Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 164 - Batu Esensi


__ADS_3

Nano menyewa sebuah toko besar yang ada di kawasan bisnis di lantai pertama, dan membukanya sebagai cabang dari Kamar Dagang di Gunung Batu.


Dia memilih lokasi yang sangat bagus, yaitu di sebelah toko milik Lina.


Karena bisnis penjualan keluarga Lina selalu sangat bagus, jadi, bisnis usaha Nano juga mendapat sedikit cahaya, dia mengambil kesempatan ini, untuk menarik beberapa pelanggan untuk datang ke tokonya.


...........


Pada saat ini, Saga mengeluarkan banyak ikan yang dia tangkap dari kolam, lalu Uriel merebus ikan-ikan tersebut ke dalam panci super besar yang telah dia letakan di atas api.


Jadi, makan malam mereka hari ini adalah sup ikan.


Leon juga datang untuk membantu mereka.


Tampaknya dia telah memutuskan untuk tinggal di loteng di rumah Lina, untuk waktu yang lama. Dia juga tidak punya niat untuk kembali ke klan Bulu.


Mengingat kalau dia telah banyak membantu di sepanjang jalan saat menuju dan pulang dari Kota Matahari, Uriel, Wiro dan Saga tidak merasa keberatan dengan perilakunya saat membantu mereka.


...........


Pertama-tama Uriel memilih ikan yang paling empuk, menyisihkan tulangnya, lalu memasukkan daging ikan tersebut ke dalam mangkuk makan milik Lina, dan kemudian membagi beberapa ikan untuk ke empat anak Serigala.


Setelah melayani betinanya dan anak-anak Serigala, barulah Uriel mulai makan.


Sedangkan Leon, dia makan dengan sangat hati-hati, tapi, meskipun hati-hati, kecepatan makannya juga sangat cepat. Dia bahkan tidak menyingkirkan tulang-tulang ikannya, dia ikut mengunyah tulang-tulang ikan tersebut hingga berkeping-keping.


"KRAUK! KRAUK!"


Saat Lina mendengar suara tulang yang dikunyah, Lina pun menatap Leon dengan tatapan ngeri dan bertanya, "Kenapa kamu tidak menyisihkan tulang-tulang ikannya? Apa kamu tidak takut tulang-tulang ikan itu tersangkut di tenggorokanmu?"


Meskipun mendengar pertanyaan Lina yang seperti itu, Leon tetap mengunyah tulang-tulang ikan tersebut lalu menelannya, kemudian berkata dengan santai, "Selama aku mengunyahnya sampai lembut, tidak akan tersangkut di tenggorokan."


Sepanci besar yang berisi sup ikan, kini telah habis dimakan hingga bersih.


Setelah cukup makan dan minum, Wiro mengusap-usap perutnya dan berkata, "Besok, aku akan memasak untukmu."


Mendengar ini, Saga dan para anak-anak Serigala segera mematung untuk sesaat.


Setelah beberapa saat terdiam, para anak-anak Serigala pun saling berseru secara bersamaan, "WOO WOO WOO WOO WOO WOO WOO!"


Melihat hal ini, Lina yang merasa ingin tahu pun bertanya, "Apa masalahnya?"


Tapi Saga menjawabnya hanya di dalam hatinya, "Jika mereka mencoba masakan Wiro, mereka pasti akan langsung menangis di tempat."


Melihat tidak ada respon jawaban dari Saga, Lina pun mencoba untuk bertanya lagi, "Apakah masakannya sangat buruk?"

__ADS_1


Kali ini ekspresi Saga benar-benar terlihat tak terlukiskan.


Saat ini, Wiro tiba-tiba saja berdiri dari duduknya dan berkata, "Sebulan setelah kamu pergi, aku telah mencoba yang terbaik untuk melatih keterampilan memasakku. Dan aku telah membuat kemajuan besar dalam memasak. Besok aku akan memasak untukmu. Rasanya pasti tidak akan lebih buruk dari yang dimasak oleh Uriel!"


Meskipun sudah mendengar apa yang Wiro katakan, tapi Lina masih tetap merasa ragu dan bertanya, "Benarkah?"


"Pasti benar lah!" Jawab Wiro dengan percaya diri.


Sejak pertama kali Leon mencicipi makanan buatan keluarga Lina yang sangat enak, kini Leon selalu menjadi penggemar makanan lezat. Saat mendengar janji Wiro, dia pun langsung tertarik dan berkata, "Jadilah, untuk sarapan besok, akan diserahkan kepadamu."


Tapi para anak-anak Serigala kembali berseru bersama-sama, "WOO WOO WOO WOO WOO WOO WOO!"


...........


Malamnya, Wiro yang pertama kali mengajak Lina untuk tidur bersama dengan dirinya. Hasilnya, Lina menolaknya.


"Malam ini aku akan tidur dengan Saga," kata Lina.


Saat mendengar itu, Wiro menjadi sangat kesal, "Malam terakhir sebelum kamu pergi, kamu sudah tidur dengan Saga, dan sekarang saat kamu baru saja pulang, kamu ingin tidur dengan Saga lagi? Apakah hanya dia satu-satunya yang ada di hatimu? Atau, apa karena dia mempunyai dua benda?"


Mendengar itu, Lina menepuk dahinya sendiri, "Diam kamu."


Tapi Wiro tidak mempedulikannya, dia langsung membopong dan membawa Lina masuk ke kamar tidurnya dan berkata, "Aku tidak peduli. Malam ini aku ingin tidur denganmu."


"Ada sesuatu yang ingin aku katakan pada Saga, aku akan tidur denganmu besok malam, oke?" Kata Lina.


Lina tidak menjawabnya, dia harus menggunakan skill ultimatenya, merangkul leher Wiro dan menciumnya.


Bibir betina kecil ini terasa lembut dan manis, membuat Wiro tidak bisa berhenti untuk menikmati setiap pagutan bibir mereka berdua.


Saat keduanya sudah terengah-engah, Lina memundurkan tubuhnya. Bibirnya kini terlihat merah, matanya cerah, dan suaranya terdengar lembut, "Biarkan malam ini aku tidur dengan Saga, oke?"


Pada saat ini, Wiro mendapatkan perlakuan paling lembut dari Lina, hal itu tentu saja membuat Wiro tidak tahan untuk menolak permintaan betina kecil itu. Dia pun hanya bisa dengan enggan berkata, "Oke."


Mendengar jawaban dari Wiro yang menyetujuinya, Lina pun langsung mencium wajah Wiro lagi, kemudian berkata dengan lembut, "Terimakasih.. Aku sangat menyukaimu!"


Seketika itu juga Ujung telinga Wiro pun memerah.


Wiro hanya berkata, "Humm.."


Tak lama kemudian, Lina pun berjalan keluar dari kamar tidur Wiro.


Saat Saga melihat Lina masuk ke dalam kamarnya, dia tidak bisa menahan perasaan sedikit terkejutnya, lalu berkata, "Kenapa kamu datang ke kamarku? Aku pikir malam ini kamu akan tidur dengan Wiro."


Kemudian Lina berjalan mendekati Saga, lalu memeluk lengannya.

__ADS_1


"Haruskah aku tidur dengannya? Bolehkah malam ini aku berada di sini?"


Mendengar itu, Saga segera mengangkat Lina dan meletakkan Lina di pangkuannya.


"Tentu saja boleh."


Saat Lina menatap Saga, "Aku merasa kalau setiap saat kulit Saga benar-benar selalu pucat, bahkan terasa dingin."


Setelah berpikir seperti itu, Lina mengeluarkan batu esensi kristal hitam dari dalam ruang penyimpanan dan memberikannya kepada Saga.


"Batu ini untukmu."


"Sebelumnya, aku sudah pernah melihat batu esensi kristal, tapi hanya esensi dari kristal hijau atau pun kristal biru, dan ukurannya pun hanya seukuran kuku. Sedangkan esensi dari kristal hitam, adalah harta yang benar-benar langka."


Setelah berpikir seperti itu, dia pun mengambil batu esensi itu, dan langsung bisa merasakan kekuatan yang sangat kuat, yang terkandung di dalam batu tersebut.


"Kekuatan ini sangat cocok dengan roh Binatang Buasku, bahkan sebelum aku siap, tubuhku dengan sendirinya mulai menyerap energi dari batu esensi ini."


Lalu, tiba-tiba saja Saga merubah wujudnya ke bentuk Ularnya. Kini tubuh Ular Piton besar itu hampir memenuhi seluruh kamar, membuat Lina sedikit tertekan ke pintu.


Lina bisa melihat kalau tubuh Ular Piton itu mengkilap dan hitam, dan tubuh Ular itu seperti terbungkus oleh energi yang berasal dari batu esensi itu.


Lina yang kini mulai merasa cemas pun memanggil-manggil Saga, "Saga! Saga! Ada apa denganmu?"


Mendengar namanya di sebut, Ular Piton itu mengangkat kepalanya dan memandang Lina yang kini telah berdiri di pintu. Kemudian dia menjulurkan lidah ularnya dan menjilati pipi Lina, dan berkata dengan suaranya yang terdengar serak, "Jangan khawatir, aku baik-baik saja."


Uriel dan Wiro yang berada di kamar sebelah juga segera keluar dari kamar mereka masing-masing, saat mereka mendengar suara Lina.


Saat Wiro melihat Ular Piton yang ada di kamar, dia pun sangat terkejut, "Kenapa kamu jadi seperti ini?"


Saga pun berkata, "Ini karena aku menyerap energi dari batu esensi."


Saat Uriel melihat batu esensi yang dililit oleh tubuh Ular Piton itu, dia pun mengerutkan keningnya dan berkata, "Sifat energi gelap yang terkandung dalam batu esensi ini sangat besar. Sebelum kamu menyerapnya, Kamu harus mempersiapkan dirimu terlebih dulu dengan baik. Jika kamu sampai gagal menyerapnya, akan menyebabkan tubuhmu meledak karena kelebihan energi."


Mendengar itu, Saga menghela nafasnya.


"Hhhh.. Aku hanya menyentuh batu esensi ini, tapi tubuhku dengan sendirinya menyerap energi dari batu ini. Aku sendiri tidak bisa mengendalikan tubuhku."


"Tidak ada jalan lain lagi." Setelah bergumam seperti itu, Uriel pun berkata, "Sedikit demi sedikit saja menyerapnya, prosesnya mungkin sedikit tidak nyaman, dengan begitu, mungkin kamu akan berhasil menyerap seluruh energinya. Tapi jika kamu benar-benar tidak bisa melakukannya, beri tahu kami, kami pasti akan membantumu untuk menemukan cara lain, kami pasti akan mendukungmu."


"Aku mengerti." Jawab Saga dan melanjutkan kembali menyerap energi dari batu esensi.


Energi dari batu esensi, jauh melampaui imajinasi orang biasa.


Butuh satu hari satu malam bagi Saga, untuk bisa menyerap semua energi dari batu esensi tersebut.

__ADS_1


Meskipun sekarang keadaan Saga dalam kondisi yang kurang baik, keesokan harinya Wiro masih bersikeras memasak untuk membuatkan sarapan.


Untuk rasa sarapannya, Lina berpikir, "Aku merasa, jika Wiro bisa melihat dari mata kami, siapa yang tidak suka dengan hasil masakannya, dia pasti akan segera memaki dan mengusir orang itu!"


__ADS_2