Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 186 - Handi Kobra


__ADS_3

Lina yang saat ini merubah dirinya menjadi bunga kecil dan bersembunyi di balik jubah Saga, melongok keluar dari balik jubah Saga untuk melihat sosok itu.


"Ah. Rencana pelarian kami terganggu. Kenapa sosok dingin itu harus datang kemari di saat seperti ini?!" Pikir Lina.


Saga segera mendorong masuk Lina kembali kebalik jubahnya, dan kemudian berbalik, dan melihat kepada sosok dingin yang saat ini sedang berdiri di depan vas bunga.


Tak lama kemudian, terdengar suara sosok dingin itu yang bertanya, "Aku ingat kalau sebelumnya di sini ada tanaman kering, kenapa sekarang tidak ada?"


Dengan tenang, Saga menjawab pertanyaannya, "Terlalu jelek, aku sudah membuangnya."


Sosok dingin itu pun mengangguk dan berkata dengan dingin, "Memang jelek. Seharusnya memang dibuang."


Lina, "....."


Lina yang sejak tadi bersembunyi di balik jubah Saga, juga bisa mendengar apa yang Saga dan pamannya bicarakan.


"Memang layak menjadi keponakan dan paman. Mereka berdua sama-sama dinginnya." Batin Lina.


Sosok dingin itu pun tidak terlalu memikirkan tanaman layu lagi. Pada saat ini, dia fokus pada Saga lagi, dan berkata dengan nada suaranya yang terdengar gembira, "Saat terakhir kali aku melihatmu, kamu hanyalah Ular kecil yang belum bisa merubah wujudmu ke bentuk Orc. Dalam sekejap mata, kini kamu telah tumbuh dewasa."


Tapi Saga merasa tidak senang, saat mendengar pamannya berkata seperti itu.


Saga merasa tidak senang, karena pamannya tidak melakukan apapun dan membiarkan keluarganya binasa, yang telah membuat Saga menjadi yatim piatu sejak dia kecil.


Ingatan itu begitu tragis, hingga Saga tidak ingin mengingatnya lagi seumur hidupnya.


Kemudian, Saga berkata tanpa ekspresi, "Jika ada yang ingin paman katakan, katakan saja sekarang."


Melihat ketidakpedulian Saga, sosok dingin itu pun tidak memikirkannya. Dia berkata, "Sebelum meninggal, ibumu berpesan padaku, jika suatu saat kamu telah membangkitkan iblis di dalam dirimu, aku harus membawamu kembali ke klan Iblis."


Saga, "....."


Pada saat ini, Handi lanjut berkata lagi, "Aku tahu, kamu pasti masih memikirkan betina kecil itu. Selain itu, aku juga tahu kalau kamu juga tidak ingin tinggal di klan Iblis. Jika kamu tinggal di sini, kamu akan aman dari kejaran Kuil Bulan Gelap. Tempat ini adalah tempat yang paling aman untukmu."


Tapi, tiba-tiba saja Saga bertanya diluar topik pembicaraan mereka, "Apa paman mengenal Heli Belang?"


"Apa?" Tanya Handi dengan sedikit terkejut.


"Heli Belanglah yang pertama kali merangsang darah Iblis di dalam diriku untuk bangkit," setelah berkata seperti itu Saga menatap mata pamannya, lalu lanjut berkata lagi, "Heli Belang diperintahkan untuk menyakitiku dan memaksaku untuk meninggalkan Kuil. Sebelumnya, aku pikir dia melakukan itu untuk mendapatkan posisi sebagai imam besar. Tapi jika hanya seperti itu, kenapa dia harus membangunkan darah iblis di dalam diriku? Itu malahan tidak akan membantunya. Yang terpenting, bagaimana dia bisa tahu kalau darah iblis bisa dibangkitkan? Siapa yang memberitahunya?”


Handi, "....."


Kali ini giliran Handi Kobra yang terdiam.

__ADS_1


Mata Saga pun terus menatap handi dengan dingin.


"Satu-satunya orang yang tahu cara membangunkan darah iblis, adalah iblis itu sendiri. Kenapa paman memberi tahukan informasi seperti itu kepada Heli Belang? Apa kalian bekerja sama?"


Handi, "....."


Handi masih terdiam.


"Kini Heli Belang sudah mati, selain dia, paman pasti memiliki banyak barang-barang dari Kuil, kan? Memangnya apa yang kalian rencanakan?" Tanya Saga yang masih menatap Handi dengan dingin.


Setelah Saga selesai bertanya, tiba-tiba saja Handi tersenyum, lalu berkata, "Jika kamu ingin tahu, tetaplah di sini dan bergabung dengan pasukan iblis. Aku pasti akan memberi tahukan semua yang aku tahu." 


"Bagaimana jika aku tidak mau?" Tanya Saga dengan serius.


Mendengar itu, Handi pun masih tetap tersenyum dan berkata, "Perlu kamu tahu, dari saat kamu melangkah masuk ke wilayah klan Iblis, sudah tidak ada pilhan lain lagi untukmu, selain tetap tinggal di sini dan mengabdi pada iblis."


Saga pun berkata, "Orang yang membesarkanku adalah kakek. Tempat di mana aku tinggal sejak kecil, adalah di Kuil. Jika aku harus mengabdi, aku pasti akan memilih mengabdi untuk Kuil."


"Tapi, bukankah orang-orang dari Kuil ingin membunuhmu?" Tanya Handi.


"Meskipun begitu, aku tetap tidak bisa bergabung dengan klan Iblis, aku tidak ingin mengecewakan kakek." Ucap Saga.


Kali ini, Handi segera mengerutkan keningnya saat mendengar apa yang Saga katakan, "Jangan sebut-sebut laki-laki tua jahat itu lagi di depanku. Jika bukan karena intervensinya, ibumu tidak akan mati dengan begitu menyedihkan. Laki-laki itu adalah musuhku dan juga musuhmu!"


Meskipun Saga masih sangat muda saat ibunya meninggal, tapi dia telah menyelidiki tentang hal itu selama bertahun-tahun lamanya. Dan secara bertahap, Saga juga telah menemukan beberapa hal. Memang benar Kuil Bulan Gelap berkaitan dengan kematian ibunya, tapi iblislah yang benar-benar telah mendorongnya ke ujung jurang.


Melihat Saga yang terdiam dan terlihat biasa saja, seolah tidak mempedulikan apa yang baru saja Handi katakan, membuatnya merasa tidak puas. Akhirnya dia pun memilih untuk membicarakan hal lain.


"Kamu memiliki bakat yang sangat bagus, kamu pasti bisa menjadi jenderal yang luar biasa hanya dengan sedikit polesan," setelah berkata seperti ini, dia diam sesaat, kemudian lanjut berkata lagi, "Saat nanti aku sudah tua, kamu bisa mengambil alih posisiku dan menjadi komandan yang baru bagi pasukan iblis."


"Aku tidak tertarik untuk memimpin pasukan Iblis. Lebih baik paman cari orang lain untuk menjadi penerusmu." Tolak Saga.


"Kamu adalah satu-satunya kerabatku di dunia ini, hanya kamulah penerus yang paling cocok, aku tidak ingin yang lainnya." Ucap Handi.


Tidak peduli seberapa dingin Handi telah melobi Saga, tapi negosiasinya tetap menemui jalan buntu.


"Aku akan memberimu satu hari lagi untuk memikirkan hal ini. Jika besok kamu tetap tidak bisa memberiku jawaban yang memuaskan, aku hanya bisa mengambil tindakan tegas terhadapmu," kata Handi.


Setelah berkata seperti itu, Handi segera berbalik dan pergi meninggalkan ruangan ini.


Pada saat ini, Lina keluar dari balik jubah Saga, dan mengangkat bunga putih kecilnya untuk menatap Saga.


"Masih bisakah kita pergi?" Tanya Lina kepada Saga.

__ADS_1


Saga pun menyentuh kelopak bunga putih kecil itu sambil berkata, "Tentu saja, kita harus pergi dari sini."


Jika dia hanya seorang diri di sini, dia tidak akan peduli dengan apa yang pamannya lakukan padanya. Tapi, saat ini Lina juga ada di sini, dan Saga merasa harus bisa membawa Lina keluar dari tempat yang berbahaya ini.


Lina sebenarnya juga ingin bertanya pada Saga tentang ibunya, tapi sekarang ada hal yang mendesak, yaitu harus segera keluar dari sini.


"Tentang hal-hal lain, aku tidak perlu terburu-buru, aku bisa menunggu sampai kami pulang dan bertanya padanya." Pikir Lina.


Pada saat ini, Saga yang membawa Lina di balik jubahnya siap untuk keluar, tapi saat mencoba untuk membuka pintu, "Pintunya terkunci dari luar, sama sekali tidak bisa dibuka."


Mendengar apa yang Saga katakan, Lina pun kekuar dari balik jubah Saga dan berkata, "Kamu bisa memanjat keluar jendela."


Ada celah kecil di jendela batu, dan batu bukanlah apa-apa bagi Saga. Saga pun segera melubangi batu itu, dan memanjat keluar dengan lancar.


Dengan cepat, Saga memanjat turun mercusuar ini, sambil mendengarkan apa yang Lina katakan tentang keadaan di luar.


Pada awalnya, saat Saga mendengar apa yang Lina deskripsikan tentang seberapa besar Ubur-ubur raksasa yang ada di sini, dia masih merasa sedikit tidak percaya. Tapi saat dia telah berjalan keluar dari mercusuar dan melihat ada seekor ubur-ubur raksasa, dia kini percaya, kalau apa yang Lina katakan tentang Ubur-ubur raksasa itu tidaklah berlebihan.


"Tubuh Ubur-ubur raksasa ini sangat besar!" Batin Saga.


Ubur-ubur ini seperti monitor, yang bertugas untuk memantau seluruh wilayah klan Iblis.


Saat Saga muncul, Ubur-ubur itu pun segera menyadarinya.


Tentakelnya yang tipis dan panjang segera menjulur ke arah Saga, seolah-olah sedang meneliti identitas Saga.


Saga hanya berdiri diam di tempatnya, dan membiarkan Ubur-ubur itu memeriksa dirinya.


Di sekitarnya, ada banyak pasukan patroli yang terus-menerus lewat, dan tidak ada satupun dari mereka yang mengawal Saga.


Saat ini, Ubur-ubur raksasa itu telah selesai memeriksa Saga yang ternyata juga memilki nafas Iblis.


Saga memang memiliki darah Iblis, tapi nafasnya terlalu lemah, itu mengartikan kalau dia bukanlah Iblis murni. 


Ada banyak Orc berdarah iblis non murni, tapi, pria yang saat ini ada di depan tentakel si Ubur-ubur raksasa itu adalah pria yang spesial.


Ubur-ubur raksasa itu masih ingat, kalau Saga adalah orang yang dibawa kembali oleh Handi Kobra. Selain itu, Ubur-ubur raksasa itu juga mendengar kalau Saga adalah keponakan dari Handi Kobra.


Setelah merasa yakin tidak ada yang janggal, Ubur-ubur raksasa itu pun menarik kembali tentakelnya, yang sebelumnya melilit tubuh Saga untuk memeriksa identitasnya.


Saat Saga hendak melangkahkan kakinya untuk segera berjalan menuju ke hutan, Saat itu juga sebuah suara yang menghentikan langkah Saga terdengar.


"Tunggu sebentar."

__ADS_1


__ADS_2