
Melihat Wiro yang buru-buru keluar dari rumah, Lina segera bangkit dan mengejarnya. Ketika dia mencari dan memukan Wiro, Lina melihat dia sedang berjongkok di pintu masuk gua Serigala, sambil menghadap ke luar ke arah salju.
Dari arah belakang, Lina dapat melihat punggung Wiro yang gemetar dan juga bahunya yang naik turun.
Lina tidak ingin mendekatinya, dia tetap berdiri di situ, menatap punggungnya dalam diam.
Harga diri adalah yang utama bagi Wiro. Saat ini, dia tidak ingin orang lain melihat penampilannya yang rapuh.
Lina sudah menunggu untuk waktu yang lama, sampai akhirnya punggung Wiro tidak lagi bergetar. Lina mulai mengangkat kakinya yang sudah mati rasa, berjalan ke arahnya dan ikut duduk di samping kanannya.
Kini ekspresi Wiro telah kembali seperti biasanya. Jika bukan karena sudut matanya yang merah, yang mengungkapkan jejak tangisnya, mungkin Lina akan mengira dia hanya duduk di sini menikmati salju.
Wiro masih terus memegangi kalung gigi Serigala di tangannya, dan melihat ke arah beberapa patung es yang berjajar di luar gua. Dia sendiri juga tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan.
Semua jasad para Orc dari Suku Serigala yang tewas dalam pembantaian kemarin, ditempatkan di pintu masuk gua. Hujan salju yang menimpa jasad-jasad itu, membekukan semua jasad tersebut menjadi patung es.
Sudah sulit untuk mengetahui siapa yang mana.
Bahkan setelah beberapa hari, tubuh jasad-jasad itu tidak menunjukkan adanya tanda-tanda pembusukan.
Jenazah Sito Gering, juga ada di antara patung-patung itu.
Setelah waktu yang lama, Wiro akhirnya mulai memecah keheningan diantara mereka.
"Ayahku meninggal sejak aku masih kecil. Wanita yang melahirkanku, dia hanya tahu bagaimana menikmati hidupnya. Aku terpaksa mengikuti orang dewasa untuk belajar berburu. Namun, karena kurangnya pengalaman, kakiku secara tidak sengaja tergigit oleh binatang. Aku pun dibawa kembali pulang oleh mereka, tetapi, sesampainya aku dirumah, betina itu bahkan tidak melihat ke arahku sedikit pun. Dia masih terus bersenang-senang. Aku hanya bisa bersembunyi di kamarku, melihat lukaku yang semakin bernanah dari hari ke hari, seperti tubuh ayahku setelah kematiannya.."
Pada titik ini, dia tiba-tiba berhenti berbicara dan menertawakan dirinya sendiri.
"Hahahaha!"
Mata hijau gelapnya yang seperti lapisan es, kini terlihat seolah tak bernyawa.
Lina sudah terbiasa dengan Wiro yang arogan dan selalu membanggakan dirinya sendiri. Saat pertama kali melihat pandangan mata keputusasaannya ini, Lina merasa seolah-olah hati Wiro tertutupi oleh sesuatu.
Kemudian Lina memegang tangannya.
Merasakan mendapat sentuhan lembut dari seseorang, Wiro segera tersadar dari ingatan gelapnya. Dia melihat gadis kecil itu sedang menatapnya dengan cemas, yang membuat hatinya kini jadi terasa hangat. Dengan segera, suasana hatinya yang dingin dan suram terhalau begitu saja.
__ADS_1
Wiro mengulurkan tangan kanannya kebelakang punggung Lina dan memeluk pinggangnya, juga memberikan kecupan di kening dan wajahnya yang putih. Kemudian dia melanjutkan.
"Aku terluka dan tidak bisa pergi berburu lagi. Aku hanya bisa menghabiskan semua makanan yang tersisa di rumah. Saat itu, aku tinggal menunggu untuk mati karena kelaparan."
Lina yang masih terus menatap mata Wiro, tangan kirinya terulur untuk memeluk lehernya dan tangan kanannya mengusap-usap dagunya. Seperti Kelinci yang sedang menghibur Serigala.
Wiro membalas mengusap-usap dagu gadis kecil itu dengan tangan kirinya sambil melanjutkan.
"Kemudian Dukun tua itu mengetahui tentang lukaku. Dia menyembuhkan lukaku, memberiku makanan dan juga mengajariku bagaimana caranya berburu. Dia sudah seperti Guru dan ayahku sendiri. Hidupku telah banyak berubah karena dia, aku sangat menghormatinya. Aku juga sudah membuat keputusan. Ketika dia sudah terlalu tua untuk berjalan, kelak aku yang akan merawatnya dengan baik. Tetapi yang tidak aku duga, dia sudah pergi terlebih dulu ..."
Pada akhirnya, Wiro tidak bisa menahan matanya yang memerah lagi. Dia menundukkan kepalanya dan membenamkan wajahnya di leher Lina.
Lina merasakan lehernya kini telah basah.
Dia membelai punggung Wiro dengan lembut, seolah-olah dia sedang menyentuh seekor Anjing besar yang sedang terluka.
...........
Wiro dan para Orc dari klan Serigala Batu, sedang mendiskusikan rencana mereka untuk menghadapi suku Serigala di Sungai Hitam, dan baru kembali saat larut malam.
"Tidak terlalu baik." Jawab Wiro.
Mau bagaimanapun, hasilnya tetap tidak seperti yang diharapkan. Jumlah suku Sungai Hitam tiga kali lebih banyak daripada suku Serigala Batu. Pasti sulit menghadapinya.
Kemudian Lina berkata, "Kamu makan lah sesuatu dulu. Setelah itu, kami akan membantumu mencari jalan keluarnya."
Melihat penampilannya yang cantik, Wiro kemudian membungkuk dan segera mengecup bibirnya.
Tanpa menunggu reaksi Lina, dia segera menegangkan wajahnya kembali seperti biasanya, berpura-pura tidak terjadi apa-apa dan dengan cepat berbalik pergi.
Lina yang melihat ke arah punggung Wiro saat dia berlari pergi, tidak bisa menahan tawanya, "Kenapa orang ini begitu canggung?"
Setelah selesai makan malam, Wiro telah siap untuk kembali dan lanjut mendiskusikan tindakan pencegahan.
Tapi dengan segera, Lina berdiri dan menghalang-halangi jalannya, dengan kedua tangan kecilnya yang terentang ke samping kanan dan kiri, sambil wajahnya menengadah ke atas menatap Wiro.
"Mau ke mana kamu? Bukankah tadi kamu bilang kalau kita akan membahas strategi bersama-sama?"
__ADS_1
Wiro hanya berdiri diam dan kepalanya setengah menengadah ke atas memandang langit-langit gua, sambil kedua tangannya memeluk dirinya sendiri dan salah satu kakinya mengetuk-ngetuk lantai tak berirama.
Wiro tidak berniat untuk membiarkan partisipasi Lina dalam masalah ini. Dia belum pulih dari penyakitnya yang serius dan membutuhkan istirahat yang baik. Gadis itu tidak boleh terlalu banyak pikiran dan kelelahan.
Masih dengan gaya berdirinya yang angkuh, kemudian Wiro berkata, "Berkelahi adalah urusan laki-laki, gadis kecil sepertimu hanya perlu bersenang-senang di rumah saja."
Sebelum Lina sempat membalas ucapan Wiro, dengan cepat Uriel akhirnya membuka mulutnya terlebih dahulu, untuk sedikit berpartisipasi.
"Sebenarnya, kamu tidak akan kalah dalam permainan ini. Meskipun suku Sungai Hitam memiliki keunggulan dalam jumlah, tetapi mereka itu banyak dan beragam. Selama mereka terpecah, mereka juga bisa saling membunuh."
Wiro segera menatapnya dan berkata, "Lalu, apa yang selanjutnya perlu dilakukan?"
"Duduk dan mari kita bicarakan." Uriel mengajak Wiro untuk membahas strategi.
Uriel tidak pernah ingin ikut campur dalam urusan suku Serigala Batu, tetapi, kali ini suku Sungai Hitam sudah keterlaluan. Jika Lina tidak bertindak cerdas, dia pasti sudah dibawa pergi oleh para Orc suku Sungai Hitam.
Lagipula, jika ada yang berani menyakiti Lina, dia pasti tidak akan mengampuninya.
Setelah Wiro dan Lina duduk, Uriel mulai melanjutkan kembali ucapannya.
"Suku Sungai Hitam terdiri dari 14 suku dengan jumlah yang berbeda-beda. Di antara mereka, dua yang paling kuat adalah suku Serigala Air Hitam dan suku Mustang. Sejauh yang aku tahu, ada gesekan konstan antara suku Mustang dan suku Serigala Air Hitam dan hubungan di antara mereka juga tetap biasa-biasa saja. Jika kita bisa bersatu dengan suku Mustang untuk melawan suku Serigala Air Hitam, peluang keberhasilannya akan jauh lebih tinggi."
Lina bergumam dengan suara rendah, "Pemakan daging, pemakan rumput, keduanya adalah musuh alami. Akan aneh juga kalau hubungan mereka akan baik-baik saja."
Uriel mengusap kepala gadis kecilnya yang duduk di sebelahnya, sambil tersenyum menatap kearahnya dan melanjutkan lagi.
"Musim semi lalu, suku Mustang melahirkan anak-anak mereka. Yang mengakibatkan, selusin dari anak-anak mereka diculik oleh Orc Serigala yang rakus. Terjadi pertarungan sengit antara kedua belah pihak. Sayangnya, kekuatan mereka seimbang. Setelah bertarung lama, hasilnya tetap tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah. Pada akhirnya, orang-orang dari suku Mustang hanya bisa menahan kebencian mereka."
Uriel lanjut berkata, "Musim dingin akan segera berakhir dan suku Mustang pasti akan memiliki anak lagi. Menurutmu, apa mereka tidak akan khawatir kalau-kalau Orc Serigala Air Hitam akan mengulangi lagi trik lama mereka, dengan menculik anak-anak?"
Sudah pasti, suku Mustang tidak akan membiarkan klan serigala mendekati anak-anak mereka.
Wiro berpikir sejenak, kemudian dia berkata dengan ekspresi bingungnya.
"Strategi yang kamu katakan memang sangat bagus. Tapi ada masalah, bagaimana caranya kita bisa membuat suku Mustang setuju untuk bekerja sama dengan kita?"
Meskipun suku Mustang membenci Serigala Air Hitam, mereka mungkin juga tidak mempercayai Serigala Batu. Bagaimanapun juga, Serigala Batu juga Serigala. Dalam pandangan para Orc suku Mustang, serigala adalah pemangsa yang saat ini mereka benci.
__ADS_1