
Sudah mulai semakin banyak Orc yang memilih untuk ikut bergabung denga suku Serigala Batu. Jumlah anggota suku Serigala Batu telah meningkat dengan pesat dan menjadi satu-satunya suku kuat yang ada di hutan ini. Kini mereka dapat bersaing dengan suku Sungai Hitam.
Banyak Orc yang berpikiran, "Kekuatan suku Serigala Batu telah melampaui kekuatan suku Sungai Hitam. Kalau tidak, kenapa suku Sungai Hitam hanya berani menyerang suku-suku kecil, tapi mereka tidak berani melakukan apa pun pada suku Serigala Batu?!"
Desas-desus seperti ini akhirnya sampai juga ke telinga Nanto dan membuatnya sangat marah!
Dia memukul dan menghancurkan meja batu yang ada di depannya!
"BRAK! PRAK!"
“Wirooo! Dasar bocah br*ngs*k! Kau benar-benar tidak menghormatiku sama sekali! Apa kau benar-benar mengira kalau aku tidak berani melakukan apa pun padamu?!”
Para Orc Kuda Liar tetap berlutut dengan satu lutut mereka dan hanya menundukkan kepala mereka. Tidak ada yang berani untuk berbicara.
Semakin Nanto memikirkan tentang hal itu, membuatnya semakin marah. Kini amarahnya telah semakin meledak-ledak! Dan tiba-tiba saja Nanto berdiri dari duduknya.
"Panggil semua staf kemari, aku ingin menyerang Gunung Batu sekarang juga! Aku ingin semua orang tahu! Aku adalah Nanto! Aku adalah Orc terkuat di hutan ini! Siapa pun yang berani melawanku pasti akan mati!"
Ada salah satu Orc yang merasa ragu dan berkata, "Tapi Ida Ruln berkata kalau untuk saat ini, kita belum boleh menyerang klan Serigala Batu ..."
Nanto segera memotong perkataan Orc tersebut, "Dia hanya seorang perempuan! Dia hanyalah alat untuk melahirkan anak! Akulah pemimpin klan Sungai Hitam! Apa yang aku katakan adalah apa yang aku perintahkan! Jika ada yang berani menentangku, maka aku akan membunuhnya saat ini juga!"
Para Orc pun segera diam dan tidak berani berbicara lagi.
Kemudian Nanto mengeraskan suaranya, "Segera panggil para pasukan dan suruh mereka bersiap-siap untuk pergi berperang di Gunung Batu! Hari ini juga, aku akan memenggal kepala si Wiro!"
"Baik ketua!"
Ada lubang kecil di tanah, yang ada di sudut rumah batu. Di lubang kecil itu terdapat sepasang mata kecil yang berkedip.
Sepasang mata kecil itu dengan hati-hati sedang melihat ke bagian luar, yang dipenuhi dengan Orc jantan yang sedang berlarian.
"Hmm? Sepertinya mereka sedang bersiap-siap untuk berperang. Ini adalah berita yang sangat bagus. Jika aku kembali dan memberitahukan tentang hal ini kepada ketua Wiro, aku pasti bisa mendapatkan banyak poin kerja!"
Khun Thet segera masuk kembali ke dalam lubang, dan dengan cepat segera merangkak kembali melalui lubang yang sebelumnya telah dia gali.
Kecepatan berlari Khun Thet sangat cepat. Kini dia telah kembali ke Gunung Batu, tepat setelah suku Sungai Hitam mengumpulkan semua pasukan Orc mereka.
"Ketua Wiro, aku mempunyai informasi yang sangat penting untukmu, tapi kamu harus membayarku dengan beberapa poin kerja. Lagi pula, aku sudah mencari informasi ini dengan susah payah dan dengan risiko terbunuh."
Mendengar itu, Wiro segera menatap Khun Thet yang hanya setinggi lutut Wiro, dan berkata, "Jika informasi yang akan kamu sampaikan benar-benar sangat penting, aku pasti akan memberimu hadiah."
"Kamu memang ketua yang sangat bijaksana, yang selalu memberikan penghargaan dan hukuman dengan alasan yang jelas!" Kata Khun Thet yang memuji dan menyanjung-nyanjung Wiro.
Kemudian dia segera mengatakan seluruh percakapan yang dia dengar di suku Sungai Hitam, dari awal sampai akhir.
Wiro sudah tidak terkejut lagi, saat mengetahui kalau Nanto akan menyerang klan Serigala Batu.
Wiro tahu kalau Nanto adalah Orc yang impulsif, arogan, dan pencemburu. Nanto tidak akan pernah membiarkan siapa pun menjadi lebih kuat dari dirinya.
"Aku sudah menduganya. Cepat atau lambat, dia pasti akan menyerang Serigala Batu."
Karena perpindahan para Orc dalam jumlah besar ke klan Serigala Batu, kini telah mendorong Nanto untuk terlebih dahulu melancarkan serangan ke suku Serigala Batu.
Setelah mendengar semua itu, Wiro pun memberikan seratus poin kerja untuk Khun Thet, "Kamu sudah melakukannya dengan sangat baik, ini adalah hadiah untukmu, aku berharap kamu bisa terus memberikan kontribusi yang sangat bagus."
Mendapatkan seratus poin kerja, Khun Thet pun segera menyeringai senang, sambil memperlihatkan dua gigi depannya yang besar, "Terima kasih ketua Wiro! Berada di sini adalah keputusan yang tepat bagiku, untuk berlindung dengan namamu!"
__ADS_1
Setelah itu Khun Thet pun segera berjalan pulang dengan perasaan gembira.
"Kini aku telah mempunyai seratus poin kerja. Akan aku pergunakan beberapa poin kerja ini untuk membeli buah-buahan dan sayuran, untuk istri dan anak-anakku!"
...........
Pada saat ini.
Wiro segera mengeluarkan lolongan Serigala yang panjang.
"AUUUU.. AUUUU.."
Ini adalah lolongan yang menandakan adanya musuh yang menyerang mereka!
Setelah mendengar lolongan tersebut, semua Orc Serigala jantan segera meletakkan apa yang sedang mereka pegang dan segera berkumpul di kaki gunung secepat mungkin.
Mereka akan terlebih dulu memasang jebakan di jalan dan secara mengejutkan menyergap para Orc Mustang!
Uriel dan Saga juga ingin membantu. Tapi itu artinya hanya akan ada Lina dan anak-anak yang berada di rumah. Hal itu jelas telah membuat Uriel merasa sangat khawatir. Dia akhirnya memutuskan pergi ke klan Bulu untuk mencari Leon dan memintanya untuk menjaga Lina.
Leon berkata sambil tersenyum, "Aku akan membantumu, tapi kamu juga harus mengabulkan permintaanku."
"Katakan." Ucap Uriel.
"Aku ingin tinggal di loteng rumahmu." Jawab Leon dengan santai.
Alih-alih langsung membuat keputusan sendiri, Uriel lebih dulu meminta pendapat dari Lina.
Tentu saja Lina tidak akan membiarkan Leon tinggal di rumah.
Lina yang tidak ingin membuat Uriel gelisah saat berada di medan perang, saat ini hanya bisa menyetujuinya, "Karena dia ingin tempat tinggal, maka berikan saja dia tempat tinggal."
Mendengar itu, Uriel segera mencium cincin yang ada di jari manis gadis kecilnya.
"Baiklah kalau begitu. Jaga dirimu baik-baik, kami pasti akan segera kembali."
Setelah itu Lina ikut mengantarkan ketiga pasangannya untuk menuruni gunung.
Saga memegang tangan Lina yang terasa halus dan lembut, kemudian berkata, "Tunggulah, kami pasti kembali."
"Baiklah." Ucap Lina.
Wiro yang paling tak tahu malu, dia segera membopong dan memeluk Lina, kemudian menjatuhkannya di tanah sambil menciumi bibir Lina dengan sangat bern*fs*. Setelah Wiro merasa puas, barulah dia melepaskan Lina.
Kini semua Orc jantan telah merubah wujudnya menjadi binatang, dan dibagi menjadi tiga kelompok yang dipimpin oleh Wiro, Uriel dan Saga, dan dengan para prajurit yang telah berada di titik penyergapan dengan tiga posisi yang berbeda-beda.
Lina meregangkan lehernya untuk melihat ke kejauhan, sampai orang-orang telah jauh dan tidak bisa melihat mereka lagi, barulah Lina mengalihkan kembali pandangannya.
Anak-anak Serigala segera mengusap punggung tangan Lina dan merengek untuk meyakinkannya agar tidak bersedih.
"Ibu jangan cedih.."
Lina ingin menggendongnya, tapi sekarang mereka sudah terlalu besar. Dia pun mencoba yang terbaik supaya tidak mengecewakan anak-anak.
Pada akhirnya, Wirna duduk dan memberi isyarat agar Lina juga ikut duduk.
"Cini ibu.."
__ADS_1
Lalu Lina menyentuh hidung Wirna sambil berkata, "Tidak usah, ibu akan kembali kerumah."
Kemudian Wirna melolong dua kali terhadap adik-adiknya.
"Au! Au!"
Tiga anak Serigala kecil segera berdiri dan berjalan mendekati Wirna.
Wirna juga berdiri, mengayunkan ekornya yang halus, meluruskan dadanya dan tetap berjalan dengan mantap untuk naik ke atas gunung. Ketiga adik-adik Wirna pun segera mengikuti sang kakak.
Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan beberapa betina dan anak-anaknya. Ketika mereka melihat Lina, mereka tersenyum dan menyapanya. Anak-anak mereka juga menyapa Lina dengan keras.
"Guru!"
"Guru!"
Melihat ada murid-muridnya yang menyapanya, perlahan-lahan suasana hati Lina menjadi sedikit lebih baik.
Tapi saat telah kembali ke rumah dan melihat kesombongan yang ada dalam diri Leon, suasana hatinya langsung turun lagi.
Sebelumnya dia sudah dengan keras menolak permintaan Leon, untuk pindah kemari. Tapi tanpa bisa Lina duga, hanya dalam satu hari kemudian Lina harus setuju dan membiarkan Leon tinggal di rumah ini.
Kuncup bunga kecil sangat senang saat melihat ayahnya datang dan segera mendekat untuk menggosok jari-jari Leon.
"Ayah.."
Kemudian Leon menyentuh si kuncup bunga kecil.
"Anak baik. Bermainlah dengan adik laki-laki dan adik perempuanmu."
Si pria kecil segera mengguncangkan dedaunan yang ada di tubuhnya dan berlari untuk bermain dengan para anak-anak Serigala.
Lina sama sekali tidak mau mengurusi apa yang sedang Leon lakukan. Dia lebih memilih untuk memilah-milah bahan obat.
...........
Di malam hari.
Uriel tidak ada di rumah dan tugas memasak hanya bisa dilakukan oleh Lina.
Saat ini Lina sedang memotong sayuran di dapur. Sedangkan Leon sedang bersandar di pintu sambil terus menatapnya.
Mendapat perlakuan seperti itu, telah membuat Lina merasa sangat tidak nyaman. Lina pun segera menatap Leon.
"Bisakah kamu keluar dari sini?"
"Oh." Setelah itu Leon mundur beberapa langkah untuk keluar dari pintu, kemudian berdiri diam dan melanjutkan aksinya untuk terus menatap Lina.
Melihat Leon yang hanya berpindah posisi sedikit, Lina pun segera menunjuk ke arah tangga.
"Kamu kembali saja ke lotengmu. Kamu juga tidak boleh turun tanpa izin dariku!"
"Tidak," dengan sangat jelas Leon menolak apa yang Lina katakan. Kemudian dia lanjut berkata, "Aku sudah berjanji pada Uriel, kalau aku pasti akan selalu menjagamu sepanjang waktu."
Lina, "....."
Mendengar Leon yang berkata seperti itu, Lina sudah tidak memiliki cukup alasan lagi untuk membantah perkataan Leon.
__ADS_1