
Setelah selesai makan dan minum, mereka membentangkan kulit binatang di lantai, berbaring dan tertidur.
Saat ini Lina tertidur dalam posisi dipeluk oleh Uriel.
Tiba-tiba saja, si kuncup bunga kecil yang sejak tadi diam di kepala Lina, tubuhnya bergetar.
Akar-akar tiba-tiba saja menjulur muncul dari tubuh Kubucil, dan menembus ke tanah.
Uriel yang sedang tertidur, merasakan sesuatu yang tiba-tiba saja muncul. Dia pun segera membuka matanya dan melihat kalau saat ini ada akar-akar keluar dari tubuh Kubucil, selain itu, cabang dan daun-daun di tubuh Kubucil juga tumbuh dengan cepat, dan kelopak bunganya juga telah mekar satu demi satu. Hanya dalam sekejap, kini Kubucil telah berubah menjadi bunga teratai besar, yang lebarnya lebih dari setengah meter.
Dan juga, ada terdapat beberapa biji teratai hijau kecil di tengah benang sarinya.
Pada saat ini, Saga, Wisnu dan Leon juga terbangun. Anak-anak Serigala juga membuka kelopak mata mereka untuk melihat, tapi saat melihat kalau ternyata bukanlah suatu hal yang berbahaya, mereka pun melanjutkan kembali tidur mereka.
Wiro dan Lina yang mabuk, masih tertidur dengan pulas dan tidak merasakan kejadian ini.
Uriel menatap Leon dengan tatapan penuh tanya.
Melihat ekspresi Uriel, Leon merendahkan suaranya dan berkata, "Si pria kecil sedang dalam proses menjadi dewasa."
Pada saat ini, Batu-batu Kristal hitam yang melapisi dinding gua, bersinar semakin terang. Gugusan cahaya abu-abu dan hitam menyorot keluar dari kristal, dan terhirup oleh bunga teratai.
Kelopak bunga yang awalnya berwarna merah muda pucat, kini berangsur-angsur berubah menjadi hitam.
Uriel, Saga dan Wisnu baru pertama kali melihat, kalau saat ini si Kubucil sedang menyerap energi yang ada di dalam Batu Kristal hitam.
Setahu mereka, hanya para Orc yang bisa menyerap energi dari Batu Kristal, dan tidak pernah menyangka kalau tanaman juga bisa.
"Tanaman teratai langka ini sungguh menakjubkan." Batin Wisnu.
Kubucil baru berhenti menyerap energi, saat seluruh energi yang ada di dalam Batu Kristal hitam di sekitarnya telah habis terserap. Benang sarinya kini membesar seukuran telapak tangan Orc dewasa.
Kemudian kubucil menjulurkan benang sarinya ke arah Leon dan berkata, "Cepat ambil, ayah."
Leon pun mengulurkan tangannya hendak mengambil biji teratai itu dan bertanya sambil tersenyum, "Apakah ini untukku? Anak yang baik dan berbakti."
"Tidak. Untuk ibu." Kata si Kubucil.
Leon, "....."
"Dasar anak suka pilih kasih dan kurang ajar!" Batin Leon.
Jika saat ini Wiro juga ikut terbangun, dia pasti sudah menertawakan Leon yang kini ekspresi wajahnya terlihat jelek karena terlalu banyak berpikir.
Leon pun berkata dengan sedikit geram, "Kamu itu makhluk kecil yang pilih kasih, apa di matamu hanya ada ibumu?!"
Mendengar apa yang Leon katakan, Kubucil menjulurkan lengannya dan menyentuh jari leon dengan lembut.
"Ayah.."
Tak lama setelah seluruh biji teratai dicabut, warna kelopak bunga Kubucil berangsur-angsur berubah kembali menjadi merah muda pucat. Selain itu, bunga, cabang, dan daunnya juga krmbali mengecil ke ukuran sebelumnya. Kemudian dia kembali melilitkan tubuhnya di sebelah telinga, di rambut Lina, lalu menutup kembali kelopak bunganya.
Saat semua kejadian ini telah barakhir, Uriel dan Saga kembali melanjutkan tidur mereka.
Hanya biji teratai yang masih ada di tangan.
Wisnu melihat kearah Batu-batu Kristal hitam di dinding gua yang energinya telah habis dihisap oleh si Kubucil, dan menghela nafasnya kemudian berkata dengan suara rendah, "Teratai kecil yang kamu besarkan ternyata memiliki nafsu makan yang besar. Dia telah menyerap begitu banyak energi Batu Kristal hanya dalam sekejap."
Leon pun berkata dengan asal, "Itu hanyalah kristal kecil. Semua energi yang ada di dalamnya bisa dihisap sebanyak yang dia mau. Lagipula, aku tidak akan mampu jika aku harus membelikannya banyak Kristal Hitam."
"Apa kamu benar-benar membesarkannya sebagai seorang putra?" Tanya Wisnu kepada Leon.
Mendengar apa yang Wisnu tanyakan, Leon hanya tersenyum dan tidak berbicara sepatah kata pun.
...........
__ADS_1
Saat keesokan paginya Lina telah terbangun, Leon memberikan biji hijau kepadanya, dan berkata kalau itu adalah hadiah dari si pria kecil untuknya.
Lina pun segera mengambil biji-biji itu dan bertanya, "Kapan kuncup bunga kecil berbuah? Kok aku tidak tahu."
"Semalam, saat itu kamu sedang tertidur pulas," kata Uriel menjelaskan dengan nada suaranya yang terdengar hangat.
Wiro yang penasaran pun mendekati Lina dan bertanya, "Memangnya apa gunanya biji teratai ini?"
Lina hanya menggelengkan kepalanya, sebagai tanda kalau dia juga tidak tahu.
Lalu terdengar suara si kuncup bunga kecil yang berkata, "Biji teratai itu bisa untuk dimakan."
Lina menghitung seluruh biji teratai itu, dan terhitung ada enam buah biji teratai yang berwarna hijau dan bulat.
"Biji-biji ini tidak terlihat berbeda dari biji teratai biasa." Kata Lina dengan bingung.
Kemudian terdengar suara Leon yang berkata, "Ini bukanlah biji teratai biasa. Jika kamu memakannya, kamu bisa merubah dirimu menjadi tanaman sesuka hatimu selama sepuluh hari."
"Betapa menakjubkan?!" Seru Lina yang terkejut.
Wisnu pun ikut berkata, "Biji teratai dari si teratai kecil sangat berharga. Ini adalah hari baikmu bisa mendapatkan biji-biji itu."
Kemudian dengan hati-hati Lina memasukan seluruh biji teratai itu kedalam ruang penyimpanan, lalu mengusap si kubucil sambil berkata, "Terima kasih.."
Kubucil pun mengusap telapak tangan Lina sambil berkata dengan lembut, "Aku sayang ibu.."
"Aku juga sayang Kubucil.." Balas Lina.
Wiro yang sejak tadi masih ada di samping Lina, membungkukan tubuhnya dan mmengusap-usapkan kepalanya di perut Lina sambil ikut berkata, "Aku juga sayang Lina."
Lina segera mendorong kepala Wiro untuk menjauh, dan berkata dengan ekspresi wajahnya yang terlihat dingin, "Pergilah."
Wiro yang merasa tidak puas pun berkata, "Apa sekarang aku sudah tidak seperti bunga yang mekar di hatimu?"
...........
Setelah barang-barang bawaan keluarga Lina telah dibereskan, mereka semua pun berjalan keluar gua.
Lina yang saat ini sedang duduk di punggung Serigala Perak, berbalik dan melambaikan tangannya ke arah Wisnu yang sedang berdiri di pintu gua.
"Kami akan datang menemui anda lagi saat kami ada waktu. Selamat tinggal!"
Saat mendengar apa yang Lina katakan, Wisnu pun mengangguk kemudian berkata, "Kapanpun kamu ingin datang kemari, datanglah."
Uriel berjalan paling depan, dan yang lainnya berjalan mengikuti di bekakangnya.
Setelah setengah hari perjalanan, kini mereka tiba di tempat sebelumnya mereka beristirahat. Mereka pun memutuskan untuk beristirahat di sini lagi.
Pada saat mereka sedang makan untuk mengisi energi mereka kembali, Saga yang juga sedang makan, tiba-tiba saja sekilas mencium bau aneh seperti sebelumnya.
Dia meletakkan mangkuk makannya, dan melihat sekeliling, sambil mengendus-endus mencoba untuk mencari dari mana sumber bau berasal.
Lina yang saat ini duduk di sebelahnya, memperhatikan tingkah Saga yang terlihat aneh, dia pun segera bertanya, "Ada apa Saga?"
"Sepertinya aku mencium bau aneh.." Kata Saga.
"Benarkah?" Lina pun menarik napasnya dalam-dalam. Saat bau amis yang samar masuk ke rongga hidungnya, dia berkata, "Aku juga menciumnya."
"Aku selalu merasa kalau bau ini sangat akrab bagiku, seolah-olah aku pernah mencium bau ini di suatu tem ..."
Sebelum Saga sempat menyelesaikan kalimatnya, puluhan sosok abu-abu putih, tiba-tiba saja muncul mengepung Lina dan yang lainnya.
"Siapa kalian?" Tanya Wiro kepada para pengepung.
Tapi, tidak ada satu katapun jawaban yang terucap dari mulut para Orc yang mengepung.
__ADS_1
"Br*ngs*k! Apa kalian semua tuli?" Maki Wiro kepada mereka.
Kali ini, masih belum ada tanggapan dari para pengepung.
Tapi, tiba-tiba saja.
"HUWAUUW! HUWAUW! HUWAAAUW!"
Para pengepung tersebut berseru dan bergerak bersama-sama dengan sangat cepat, untuk menyerang Wiro dan yang lainnya.
"Kurang ajar! Mau cari masalah dengan kami, Heh?!" Maki Wiro yang juga segera merangsek maju bersama dengan Uriel dan Leon, untuk menghindari para pengepung mendekat dan menyakiti anak-anak.
"AUUUU!"
"GROAARR!"
"WUZZZ!"
Saga juga segera merubah wujudnya ke bentuk Ular Piton, dan segera melilit tubuh Lina dengan ekor ularnya untuk menghindari Lina terkena pukulan fatal dari para pengepung. Itu karena pada saat ini, posisi Lina duduk berada paling dekat dengan para pengepung.
"BUGH! BUGH! BUGH!"
"DESISISISSSS!"
Untungnya Saga cepat bereaksi, pukulan beberapa Orc itu pun hanya mengenai tubuh Ular Saga, dan memaksanya untuk mundur menjauh hingga beberapa belas meter, bersama dengan Lina yang masih dia lilit dengan ekornya.
Sebanyak dua puluh Orc pengepung yang menyerang Saga dan yang lainnya, semuanya adalah Kucing Liar berwarna putih ke abu-abuan.
Ukuran tubuh mereka jauh lebih besar daripada Kucing liar yang pernah Lina lihat di TV. Panjang tubuh mereka lebih dari dua meter, bulu putih keabu-abuan mereka penuh dengan garis-garis hitam, mata mereka semuanya terlihat sedikit bercahaya dan berwarna merah.
"DUAGH! WUZZZ! BUGH! B*NGS*T!"
"TAP! TAP!"
"HUWAAUW!"
"Berhati-hati lah! Mereka ini bukanlah Kucing Liar biasa, tapi Kucing liar yang telah di-ibliskan," seru Leon tiba-tiba kepada Uriel dan Wiro, sambil menyerang dan menangkis serangan para Kucing Liar.
"Tidak heran, kenapa mereka semua sangat kuat!" Kata Uriel.
"BR*NGS*K!" Maki Wiro yang saat ini sudah sangat kewalahan, dan beberapa bagian tubuhnya sudah terkena serangan dari para Kucing liar.
Dengan kata lain, para Kucing Liar yang saat ini sedang mereka hadapi, adalah iblis!
Bau samar yang tercium oleh Saga, berasal dari mereka. Bau aneh itu adalah bau unik dari klan Iblis.
Tidak heran kenapa Saga merasa familiar dengan bau amis yang aneh tersebut.
Saat ini, posisi anak-anak Serigala masih tetap aman berada di sekitar batu, tempat dimana Lina dan yang lainnya sedang makan dan minum sebelum mereka diserang. Mereka berempat berkumpul menjadi satu, sambil melihat ke arah pertarungan yang berada jauh dari mereka.
Lima dari dua puluh Kucing Liar mengepung Saga, dan lima belas yang lainnya menyerang Uriel, Wiro dan Leon.
Kelima Kucing Liar yang mengepung Saga, terus mendesak Saga menjauh dari yang lainnya. Begitu juga dengan lima belas Kucing Liar yang menyerang ketiga lainnya.
Akhirnya, kini posisi Saga dan Lina telah berada jauh dari posisi semula.
Saga yang berada dalam wujudnya yang setengah Ular dan setengah Orc, sangat kesulitan untuk bertarung. Itu karena Saga harus bertarung sambil membawa dan melindungi Lina dari serangan para pengepung.
Kini Saga telah merubah seluruh tubuhnya menjadi Ular, dan bergerak dengan sangat cepat menyusuri salju. Lina yang berada di atas punggung Ular, terus berpegangan erat-erat, dan terkadang dia akan melihat kebelakang.
"Para Kucing Liar itu akan segera menyusul kami! Aku juga tidak tahu, berapa lama lagi Saga masih bisa bertahan dari serangan mereka!"
Seolah-olah, para Kucing Liar itu telah memasang sistem radar pada diri mereka, dan mengunci posisi Ular Piton, supaya bisa terus mengikutinya dengan ketat.
Saga juga sadar, kalau dia sudah tidak bisa menghindar dari kejaran mereka lagi. Dia pun berhenti berlari dan meletakkan Lina di sebuah pohon. Lalu berkata dengan sangat serius, "Kamu tetaplah di sini. Aku tetap harus menghadapi mereka."
__ADS_1
"Tapi tubuhmu sudah terluka! Bag ..."
"Apapun yang terjadi, tetaplah di sini. Atau kita semua akan mati." Ucap Saga yang memotong kalimat Lina, kemudian dia segera berbalik dan bergegas menuju para Kucing Liar itu!