Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 47 - Makan Kenyang


__ADS_3

"CEKRAT!"


"GLUDAK!"


Dalam keadaannya yang setengah sadar, Lina seperti mendengar suara benturan yang keras.


Dia ingin bangun, tetapi dia tidak bisa membuka matanya.


Itu adalah suara pintu ruang bawah tanah tempat Lina dan para betina bersembunyi, yang dibuka secara paksa dari luar.


Tak lama kemudian, samar-samar, dia sepertinya mendengar seseorang memanggil namanya dengan sangat lembut, di telinganya.


"Lina.."


"Siapa yang memanggilku?" Lina hanya bisa menanggapinya melalui suara hatinya.


Lina mulai merasa suara itu sangat familiar, dia berpikir lama dan akhirnya bisa mengingat kalau itu adalah suara Uriel.


"Apa aku sedang bermimpi? Jika memang demikian, aku ingin terus melanjutkan mimpiku ini."


...........


Meli datang berkunjung ke rumah Lina, bersama dengan ke sembilan anaknya. Anak-anak Serigala yang awalnya telanjang, kini mereka telah memiliki bulu-bulu yang lembut.


Mereka berjalan mengikuti ibu mereka, terhuyung-huyung berjalan masuk ke rumah. Sangat menggemaskan.


Uriel segera pergi ke ruang bawah tanah dan mengambil sekantong daging kering untuk anak-anak Serigala itu.


Daging kering ini sebelumnya telah diasinkan dengan bumbu khusus yang dibuat oleh Lina. Rasanya sangat harum, tapi agak keras.


Tapi anak-anak serigala itu makan dengan senang hati.


Meli melihat ke arah kamar tidur Lina dan bertanya dengan cemas, "Apa Lina masih belum juga bangun?"


Uriel hanya menggelengkan kepalanya sambil sedikit menunduk.


Meli mendesah, "Sudah tiga hari.. Kenapa dia belum juga bangun? Kalau saja sang Dukun tua itu ada. Dia pasti tahu apa yang harus dilakukan."


Namun, kini Dokter penyihir tua itu telah pergi, untuk selama lamanya.


Dengan luka di seluruh tubuhnya yang tercabik-cabik.


Akhir-akhir ini, Wiro sangat sibuk dengan urusan suku Serigala. Dia mengumpulkan para Orc yang tersisa dari suku Serigala Batu, untuk membersihkan darah-darah yang ada di gua dan melihat siapa saja yang telah menjadi korban. Mereka juga menghitung jumlah biji-bijian yang masih tersisa di suku dan masih ada banyak hal lain yang harus dilakukan.


Wiro terlalu sibuk selama tiga hari ini, hingga tidak ada waktu baginya untuk beristirahat.


Ketika dia sampai di rumah, seluruh tubuhnya sudah terasa sangat lelah.


Meli dan anak-anaknya sudah pulang ke rumah mereka.


Saat ini, Uriel sedang menyuapi Lina. Dia menyuapkan buah yang sudah dilembutkan, ke mulut Lina. 


Lina tidak bisa makan, tapi Uriel juga tidak bisa membiarkan Lina kelaparan. Kemudian Uriel teringat akan buah harum segar.


"Buah ini memiliki efek tonik yang baik pada tubuh wanita, seharusnya bisa membantu penyembuhan gadis kecilku kan?" Tanya Uriel dalam hati.


Selama tiga hari ini, Uriel selalu menyuapi Lina dengan buah harum segar.

__ADS_1


Wiro masuk dan memandangi wajah Lina untuk waktu yang lama.


Kemudian, tiba-tiba dia bertanya, "Apa dia akan tidur selamanya dan tidak akan pernah bangun lagi?"


Sejenak, tangan uriel yang sedang menyuapi Lina bergetar. Setelah menenangkan dirinya, lalu dia berkata dengan sangat tegas, "Dia harus bisa bangun!"


Dia berkata seperti itu, apakah untuk Wiro atau untuk dirinya sendiri? Entahlah. Hanya Uriel yang tahu.


Wiro berhenti berbicara. Dia berjalan mendekat dan memberikan ciuman ke kening Lina, lalu mengusap pipi gadis itu menggunakan punggung tangannya.


"Lina. Bangun lah."


...........


Lina masih belum juga terbangun dari tidurnya, sampai keesokan paginya.


Lina merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya.


Uriel yang sedang tidur di sampingnya juga segera terbangun.


Dia segera menyentuh kepala gadis kecilnya itu, mengusap-usapnya dengan sangat lembut dan dengan gugup bertanya, "Bagaimana keadaanmu..? Apa ada yang salah dengan tubuhmu..?"


Setelah waktu yang lama, Lina merasakan sakit di kepalanya mulai berkurang, dia kemudian bertanya dengan suara serak, "Di mana ini?"


"Ini rumah kita, tidakkah kamu ingat?"


Kemudian Lina memutar kepalanya melihat ke sekeliling, lalu menggelengkan kepalanya, mengerutkan keningnya dan berkata, "Aku merasa sepertinya aku sudah melupakan banyak hal ..."


"Apa kamu ingat denganku?" Uriel bertanya dengan cepat.


Lina menatap Uriel untuk waktu yang lama.


"Apa dia benar-benar sudah lupa ingatan?!" Pikir Uriel yang mulai cemas.


Saat Uriel mulai semakin merasa sangat cemas. Tiba-tiba Lina tertawa, "Hahaha.. Tentu saja aku ingat kamu, kamu itu adalah pasanganku, kita sudah mengikat janji sebagai pasangan."


Uriel kini merasa sangat lega. Dia kemudian mencubit pipi gadis kecilnya yang kenyal itu dengan lembut, sambil tersenyum dan berkata tanpa daya, "Dasar gadis iseng.."


Mendengar berita tentang Lina yang sudah bangun, Wiro segera berlari untuk kembali kerumah.


Sesampainya di pintu rumah Lina, Wiro melihat Lina sedang duduk dengan tenang di tempat tidur. Dia segera mengambil langkah dan bergegas untuk mendekatinya.


Dengan segera Wiro duduk di samping Lina dan membenamkan wajahnya di leher gadis kecil itu, nadanya masih sama seperti biasanya. Arogan.


"Akhirnya kamu bangun juga! Jika kamu tidak bangun, aku akan,"


Sambil pandangannya ke bawah, ke arah kepala Wiro yang masih ada di lehernya. Lina kemudian mengerutkan alisnya dan bertanya, "Akan apa?"


"Aku akan k*w*n denganmu!" Sahut Wiro cepat.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


[[[ Gubrak. Owalah.. wiroo wiroo..!! ]]]


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Lina, "....."

__ADS_1


Wajah Lina langsung berubah merah.


Lina meletakkan lengannya di leher Wiro, sambil telapak tangannya menyentuh rambut peraknya yang pendek, dan berkata, "Dasar Orc Serigala gila!"


Kemudian Uriel juga datang, menundukkan kepalanya dan memberikan ciuman di wajah gadis kecilnya.


"Cup."


"Aku sudah masak sup daging. Ayo kita makan selagi masih panas."


Selama beberapa hari terakhir ini, Uriel dan Wiro yang selalu khawatir dengan keamanan Lina, mereka hampir tidak memikirkan ingin makan apa. Ketika mereka lapar, mereka akan makan daging kering. Ketika mereka haus, mereka akan memasukan bola salju ke dalam mulut mereka.


Sekarang Lina sudah bangun, mereka akhirnya bisa bersantai, tetapi kini, dengan nafsu makan mereka yang besar tentunya.


Keterampilan memasak Uriel semakin baik dan sup daging juga dimasak sendiri olehnya.


Ketiganya segera menghabiskan panci besar penuh dengan sup daging.


Lina duduk sambil mengusap perut kecilnya yang menggembung dan menghela nafas dengan puas.


"Hhhhh.. Untungnya mereka tidak mengambil panci kita, kalau tidak, kita tidak akan bisa makan sup yang sangat enak seperti ini!"


Panci itu awalnya ditempatkan di sudut dapur. Ketika Uriel dan Wiro kembali, mereka melihatnya sudah terbalik di tanah, tertutup oleh debu.


"Mereka tidak tahu apa itu atau bagaimana cara menggunakannya, jadi mereka tidak mengambilnya," kata Uriel.


Jika sampai para Orc Sungai Hitam serakah itu tahu betapa saktinya panci ini, sudah pasti mereka akan mengambilnya.


Tiba-tiba Wiro berkata, "Besok kami harus turun gunung."


"Hah?!" Lina terkejut, "Apa yang akan kamu lakukan?"


"Tidak ada cukup makanan untuk suku ini." Sahut Wiro.


Setelah tragedi berdarah di Gunung Batu, semua makanan dan kulit binatang milik klan Serigala Batu telah dijarah. Hanya ruang bawah tanah milik keluarga Lina yang masih memiliki makanan, tetapi jumlah makanan yang mereka miliki, tidak cukup untuk bisa menyokong lebih dari dua ratus Orc untuk mereka makan dan minum.


Musim dingin juga belum berakhir, mereka harus menemukan cukup makanan untuk melewati musim dingin ini. Jika tidak, sudah pasti mereka akan mati kelaparan.


Uriel memandang ke arah Wiro dan bertanya, "Apa kamu akan turun gunung untuk berburu? Gunung-gunung masih tertutup salju, buruan di hutan bersembunyi dan berhibernasi. Sangat sulit bagimu untuk menangkap mangsa. Bahkan jika kamu menangkap beberapa mangsa sekaligus, masih tidak cukup bagimu untuk melewati musim dingin ini."


"Aku tahu. Jadi, aku tidak akan berburu. Aku akan mengambil!" Sahut Wiro mantap.


"Siapa yang akan kamu rampok?" Lina bertanya.


"Kami akan mengambil, dari orang yang sudah merampok kami."


"Apa kamu akan merampok di Sungai Hitam? Tetapi mereka mempunyai banyak orang. Kamu tidak harus melawan mereka. Itu terlalu berbahaya." Tanya Lina dengan cemas.


"Tidak peduli seberapa berbahayanya itu, aku harus merebut kembali makanan kami! Bukan hanya itu saja, aku juga akan membalas dendam pada mereka! Mereka telah membunuh begitu banyak orang dari klan Serigala Batu! Aku tidak bisa membiarkan mereka pergi begitu saja!" Wiro berkata penuh dengan dendam.


Tiba-tiba Lina teringat akan kata-kata terakhir, Sito Gering. Hatinya mulai merasa sedih.


Tapi, semua itu sudah takdir.


Memang mereka harus membalas dendam. Wiro juga tidak ingin pengorbanan mereka yang telah tewas jadi sia-sia.


Kemudian Lina melepaskan kalung gigi serigala yang melingkar di lehernya dan menyerahkannya kepada Wiro, "Dukun Sito memintaku untuk memberikan kalung ini padamu."

__ADS_1


Tangan Wiro gemetar saat mengambil dan menggenggam erat kalung gigi Serigala itu, sudut matanya terlihat sedikit memerah.


Dengan cepat dia berdiri dan berjalan keluar rumah, dalam diam.


__ADS_2