Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 116 - Peraturan


__ADS_3

Wiro juga berpikir kalau ide Uriel sangat lah bagus.


"Betul juga, kita masih membutuhkan orang untuk bekerja di kebun. Aku akan membuka kesempatan bagi para Orc Kuda Liar untuk bekerja di kebun."


Lina berpikir lebih jauh lagi, ia pun berkata dengan penuh semangat, "Bagaimana kalau kita membuat poin kerja? Dengan adanya poin kerja, mereka bisa menukar poin kerja mereka dengan rumah dan makanan, atau pun dengan yang lain untuk kebutuhan hidup mereka."


"Poin kerja?" Wiro, Uriel, Saga berkata serempak sambil menatap Lina, dan menunggu penjelasan dari Lina.


"Misalnya begini, jika Orc telah bekerja selama sehari, dia bisa mendapatkan satu poin kerja. Jika dia bisa menyimpan sepuluh poin kerjanya, dia bisa menggunakan poinnya untuk menukarnya dengan rumah. Selain itu, makanan dan bahan obat juga bisa digunakan sebagai upah pekerjaan mereka."


Wiro, Uriel, Saga, mereka tiba-tiba merasa ide dari Lina seperti bisa memberi manfaat besar bagi kedua belah pihak.


Uriel yang sedang berpikir, kini berkata, "Karena kita ingin membuat sistem poin kerja, kita harus menetapkan aturan suku terlebih dahulu."


Lina mengerjap-ngerjapkan matanya kemudian berkata, "Aturan yang seperti apa?"


Uriel menjelaskan, "Ada semakin banyak Orc, yang ada di Gunung Batu. Selain suku Serigala, ada juga suku Bulu dan suku Mustang. Mungkin nantinya akan ada lebih banyak lagi suku yang lainnya. Oleh karena itu kita perlu membuat aturan yang lengkap, yang bisa membatasi perilaku Orc agar nantinya tidak akan ada kekacauan."


Lina kini baru tersadar dan berkata, "Itu sama saja dengan memberi Hukuman!"


"Hukuman?" Kemudian Wiro berpikir sejenak. Setelah itu dia berkata, "Kedengarannya bagus. Nantinya aturan di suku kita akan disebut Hukum saja."


Kemudian Lina dengan cepat berkata, "Hukum hanya bisa dilaksanakan oleh negara, sedangkan kita hanyalah sebuah suku, tidak perlu menggunakan kata-kata yang serius seperti hukum, kan?"


"Apa itu negara?" Wiro bertanya


"Singkatnya, lebih maju dari Orc dan populasinya lebih besar dari suku." Kata Lina


Saat ini Wiro sedang berpikir dengan serius, dan kemudian berkata dengan suaranya yang terdengar lantang. "Sepertinya tujuan masa depan kita adalah mendirikan sebuah negara!"


Lina, "Haduh.." Sambil menepuk jidatnya sendiri. Kemudian berkata, "Membangun sebuah negara tidak lah semudah yang dibayangkan."


Saga yang sejak tadi tidak berbicara, tiba-tiba saja berkata, "Faktanya, menurut tingkat perkembangan suku Serigala Batu saat ini, nantinya suku di Gunung Batu kemungkinan akan menjadi Kota Binatang yang baru, dan tidak menutup kemungkinan sebuah negara akan didirikan di sini."


Lina sangat kaget setelah mendengar perkataan Saga.


“Ada apa denganmu, Saga? Apakah kamu sudah tertular penyakitnya Wiro?”


“Membangun sebuah negara itu terlalu berat,” ujar Uriel. Tapi kemudian Uriel lanjut berkata, "Mari kita tetapkan tujuan kecil kita dulu. Misalnya, merumuskan hukum suku terlebih dahulu, dan kemudian mempertimbangkan masalah mendirikan sebuah negara."


Lina, "....."


"Haduh haduh! Berakhir sudah. Sepertinya ketiga Orc ini sudah menderita kanker stadium tiga tingkat lanjut!"


Uriel, Wiro dan Saga saling memandang dan telah membuat keputusan.

__ADS_1


Hanya ketika mereka semua telah cukup kuat, maka tidak akan ada yang berani membuat masalah. Lina juga pasti akan bisa mendapatkan keamanan yang nyata.


Saat ini mereka bertiga terus membahas pembentukan sistem poin kerja dan undang-undang. Lina pun terkadang turut memberikan masukan, untuk membantu mereka memberikan beberapa ide baru.


...........


Keesokan harinya, Wiro memanggil semua Orc untuk berkumpul di alun-alun yang ada di depan aula pertemuan.


Tidak hanya Orc dari Serigala Batu yang hadir, tetapi juga Orc dari klan Bulu dan klan Kuda Liar, semuanya juga hadir.


Wiro meletakkan lempengan batu selebar sekitar satu meter di atas kursi batu, di tengah alun-alun.


Sambil menunjuk kata-kata yang ada di batu tulis, dia berkata, "Ini adalah hukum baru dari Serigala Batu. Tidak peduli apakah mereka dari klan Serigala Batu atau dari klan lain, selama mereka tinggal di Gunung Batu, mereka harus mematuhi hukum ini. Barang siapa yang melanggar hukum, mereka akan diusir keluar dari Gunung Batu, atau bahkan mungkin dibunuh di tempat."


Berada di antara para Orc, Sky Letta menoleh kepada Leon dan bertanya, "Apakah kata-kata yang diukir di lempengan batu, sama dengan kata-kata yang biasanya kota tingkat satu gunakan?"


Kemudian Leon memperhatikan lempengan batu dengan cermat.


"Seharusnya itu memang sama dengan kata-kata, tapi aku belum pernah melihat kata-kata yang seperti itu."


Sky Letta merenung sesaat, kemudian berkata, "Kalaupun kamu belum pernah melihat kata seperti itu, lalu siapa yang mengukir karakter-karakter tersebut?"


"Soal itu, sebaiknya nanti kamu yang tanyakan langsung pada Wiro." Ucap Leon.


Tapi Sky Letta merasa ragu.


"Darimana kamu akan tahu jika kamu tidak mencobanya terlebih dulu?" Ucap Leon.


"Benar juga." Ucap Sky.


Saat ini Wiro sedang membaca kata-kata yang ada di batu tulis.


"Yang pertama. Jangan buang air besar atau pun buang air kecil sembarangan, dan juga jangan mengubah struktur bangunan sesuka hati kalian!"


"Yang kedua. Tidak ada yang diizinkan untuk mengungkapkan informasi apa pun yang ada di dalam Gunung Batu, kepada orang luar tanpa meminta izin terlebih dulu."


"Yang ketiga. Tidak boleh ada pertarungan pribadi! Dilarang menyakiti saudara kalian atau pun menyakiti Orc lain!"


Ketika Wiro membaca ini, banyak Orc yang mulai membicarakannya.


"Hah! Kenapa begitu?"


"Bagaimana nantinya kita akan menyelesaikan masalah kita?"


"Aku suka berduel, walaupun aku tidak memiliki masalah dengan lawanku!"

__ADS_1


Mereka semua adalah laki-laki yang kuat. Mereka menyukai pertarungan, walaupun terkadang mereka hanya bermain-main. Selain itu, mereka juga akan berkelahi untuk menyelesaikan konflik apa pun. Saat ini sulit bagi mereka untuk menerima hal ini, karena tiba-tiba saja mereka tidak diizinkan untuk bertarung.


Melihat adanya keraguan dari para Orc, Wiro segera menyebarkan aura intimidasi bintang duanya. Kemudian dia memandang ke seluruh kerumunan dan berkata dengan suara tajam, "Jika kalian memiliki masalah yang harus kalian selesaikan dengan duel, kalian bisa mengajukan permohonan kepada tim pendamping, supaya pertarungan kalian benar-benar adil. Selama permohonan kalian disetujui, kalian bisa melakukan duel yang adil, dengan saksi dari para tim pengawal. Tapi satu hal yang perlu diingat adalah, tidak ada yang boleh saling membunuh!"


Pada saat ini, ada seseorang bertanya, "Apa itu tim saksi dan pengawal?"


"Aku akan menjelaskannya nanti," Kemudian Wiro kembali mengetuk lempengan batu di belakangnya. "Dan yang terakhir. Setelah betina dan jantan telah menjadi pasangan, para betina tidak boleh meninggalkan si jantan tanpa alasan!"


Setelah Wiro selesai mengatakan peraturan yang terakhir, tiba-tiba saja kerumunan menjadi riuh dan berseru!


"HAH?!"


"APAH?!"


Untuk waktu yang sangat lama, betina telah mendominasi para pasangan jantannya. Begitu Orc jantan ditinggalkan oleh si betina, kemungkinan besar Orc jantan itu akan mati.


Hal itu terjadi karena kontrak magis yang menggigit jiwa para Orc jantan.


Salah satu contoh yang bisa diambil adalah ayah Wiro. Tragedi yang seperti itu sering terjadi dan tak terhitung jumlahnya. Tapi hal seperti itu sudah menjadi sangat umum bagi mereka. Dan mereka juga tidak berpikiran kalau hal itu salah. Khususnya bagi para betina, mereka menganggap status mereka kini telah diturunkan.


Wiro tiba-tiba saja membuat aturan, kalau perempuan tidak diperbolehkan meninggalkan laki-laki sesuka hati mereka. Wiro kini dianggap sengaja menekan dan merampok dominasi para betina!


Kini para betina maju untuk memprotes. Meskipun Wiro adalah ketua klan, masih muda, dan dia juga Orc jantan. Para betina itu sama sekali tidak takut padanya.


“Kenapa kami tidak diperbolehkan meninggalkan laki-laki?"


"Ya! Jika mereka tidak berkelakuan baik kepada kita, kita lah yang akan meninggalkan mereka."


"Betul! Lagipula hal seperti ini adalah hal yang biasa. Anda tidak punya hak untuk ikut campur!”


Saat Wiro hendak mengatakan sesuatu, dia melihat Lina yang tiba-tiba muncul di dekatnya.


Setelah Lina mendapatkan izin dari Wiro, ia pun mengangguk dan berkata kepada para betina,


"Untuk peraturan yang terakhir, itu saya yang mengusulkan. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan Wiro."


Mendengar apa yang Lina katakan, membuat para betina tercengang.


"AH!"


Sejak tragedi pembantaian di Gunung Batu, para betina telah sangat menghargai dan menghormati Lina.


Lina tidak hanya telah menyelamatkan hidup mereka, tapi juga dianggap mengetahui seni pengobatan dan sihir. Dia juga telah dianggap sebagai betina yang sangat kuat.


Selama Lina yang berkata, para betina pasti akan merasa yakin dan percaya kepadanya.

__ADS_1


Tapi kali ini, para betina merasa ragu-ragu.


__ADS_2