
"Lagi-lagi, untungnya sekarang aku mempunyai ruang penyimpanan, aku juga mempunyai banyak persedian pembalut!" Pikir Lina.
Diam-diam, Lina pun segera berlari menuju ke pantai, mencuci tangannya yang terkena noda darah, lalu mengambil pembalut dari dalam ruang penyimpanan dan merekatkannya pada CD yang dibuat dari kulit Ular.
"Naaah.. Sudah.. Sekarang sudah aman!" Gumam Lina.
Setelah itu, dia pun berjalan kembali menuju ke api unggun.
"Ah? Ternyata Star juga bangun." Batin Lina yang terkejut, saat melihat Star yang sedang duduk di dekat api unggun.
Dengan kedua bola matanya yang berwarna kuning, Star pun menatap Lina yang sedang berjalan menuju ke api unggun, dengan sorot matanya yang kosong.
"Dari mana kamu?" Tanya Star.
"Aku baru dari pantai, membuang sesuatu yang tidak boleh ditahan." Jawab Lina.
"Apa itu?" Tanya Star lagi.
Lina pun terbatuk saat mendengar Star bertanya lagi, “Uhuk.. Itu.. Itu karena aku sudah minum terlalu banyak, membuat perutku menjadi buncit, dan perutku pun terasa sedikit sakit."
"Oh, buang air." Kata Star yang kini mulai paham maksud Lina.
Lina, "....."
Saat ini, Lina tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Meskipun Star masih anak-anak, tapi, bagaimanapun juga dia adalah laki-laki. Hal itulah yang membuat Lina menjadi agak canggung, untuk menyebutkan kata "urin" di depan seorang laki-laki, apalagi mereka berdua sama sekali tidak ada hubungan darah.
Karena saat ini perut Lina terasa sangat tidak nyaman, dia pun tidak bisa langsung melanjutkan tidurnya lagi.
"Duduk-duduk dulu sebentar, baru tidur.." Batin Lina.
Saat Lina baru saja duduk, tiba-tiba saja terdengar suara Star yang bertanya, "Apa kamu terluka?"
Lina, "....."
Tak mendapat jawaban dari Lina, Star pun menatapnya dengan curiga, lalu berkata, "Aku bisa mencium bau darah dari tubuhmu."
"Huh.. Hidung para Orc memang sangat tajam!"
Setelah membatin seperti itu, Lina pun menggosok hidungnya, sambil berkata dengan malu-malu, "Mungkin saat tadi aku menggali kentang, secara tidak sengaja jariku tergores batu yang tajam."
"Perlihatkan jarimu." Ucap Star.
Mendengar itu, dengan cepat Lina pun segera menyembunyikan tangannya di belakang tubuhnya, sambil berkata, "Hanya luka kecil. Aku juga sudah mengobati lukanya. Nanti juga akan segera sembuh."
Meskipun Lina berkata seperti itu, tapi dari sorot matanya, bisa Star lihat kalau Lina sedang menyembunyikan sesuatu, dan mengetahui kalau Lina pasti sedang berbohong.
Akhirnya, Star pun memutuskan, untuk diam dan tidak mengajukan pertanyaan lagi.
Untuk mengubah topik pembicaraan, Lina pun segera membuka mulutnya dan berkata, "Bagaimana kalau aku menceritakan sebuah lelucon?"
Mendengar itu, Star pun menatapnya dengan penuh harap, sambil menganggukkan kepalanya.
""Ada sepasang pangsit yang memutuskan untuk menikah. Setelah si mempelai pria selesai mengantarkan para tamu yang berpamitan pulang, pengantin pria itu pun bergegas untuk segera menuju ke kamar! Tapi, begitu sangat terkejutnya si pangsit, saat dia telah masuk ke dalam kamar! Dia melihat, ada bakso yang sedang berbaring terlentang di ranjang pengantinnya! Melihat itu, dia pun segera bertanya pada si bakso, "Di mana pengantin wanitanya?" Si bakso pun dengan malu-malu berkata, "Apa kamu tidak tahu? Saat para tamu sudah pergi, aku segera masuk ke dalam kamar dan melepas bajuku..""
Begitu Lina menyelesaikan ceritanya, diapun segera menepuk-nepuk pahanya sambil tertawa lepas.
"Hahahaha.. Lucu kan?"
Star, "....."
Setelah Star diam sejenak, lalu dia bertanya dengan hati-hati, "Apa hubungannya antara pangsit dan bakso? Apakah itu sebuah nama?"
Lina, "....."
__ADS_1
"Aahh.. Si*l.. Aku lupa kalau anak ini belum pernah melihat pangsit dan bakso." Batin Lina.
Pada saat ini, Star tidak bisa mengerti maksud dari cerita Lina.
Setelah membatin seperti itu, Lina pun tersenyum dan berkata, sambil terbatuk dengan canggung, "Ehemm.. Bakso dan pangsit adalah jenis makanan. Pangsit adalah bakso yang dibungkus dengan lapisan adonan yang tipis. Nah.. Aku tahu, kamu juga pasti akan bertanya apa adonannya, kan? Adonannya terbuat dari tepung yang telah diberi air dan dibuat tipis, untuk membungkus bakso. Nah.. Tepung juga untuk membuat makanan ..."
Lina menjelaskan semua itu kepada Star, sampai mulutnya terasa kering.
Setelah Lina selesai menjelaskan tentang apa itu pangsit dan bakso, sorot mata Star kini penuh dengan kekaguman, dia berkata, "Kamu mengetahui banyak hal."
"Setelah kita berhasil pergi dari sini, aku akan membawamu ke rumahku dan akan aku buatkan pangsit." Kata Lina.
Tapi Star tidak menanggapi apa yang baru saja Lina katakan.
"Aku juga ingin menceritakan sebuah cerita." Kata Star.
"Boleh, boleh!" Sahut Lina.
Suara Star terdengar tenang dan pelan. Seolah seperti menyatu sempurna dengan hembusan angin laut yang sepoi-sepoi, dan memiliki semacam kekuatan untuk membingungkan orang yang mendengarkan ceritanya.
""Dahulu kala, ada seorang Iblis yang disegel di ruang bawah tanah yang gelap gulita. Suatu hari, Iblis itu membuat sebuah harapan, "Jika ada orang baik hati, yang bersedia mengeluarkanku dari tempat ini, aku akan memberikan harta berupa emas dan perak, yang tak terhitung jumlahnya kepada orang baik itu.." Sepuluh tahun pun telah berlalu, tapi, tidak ada satupun orang yang datang ketempat itu. Suatu ketika, Iblis itu membuat sebuah harapan lagi, "Jika ada orang baik hati, yang rela mengeluarkanku dari tempat ini, aku bersedia untuk mewujudkan keinginan orang itu.." Seratus tahun pun telah dia lalui, tapi, tetap tidak ada juga orang yang datang ketempat itu. Iblis itu pun membuat sebuah harapan lagi, "Jika ada orang yang baik hati, yang dengan rela mengeluarkanku dari tempat ini, aku juga rela, memberikan segalanya untuk orang itu.." Seribu tahun pun telah berlalu, tapi, tetap tidak ada juga seorang pun yang datang ketempat itu. Akhirnya, Iblis itu pun tidak ingin membuat harapan lagi. Tapi.. Tak lama kemudian, seseorang akhirnya datang dan menghancurkan segel, dan melepaskan iblis itu. Iblis itu pun akhirnya bisa bebas lagi.""
"Lalu?" Tanya Lina, tanpa dia sendiri sadari kenapa dia bertanya seperti itu.
Star pun tersenyum, lalu berkata, "Tebaklah.."
"Kurasa, si Iblis pasti sangat berterima kasih pada orang yang baik hati itu, dan memberinya banyak hadiah. Bagaimanapun juga, orang baik itu kan telah membantu si Iblis, untuk mendapatkan kembali kebebasannya.. Orang baik itu adalah penolong bagi si Iblis." Kata Lina dengan serius.
"Kamu benar. Orang itu memang baik hati. Penolong si Iblis." Tapi, saat Star mengatakan ini, kedua bola matanya yang berwarna kuning seperti berbinar.
Setelah Star selesai berkata seperti itu, Lina pun buru-buru berkata, "Baiklah, sudah larut. Cepatlah tidur lagi!"
Tapi, terdengar suara Star yang berkata dengan malu-malu, "Aku.. Ingin buang air kecil."
"Kalau begitu pergilah." Sahut Lina.
Karena hati Lina yang lembut, dia pun tidak tega untuk menolak bocah itu.
"Yah, ok." Sahut Lina.
Saat itu juga Star merasa sangat senang, dan segera menggandeng tangan Lina, dan membawanya menuju ke tepi pantai.
Saat Star telah menemukan tempat yang pas, dia segera membuka pakaiannya.
Saat menyadari hal itu, Lina pun segera berbalik, untuk memunggungi Star.
Lina tidak ingin menjadi bibi aneh, yang mengintip seorang bocah yang sedang buang air kecil.
"KRICIK! KRICIK! KRICIK!"
Setelah sudah tidak lagi terdengar suara air mancur, Lina pun berbalik dan melihat kalau saat ini Star sedang merapihkan pakaiannya.
Kemudian, dia menggandeng tangan Lina lagi sambil berkata, "Sudah. Ayo kita kembali."
"Ok." Sahut Lina.
Tapi..
Baru saja mereka berjalan beberapa langkah, tiba-tiba saja terdengar suara ledakan yang sangat keras!
"DUAAAARRRRRR!"
Lina yang saat itu juga merasa sangat terkejut dan sangat takut, segera sedikit menunduk dan berhenti, lalu menoleh untuk melihat kearah sumber suara, dan melihat sebuah kilatan merah di langit, di atas lautan lepas!
Lalu, terdengar suara keras lainnya lagi!
__ADS_1
"GLUDUK GLUDUK! DUARRR! JLEGERRR!"
"Apa itu guntur? Tapi, kenapa petirnya berwarna merah?" Pikir Lina yang saat ini sedang sangat kebingungan!
Dan kemudian, sesuatu yang lebih menakjubkan pun terjadi!
Air laut yang sebelumnya terang karena cahaya berwarna merah dari langit, tiba-tiba saja kini menjadi gelap!
Bintang-bintang yang bersinar berkelipan, saat ini seperti sedang digulung menjadi satu, hingga menjadi seperti gumpalan bola yang tak terhitung jumlahnya!
"GLUBUT! GLUBUT! GLUBUT!"
Dan tak lama kemudian, dengan sangat cepat bola-bola bintang itu pun melesat jatuh dari langit!
"SYUUUTT! SYUUTTT SYUT!"
"BUMM! BUMM! BUMM! BUMMM!"
Saat semua bola-bola bintang itu menghantam lautan dengan sangat keras, seketika itu juga air laut di tepi pantai terlihat surut!
Tak lama kemudian, sebuah gelombang air laut yang sangat tinggi hingga membentuk seperti dinding raksasa, terlihat dengan sangat cepat bergerak menuju ke pulau tandus, di mana Lina dan Star saat ini berada!
"GRUMBUNG! GRUMBUNG! GRUMBUNG!"
Saat melihat hal ini, saat itu juga ekspresi wajah Lina terlihat segera berubah sangat panik dan ketakutan!
Dia pun segera memegang tangan Star, dan menariknya untuk segera berlari!
"LARI!! Gelombang tinggi Tsunami datang!" Seru Lina dengan sangat panik kepada Star!
Meskipun mereka telah berlari, tapi, apa yang mereka lakukan sia-sia!
Ombak yang sangat besar dan tinggi itu, dengan sangat cepat menerjang seluruh pulau!
"GEBYUUURRRR!"
Api unggun, kebun bambu, tanaman kentang, tanaman kacang tanah, batu-batuan, semuanya segera hancur dan hanyut terbawa arus Tsunami yang sangat kuat!
"KRAAKK! PRAKK! BLUBUB-BLUBUB!"
Lina dan Star, juga ikut terhempas dan tergulung oleh gelombang Tsunami yang sangat dahsiat itu! Membuat mereka terbawa hingga kelautan, yang sangat dingin dan gelap!
Pada saat ini, Lina sedang berusaha untuk berenang sekuat tenaganya, untuk meraih sebatang bambu yang mengambang tidak jauh darinya, sambil membawa Star di punggungnya!
"KECUPAK KECUPAK! FUFT FUFT! KECUPAK KECUPAK!"
Sayangnya, pada akhirnya Lina tetap tidak bisa menjangkau batang bambu yang mengambang! Kini dia pun tidak bisa melakukan apa-apa lagi, selain hanya bisa menerima nasibnya terombang-ambing maju mundur terkena ombak!
Pada saat ini, tiba-tiba saja Star melepasakan pegangannya pada pundak Lina, lalu berenang kesampingnya, dan dengan wajahnya yang saat ini terlihat pucat, dia berkata, "Lepaskan aku."
Mendengar itu, Lina pun berkata dengan serius, sambil berusaha untuk terus menggerakkan kaki dan tangannya di dalam air, untuk mempertahankan tubuhnya supaya tetap mengapung, sambil satu tangannya memegang tangan Star, “Melepaskanmu? Fuft! Fuft! Kenapa? Apa kamu Fuft! ingin mati?”
“Aku hanya akan menjadi bebanmu. Kamu pergilah sendiri.” Ucap Star.
"Bocah, jangan bicara omong kosong lagi. Fuft! Apa aku terlihat seperti tipe orang yang akan meninggalkan yang lainnya, dan melarikan diri?" Kata Lina.
Meskipun dalam situasi seperti ini, Lina tetap tidak tega untuk pergi sendiri, dan meninggalkan bocah malang itu seorang diri.
Setidaknya, jika ada orang lain, mereka akan bisa saling menyemangati, agar tidak semakin jatuh kedalam keputusasaan.
Setelah mendengar apa yang Lina katakan, Star pun menatap wajah Lina, dan matanya yang berwarna kuning, terlihat berbinar seperti cahaya bintang.
"Kamu memang orang yang baik." Kata Star.
"Sejak aku bertemu dengan bocah ini, dia telah mengatakan kalimat itu berkali-kali dan sudah tak terhitung jumlahnya." Batin Lina.
__ADS_1
Berkali-kali mendapat pujian seperti itu, Lina pun merasa seperti akan lompat dan terbang ke nirwana untuk menjadi Dewi, hanya dengan menjejakkan kedua kakinya.