Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 59 - Suasana Hati


__ADS_3

Setelah sepanjang malam tubuhnya diombang-ambingkan oleh Wiro, Lina pun akhirnya tak bisa menahan rasa lelahnya yang teramat sangat. Dia hanya berbaring tak berdaya di tempat tidur, merasa hampa.


Tapi..


Kali ini ada yang berbeda dari Wiro.


Wiro sedang belajar untuk menjadi pasangan yang baik. Dia berinisiatif untuk merebus air panas, dan menyeka seluruh tubuh Lina. Kemudian, dengan berani dia mendekati wajah Lina, sambil membelai lembut perut gadis itu.


Mata hijau gelapnya juga terlihat penuh dengan harapan.


"Kita akan segera memiliki anak-anak serigala."


Lina hanya menutup matanya dan tidak ingin berbicara dengannya.


"Orang ini, dia terlalu berlebihan. Jelas-jelas sudah aku bilang kalau aku tidak mau, tapi dia tetap memaksa dan mengeluarkannya di dalam!"


Wiro juga telah dengan sengaja menggunakan ekor serigalanya, untuk menutupi seluruh belahan daging yang ada di p*ngk*l p*h* Lina, agar cairan kental yang baru dia keluarkan di dalam, tidak mengalir keluar.


"Jika sekarang aku tidak terlalu lelah untuk bergerak, aku benar-benar ingin menendang b*j*ng*n ini."


Saat ini, Wiro sedang dalam suasana hatinya yang baik.


Bahkan ketika Wiro melihat Uriel, dia mengubah penampilan lamanya dan menunjukkan senyum bahagia kepadanya, untuk yang pertama kalinya.


Sayangnya, kata-katanya masih tetap terdengar tidak begitu bagus ditelinga.


"Kami akan segera mempunyai bayi. Untuk saat ini, kamu jangan k*w*n dengan Lina."


Mendengar perkataan Wiro, Uriel pun mengerutkan keningnya.


"Lina hamil?"


"Belum. Tapi segera." Jawab Wiro.


Dengan cepat Uriel bertanya lagi, "Apa kamu k*w*n dengannya dalam wujud binatang?"


Wiro mengangkat dagunya dan berkata dengan nada suaranya yang penuh kemenangan, "Ya."


Wajah Uriel langsung berubah. Dia segera menyingkirkan Wiro dari hadapannya, dan melangkahkan kakinya menuju ke dalam ruangan di mana Lina berada.


Lina sedang berbaring di tempat tidur untuk beristirahat. Ketika dia melihat Uriel datang, dengan cepat dia duduk dan menutupi tubuhnya dengan kulit binatang.


Lina terlihat sangat bingung.


Meskipun sekarang Lina dan Wiro juga adalah pasangan yang sah, dia masih tidak ingin Uriel melihat seperti apa penampilan dirinya, setelah selesai bermain dengan Wiro. Dia selalu merasa panik, seolah suaminya sedang menangkap basah dirinya yang sedang berada di ranjang batu, bersama pria lain.


Meskipun ditutupi dengan kulit binatang, Uriel masih bisa melihat beberapa bekas tanda cinta di leher dan bahu gadis kecilnya, serta bibir berwarna merahnya yang kini terlihat lebih tebal dari biasanya.


Dengan melihat dari beberapa hal itu saja, bisa terlihat seberapa intens permainan yang telah mereka lakukan tadi malam.


Seketika itu juga, Mata Uriel berubah menjadi gelap.


Dia masih berdiri dalam diam, sambil terus menatap gadis kecilnya, dengan sorot mata yang sangat berbeda dari biasanya, dan dengan hati dan pikirannya yang berkecamuk.

__ADS_1


"Kali ini, aku benar-benar ingin membunuh si b*j*ng*n k*p*r*t itu!!"


Karena keberadaan cincin ikatan, Lina bisa merasakan kalau saat ini Uriel sedang dalam suasana hati yang sangat buruk.


"Suasana hatinya terasa sangat dingin, benar-benar sangat berlawanan dengan kelembutan dan perhatian yang selalu dia tunjukkan padaku selama ini."


Lina merasa bersalah, tetapi sekarang dia sedang ketakutan melihat perubahan emosi pada diri Uriel. Dia meraih kulit yang dia gunakan untuk menutupi tubuhnya, memegangnya dengan kencang dan memundurkan posisi duduknya untuk menjauh.


Ketika Uriel melihat ada pergerakan pada gadis kecilnya, seketika itu juga dia tersadar. Suasana hatinya yang sebelumnya dingin, gelap dan sangat ingin membunuh, seketika itu pun hilang.


Dia kini bahkan sangat mengkhawatirkan Lina yang terlihat sedang ketakutan.


Dia segera mengulurkan tangannya dan menggendong Lina ke dalam pelukannya. Kemudian bertanya dengan suara yang rendah dan terdengar halus, "Apakah kamu benar-benar ingin melahirkan anak itu?"


Lina cepat menjawab, "Tidak. Aku ..."


Wiro tiba-tiba masuk dan memotong perkataan Lina.


"Tentu saja, Lina akan melahirkan anak-anakku! Jika kamu juga menginginkan anak, kamu harus sabar mengantre. Anak yang pertama pasti anakku."


Uriel menatapnya, sorot matanya ke arah Wiro terlihat dingin.


"Lina tidak mau memberimu seorang anak. Tadi malam, pasti kamu memaksanya!"


Wiro mendengus dingin, dia tidak ingin menunjukkan kelemahannya di hadapan Uriel.


"Memaksanya? Kami bahkan saling menikmatinya."


Jika suasana hati Uriel masih sama seperti sebelumnya, mungkin dia tidak akan banyak berbicara lagi, dan segera bergerak menghabisi serigala itu.


"Gadis kecil ini adalah milikku. Kenapa aku harus berbagi dengan orang lain?!"


Lina menyadari ada yang salah dengan sikap Uriel. Kemudian dia segera berkata, "Tidak ada yang memaksa. Aku dengan sukarela menerimanya. Aku harap, kamu tidak akan marah."


Uriel pun menatap gadis kecilnya.


"Apa kamu benar-benar bersedia melahirkan anak untuknya?"


"Aku tidak mau ..." Kemudian saat Lina melihat ke arah Wiro, dia menyadari ekspresi Wiro yang terlihat tidak bagus dan lanjut berkata, "tapi, jika aku benar-benar hamil, anak itu tetap harus dilahirkan."


Bagaimanapun juga, mungkin saat ini memang sudah waktunya bagi Lina untuk hamil.


Dia juga tidak bisa melakukan hal yang kejam, seperti aborsi. Jika memang dia hamil, dia tetap akan melahirkan anak itu.


Kemudian Wiro dengan tegas berkata, "Tentu saja kamu akan hamil! Aku percaya akan itu."


Lina kemudian berkata, "Apa hal semacam ini bisa kamu yakini hanya dengan satu kata?"


"Aku hanya percaya kamu bisa memiliki anak!" Sahut Wiro dengan cepat.


Lina merasa heran dengan Wiro, dia tidak tahu dari mana kepercayaan dirinya yang berlebih itu berasal.


Uriel tidak ingin Lina mengandung anak dari orang lain. Dia juga sudah menunjukkannya melalui sikapnya. Akan tetapi, meskipun jika dihatinya merasa tidak nyaman, dia hanya bisa menahannya.

__ADS_1


Lina menatap kearah Wiro.


"Apa hari ini kamu tidak pergi berburu?"


Wiro sedang sangat bersemangat sekarang ini. Dia sama sekali tidak ingin pergi berburu. Dia hanya ingin memandangi tubuh Lina sepanjang hari.


"Aku istirahat selama dua hari ini." Jawab Wiro dengan santai.


"Hm?? Tapi aku ada sesuatu untuk kamu lakukan." Kata Lina.


Wiro pun mengangkat alisnya.


"Ada apa?"


"Aku ingin menanam beberapa tanaman. Kamu juga yang paling tahu lokasi di sini. Bantu aku untuk mencari, apakah ada lokasi yang cocok untuk menanam tanaman di sekitar sini." Pinta Lina kepada Wiro.


Lina masih memiliki hampir 400 biji-bijian yang ada di dalam tasnya. Lina harus menanam semuanya di musim semi ini, karena dia sudah sangat ingin memakan sayuran dan buah-buahan.


Meskipun Wiro sangat enggan untuk beranjak pergi, tetapi untuk memenuhi permintaan Lina, dia tetap harus pergi melaksanakannya, tapi, sambil dengan mulutnya yang mengomel, "Huh! Dasar gadis kecil penggilingan! Tidak bisakah kamu menunda hal itu untuk beberapa hari kedepan?"


Ekspresi wajah Lina seketika berubah, alisnya mengerut dan bibirnya mengerucut.


"Cepat! Jangan banyak mengeluh!"


Dengan perasaan enggan, Wiro pun meninggalkan gunung.


Kini hanya ada Lina dan Uriel yang berada di rumah.


Lina memanfaatkan kesempatan ini untuk berbicara dengan Uriel.


"Hari ini, kamu sepertinya tidak dalam suasana hati yang baik. Apa sedang ada masalah?"


Mendengar Lina yang mulai mengajaknya berbicara lagi, Uriel langsung memeluk gadis kecilnya itu erat-erat.


Setelah lama terdiam, barulah dia berkata, "Aku sangat menyesal."


"Hah??" Lina terkejut.


"Kalau saja aku tahu kamu akan menyukai Wiro, sedari awal, aku pasti tidak akan menyetujui untuk tetap tinggal disini. Aku pasti akan membawamu ke tempat lain, melewati musim dingin bersama, hanya kita berdua. Kamu pun tidak akan pernah menjadi pasangan Wiro, kamu hanya akan menjadi milikku."


Lina menatapnya sejenak dan merasa ragu untuk berbicara, pada akhirnya, dia tetap mengatakannya.


"Tapi pada awalnya, semua ini karena kamulah yang sudah membuat aku berpasangan dengan Wiro."


"Aku menyesalinya.. Sangat.. Sangat menyesalinya." Kata Uriel.


Lina merasa kalau Uriel sepertinya tidak bercanda, dia pun segera berkata, "Jika kamu mengatakan ini sebelum kamu menjadi pasanganku, aku pasti akan mendengarkan pendapatmu dan tidak akan berpasangan dengan pria lain. Tapi sekarang aku sudah menjadi pasangan Wiro, dan aku juga tidak bisa meninggalkannya."


Uriel hanya terdiam, sambil menatap cincin ikatan yang melingkar di jarinya. Dia mulai menyadari, kalau reaksinya saat ini sedikit tidak seperti biasanya. Dan itu juga membuatnya merasa malu terhadap Lina.


Dulua dia selalu menjaga perasaan Lina, tapi sekarang dia punya pemikiran untuk menghabisi Wiro, karena gadis kecilnya telah b*rs*ngg*m* dengan pria itu.


Dia kini menyadari, semua perubahannya ini, dimulai sejak dia memakai Master Ring.

__ADS_1


Sepertinya, emosinya dia memang terpengaruh karena cincin ini.


Melihat Uriel yang hanya terdiam, Lina berpikir kalau Uriel tidak akan melepaskan permusuhannya terhadap Wiro. Akhirnya, Lina pun hanya bisa berkata tanpa daya, "Masalah Wiro, cukup sampai di sini saja, sudah tidak mungkin juga untukku merubahnya. Tapi aku bisa meyakinkanmu, kalau aku tidak akan menerima Orc pria lain, kecuali kamu dan Wiro."


__ADS_2