
“Sayangnya tidak bisa dan tidak akan pernah kami serahkan. Ular itu adalah pengejar wanita di keluarga kami. Suatu hari nanti, dia mungkin akan menjadi salah satu keluarga kami. Mana mungkin aku akan menyerahkan keluargaku sendiri? Terlebih lagi, wanitaku juga tidak akan menyetujui permintaanmu."
Selain itu, Wiro juga tidak ingin membuat Lina bersedih.
Sky berkata dengan marah, "Nyawa dibayar dengan nyawa, itu adalah hal yang wajar dan pantas untuk aku lakukan!"
"Tidak mungkin juga aku membayarnya dengan nyawaku!" Wiro berkata dengan arogan dan menantang. Kemudian dia lanjut berkata, "Aku akan menyelesaikan masalah ini dengan cara yang lain!"
"Dengan cara apa?" Tanya Sky dengan ekspresi pucatnya.
"Bukankah kau akan menetap di Gunung Batu?"
"....." Sky tidak menjawab, dia hanya terdiam. Dia sedang berpikir tentang nasib sukunya.
"Lokasi geografis Gunung Batu sangat baik, sangat cocok bila ditinggali untuk jangka panjang. Seluruh Orc klan Bulu telah menghabiskan terlalu banyak energi dan kekuatan fisik untuk bermigrasi kali ini, dan juga banyak dari mereka yang menjadi sakit karenanya."
Sulit menemukan tempat yang cocok untuk hidup dan menetap, dan para Orc dari klan bulu juga tidak boleh menyerah.
"Apakah ketika kami pergi dari sini, kami akan dapat menemukan tempat tinggal yang cocok? Tidak ada yang bisa menjamin akan hal itu."
Wiro mengetuk-ngetuk tanah sambil berkata dengan tenang namun serius, "Ini adalah Gunung Batu. Wilayah kami. Milik kami para Serigala Batu. Menurut aturan, jika kalian ingin tinggal di sini, kalian harus mendapatkan izin dari kami terlebih dahulu."
"....." Sky masih terdiam.
Kemudian Wiro tersenyum.
"Biasanya kami tidak akan mengizinkan suku lain untuk menetap di Gunung Batu. Tapi kali ini demi masalah tentang kehilangan seekor anak Bulu kalian, dengan enggan kami memperbolehkan kalian untuk menetap di puncak gunung, sebagai kompensasi dari kami."
...........
Lina mulai semakin gelisah. Saat ini dia sedang berjalan mondar mandir di pintu masuk gua.
"Kenapa Wiro masih belum juga kembali? Apakah dia benar-benar bertarung dengan para Orc dari klan Bulu?"
Uriel menekan bahu gadis kecilnya, dan berkata dengan lembut, "Jangan khawatir, Wiro pasti akan baik-baik saja."
"Temperamen Wiro tidak baik, dan dia juga sangat agresif. Aku khawatir dia akan menghentikan pembicaraannya dengan Orc klan Bulu jika dia tidak setuju." Lina kini mulai semakin kesal. "Seharusnya aku memintamu untuk pergi ke klan Bulu bersamanya."
Uriel berkata dengan tenang dan bijaksana, "Kamu tenang saja. Selama Wiro yang menanganinya, tidak akan terjadi apa-apa."
Lina menjulurkan lehernya dan melihat keluar. Matahari sudah hampir terbenam. Jika Wiro masih juga belum kembali, Lina berencana akan naik ke puncak gunung untuk mencari Wiro!
Pada saat ini, Wiro, Rei dan Orc Serigala lainnya telah turun dari puncak gunung.
Wiro hanya berdiri saja di mulut gua.
__ADS_1
Lina yang melihat Wiro telah kembali, segera berlari dan lompat untuk memeluk leher Wiro yang bertubuh tinggi, mengerucutkan bibir kecilnya sambil mengeluh, "Kenapa kamu perginya lama sekali?"
Wiro pun segera menangkap tubuh mungil Lina yang sedang bergelantungan di lehernya. Kedua telapak tangan besarnya memegang f*nt*t Lina yang kecil dan padat berisi, kemudian menaikan posisi Lina sedikit keatas, mensejajarkan bibir mereka berdua, dan berkali-kali mengecupi bibir Lina yang masih terus mengerucut, sambil tersenyum dan berkata, "Ada banyak hal yang kami bicarakan. Itulah yang menyebabkan jadi sedikit lebih lama di sana."
Melihat Wiro yang tenang, Uriel tidak bisa menahan senyumnya dan bertanya, "Sepertinya negosiasi antara kamu dan klan Bulu berjalan dengan baik?"
Wiro mengangkat sudut mulutnya, dan mata hijau gelapnya berbinar.
"Tidak terjadi apa-apa di sana. Lagipula, menegosiasikan hal semacam ini hanyalah masalah kecil bagiku. Aku masih lebih suka bila harus menggunakan pertempuran, untuk menyelesaikan masalah."
Dengan mengabaikan rasa percaya diri Wiro yang sudah melebihi batas kewajaran, Lina pun segera bertanya, "Apakah pemimpin klan Bulu setuju untuk berdamai?"
"Yah, sebagai kompensasi, aku membagi puncak gunung batu untuk mereka tinggali. Baru saja pemimpin klan Bulu dan aku telah selesai membuat pembagian wilayah yang jelas. Jadi masalah ini telah diselesaikan."
Mata Lina berbinar.
"Aah.. Kamu memang sangat hebat, Wiro!"
Wiro mengangkat dagunya dan berkata, "Tentu saja!"
...........
Di dalam klan Bulu, Sky Letta masih duduk diam di atas karpet bulu, dengan wajah tampannya yang kini terlihat jelek.
Pada saat ini, entah untuk apa Leon masuk. Pakaian merah gelapnya bergoyang lembut, seiring dengan langkahnya. Dan rambut panjang berwarna emasnya, yang bergerak secara vertikal ke pinggang.
"Aku dengar, kamu diganggu oleh pemimpin klan Serigala?"
Sky Letta memukulkan tinjunya di karpet, mengertakkan giginya dan bersumpah, "Semua ini masih belum berakhir! Saat ada kesempatan, b*j*ng*n itu akan kuberi pelajaran!"
Belum terlambat baginya untuk membalas dendam.
Leon menghela napasnya dan berkata, "Hhh.. Lihatlah dirimu yang sampai seperti ini. Sepertinya kamu benar-benar telah diintimidasi olehnya. Saat lukamu telah pulih, kamu bisa mencari kesempatan untuk bertarung dengan pria itu."
Sky mengepalkan tinjunya dan berkata dengan geram, "Aku harus memukulinya, hingga seluruh giginya rontok berceceran di Gua Serigala!"
Tapi kemudian Leon berkata, "Tapi soal itu kamu pikirkan nanti saja, kejadian ini juga untuk pelajaran bagi kita."
"Apa maksudmu?" Tanya Sky Letta.
"Alasan utama kenapa anak-anak kita berani menyelinap ke bawah gunung, adalah karena klan telah terlalu banyak melindungi mereka secara berlebihan. Membuat mereka berpikir bahwa keadaan di luar seaman di rumah, hingga membuat mereka tidak memiliki rasa khawatir sama sekali. Meskipun karakter Wiro menjijikkan, tapi apa yang dia katakan itu memang benar. Jika kita terus berkembang dengan cara seperti ini, secara bertahap anak-anak klan Bulu sudah pasti akan kehilangan kekuatan bertarungnya, dan akan menjadi burung dalam sangkar yang tidak berguna. Kita juga tidak bisa melindungi mereka seumur hidup kita, kalau begini terus, hasil akhirnya hanyalah punahnya klan Bulu."
Meskipun Leon memiliki beberapa gelar jabatan di klan Bulu, tapi dia jarang sekali ikut campur dalam urusan internal klan Bulu.
Dan juga, ini adalah kali pertama baginya berkata dengan begitu banyak.
__ADS_1
Secara bertahap, Sky Letta mulai mengendurkan kepalan tangannya, dan ekspresi tak berdaya muncul di wajahnya yang tampan.
"Aku tahu. Kamu ada benarnya juga. Tapi terlalu sulit bagi klan Bulu kita untuk berkembang biak. Terutama dalam beberapa tahun terakhir, jumlah betina yang dapat bertelur semakin berkurang setiap tahunnya. Musim dingin lalu, kami juga telah mencoba yang terbaik, untuk ikut membantu memelihara beberapa dari anak-anak tersebut ke dalam keluarga."
Mendengar apa yang Sky katakan, Leon menunjukkan tatapannya yang mengejek.
"Haha! Bahkan jika anak-anak seperti itu memang tidak bisa untuk bertahan, membantu memelihara mereka hanya akan membuang-buang waktu saja!"
"....." Sky tidak bisa berkata-kata.
Melihat bahwa Sky tidak berbicara lagi, Leon mengayunkan lembut lengan bajunya yang berwarna merah darah sambil berkata, "Bagaimanapun juga, kamu adalah pemimpin dari klan Bulu. Bagaimana kamu memutuskan masa depan para Orc klan Bulu, seperti apa pun yang kamu inginkan, semua itu adalah urusanmu. Selama bukan urusanku dan bukan hal yang aku sukai, aku tidak peduli dengan semua itu."
Topik ini mulai dirasa terlalu berat bagi Sky Letta, dia pun tidak ingin membahasnya lagi. Sebaliknya, dia bertanya tentang hal menarik lainnya.
"Ada kabar yang mengatakan bahwa kamu jatuh cinta dengan seorang betina kecil dari klan Serigala, dan mengaku padanya di depan umum?"
Leon membayangkan penampilan imut betina kecil yang lembut itu, dan terkekeh. Kemudian berkata, "Si kecil itu memang benar-benar indah."
Sky Letta yang jarang melihat Leon untuk bisa tertarik pada sesuatu, segera menjadi penasaran terhadap sosok betina kecil itu.
"Jika suatu hari nanti ada kesempatan, aku harus pergi menemui betina kecil itu sendiri!"
...........
Sejak saat itu, suku Bulu dan suku Serigala adalah tetangga.
Namun kedua belah pihak masih ingat dengan perseteruan yang sebelumnya pernah terjadi. Setiap beberapa hari sekali, mereka akan membuka mata mereka lebar-lebar dan saling mengawasi satu sama lain secara terang-terangan.
Sepertinya sama sekali tidak ada tanda-tanda, kalau hubungan mereka bakalan membaik.
Dan Wiro tidak peduli!
Wiro, Uriel dan Saga mulai memanen buah dan sayuran yang baru matang. Mereka harus bangun pagi-pagi sekali, pulang terlambat setiap harinya, dan juga saat ini mereka sedang sangat sibuk.
Lina ingin membantu mereka meskipun dia saat ini sedang hamil, tetapi segera ditolak oleh ketiga pria itu.
Dia hanya bisa duduk di tempat yang teduh dan memandangi mereka bertiga yang sedang bekerja.
Untuk memudahkan pekerjaannya, Saga tidak mengenakan jubah abu-abunya, tetapi hanya mengenakan rok kulit bulu di pinggangnya, sama seperti halnya Wiro dan Uriel.
Ketiga lelaki itu sedang bekerja di kebun, wajah tampan mereka dipenuhi dengan keringat yang mengalir hingga ke dagu.
Garis otot di tubuh mereka, terlihat penuh dengan kekuatan. Otot perut mereka yang terkena keringat, mengkilat di bawah sinar matahari.
Lina menahan dagunya dengan kedua tangannya dan tidak bisa mengalihkan pandangannya dari ketiga pria tampan itu.
__ADS_1
"Mereka bertiga sangat tampan. Meskipun setiap hari aku selalu melihat mereka, tapi aku merasa kalau mereka semakin tampan saja. Aku tidak pernah bosan memandangi mereka."