Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 183 - Pingsan


__ADS_3

Sambil menggigil kedinginan dan menahan rasa sakitnya, Lina segera berusaha untuk bangkit. Lalu dia menggigit jarinya sendiri dan meneteskan darahnya ke mulut si Kubucil, yang saat ini sudah hampir kehilangan kesadarannya.


Dengan segera, teratai yang sudah hampir layu itu disembuhkan kembali, dengan kecepatan yang bisa terlihat dengan mata telanjang.


Kelopak bunga Kubucil yang beberapa saat lalu berwarna putih keabu-abuan karena terkena racun King Kobra, kini telah kembali berwarna merah muda lagi. 


Lalu Kubucil mengusap-usap jari Lina yang terluka dan berkata sambil terisak, "Ibu.."


Lina pun menyentuh kelopak bunga Kubucil sambil berkata, "Sekarang kamu sudah tidak apa-apa, jangan menangis.."


...........


Meskipun Saga telah dibawa pergi, tapi jejak yang ditinggalkan oleh kereta luncur salju masih ada.


"Jika aku mengikuti jejak-jejak ini sebelum hilang tertutup salju, aku pasti bisa melacak kemana mereka membawa pergi Saga." Pikir Lina saat melihat ada jejak seretan dan tapak kaki, di atas tumpukan salju.


Kemudian sekuat tenaganya, Lina pun berjuang untuk melangkahkan kakinya.


Tapi, dia segera berhenti saat baru lima langkah, sambil memegangi dadanya yang terasa sakit.


"UHUK UHUK!"


"Paru-paruku terasa sakit. Rasanya panas seperti terbakar.." Batin Lina.


Kemudian dia membungkuk dan terbatuk-batuk lagi beberapa kali.


"UHUK UHUK UHUK!"


Sekarang, pergerakannya terlalu lambat, dan sebelum dia sempat mengejar Saga, jejak-jejak yang ada di permukaan salju, sedikit demi sedikit mulai terhapus dan tertutup, oleh hembusan angin dan salju yang turun.


Menyadari akan hal ini, Lina segera mengambil segenggam bubuk rumput kerang dan memasukkannya ke dalam mulutnya, lalu mengambil sedikit salju, untuk membantu menelan bubuk obat itu.


Efek penyembuhan dari rumput kerang terlalu lambat, selain itu, dia juga harus berpacu dengan waktu, yang saat ini setiap detik baginya sangat berharga!


Kemudian dia memanggil suara yang ada di dalam benaknya.


"Bubu, apakah ada cara untuk menyembuhkan lukaku dengan cepat?"


Suara dalam benak Lina berkata, "Sistem tidak bisa mengobati luka yang di derita sang inang, tapi bisa memblokir rasa sakitnya untuk sementara."


Mendengae itu, Lina pun segera berkata, "Kalau begitu, cepat hilangkan rasa sakitku ini!"


"Jika anda sudah tidak merasakan sakit lagi, itu tandanya sistem telah memblokirnya." Kata suara dalam benak Lina.


"Begitu.."


Setelah rasa sakit yang sebelumnya bisa dia rasakan telah hilang, kini Lina merasa segar lagi.


...........


Pada saat ini, Lina terus berjalan dengan cepat, menyusuri setiap jejak-jejak yang ada di permukaan salju.


Tidak lupa, dia juga selalu menaburkan beberapa biji bunga matahari goreng di sepanjang jalan, sebagai petunjuk jalan bagi Uriel, Wiro dan Leon atau yang lainnya yang mungkin akan datang menjemputnya.


Dalam perjalanannya, Kubucil membantu Lina menangkap seekor Rusa hidup-hidup, lalu Lina membuat kereta luncur salju dari papan yang dia ambil dari dalam ruang penyimpanan, dan mengikatkan ujung talinya pada tubuh si rusa.


Awalnya, rusa itu tidak mau membantunya untuk menarik kereta luncur salju. Tapi kemudian, dengan bantuan Kubucil, Lina mencoba untuk merayu Rusa itu menggunakan sayuran manis, yang akhirnya, Rusa itu kini mau berjalan sambil menarik kereta luncur salju yang lina duduki.


Di musim dingin seperti saat ini, seluruh hutan tertutup oleh salju. Hanya ada sedikit sekali tanaman hijau yang bisa dilihat.


Sudah beberapa hari, Rusa kutub yang malang ini tidak makan rumput yang masih segar, dia hanya bisa menemukan dan memakan rumput yang sudah layu.

__ADS_1


Tapi sekarang, dengan begitu banyaknya sayuran manis dan segar di hadapannya, Rusa kutub itu pun mau menerima nasibnya untuk menarik papan seluncur yang Lina duduki, dan segera berlari menyusuri salju.


"DRAP DRAP! DRAP DRAP!"


Dengan bantuan si Rusa kutub, kini kecepatan Lina mengejar Saga meningkat berkali-kali lipat.


...........


Bisa dibilang, Lina sangat beruntung.


Selama beberapa hari perjalanan, cuacanya sangat cerah dan tidak ada hujan salju yang turun sedikitpun.


Meskipun saat ini dia sudah merasa sangat lelah dan sulit untuk membuka matanya karena sangat mengantuk, untungnya jejak yang ditinggalkan oleh kereta luncur salju yang membawa Saga masih bisa terlihat. Itu artinya, kalau dia masih belum boleh menyerah.


Dengan rasa kantuk dan lelah yang teramat sangat, Lina selalu berkata dalam hatinya, untuk terus menyemangati dirinya, "Aku tidak boleh berhenti sampai di sini.."


Saat musim dingin, kebanyakan para binatang buas dan para Orc akan selalu berada di sarang mereka, dan tidak akan keluar sarang untuk beraktivitas. Hal itulah yang membuat Lina juga beruntung, tidak menemui bahaya selama di perjalanannya.


Selain itu, kali ini Lina tidak perlu merasa khawatir akan kelaparan seperti pengalamannya sebelumnya, karena ada banyak persediaan makanan dan air minum di dalam ruang penyimpanan.


Saat Lina merasa lapar dan haus, dia akan berhenti sebentar untuk makan beberapa suap dan minum beberapa teguk air, lalu beristirahat sebentar. Setelah itu, barulah dia melanjutkan lagi perjalanannya.


...........


Setelah hampir selama sepuluh hari perjalanan, akhirnya Lina melihat sosok dingin yang sedang bersama dengan puluhan lainnya, berada di tepi sungai.


Meskipun saat ini Lina telah cepat-cepat bersembunyi, tapi sosok dingin itu tetap bisa merasakan kehadirannya.


"Heh?"


Sosok dingin itu pun segera menoleh dan menatap ke arah di mana Lina bersembunyi, kemudian berkata kepada beberapa Orc yang ada di dekatnya, "Segera periksa dan bawa kemari orang yang sedang bersembunyi di sana."


Dua Orc Kucing Liar yang diperintahkan pun segera menuju ketempat di mana Lina bersembunyi.


"Gawat! Bagaimana ini?!" Batin Lina saat melihat dua Orc Kucing Liar yang berjalan dengan cepat menghampirinya.


Dalam keadaan panik, tiba-tiba saja Lina teringat dengan biji teratai yang diberikan oleh Kubucil untuknya.


Dengan cepat, dia pun segera mengeluarkan sebutir biji teratai, memasukkannya ke dalam mulutnya dan menelannya.


"GLEK!"


Kedua Orc Kucing Liar itu segera berlari menuju ke batu besar dan menemukan kalau di situ hanya ada pohon mati, dengan semua daunnya yang telah hilang, dan juga ada seekor Rusa liar yang berada tidak jauh dari situ.


Karena tidak ada yang bisa mereka temukan, kedua Kucing Liar itu pun kembali dengan tangan kosong.


"Ketua, di sana hanya ada satu Rusa liar, tidak ada yang lainnya." Ucap salah satu Orc yang baru kembali.


Sosok dengan ekspresi dingin itu pun mengangguk, dan tidak memikirkan hal ini lagi.


Kemudian dia melihat ke bawah untuk melihat Saga.


Luka pada Ular Piton itu kini telah membeku, akibat suhu dingin dan tidak ada lagi darahnya yang mengalir keluar. Namun, luka-lukanya masih belum sembuh. Selain itu, selama beberapa hari ini, Ular Piton itu menolak untuk makan. Hal itulah yang membuat si Ular Piton kini menjadi sangat lemah.


Jika bukan karena keadaan Ular Piton yang saat ini mulai terlihat semakin lemah, sosok dingin ini tidak akan berhenti di sini.


"Apa kamu benar-benar ingin mogok makan demi seorang wanita?" Ucap sosok itu dengan nada suaranya yang terdengar sangat dingin.


Meskipun bisa mendengar apa yang sosok dingin itu katakan, Ular Piton itu hanya berbaring lemah dan tidak mengatakan apa-apa.


Pada saat ini, sosok dingin itu berkata lagi, "Jika kamu masih bersikap seperti ini, aku akan segera kembali untuk menangkap betina kecil itu dan mengubahnya supaya menjadi anggota klan Iblis. Dengan begitu, kamu bisa bersama dengannya selamanya." 

__ADS_1


Saat mendengar itu, Ular Piton sedikit menggerakan tubuhnya, lalu berkata dengan suaranya yang terdengar lemah, "Jangan ganggu dia.."


"Jika kamu benar-benar ingin melindunginya, kamu harus ikut ​​kembali ke klan Iblis bersamaku, dan berlatih untuk meningkatkan kekuatanmu supaya lebih kuat lagi. Jika semua itu telah kamu capai, kamu bisa pergi ke mana saja dan melindungi siapa pun sesuka hatimu. Suatu saat nanti, tidak akan ada yang bisa menghentikanmu.” Kata sosok dingin itu.


"Jika aku menjadi iblis sepenuhnya, Lina pasti akan sangat membenciku. Akan jauh lebih baik bila aku mati saja, daripada menjadi makhluk yang dibenci oleh Lina.."


Setelah berpikir seperti itu, Ular Piton itu pun bergumam lirih, “Aku tidak ingin menjadi iblis monster.. Lina..”


Terdengar suara Handi yang berkata lagi, "Jika dia benar-benar mencintaimu, tidak peduli kamu akan menjadi apa, dia pasti akan tetap mencintaimu! Jika tidak, artinya dia itu munafik dan sama sekali tidak layak untuk mendapatkan cintamu."


Setelah apa yang Handi katakan, Ular Piton itu pun diam lagi.


Melihat Ular Piton yang begitu keras kepala, sosok itu pun berkata lagi dengan nadanya yang kali ini terdengar dingin dan kecewa, "Jika ibumu masih hidup dan melihat penampilanmu yang tanpa harapan seperti ini, dia pasti akan sangat kecewa!"


Meskipun Handi sudah berkata seperti itu, tapi, Ular Piton itu masih tidak juga berbicara.


Handi yang merasa ada sesuatu yang salah dengan Ular Piton itu, segera memperhatikannya dengan seksama.


"Ternyata bocah ini pingsan! Aku harus segera membawanya kembali ke klan Iblis, untuk memulihkan luka-lukanya!"


Setelah itu, sosok dingin itu pun segera berkata kepada para Orc Kucing Liar, "Aku akan kembali lebih dulu. Kalian juga ikuti aku."


"Baik."


Tak berselang lama, sosok dingin itu mengguncangkan ekor ularnya dan memecahkan es yang membeku di permukaan sungai. Air sungai yang bergejolak, yang sebelumnya tertutup oleh es beku pun segera bisa terlihat.


Kemudian dia melilit tubuh Ular Piton yang saat ini sedang tak sadarkan diri, lalu melompat ke sungai dan berenang dengan cepat.


Puluhan Kucing Liar juga segera ikut dan menceburkan diri mereka kesungai, dan meninggalkan kereta luncur salju di tepian sungai.


Tak lama setelah para Orc itu pergi, pohon mati yang sejak tadi bersembunyi di balik batu, mulai menggerakkan ranting-rantingnya yang kering.


"Untungnya tadi aku cepat-cepat memakan biji teratai tepat waktu." Ucap Lina pada dirinya sendiri.


Pada saat itu, Lina mengubah dirinya menjadi pohon mati, yang membuatnya lolos dari deteksi para Orc Kucing Liar.


Dia menggerakkan akar pohonnya satu persatu, dan mulai berjalan di atas salju untuk menuju ke tepi sungai.


Terlihat ada lubang besar di sebagian permukaan sungai yang membeku.


"Tadi aku lihat, sosok dingin itu melompat ke sungai ini sambil membawa Saga. Aku juga harus menceburkan diriku ke sungai, supaya aku tidak kehilangan mereka." Pikir Lina.


"BYURR!"


Bobot pohon yang mati sangat ringan, yang membuatnya segera tersapu oleh aliran sungai yang deras hingga jauh.


Saat merasakan dirinya terus berputar-putar di air, "Aku merasa sangat pusing, seperti mau muntah.."


Lina juga tidak tahu, sudah berapa lama dia terombang-ambing oleh derasnya aliran sungai ini. Hingga dia hanyut ke danau bawah tanah, yang ada di tepi sungai.


Pada saat ini, pohon mati itu mengapung pelan, di permukaan air danau yang tenang.


Lina merasa sangat pusing dan berkunang-kunang, hingga membuatnya seperti linglung.


"Siapa aku? Dimana aku ini? Apa yang sedang aku lakukan di sini?"


Butuh waktu lama baginya, sebelum bisa pulih dari keadaannya saat ini.


Setelah mulai kembali tersadar, dengan susah payah dia berusaha mendayung tubuh pohonnya, dengan menggunakan ranting-rantingnya untuk menuju ke tepian danau.


"Huh.. Huh.. Huh.. Susah sekali mendayung dengan bentuk tubuh seperti ini."

__ADS_1


__ADS_2