
Lina meraih tangan Saga dan berkata sambil tersenyum manis, "Kami melakukan itu karena kita adalah keluarga."
"Tapi kamu dan aku bukanlah pasangan. Kita juga tidak memiliki hubungan ..."
Sebelum Saga menyelesaikan kalimatnya, bibirnya terlebih dulu dihentikan oleh bibir Lina.
Lina mencium bibir Saga dengan lembut dan penuh perasaan.
"Bibir Saga terasa tipis dan lembut, dan sedikit terasa dingin. Aku seperti sedang makan es krim di musim panas."
Untuk sesaat, Lina menjulurkan lidahnya dan memainkan lidah Saga.
"....." Saga pun merasa sangat terkejut.
Sebelum Saga tersadar dengan apa yang sudah Lina lakukan, Lina cepat-cepat mundur dan berkata dengan wajahnya yang memerah, "Aku sudah menciummu. Kamu akan menjadi laki-lakiku. Apa kamu masih akan tetap mengatakan kalau kamu tidak ada hubungannya denganku?"
Dengan tenang Wiro sedikit mendekat kearah mereka berdua, kemudian memainkan kedua alisnya naik turun sambil memandang ke arah Lina. Lina pun mengangkat satu ibu jarinya kearah Wiro, sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Hahaha.. Linaku mengeluarkan ketrampilannya dengan indah."
"....." Saga masih sangat terkejut.
Saga menatap wajah Lina yang manis dan terlihat sedang malu, kemudian menatap Uriel dan Wiro yang sedang tersenyum bahagia.
"Aku merasa semua ini seperti mimpi, begitu indah. Sehingga aku tidak ingin terbangun dan kehilangan mimpi yang indah ini, untuk bisa memiliki Lina."
Wajah Lina memerah, tetapi dia masih berpura-pura untuk tetap tenang. Kemudian Lina berkata, "Ciuman tadi adalah hadiah dariku untukmu. Setelah aku melahirkan bayi yang ada di dalam perutku, kita akan melakukan perk*w*nan formal kita."
"....." Saga menatapnya dengan tatapannya yang terlihat linglung.
Melihat Saga yang masih belum menanggapinya, Lina mulai sedikit cemberut. Sambil mengerucutkan bibirnya, dia berkata, "Hummp. Apa kamu tidak mau?"
Saga segera tersadar kembali dan dengan cepat menjawab dan berseru, "Aku bersedia!"
Setelah mengatakan itu, rona merah samar muncul di wajahnya yang pucat. Dia menambahkan berkata dengan suara rendah dan tegas, "Selama aku bisa tinggal di sisimu, aku pasti akan selalu mendengarkanmu."
Lina seolah tersadar akan sesuatu, kemudian dengan cepat mengeluarkan Cincin Perak, dan memakaikannya di jari manis Saga.
"Ini adalah cincin ikatan. Jika kamu memakai cincin ini, itu artinya kamu akan menjadi keluargaku. Jangan pernah kamu mencoba-coba untuk menyesalinya!"
Sambil menatap wajah Lina yang cantik dan imut, tangan Saga memegang Cincin Perak yang ada di jarinya, dan memutar-mutar cincin itu dengan lembut. Di mata hitamnya, kini terlihat sinar bahagia.
"Aku tidak akan pernah menyesal."
Setelah minum sup yang dibuat oleh Lina, para Orc kini sudah tidak merasa kedinginan lagi.
Hujan di luar masih belum berhenti, para Orc juga tidak bisa pergi berburu. Mereka pun akhirnya mengobrol bersama.
Pay adalah Orc Serigala jantan muda dan kuat. Dia paling suka bila bercerita. Dia juga salah satu dari dua puluh Serigala jantan yang dibawa oleh Wiro, saat pergi menyelamatkan Saga.
__ADS_1
Dia merasa sangat terhormat untuk membantu ketua klan Serigala, saat mengalahkan empat Ular besar!
Di bawah tatapan semua orang, Pay berkata dengan penuh semangat tentang apa yang terjadi saat itu.
"Keempat Ular Cincin besar itu sangat ganas dan dengan guntur dan hujan yang menjungkirbalikkan seluruh isi hutan, keganasan mereka mampu mengubah warna dunia! Kami terus dikejar oleh mereka, dan dengan cepat memutuskan untuk segera mundur. Kami semua telah siap untuk mati bersama, karena pada saat itu kami akan dimakan oleh keempat Ular itu. Tapi pada saat-saat kritis, ketua Wiro tiba-tiba menemukan cara untuk menghadapi keempat Ular raksasa itu. Coba kalian tebak apa?"
Para Orc yang sangat antusias mendengarkan kemudian bertanya, "Apa yang dilakukan?"
Anak-anak Serigala kecil yang sedang berputar-putar di sekitar Pay tertawa keras.
"Haha! Paman mengarang cerita lagi!"
Pay menatap mereka.
"Apa yang paman katakan kali ini benar!"
Anak-anak Serigala tertawa semakin keras.
"HA HA HA HA HA!"
Pay pun menjadi marah dan berseru pada Meli.
"Kakak, bawa pergi anak-anakmu ini! Jangan mengganggu aku yang sedang bercerita."
Meli tertawa dan segera menarik anak-anak Serigalanya, "Haha.. Paman kalian ini jarang menjadi pahlawan. Kalian harus memberinya kesempatan dan biarkan dia menyelesaikan ceritanya. Kalau tidak.. nanti malam dia tidak akan bisa tidur."
"HA HA HA!"
Tidak hanya anak-anak Meli, tetapi tiba-tiba saja, para Orc yang ikut mendengarkan cerita Pay pun juga ikut tertawa, saat mendengar apa yang Meli katakan.
"Kakak! Apa kakak ini masih kakakku?"
Kemudian Meli mengusap rambut pendek Pay yang berwarna cokelat dan tertawa.
"Haha.. Oke, oke, kamu lanjutkan ceritanya. Kami tidak akan mengganggumu."
Kemudian Pay pun terus melanjutkan ceritanya dengan penuh semangat.
Pada saat ini, di rumah Lina.
Mereka berempat juga sedang mendiskusikan urusan tentang para utusan dari Kuil.
Uriel berkata dengan suaranya yang dalam, "Kuil memiliki status yang sangat tinggi di Kota Binatang. Jika kita bertemu dengan Raja Binatang yang sedikit lebih lemah, Kuil bahkan akan lebih unggul dari posisi Raja Binatang itu. Jika mereka sampai tahu bahwa kita yang telah membunuh empat utusan mereka, sudah pasti mereka akan membalas kita."
Kemudian Wiro berkata, "Empat utusan Kuil telah dibunuh oleh kami. Tanpa informan, Kuil Bulan Gelap seharusnya tidak akan tahu tentang pembunuhan utusan mereka dalam waktu dekat ini. Dengan memanfaatkan periode waktu ini, aku akan meningkatkan kekuatan dan pelatihan para Orc jantan di klan Serigala, dan mempersiapkan diri dengan baik untuk pertarungan yang akan datang."
Lina berkata, "Kalau kamu bertarung, kamu pasti akan terluka. Aku juga harus mengumpulkan lebih banyak cadangan untuk ramuan obat."
Wiro berkata, "Jika saat itu benar-benar terjadi, kamu harus segera membawa para betina dan anak-anak serigala, untuk bersembunyi di ruang bawah tanah."
__ADS_1
Lina menepuk lembut dadanya sendiri dan berjanji, "Kamu percayakan saja padaku, aku pasti akan menjaga dengan baik para betina dan anak-anak!"
Uriel lebih banyak berpikir.
"Kalau begitu, kita harus menggali ruang bawah tanah yang lebih besar lagi. Sebaiknya kita juga membuat jalan rahasia, jika suatu saat terjadi keadaan darurat yang mendadak."
"Bagus! Aku setuju denganmu." Kata Wiro.
Saga yang sejak tadi menyaksikan mereka sedang berdiskusi dengan serius, merasakan kehangatan di hatinya kini semakin menjadi.
"Sejak aku melarikan diri dari kuil, aku telah menutup hatiku sendiri. Pengkhianatan itu meninggalkan bekas luka yang dalam di hatiku. Aku juga berpikiran, kalau aku tidak akan pernah mempercayai siapa pun lagi dalam hidup ini."
Tapi sejak Lina hadir dihidupnya, Lina seperti fajar yang menerangi seluruh dunia Saga yang gelap.
Untuk pertama kalinya, dia merasakan perasaan dipercaya dan dilindungi.
Kemudian Saga menggerakkan bibirnya, "Akulah yang telah menyebabkan masalah ini, selama aku kembali ke kuil ..."
Lina segera memotong perkataannya.
"Sekarang kamu sudah memakai Cincinku. Apa kamu masih ingin melarikan diri? Sudah tidak ada pintu buatmu melarikan diri lagi!"
Uriel juga ikut berkata, "Bagaimanapun juga, utusan Kuil telah dibunuh oleh kami. Meskipun kamu kembali ke Kuil Bulan Gelap, mereka tidak akan membiarkan kami lolos begitu saja. Lantas, kenapa kami harus mati sia-sia?"
Wiro pun mengangguk.
"Jadilah! Semuanya telah diputuskan. Keputusanmu tidak akan bisa mengendalikan situasi. Kamu sebaiknya tetap tinggal di sini dan menghadapinya bersama kami."
Kemudian Lina menggenggam tangan Saga.
"Kita adalah keluarga. Kita harus tetap bersatu, apalagi pada saat-saat kritis. Tidak ada yang boleh pergi seorang diri!"
Saga balas memegang tangan Lina dengan erat untuk beberapa lama.
"Jari-jari Lina kecil dan terasa sangat halus."
Kemudian Saga berkata, "Baiklah, aku akan mengikuti saranmu."
Alis dan mata Lina keduanya tertekuk kebawah, sambil tersenyum manis dan berkata, "Baguslah kalau begitu!"
Selanjutnya mereka lanjut berdiskusi sebentar, sampai tiba waktunya makan siang.
Uriel pergi ke dapur untuk memasak, dan Lina bersiap untuk membantu menyalakan api.
Lina baru saja berbalik, ketika tiba-tiba mendengar Saga yang berkata, "Aku tidak mencuri barang-barang suci milik Kuil, dan aku juga tidak membunuh para imam kepala."
Tanpa sadar Lina pun berhenti dan berbalik untuk melihat ke arah Saga.
Saga menundukkan kepalanya, dan rambut hitam panjangnya terurai jatuh ke pipinya yang pucat.
__ADS_1
"Aku dijebak, tapi tidak ada yang mau mempercayaiku. Mereka juga ingin membakarku. Saat itulah aku memutuskan untuk melarikan diri dari Kuil dan selalu menghindari pengejaran mereka."