
Di istana tidak ada juru masak, makanan pokok semua Orc di sini adalah daging mentah.
Oleh karena itulah Uriel akhirnya membuat sebuah dapur kecil, di sebelah kamar tidurnya.
Dia hanya membuat kompor kecil, lalu memanggang ayam yang sudah dibersihkan, memotongnya menjadi irisan tipis, mencelupkannya ke dalam saus khusus yang dia buat sendiri, dan kemudian membungkusnya dengan sayuran segar.
"Hmmm.. Rasanya sangat enak!"
Lina makan dengan mulutnya yang penuh dengan minyak daging. Merasakan makanan yang begitu enak di dalam mulutnya, membuatnya serasa akan terbang!
Uriel membantunya menyeka noda minyak di sudut mulutnya.
"Makannya pelan-pelan saja. Semua ini untukmu. Tidak ada yang akan mengambilnya darimu."
Lalu Lina mengambil ayam bergulung sayuran, dan menyuapkannya untuk Uriel.
"Kamu juga makan!"
Uriel makan satu, dan kemudian dia menolak untuk makan lagi. Sebagai karnivora murni, dia tidak mengerti kelezatan dari sayuran.
Uriel telah memanggang ayam yang lebih besar. Dia tidak perlu mengiris-irisnya atau pun membungkusnya dengan sayuran. Dia bisa memakannya langsung dengan merobeknya dan mencelupkannya ke dalam saus.
"Rasanya memang enak!"
Tak lama setelah keduanya kenyang, Azka pun datang.
Begitu Azka memasuki ruangan, dia mencium bau barbekyu dan tidak bisa menahan dirinya untuk mengendus-endus aromanya.
"Makanan enak apa yang baru saja kamu makan? Kenapa kamu tidak mengundangku untuk bergabung?"
Uriel berkata, "Siapa suruh kamu datang terlambat?"
Azka juga sangat menyesal, "Aku tahu, seharusnya aku datang lebih awal untuk mencarimu!"
Lalu Uriel bertanya tentang tujuannya datang kemari.
"Ada hal apa yang membuatmu datang kemari?"
Azka berkata, "Lina kan baru pertama kalinya datang ke Kota Matahari, kamu pasti belum pernah melihat matahari terbit di sini, kan? Matahari terbit di Kota Matahari adalah yang paling indah. Besok pagi aku akan mengajakmu untuk melihatnya."
"Aku sudah melihatnya," jawab Lina.
Azka terkejut saat mendengar jawaban dari Lina, "Ah?"
Lalu Lina memegang tangan Uriel sambil berkata, "Aku menyaksikan matahari terbit di pagi ini bersama Uriel. Benar-benar sangat indah."
Rencana Azka untuk mengajak Lina melihat matahari terbit pun gagal.
Tapi dia masih belum mau menyerah.
"Maukah jika aku mengajakmu jalan-jalan di kota matahari? Sulit sekali untuk datang ke sini. Akan sangat sayang sekali jika tidak menyempatkan diri untuk melihat-lihat!"
Lina berbalik untuk melihat ke arah Uriel, "Bisakah kamu pergi?"
__ADS_1
Uriel tersenyum sambil berkata, "Kita pergi jika kamu ingin pergi."
Sebelum keluar, dengan sadar diri Lina membungkus tubuhnya sendiri dengan jubah bulu, hingga tubuh mungilnya terbungkus rapat dan hanya menunjukkan sepasang matanya yang bulat.
Melihat hal itu, Uriel menyentuh kepala gadis kecilnya.
"Di Kota Matahari, kamu tidak perlu membungkus dirimu begitu rapat."
Di sini adalah wilayahnya, dia juga yakin keamanan di sini bisa melindungi gadis kecilnya.
"Tidak masalah," kata Lina dengan lembut, "Bagaimanapun juga, udara sekarang sedang terasa sejuk, jika aku berada di balik jubah ini, pasti akan terasa cukup hangat."
Lalu Uriel mengangkat Lina dengan satu tangannya dan membopongnya.
Lina melingkarkan lengannya di leher Uriel dan menyentuh rambut putih panjangnya.
"Rambut Uriel terasa halus dan lembut. Rasanya sangat nyaman!"
Lina pun lanjut membelai-belai rambut Uriel.
Mendapat perlakuan seperti itu, Uriel memandang Lina tanpa daya, lalu berkata dengan bahasanya yang mengandung tipu muslihat, "Kamu nakal yah."
Mendengar itu, Lina pun tertawa cekikikan.
"Hihihi.."
Azka yang melihat interaksi kedekatan mereka berdua, ikut tertawa dan berkata bercanda, "Haha.. Kalian berdua terlihat sangat emosional. Aku sampai tidak bisa menahan rasa cemburu."
Lina menutupi mulutnya saat tertawa, kemudian berkata sambil tersenyum, "Kamu juga cepat-cepat cari pasangan, jadi tidak akan cemburu."
"Ah? Uriel menyuruhmu untuk mencari pasangan?" Tanya Lina yang terkejut.
"Ya," jawab Azka sambil melirik Uriel, lalu berkata lagi, "Kakak juga sudah mulai mengatur pernikahanku."
"Benarkah?" Lina tampak sangat tertarik, lalu dia bertanya lagi, "Apakah sudah merasa cocok dengan pilihannya?"
Pada saat ini Uriel berkata, "Keluarga telah memilihkan wanita yang baik untuknya, tapi dia tidak mau."
"Aku tidak menyukainya! Aku lebih suka wanita yang seperti Lina," kata Azka terus terang.
Kalimat ini sebenarnya mengandung maksud yang sangat jelas, tapi Lina tidak memahami maksud yang sebenarnya dari pihak lain, dia pun dengan menyesal berkata, "Sayangnya aku tidak punya saudara perempuan, jadi aku tidak bisa membantumu."
Saat Azka akan mengatakan sesuatu, terdengar suara Uriel yang lebih dulu berkata, "Ayo kita pergi sekarang. Kita harus kembali sebelum matahari terbenam."
Uriel membopong Lina keluar dari istana, dengan Azka yang ikut berjalan di samping mereka.
Di belakang mereka juga ada seorang penjaga yang mengikuti.
Mereka bertiga pun keluar untuk berjalan-jalan. Tentu saja Azka tidak akan membawa Lina ke kawasan kumuh yang ada di luar kota. Mereka pun berjalan-jalan di sekitar istana dan kemudian pergi menuju kedaerah tempat tinggal para pejabat dan bangsawan.
"Rumah-rumah di sini terlihat cukup rapi. Semuanya memiliki halaman dengan ukuran yang berbeda-beda. Ada tembok tinggi di luar halaman rumah mereka. Tapi aku sama sekali tidak bisa melihat apa yang ada di balik tembok itu."
Namun, jika dilihat dari spesifikasi dindingnya, bisa terlihat kalau lingkungan tempat tinggal di sini tentu jauh lebih baik daripada di Kota Kristal Merah.
__ADS_1
Setelah melewati rumah para bangsawan, mereka tiba di tempat tersibuk di pusat kota ini, yaitu kawasan bisnis.
Seluruh kawasan bisnis dibagi menjadi dua bagian, pasar dan Colosseum.
Azka mengajak Lina untuk pergi menuju ke pasar.
Variasi dan jumlah barang yang diperdagangkan di sini sangat besar. Lina bahkan melihat sejenis kain yang sangat ringan.
"Kain ini sangat halus saat disentuh, sedikit mirip seperti sutra, tetapi lebih ringan dan lebih transparan daripada sutra."
Azka melihat kalau Lina tertarik dengan hal yang semacam ini.
"Kain ini terbuat dari benang salju. Mudah robek. Fleksibilitas dan daya tahannya juga jauh lebih rendah daripada benang hiu, tapi harganya tidak murah, jadi hanya sedikit Orc yang membelinya."
Mahal dan tidak praktis, tidak heran jika tidak ada pembeli yang datang ke kios ini. Tapi sebenarnya kain itu benar-benar indah.
Setiap orang memiliki cinta akan keindahan, tidak terkecuali dengan Lina. Sebenaranya dia sedikit tertarik dengan benang salju itu.
"Meskipun tidak bisa untuk membuat pakaian, tapi tetap bisa untuk membuatnya menjadi kerudung atau syal."
Uriel berkata pada Lina, "Jika kamu suka, ambilah."
Lina merasa ragu-ragu.
"Tapi harganya mahal.."
Tujuh puluh kristal tak berwarna hanya untuk ditukar dengan gulungan benang salju yang tidak berguna, hal ini sedikit di luar anggarannya.
Ketika Lina masih merasa ragu-ragu, Uriel langsung mengeluarkan dua Batu Kristal hijau dan membeli dua gulungan kain salju.
Di depan umum, dia tidak bisa langsung menyimpan kain salju itu ke dalam ruang penyimpanan, jadi dia memberikannya kepada penjaga yang ada di belakangnya dan meminta mereka untuk membawanya.
Lina terkejut karena tiba-tiba saja Uriel membeli kain tersebut. Dia bertanya dengan heran, "Apakah kamu begitu kaya?"
Uriel menyentuh kepala gadis kecilnya dan berkata, "Aku akan memberikan apa pun yang kamu mau."
Setelah membeli kain salju, Uriel membelikan sepasang sepatu bot yang terbuat dari kulit rusa untuk Lina.
Sepatu bot pendek tersebut berwarna hitam, dengan tekstur permukaannya yang terasa halus. Ada beberapa batu kecil cerah yang dijahit di bagian atas sepatu bot, membuatnya terlihat berkelipan saat terkena cahaya.
Uriel memeriksa sol sepatunya.
"Sol pada sepatu ini agak tipis. Aku akan menjahit lagi sol tambahan di bagian dalamnya, saat nanti kita telah kembali. Pasti nanti akan terasa jauh lebih nyaman saat kamu pakai."
Mendengar itu, Lina pun mengangguk sambil berkata, "Ya. Terima kasih."
Saat ini ada hal yang mengejutkan Lina.
"Bentuk pot-pot ini sangat sederhana, kebanyakan bentuknya bulat dan montok. Malahan ada beberapa pot gerabah dengan bentuk yang unik, dan harganya juga relatif lebih mahal."
Lalu Lina berpikir lagi, "Tapi sulit untuk kembali kesini lagi, benang salju dan sepatu juga telah dibeli. Pot-pot ini juga lumayan."
Dengan sedikit melambaikan tangannya, Uriel pun membeli lima puluh pot.
__ADS_1
Saat melihat kalau ternyata Lina sangat menyukai pot ini, Uriel bertanya dengan suaranya yang rendah, "Apa kamu juga ingin belajar metode cara membuat pot tembikar seperti ini?"