kita akan kembali setelah melihat matahari terbit."
Pada saat ini matahari mulai terbit dari Timur, cahayanya yang berwarna merah tua, mulai mewarnai awan di langit.
Ini adalah tanda awal dari hari yang baru, bagi Saga dan Lina.
__ADS_1