Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 195 - Star


__ADS_3

Lina pun merasa sangat senang, saat mengetahui kalau bocah itu sudah tersadar.


Dia segera mendudukkan anak itu dan bertanya, "Bagaimana keadaanmu? Apa ditubuhmu ada yang terasa sakit?"


Mendengar apa yang Lina tanyakan, bocah laki-laki itu pun menggelengkan kepalanya dengan pelan, lalu berkata dengan suara kecilnya yang terdengar jernih, "Aku baik-baik saja. Apa kamu yang telah menyelamatkanku?"


"Ya, aku melihatmu hanyut hingga ke tepi pantai, lalu aku menarikmu," kata Lina sambil tersenyum.


Kemudian, terdengar suara bocah itu yang berkata, "Terima kasih. Kamu orang yang baik."


Melihat penampilan cerdas bocah laki-laki itu, Lina pun tidak bisa menahan dirinya lagi untuk menjangkau dan menyentuh rambut bocah itu, hingga membuat rambut ikal pendeknya yang berwarna abu-abu, kini terlihat sedikit berantakan.


Melihat hal itu, Lina pun tertawa ramah, kemudian bertanya, "Apa kamu lapar? Apa kamu ingin makan sesuatu?"


Setelah mendengar apa yang Lina tanyakan, bocah laki-laki itu pun terpana, karena merasa tersentuh dengan perlakuan Lina terhadap dirinya.


"Ini adalah pertama kalinya, ada seseorang yang mengusap kepalaku, dan orang itu adalah orang yang tidak aku kenal.." Pikir bocah itu.


Lalu bocah itu pun menundukkan kepalanya, dan berkata dengan suaranya yang terdengar lirih, "Aku tidak lapar.."


Setelah mendengar apa yang bocah kurus ini katakan, Lina pun segera menatapnya sambil berpikir, "Saat ini dia pasti sedang merasa sangat lapar. Bocah ini pasti berpikir aku tidak tahu, kalau dirinya sudah beberapa hari ini pasti belum makan. Tapi.. Disaat-saat seperti ini, dia masih bisa berkata kalau dirinya tidak lapar? Apa karena dia berpikir kalau di pulau ini tidak ada apa-apa, dan jika memiliki makanan meskipun itu hanya secuil, adalah sesuatu yang sangat langka dan berharga? Lalu, dengan sengaja dia pun mencoba untuk berbohong? Hmm.. Anak yang aneh.."


Tak lama kemudian, seperti melakukan trik sulap, Lina pun menyembunyikan kedua tangannya dibelakang tubuhnya, lalu mengeluarkan dua buah manis yang berukuran besar dari dalam ruang penyimpanan, dan menyodorkannya kepada bocah itu sambil berkata, "Cepatlah dimakan!"


Saat itu juga, bocah itu pun segera melihat buah manis yang ada di tangan Lina sambil terpana. Setelah beberapa saat kemudian, dia pun bertanya, "Bagaimana caranya kamu bisa memiliki buah-buahan ini?"


Mendengar pertanyaan seperti itu, Lina pun mengedipkan matanya sambil berkata secara misterius, "Ini rahasiaku, aku tidak bisa memberitahumu."


Saat itu juga, anak itu pun tidak lagi bertanya. Dia segera mengulurkan tangannya yang sangat kecil dan kurus, untuk mengambil buah manis yang Lina sodorkan kepadanya, untuk segera dia makan.


"KRAUK! NYAM NYAM NYAM!"


"KRAUK!"


"Pipi bocah itu terlihat kecil, bahkan lebih kecil dari buah manis yang saat ini sedang dia pegang.. Saat nanti anak-anakku sudah tumbuh besar, mereka pasti juga akan terlihat seperti dia.." Pikir Lina.


Saat sedang memikirkan anak-anak, tiba-tiba saja Lina teringat akan Saga dan yang lainnya.


"Oh iya, bagaimana dengan keadaan Saga, Wiro dan Uriel?" Pikir Lina lagi.


Setelah memakan habis semua buah manis pemberian Lina, kini semangat si bocah laki-laki terlihat mulai membaik.


Melihat hal itu, Lina pun berkata pada bocah laki-laki itu, "Namaku, Lina. Siapa namamu?"


Bocah itu pun menjawabnya dengan pelan, "Namaku, Star."


"Star? Hmm.. Nama yang bagus." Kata Lina.

__ADS_1


Mendengar Lina yang memuji namanya, bocah itu pun tertunduk malu, dan kemudian berkata, "Namamu juga bagus, enak didengar."


Saat ini Lina telah menambahkan beberapa kayu bakar lagi ke api unggun, dan dengan santai bertanya, "Bagaimana ceritanya kamu bisa sampai hanyut hingga kemari? Lalu, di mana keluargamu?"


Mendengar itu, Star pun menatap ke nyala api, dan berkata dengan suaranya yang terdengar lirih, "Semua anggota keluargaku terbunuh.. Kapal yang sedang kami naiki, karam di tengah lautan.. Hanya aku satu-satunya yang selamat. Aku hanyut di tengah lautan untuk waktu yang lama, dengan selalu berpegangan pada kayu gelondongan dari pecahan kapal. Setelah itu, aku sudah tidak tahu lagi apa yang terjadi, hingga akhirnya aku hanyut terbawa ombak sampai ke sini.."


Setelah berkata seperti itu, dia pun menatap wanita yang ada di depannya, dan terlihat bola matanya yang berwarna kuning bersinar karena terkena cahaya api, kemudian lanjut berkata lagi, "Beruntungnya aku, bisa bertemu denganmu, kalau tidak, aku pasti sudah berada di pulau kecil yang tidak diketahui oleh siapa pun ini seorang diri."


"Aku juga sama sepertimu. Aku hanyut terbawa arus laut hingga ke mari. Mungkin ini sudah takdir kita untuk bertemu. Ya, supaya kita bisa saling membantu." Kata Lina.


Mendengar itu, Star pun berkata dengan serius, "Kamu memang orang yang baik."


Ini adalah kesekian kalinya Lina dipuji oleh Star. Dia pun tersenyum, sambil bertanya kepada Star, "Apa kamu tahu sekarang kita ada di mana?"


Tapi Star menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Aku tidak tahu."


"Apa nama lautnya, kamu pasti tahu, kan?" Tanya Lina lagi.


Mendengar itu, Star pun terdiam untuk beberapa saat, setelah itu, barulah dia berkata, "Laut ini disebut dengan lautan kesombongan."


"Laut kesombongan?? Belum pernah aku mendengar tentang tempat ini." Batin Lina yang saat ini sedang sedikit bingung.


Melihat Lina yang terlihat kebingungan, Star pun mencoba untuk sedikit menjelaskan kepadanya.


"Lautan kesombongan adalah laut mati yang hanya ada dalam legenda. Dikatakan bahwa tempat ini adalah tempat di mana semua kehidupan akan berakhir. Selain itu, hanya ada satu cara bagi makhluk hidup untuk bisa masuk ke sini."


Tapi, kata "lautan kesombongan", membuat keduanya terdiam, dan suasana pun seketika menjadi hening.


Akhirnya, Lina lah yang pertama kali memecahkan kesunyian.


“Siapa bilang tidak akan mungkin ada makhluk yang bisa hidup di sini? Bukankah kamu dan aku masih hidup dengan sangat baik? Dan bambu-bambu itu juga, mereka semua juga hidup dengan sangat baik." Kata Lina sambil menunjuk ke hutan bambu yang berada lumayan jauh dari tempat mereka saat ini. Kemudian dia pun lanjut berkata lagi, ”Dengan itu, kita akan mencari cara untuk bisa meninggalkan tempat ini."


Saat Star melihat ke arah hutan bambu, mata kuningnya pun segera melebar.


"Belum pernah aku melihat tanaman apa pun di tempat ini. Apa pun yang ditanam di tanah ini, pada akhirnya pasti akan mati. Tapi, ini adalah pertama kalinya aku melihat tanaman yang bisa bertahan hidup di sini." Batin Star.


Spontan saja, kemudian Star pun segera bangkit dari duduknya, dan berjalan menuju ke hutan bambu.


Bintang-bintang di langit sangat terang, dengan cahayanya menyinari permukaan laut, hal itu membuat seluruh pulau juga bisa terlihat. Dengan begitu, meskipun jika tidak ada api, Lina masih bisa melihat daratan pulau ini dengan jelas.


Tapi, meskipun begitu, Lina tetap merasa khawatir kalau-kalau Star akan terjatuh.


"Tubuh bocah itu terlihat sangat kurus, seolah-olah hembusan angin bisa meniupnya kapan saja." Pikir Lina sambil menatap Star yang mulai melangkahkan kakinya.


Kemudian, dengan cepat Lina pun segera menyusul Star, memegang pergelangan tangannya, lalu berkata, "Jalannya pelan-pelan saja, nanti kamu bisa jatuh."


Meskipun saat ini Star sudah melambatkan jalannya, tapi Lina tetap tidak bisa mengimbangi kecepatannya berjalan.

__ADS_1


Tanaman bambu yang Lina tanam, belum sepenuhnya tumbuh dewasa, saat ini tingginya baru sedada Lina.


"Bisa tumbuh di tanah yang tandus seperti ini, bisa dikatakan sebagai keajaiban hijau!" Batin Star sambil terus berjalan dan menatap hutan bambu.


Saat telah tiba, dengan hati-hati Star pun segera mengulurkan jarinya, untuk menyentuh tanaman bambu yang telah Lina tanam.


Matanya yang berwarna kuning, kini terlihat berbinar dengan kilaunya yang kompleks.


"Hijau.. Sangat bagus untuk dilihat.." Kata Star yang saat ini sedang merasa heran dan takjub.


Lina pun mengangguk, tanda setuju dengan apa yang Star katakan, kemudian berkata, "Semua tanaman ini akan terlihat jauh lebih indah, saat mereka telah dewasa."


...........


Pada hari-hari berikutnya, setiap harinya Star akan selalu pergi ke hutan bambu, untuk melihat perkembangan pertumbuhan tanaman-tanaman itu.


"Daun-daunnya masih tetap terlihat hijau.." Pikir Star.


Sepertinya, dia lebih peduli dengan pertumbuhan tanaman-tanaman bambu ini, daripada Lina sendiri.


Lina juga menyadari kalau Star sangat menyukai tanaman bambu yang dia tanam, dia pun mengajak Star untuk menyirami bambu-bambu tersebut.


Sejak Uriel mengetahui kalau saat ini Lina sangat kekurangan air bersih, mereka pun menggunakan prinsip berbagi ruang, untuk memasukkan banyak kantung berisi air segar ke dalam ruang penyimpanan. Dengan begitu banyaknya suplai kantung air, kini Lina tidak perlu lagi menyaring air laut setiap harinya.


Selain itu, tidak hanya bisa digunakan untuk minum dan mandi, tapi Lina juga bisa menggunakan air-air itu untuk menyirami tanaman-tanaman bambu yang dia tanam.


Sebelumnya, saat Lina masih sendirian di pulau ini, dia tinggal mengambil barang-barang dari dalam ruang penyimpanan tanpa perlu ragu-ragu. Tapi sekarang, dengan adanya Star, dia harus pergi menjauh sedikit, untuk mengambilnya.


"Meskipun Star pasti akan menduga-duga, dari mana barang-barang yang aku keluarkan berasal, aku rasa, akan jauh lebih baik jika aku tetap menutupi hal ini darinya." Pikir Lina.


Dengan tubuh Star sangat kurus, Lina pun tidak mengijinkan Star melakukan pekerjaan yang terlalu berat untuk dia lakukan.


Oleh karena itu, setiap harinya, Lina lah yang bertanggung jawab untuk membawa ember kayu berisi air ke dalam hutan bambu, dan kemudian memberikannya kepada Star, untuk dia menyirami pohon-pohon bambu.


Terlihat antusiasmenya yang besar, saat Star melakukan pekerjaan ini. Dia selalu menuangkan air secara merata, pada setiap pohon bambu sambil terus bergumam,


"Tumbuh.. Tumbuh.."


"Hijau.. Hijau.."


...........


Kini, pohon-pohon bambu yang telah Lina tanam, telah menjadi hutan bambu yang lebat.


Melihat hal ini, dengan sangat bersemangat Lina pun segera menggosok-nggosok kedua telapak tangannya.


"Akhirnya, sekarang aku bisa membuat rakit dari bambu!"

__ADS_1


__ADS_2