Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 144 - Ada Yang Ingin Aku Tanyakan


__ADS_3

Pada saat ini, pola bintang harimau di pinggang Uriel tiba-tiba saja menyala.


Dengan posisi berdiri di dalam kolam, masing-masing tangan Uriel memegang erat kedua kaki Lina, dengan posisi tubuh Lina yang dia gendong di depan tubuhnya.


Kedua tangan Lina dia lingkarkan di tengkuk leher Uriel, untuk dia berpegangan sambil menikmati setiap pergerakan benda yang telah menyeruak masuk, ke dalam belahan yang ada di p*ngk*l p*h*nya.


"Ahhhh.."


"Ehmmm.. Urieeeelll.."


Uriel terus menghentakan pinggangnya dengan penuh kelembutan dan mata biru cerahnya kini terlihat seperti bercahaya.


"Urieellll.. Aku.. Aku keluar lagiii.. Aahhh.."


"Esssshhh.. Mmmmhhh.."


Kini kolam air panas ini penuh dengan cahaya aneh berwarna hijau muda.


Rerumputan dan pepohonan yang ada di samping kolam mata air panas, sebelumnya terlihat layu dan menguning. Tapi pada saat ini, tumbuhan itu menyerap kekuatan kehidupan dari Benih Suci yang ada di tubuh Lina dan dengan cepat menumbuhkan tunas hijau yang terlihat segar.


Si kuncup bunga kecil juga tiba-tiba saja membuka lapisan kelopak bunganya yang berwarna merah muda dan ikut menyerap semua kekuatan kehidupan tersebut.


Ketika kolam itu penuh dengan kekuatan kehidupan yang bisa diserap oleh tumbuh-tumbuhan, benang sari pada kelopak si kuncup bunga kecil terlihat bergetar dan saling mengikat.


Tanpa dukungan dari kekuatan kehidupan, pepohonan di dekat kolam mata air panas akan kembali menguning.


Pada saat ini Uriel dan Lina masih saling berpelukan.


Setelah menghentakkan pinggangnya untuk waktu yang lama, dan dalam posisinya yang berdiri sambil membopong Lina, akhirnya tubuh Uriel mulai menegang, dan benda keras milik Uriel yang telah tertanam lama di dalam gua yang elastis, berkedut dan mengeluarkan pelepasannya.


"Aahhhh.."


Kemudian dia mencoba untuk menenangkan napasnya yang berderu cepat, sambil sedikit merilekskan tubuhnya yang tadi sempat menegang, dan kemudian menatap pola bintang di pinggangnya.


"Pola bintangnya berubah lagi. Duri dan tanaman merambat yang ada di kepala harimau kini menjadi terlihat lebih rumit. Bintang-bintang di sekitar tato harimau juga kini bertambah dari empat menjadi lima? Aku telah dipromosikan lagi!"


Uriel memejamkan matanya dan merasakan kekuatan internalnya.


"Kekuatan bintang lima ini beberapa kali lipat lebih kuat dari sebelumnya."


Si kuncup bunga kecil juga menenangkan kembali kelopak bunganya, dan berubah kembali ke penampilannya yang seperti tunas kecil, kemudian kembali diam tak bergerak di kepala Lina.


Saat ini Uriel telah membuka matanya dan menatap gadis kecilnya yang masih dia gendong di depan.


"Rupanya dia sangat kelelahan hingga dia tertidur."


Wajahnya yang putih terlihat penuh dengan rona merah. Bibirnya yang basah sedikit bengkak karena intensnya ciuman mereka. Rambut hitam panjangnya yang basah menempel di tubuh Uriel, seolah menggambar garis-garis yang menarik.


Saat melihat itu, Uriel segera menahan hasratnya yang kini muncul lagi dan mencium kening gadis kecilnya sambil menahan dirinya.


"Jika orang lain sampai tahu kalau kekuatan yang Lina miliki bisa membantu para Orc jantan, untuk meningkatkan tingkatan bintang mereka, para Orc di seluruh benua Orc ini pasti akan menggila untuk bisa mendapatkan gadis kecilku ini?! Tapi dia sangat lembut, mungkin dia akan mudah diperdaya. Bahkan jika dia diculik, dia mungkin tidak akan menyadari hal itu. Jika itu sampai terjadi, dia pasti akan dijadikan alat bagi para Orc jantan untuk meningkatkan kekuatan mereka. Pada hari-hari itu, hidupnya pasti akan lebih buruk daripada kematian."

__ADS_1


Lalu Uriel memeluknya dengan erat, dan suaranya dalam dan tegas.


"Aku pasti akan selalu melindungimu."


Selama ada Uriel, tidak ada yang boleh menyakiti Lina!


Kemudian dengan perlahan, Uriel menarik keluar bendanya yang besar.


"PLOP!"


Setelah itu dia mencari daun dengan daya serap air yang baik, untuk mengeringkan rambut dan tubuh gadis kecilnya yang masih tertidur.


Setelah itu dia berpakaian dan kemudian memakaikan pakaian pada gadis kecilnya, lalu kembali ke istana bersama dengan gadis kecilnya yang masih tertidur dalam pelukannya.


Sesampainya mereka di kamar, mereka pun saling berpelukan dan tidur.


...........


Pada saat ini di kamar Martin Nouh.


Ada seorang pelayan yang menyelinap keluar dari kamar itu.


Orc itu biasanya selalu mengikuti Martin dan bertanggung jawab atas keseharian Martin Nouh.


Saat ini Martin masih tertidur lelap dan tidak tahu kalau pelayannya telah pergi dengan sembunyi-sembunyi.


Pelayan itu menghindari penjaga yang berpatroli, dan terus bergerak sampai menuju ke Gunung Suci yang ada di belakang istana.


Ada sebuah Kuil di Gunung Suci. Di pintu masuk gapura Kuil, ada beberapa pelayan yang sedang berjaga di situ.


Para pelayan yang tampaknya telah diinstruksikan oleh imam besar, segera meneliti pelayan yang barus saja datang, dari kepala sampai ke kakinya, kemudian membungkuk untuk mempersilahkan pelayan tersebut memasuki Kuil.


Kini pelayan yang baru menyelinap keluar dari istana telah berada di dalam Kuil dan bertemu dengan imam besar.


Alan Rebes sedang berdiri, sepertinya dia memang sedang menanti pelayan tersebut. Mata dan alisnya terlihat lembut, dan mulutnya dipenuhi dengan senyum penuh kasih.


"Ah. Dia terlihat seperti Dewa. Terlihat seperti memancarkan kilauan suci."


"BRUK!"


Setelah melihat imam besar, pelayan itu pun segera berlutut dan berkata dengan suaranya yang bergetar karena kegembiraan, "Imam besar sungguh seperti Dewa!"


Alan mengulurkan tangan kanannya dan dengan rendah hati membantu pelayan tersebut untuk berdiri.


"Bangun dan bicaralah."


Pelayan itu pun dengan tergesa-gesa berdiri, sorot matanya terlihat penuh dengan fanatisme.


Alan berkata sambil tersenyum, "Aku memintamu untuk datang kemari di tengah malam. Ada yang ingin aku tanyakan padamu."


Pelayan itu pun segera berkata dengan tergesa-gesa, "Silahkan tanyakan saja apa yang imam besar ingin tanyakan, saya pasti akan memberi tahu semua yang saya ketahui."

__ADS_1


"Kesehatan Yang Mulia tidak terlalu baik, tapi hari ini aku lihat kondisinya tampaknya semakin membaik. Apa kamu tahu apa yang sudah terjadi?"


Pelayan itu menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Saya tidak tahu."


Mendengar itu Alan Rebes tidak merasa kecewa. Lalu dia berkata, "Katakan padaku apa yang hari ini telah dilihat dan dimakan oleh Yang Mulia."


"Pagi ini, saya menunggu Raja saya untuk bangun ..."


Pelayan itu pun mengatakan semuanya yang terjadi hari itu secara rinci, untuk waktu yang lama.


Alan Rebes berpikir sejenak, lalu berkata, "Apa maksudmu, Lina merendam sejenis rumput dalam air, yang kemudian untuk diminum oleh Raja?"


"Ya, pada saat itu saya juga mengingatkannya untuk tidak melakukannya. Bagaimanapun juga, anda lah yang telah membantu merawat tubuh Yang Mulia. Jika dia memberikan Yang Mulia sesuatu yang tidak boleh dia makan, yang bisa membuat tubuh Yang Mulia semakin memburuk, saya tidak mungkin akan menyalahkan anda?! Tapi dia tidak mendengarkan saya, dan pangeran kedua juga sangat percaya padanya, dia juga mengusir saya keluar dari kamar." Saat berbicara tentang ini, pelayan itu juga merasa sangat sedih.


Alan tersenyum padanya sambil berkata, "Apakah rumput kering yang Lina pergunakan untuk direndam dalam air masih ada? Aku ingin melihatnya."


Pelayan itu pun berkata dengan terburu-buru, "Betina itu meninggalkan banyak rumput kering sebelum dia pergi, tapi Rajaku meminta seseorang untuk mengunci semua rumput tersebut di gudang. Saya tidak punya kuncinya, jadi saya tidak bisa menunjukkannya kepada anda."


"Tidak masalah. Kamu telah banyak membantuku. Aku akan mempertimbangkan untuk memindahkanmu ke Kuil dan menjadi pelayan Kuil."


Mata pelayan itu segera terlihat cerah dan berkata dengan penuh semangat, "Dengan senang hati, imam besar."


"Baiklah, sekarang sudah larut malam. Sudah waktunya bagimu untuk kembali. Jangan sampai ada seseorang yang melihatmu." Ucap Alan Rebes.


Setelah mengucapkan selamat tinggal kepada imam besar, pelayan itu segera berlari keluar dari Kuil dan kembali ke istana.


Dia gemetar karena terlalu gembira.


"Ahaha.. Aku akan segera memasuki Kuil dan menjadi pelayan imam besar. Aku sudah tidak sabar lagi."


Tapi pada saat ini, sebuah tangan tiba-tiba saja terulur dan meraih lehernya!


Wajah Azka Nouh muncul dari gelapnya malam, dengan cahaya dingin yang terlihat melintas di matanya yang biru.


Melihat itu, si pelayan pun ketakutan. Dia memandang Azka dengan ngeri dan berkata dengan ketakutan, "Yang Mulia Pangeran ketigaa.. Kenapa selarut ini anda be belum tidur?"


"Seharusnya aku yang menanyakan itu padamu. Kamu tidak jujur ​​dalam melayani ayahku di istana. Kenapa malam-malam begini kamu pergi ke Kuil seorang diri?" Tanya Azka dengan curiga.


Pelayan itu baru saja akan berkata untuk membohongi Azka, tapi belum sempat dia berkata, Azka sudah membuka mulutnya lagi, "Jika kamu berani menipuku, aku akan memotong tangan dan kakimu, dan melemparkan tubuhmu untuk makanan para binatang."


Mendengar itu, pelayan itu pun semakin sangat ketakutan, hingga dia tidak berani untuk berbohong atau pun menipu.


Meskipun pangeran ketiga selalu terlihat ceria dan mudah bergaul, tapi jika dia sedang bermain keras, dia pasti akan lebih ganas daripada algojo yang paling kuat di Kota Matahari!


Bagaimanapun juga, ia telah tumbuh dalam perebutan kekuasaan di antara keluarga kerajaan. Dia juga telah melihat banyak hal kotor dan berdarah sejak dia masih muda. Tidak peduli seberapa baik dia terlihat di luar permukaan, tapi di dalam hatinya memiliki semacam keganasan yang gila.


Pelayan itu gemetar dan berkata, "Imam Besar.. Imam besar yang meminta saya untuk kemarii.. Imam besar menanyakan kondisi Rajaa.."


Azka menyipitkan kedua matanya dan berkata, "Kenapa kamu tidak pergi disiang hari? Kenapa kamu harus pergi menemuinya saat tengah malam dan disaat tidak ada orang?"


"Sa saya.. Saya tidak tahu.." Jawab si pelayan.

__ADS_1


"Kamu tidak tahu? Hahaha!"


Kulit kepala pelayan itu terasa mati rasa, saat mendengar tawa Azka Nouh.


__ADS_2