
Tidak perlu waktu lama, hingga semua orang mengetahui tentang Lina yang membuka kelas belajar.
Banyak Orc yang ingin membawa anaknya untuk bisa ikut masuk ke dalam kelas belajar, dan bahkan Orc dari klan Bulu pun datang berkunjung.
Siapa pun yang datang, mereka harus lulus ujian masuk dan membayarnya dengan poin kerja.
Supaya bisa mendapatkan poin kerja, semua Orc harus secara aktif berpartisipasi untuk ikut bekerja.
Tenaga kerja kini semakin membludak. Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya. Oleh karena itu Wiro meminta para Orc Serigala untuk memperluas lagi kebun sayuran dan buah-buahan yang kini telah lebih dari sepuluh hektar.
Pasar yang setiap sepuluh hari sekali dibuka, juga tetap digelar seperti sebelum-sebelumnya. Kali ini Wiro, Uriel dan Saga yang bergiliran mengurus bisnis di pasar.
Atas permintaan Lina, sebagai ganti untuk makanan yang mereka jual, selain herbal dan Batu Kristal, mereka kini juga menambahkan benih baru yang dibutuhkan sebagai alat tukar.
Lina tidak khawatir kalau benih hasil pertukaran tersebut tidak akan berguna.
"Kini aku memiliki buku resep utama dan sudah ada di tanganku. Di dalam buku resep utama ini, terdapat banyak resep yang membutuhkan beberapa benih aneh. Aku pasti akan membutuhkan benih-benih aneh itu, untuk aku simpan sebagai persiapan nantinya."
Hari ini giliran Wiro yang pergi ke pasar untuk menjual sayuran. Dan dia baru kembali saat hari mulai gelap.
Saat Wiro pulang, Lina segera menuangkan semangkuk air minum untuk Wiro, dan Lina juga menyeka keringat yang ada di tubuh Wiro.
Mendapat sentuhan dari Lina, Wiro merasa tubuhnya jauh lebih nyaman. Dia pun segera memeluk Lina dan kedua tangannya langsung m*r*m*s-r*m*s f*nt*t Lina.
"Seharian ini aku tidak melihatmu. Apa kamu mau jika aku memasukkan bendaku?" Tanya Wiro merayu sambil mengedip-ngedipkan matanya.
Tapi Lina segera mendorong kepala Wiro ke samping dan berkata dengan dingin, "Aku tidak mau."
"Tapi aku sangat merindukanmu.." Rengek Wiro.
Selesai berkata seperti itu, Wiro segera menyergap bibir Lina untuk waktu yang lama. Sampai Lina merasa bibirnya kini telah bengkak, dengan enggan akhirnya Wiro melepaskan Lina.
"Eh? Kenapa masih belum juga gelap?" Kata Wiro dengan sedih.
Saat hari sudah gelap, Wiro sangat ingin tidur dengan Lina!
Lina sendiri tidak tahu, apakah malam ini dia akan beruntung atau tidak.
"Orc Serigala gila ini bahkan menunggu sampai gelap untuk bisa memulai aksinya?! Dasar maniak!"
Tepat pada saat ini, Uriel telah kembali dan dia menatap ke arah Wiro, kemudian bertanya, "Bagaimana dengan bisnis di pasar hari ini?"
"Tidak terlalu bagus. Baru-baru ini situasi di luar sangat kacau. Pelanggan yang datang untuk membeli sayuran kita juga sudah semakin sedikit. Semua orang hanya berlarian untuk menyelamatkan hidup mereka." Jawab Wiro.
"Memangnya apa yang sedang terjadi?" Tanya Uriel yang terkejut dan heran.
__ADS_1
"Sejak Khodi Kodi meninggalkan suku Sungai Hitam dengan membawa beberapa Orc Kuda Liar, kini suku Sungai Hitam telah sepenuhnya dipimpin oleh Nanto. Akhir-akhir ini dia menjadi gila dan menyerang suku-suku kecil yang ada di sekitar mereka. Jumlah mereka banyak. Suku-suku kecil itu bukanlah lawan yang sulit bagi para Orc suku Sungai Hitam, untuk mereka taklukan. Mereka semua dibantai. Orc yang beruntung melarikan diri, sedangkan Orc yang bernasib malang ditangkap dan dibawa ke suku Sungai Hitam. Di sana mereka dijadikan budak oleh suku Sungai Hitam. Akhir yang sangat menyedihkan bagi mereka."
Umumnya, perbudakan hanya dapat ditemukan di Kota Binatang, dan hanya ada sedikit kasus perbudakan yang terjadi di suku biasa.
Jika terjadi perang, pihak yang kalah akan melarikan diri atau dibasmi sampai ke akar-akarnya. Hal itu mereka lakukan, supaya tidak meninggalkan masalah di kemudian hari.
Uriel berpikir sejenak, setelah itu berkata, "Kalaupun suku Sungai Hitam membutuhkan budak untuk bekerja, tidak mungkin mereka membutuhkan begitu banyak budak. Hal itu jelas akan membutuhkan banyak makanan dan energi, untuk para budak. Suku Sungai Hitam pasti tidak akan sanggup."
Pada saat ini, Saga juga telah kembali. Dia yang sempat sedikit mendengar percakapan Wiro dan Uriel pun bertanya, "Ada apa? Apa yang sedang terjadi?"
Kemudian Wiro mengulangi lagi, apa yang tadi dia katakan kepada Uriel.
Saga segera mengerutkan keningnya, dan terlihat ada cahaya dingin di mata hitamnya.
"Sebaiknya kamu segera mengirim seseorang untuk mengawasi suku Sungai Hitam dan mencari tahu apa yang mereka lakukan dengan para budak."
Mendengar apa yang Saga katakan, Uriel segera menatap Saga dengan tatapan penuh tanya.
"Sepertinya kamu mengetahui sesuatu?"
Saga pun segera berkata tanpa ada yang dia sembunyikan, “Ketika aku masih tinggal di Kuil Bulan Gelap, kadang-kadang aku melihat ada beberapa budak yang dikirim ke Kuil. Saat itu aku diberitahu, kalau budak-budak itu adalah tahanan mati dan memang sudah seharusnya mereka dihukum mati. Tapi kemudian aku mengetahui, kalau budak-budak itu ternyata adalah tawanan perang."
Wiro segera bertanya, "Apa kamu curiga, kalau suku Sungai Hitam menangkap begitu banyak tawanan perang, dan mengirim mereka ke Kuil Bulan Gelap?"
"Hal seperti itu mungkin saja terjadi." Jawab Saga.
Saat menatapnya, sorot mata Saga yang tadinya dingin pun segera menghangat.
"Saat Kuil menggunakan teknik penyembuhan, penggunaan teknik itu perlu menyerap vitalitas makhluk lain, umumnya yang mereka gunakan adalah hewan dan tumbuhan. Tapi jika cederanya sangat serius, hanya dengan menyerap vitalitas hewan dan tumbuhan tidak akan cukup, oleh karena itu mereka menyerap vitalitas dari tubuh orang yang masih hidup, dan para budak lah yang dijadikan korban oleh mereka."
"Itu sangat kejam," kata Lina.
"Di mata anggota Kuil Bulan Gelap, budak sama seperti hewan dan tumbuhan. Para budak dianggap sebagai makhluk rendahan. Mereka sama sekali tidak peduli dengan hidup dan matinya para budak." Ucap Saga lagi yang lanjut berkata untuk menjelaskan.
Tapi saat melihat ekspresi wajah Lina yang memucat, Saga pun segera memeluknya.
"Maaf, aku sudah membuatmu takut, aku seharusnya tidak memberitahukan hal-hal seperti ini di hadapanmu."
Tapi Lina menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Aku tidak takut, hanya sedikit tidak nyaman."
Saat ini saga sedang memeluk seorang gadis kecil dengan lembut, tapi di dalam hatinya sedang merasa sangat menyesal.
"Kenapa tadi aku memberitahukan padanya hal-hal kotor dan kejam seperti ini!"
Melihat wajah gadis kecilnya yang memucat, Uriel pun mengusap-usap lembut kepala Lina.
__ADS_1
"Apa kamu ingin kembali ke kamar dan beristirahat?"
Lina menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Tidak. Aku baik-baik saja."
"Jangan coba-coba untuk sok berani." Ucap Wiro menyindir.
"Aku tidak begitu, aku ingin menghadapinya bersama kalian," suaranya lembut, tapi nadanya terdengar tegas. "Uriel, aku juga mendukung keputusanmu, tapi kamu jangan selalu menyembunyikannya dariku. Aku tahu kalian semua ingin melindungiku, dan aku juga ingin melindungi kalian. Tujuan hati kita sama."
Mendengar apa yang Lina katakan, Uriel tersenyum lembut sambil berkata, "Baiklah. Kalau begitu, mari kita hadapi bersama-sama."
...........
Di pagi hari berikutnya.
Sebelum Wiro sempat untuk mengirim orang, untuk mencari tahu tentang suku Sungai Hitam, ada seseorang yang datang tergesa-gesa dan mengatakan, "Ada Orc kelinci yang sedang berada di kaki Gunung dan ingin bertemu dengan ketua Wiro."
Mendengar itu, Wiro segera berkata sambil tersenyum, "Lina, berikan aku gulungan kontrak lagi."
Lina pun membeli gulungan kontrak yang baru untuk Wiro, kemudian bertanya, "Untuk apa kamu menginginkan gulungan kontrak? Apa ada seseorang yang datang untuk berbisinis denganmu?"
"Ya, kita akan mendapatkan tambahan orang baru untuk suku kita." Jawab Wiro sambil tersenyum.
Kemudian Wiro turun gunung dengan membawa gulungan kontrak.
Saat telah tiba, Wiro melihat Orc kelinci muda dengan Wajah dan lengannya yang dipenuhi dengan luka. Dia juga sedang menggendong seorang Orc wanita, yang terlihat masih sangat muda. Di belakangnya juga ada lebih dari empat puluh Orc yang terlihat tertekan dan kelelahan.
Wiro pun sangat terkejut saat melihat penampilan mereka semua.
Ternyata yang memimpin para Orc kelinci adalah Bonny Bun!
"Bonny? Apa yang terjadi denganmu?" Tanya Wiro yang tekejut melihat penampilan Bonny.
Suara Bonny terdengar sangat serak dan sangat berat, "Suku kami diserang oleh suku Sungai Hitam. Ayah ku meninggal untuk melindungi rakyatnya, dan saudara-saudara kami juga telah ditangkap! Kami terpaksa melarikan diri dan telah dikejar oleh suku Sungai Hitam. Kami tidak punya tempat untuk bersembunyi. Kami hanya bisa pergi ke Gunung Batu dan meminta ketua Wiro untuk mau menerima kami di Gunung Batu!"
Pada titik ini, Bonny menggertakan giginya, dan sorot mata merahnya terlihat penuh dengan rasa sakit.
Jika bukan karena demi menjaga adik perempuannya dan anggota klan yang masih hidup, dia akan bergegas ke suku Sungai Hitam untuk membalas dendam!
Wiro sedikit mengerutkan alisnya, kemudian bertanya, "Lalu, bagaimana kamu bisa berpikiran untuk datang kemari?"
"Di hutan ini, selain suku Sungai Hitam, hanya kalian suku Serigala Batu lah yang paling kuat. Selama kalian mau memberikan kami perlindungan, suku Sungai Hitam seharusnya tidak berani mengejar dan membunuh kami. Selain itu, kudengar juga kalau kalian telah membantu melindungi beberapa Orc dari suku Mustang. Karena kamu bisa membantu mereka, oleh karena itulah aku yakin kalau kamu juga pasti akan mau membantu kami. Selain itu, bukankah kita telah sering berjumpa dan saling mengenal?"
Bonny menatap Wiro dengan gugup, dengan sorot matanya yang penuh dengan harapan dan keinginan, untuk bisa bertahan hidup di Gunung Batu.
Kemudian Wiro bertanya kepada Bonny, "Apa kamu tahu, kenapa para Orc Kuda Liar bisa tinggal di sini?"
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Bonny yang sedikit penasaran.
"Karena mereka telah menjual jiwa mereka kepadaku." Jawab Wiro sambil tersenyum licik.