Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 67 - Panen


__ADS_3

Wajah Lina tiba-tiba saja memerah.


Lina merasa malu. Dengan suaranya yang sangat pelan, Lina meminta Uriel untuk menyembunyikan cangkulnya.


"Uriel, sembunyikan cangkulnya, cepat kita pulang.."


Lina lupa kalau cakar Orc itu lebih baik daripada cangkul ataupun sekop.


Ketika mereka akan kembali, Wiro tiba-tiba mendongak dan melihat mereka.


Wiro segera menyingkirkan tanah yang ada di hadapannya, melompat keluar dari lubang dan mengguncang-ngguncangkan tubuhnya untuk menghilangkan tanah dan kotoran lain, yang menempel pada bulu-bulunya, kemudian dengan cepat bergegas menuju ke depan Lina.


Wiro percaya bahwa bulunya sangat bagus, dan sangat disukai oleh banyak betina. Jadi, Wiro sengaja berhenti dengan penuh gaya di hadapan Lina dan kemudian, bertanya dengan penuh percaya diri, "Apa kamu datang untuk menemuiku?'


"Meskipun aku telah melihatnya berkali-kali, tapi aku tetap tidak bosan dengan warna bulunya."


Lina bahkan selalu terpana bila melihat bulunya. Bulu berwarna perak yang terasa halus dan lembut itu seindah embun yang beku, di bawah cahaya sinar bulan. Dia selalu tidak tahan, bila tidak mengelus-elus bulunya.


Mendapat perlakuan seperti itu dari Lina, Wiro mengangkat kepalanya dan mengibas-ngibaskan ekornya. Mata hijau gelapnya terlihat penuh dengan rasa bangga.


Kemudian Uriel berkata, "Kami kesini membawakanmu alat untuk menggali tanah."


Wiro memperhatikan cangkul yang ada di tangan Uriel, dan segera menunjukkan sorot matanya yang menghina sambil berkata, "Cakar kita jauh lebih baik daripada batu-batu itu!"


"Ya sudah, kami akan kembali." Kata Uriel.


Lina yang mendengar kata-kata Uriel, dengan enggan menarik tangannya dari bulu Wiro.


"Ayo kita pergi." Kata Lina kepada Uriel.


Wiro ingin Lina tinggal bersamanya, akan tetapi, hari ini matahari sangat terik, dan tidak ada tempat yang teduh untuknya berlindung dari matahari. Wiro juga tidak ingin jika kulit lembut Lina terbakar matahari, jadi, dia hanya bisa melihatnya dibawa pergi oleh Uriel.


Baru berjalan dua langkah, tiba-tiba saja Lina berhenti, dia berbalik ke arah Wiro dan melambaikan tangan kecilnya.


"Kami pulang, kami akan menunggumu untuk makan malam!"


Seekor serigala Perak yang berjongkok di tanah, terlihat sedang mengibas-ngibaskan ekornya karena hatinya sedang merasa senang. Tetapi, nada suaranya terdengar angkuh.


"Aku tahu!"


Lina yang sudah terbiasa dengan kepalsuan orang ini pun tidak bisa menahan tawanya.


Ketika mereka telah pergi jauh, Wiro kembali ke tim konstruksi dan melanjutkan menggali tanah secepat mungkin.


Dia ingin menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dan kembali pulang untuk bercinta dengan Linanya.


Kerja para Orc sangat efisien. Hanya dalam tiga hari, mereka telah selesai membuat saluran air yang mengitari dan saling terhubung ke seluruh kebun. Dengan lebar satu meter dan kedalaman seratus dua puluh senti meter. Saluran air itu juga bisa untuk mereka para Orc serigala, untuk berenang dan menyelam.


Dengan saluran air ini, para Orc tidak lagi harus bolak-balik berlari dari sungai ke kebun. Kini mereka hanya tinggal berjalan beberapa langkah untuk mengambil air dan menyirami tanaman. Tentu saja dengan begini tidak hanya membuat mereka nyaman, tetapi juga lebih cepat.

__ADS_1


Adapun di pusat kebun, Uriel secara khusus menggali lubang besar dengan kedalamannya yang sama dengan saluran air. Dan air dari sungai juga dialirkan ke lubang itu, untuk membentuk kolam kecil.



\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


[[[ maaf kakak kakak.. Aku enggak pandai menggambar, intinya kira-kira bentuknya begitu lah. Hehehe.. ]]]


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ada beberapa ikan dan udang yang berenang dari sungai melalui saluran air, dan masuk ke kolam.


Setiap harinya, Lina akan memetik beberapa tanaman rumput dan buah-buahan, dan melemparkannya ke kolam untuk memberi makan ikan.


Nantinya, apabila ikan dan udang kesemuanya telah besar dan gemuk, keluarga mereka akan memiliki banyak makanan sungai yang enak untuk dimakan.


"Karena sekarang setiap harinya aku pergi ke kebun untuk menyirami bibit dan tanaman, kini kesemuanya telah tumbuh lebih cepat hanya dalam beberapa hari. Aku perkirakan dalam dua hari lagi, aku akan dapat memetik sayuran-sayuran tersebut."


Tetapi sebelum itu, mereka harus memetik buah terlebih dahulu.


Lina juga menanam beberapa jenis pohon. Diantaranya adalah pohon buah harum segar, pohon buah-buahan yang manis dan pohon rami. Dan juga, di sekitar pohon buah, dia tanami tanaman merambat buah merah.


Tanaman merambat ini dapat menghasilkan beri merah. Daunnya juga dapat digunakan sebagai bumbu, dengan rasanya yang seperti lada. Selain daun dan buah yang bermanfaat, sayangnya pohon itu memliki duri yang beracun. Saat memetik buah dan daun, harus sangat berhati-hati.


Tujuan utama Lina menanam tanaman merambat itu, untuk mencegah binatang liar mencuri buah-buahan yang mereka tanam.


Kali ini ada beberapa buah yang sudah matang, diantaranya ada buah harum segar.


"HUP!"


"POTEK! POTEK!"


Sedangkan Wiro, dia berada di bawah pohon dengan memegang kulit binatang yang dia bentangkan, untuk menangkap buah-buahan yang Uriel petik.


"Sebelah kiri. Bukan yang itu. Tapi kiri."


"Sebelah kirimu atau kiriku?" Tanya Uriel dengan sabar dari atas pohon, sambil menghadap ke arah wiro yang sedang berjongkok di bawah pohon.


"Kiriku." Jawab Wiro.


Uriel hanya menggelengkan kepalanya sambil menghela nafasnya, "Hmm.."


Lina, dia mengumpulkan semua buah-buahan yang dipetik, dan memasukkannya ke dalam ruang penyimpanan, supaya mudah saat membawanya pulang.


Tidak lama setelah mereka pergi, seekor piton hitam secara diam-diam mendekati kebun.


Dia menegakkan tubuh bagian atasnya, pupil mata ular hitam itu terus menatap ke arah kepergian Lina. Tubuhnya tidak bergerak untuk waktu yang lama.


...........

__ADS_1


Buah harum segar dan buah yang manis adalah jajanan favorit para betina. Lina membagi beberapa buah-buahan tersebut, untuk dia bagikan kepada para betina di suku Serigala Batu.


"Silakan dicicipi, ini hasil panen kami." Kata Lina saat memberikan buah-buahan kepada Rosa.


"Terimakasih, Lina." Jawab Rosa dengan ekspresi wajahnya yang terlihat senang.


Ketika para betina tahu bahwa Keluarga Lina telah menanam begitu banyak buah yang enak rasanya, mereka segera meminta pasangan mereka untuk juga ikut menanam pohon buah-buahan.


Jadi, setelah gelombang menanam sayur, kali ini ada gelombang susulan menanam pohon buah, di kaki Gunung Batu.


Buah yang Lina panen kali ini ada banyak. Jika semuanya dibuat menjadi selai, dia tidak akan mampu melakukannya. Dia berpikir untuk menjual beberapa buah ini, supaya bisa mendapatkan tambahan untuk biaya hidup mereka.


Lagi pula, mereka memiliki banyak tanaman di kebun, jadi mereka tidak perlu khawatir akan kelaparan.


Dia memberi tahu kepada Wiro dan Uriel tentang rencananya tersebut.


Wiro berkata acuh tak acuh, "Besok adalah hari pasar, kalau kamu ingin berjualan, tinggal bawa saja ke pasar."


Uriel yang sebelumnya masih sedang berpikir, kini berkata, "Selain buah-buahan, sayur dan selai juga bisa kita jual."


Lina merasa sedikit ragu akan ide Uriel.


"Meskipun buah, sayuran, dan selai disukai oleh betina, tetapi Orc pria tidak suka makan makanan seperti itu. Apa nanti ada yang akan membelinya?"


Melihat gadis kecilnya yang tampak ragu, Uriel tersenyum hangat sambil berkata, "Jangan khawatir, selama ada betina yang menyukainya, pasti akan ada banyak jantan yang akan membelinya." Kemudian dia lanjut berkata lagi, "Untuk memenangkan hati si betina, para jantan akan melakukan apa pun. Jadi, kita tidak perlu mengkhawatirkan hal ini."


Sebelumnya, Lina tidak mengetahui akan hal ini, dia mengangguk dengan sedikit rasa pesimis.


"Kalau begitu, kita coba menjualnya."


Bahkan jika mereka tidak bisa menjualnya, itu bukanlah suatu masalah. Mereka bisa menyimpannya di ruang penyimpanan untuk diri mereka sendiri.


...........


Segera setelah matahari terbit, pasar pun akhirnya dibuka.


Lina mengandalkan identitas Wiro sebagai pemimpin klan, untuk menempati kios yang bagus di pasar.


Sebelum mereka keluar, Uriel membungkus tubuh Lina dengan kulit binatang. Dia membungkusnya dari kepala hingga ujung kaki, dan hanya menyisakan sepasang matanya yang bulat dan cerah.


Pasar pasti akan penuh dengan orang-orang. Jika mereka melihat Lina yang cantik dan mungil, bisa menyebabkan masalah.


Meskipun Uriel yakin akan kekuatannya yang cukup kuat, dan tidak akan ada yang bisa merebut Lina darinya. Tetapi Uriel lebih memilih untuk mencegah dan berhati-hati, daripada nantinya harus berbuat yang lebih banyak.


Wiro juga tidak suka jika Lina muncul di depan orang luar, dia menyatakan dukungannya dengan apa yang Uriel lakukan.


Di sini, yang disebut kios bentuknya sangat sederhana.


Hanya ada rumah batu kecil, dan sebuah meja batu yang ditempatkan di pintu rumah tersebut.

__ADS_1


Wiro dan Uriel meletakkan semua barang-barang yang akan mereka jual di atas meja batu, dan kemudian duduk sambil menunggu pembeli datang.


__ADS_2