Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 159 - Tunjukan Sedikit Cinta


__ADS_3

Saat ini Lina sedang berdiri di lereng bukit sambil berjinjit dan meregangkan lehernya, untuk melihat ke arah Kota Matahari.


Saat sosok Uriel mulai bisa terlihat, dia segera berlari menuruni bukit dengan penuh semangat dan dengan cepat berlari menuju ke arahnya.


Uriel pun merentangkan tangannya dan dengan mantap segera menangkap gadis kecil mungilnya.


Lalu Lina memeluk leher Uriel sambil berkata, "Akhirnya kamu datang juga."


Uriel pun berkata sambil tersenyum, "Maaf, sudah membuatmu menunggu."


"Azka tidak melukaimu, kan?" Tanya Lina dengan cemas.


"Tidak," Lalu Uriel berjalan mendekati Leon sambil membopong Lina, kemudia dia berkata kepada Leon, "Terima kasih sudah membantuku menjaga Lina."


Jiika saja saat pertarungan tadi Lina masih berada di sekitar Uriel, meskipun jika mereka juga berhasil keluar dari pengepungan, mereka pasti akan terluka. Selain itu, jika Lina tidak sengaja sampai terluka, hal itu pasti akan lebih buruk lagi.


Lina menongolkan kepalanya dari lengan Uriel dan ikut berkata kepada Leon, "Terima kasih."


Leon pun melirik mereka dan berkata, "Aku sudah membantumu lebih dari sekali. Jika kamu benar-benar ingin berterima kasih kepadaku, ucapkanlah dengan menunjukkan lebih sedikit cinta di depanku."


Lina, "....."


"Huh! Rasa terima kasihku kepadanya, baru saja pecah berkeping-keping!"


Melihat ada ekspresi aneh di wajah Lina, Leon pun mengangkat alisnya dan bertanya, "Kenapa kamu malah menunjukkan ekspresi seperti itu?"


Lina pun dengan tulus menyarankan sesuatu kepada Leon, "Saat kamu sedang bersama kekasihmu, kamu harus lebih sedikit berbicara tapi lebih banyak dalam berbuat."


"Memangnya kenapa?" Tanya Leon dengan heran dan sedikit bingung.


"Karena mulutmu. Selama kamu membuka mulutmu, hanya dalam hitungan menit saja, seorang teman pun pasti akan langsung menjadi musuhmu."


"Soal itu.." Leon tampak bingung akan berkata apa.


Uriel hanya memandang mereka sambil tersenyum, lalu melambaikan tangannya kepada Nano.


"Mumpung sekarang masih pagi, mari kita segera pergi dan mencari tempat untuk beristirahat sebelum gelap."


Nano membawa sembilan belas laki-laki bersamanya, yang kesemuanya adalah sesama anggota dari Kamar Dagang.


Kini semuanya telah berubah wujud kebentuk binatang mereka masing, sambil membawa tas kulit besar dan kecil di punggung mereka.


Tas-tas yang mereka bawa terlihat bengkak, tidak tahu apa yang ada di dalamnya.


Uriel juga merubah wujudnya menjadi Harimau putih dan membawa Lina di punggungnya dan berjalan paling depan. Nano dan teman-temannya juga mengikuti Harimau putih dengan membawa barang-barang bawaan mereka masing-masing.


Sedangkan Leon, dia merentangkan sayapnya yang lebar dan terbang tinggi di langit.

__ADS_1


Lina melihat ke belakang ke arah Nano yang ada di belakangnya, lalu dia menundukkan kepalanya untuk mendekatkan ke telinga si Harimau putih yang sedang dia tunggangi dan bertanya dengan berbisik, karena rasa ingin tahunya, "Bagaimana ceritanya sampai kamu bisa membawa orang-orang dari Kamar Dagang, untuk ikut kita ke luar kota?"


“Saat aku pergi ke Kamar Dagang untuk memeriksa tagihan, Nano sangat tertarik dengan buah-buahan dan sayuran yang kita tanam. Dia juga ingin membeli kebun sayur kita, tapi aku menolaknya, mereka pun menyerah dan menandatangani surat perjanjian pasokan jangka panjang dengan kita. Tujuanku membawa mereka kembali bersama kita, adalah untuk menunjukkan jalan kepada mereka. Jika mereka ingin mengambil barang di Gunung Batu, mereka bisa langsung datang sendiri kesana." Ucap si Harimau putih yang tak lain dan tak bukan adalah Uriel.


Mendengar itu, Lina pun berpikir, "Jika bisnis jangka panjang ini bisa berkembang, maka jalan dari Gunung Batu ke Kota Matahari akan berkembang seperti Jalur Sutra di dunia orc? Tidak, jalurnya harus disebut Jalur Sayur! Hihihi.."


Saat Lina memikirkan hal itu, dia pun merasa geli sendiri sambil menutupi mulutnya.


Perjalanan mereka panjang dan membosankan.


Saat Lina tidak melakukan apa-apa dan mulai merasa bosan, dia pun mengambil panduan alkimia dan mulai membukanya.


Kata-kata di dalamnya telah disederhanakan, bahkan terlihat sangat sederhana, tapi ada terlalu banyak istilah profesional di dalamnya.


Setelah membaca dua halaman, Lina mulai merasa pusing.


Dia pun berbisik, "Bubu!"


Suara dalam benak Lina pun menjawab, "Ya?"


Lalu Lina bertanya, "Aku sudah membeli barang-barang di mal kristal, apa kamu juga menyediakan layanan bantuan?"


Suara dalam benak Lina hanya terdiam karena bingung.


Dia belum pernah melihat tuan rumah yang meminta layanan bantuan. Butuh beberapa saat baginya untuk kembali ke kesadarannya dan berkata dengan ragu, "Seharusnya begitu."


Mendengar itu, suara dalam benak Lina pun terkejut, kemudian berkata, "Kata di dalam buku ini semuanya adalah kata yang telah disederhanakan, jadi seharusnya anda sangat bisa memahaminya."


"Memang aku bisa memahaminya, tapi aku tidak mengerti artinya," lalu Lina menunjuk sebuah kata, "Misalnya ini, aku pernah melihat pot besi, pot batu, pot stainless steel, tapi aku bingung dengan maksudnya wadah. Wadah apa itu sebenarnya?"


"Saat anda tinggal di kota binatang selama tiga hari tiga malam. Setelah berhasil menyelesaikan tugas, bukankah anda telah diberi hadiah satu set cawan lebur?"


Mendengar itu, Lina pun tercengang.


Terlalu banyak hal yang sudah terjadi selama beberapa hari ini. Setelah tugas selesai, hadiah itu secara otomatis langsung diberikan kepadanya. Pada saat itu dia tidak mempedulikan tentang itu, jadi dia langsung memasukkannya kedalam ruang penyimpanan hingga dia lupa tentang hal itu.


Setelah teringat, Lina segera mengeluarkan satu set cawan lebur dari dalam ruang penyimpanan.


"Satu setnya ada empat, dengan tutup dan sendoknya, bahannya terbuat dari emas dan kadarnya terlihat sangat tinggi. Jika semua ini bisa dijual di dunia ini, pasti bisa akan bisa menghasilkan banyak uang!" Pikir Lina.


...........


Setelah mendengarkan semua yang di katakan oleh Bubu, Lina mulai bisa memahami sesuatu, "Aku merasa kalau alkimia sedikit mirip dengan pembuatan obat. Namun, jika kita ingin mempelajarinya dengan cermat, kita akan menemukan bahwa ruang lingkup alkimia lebih luas daripada pembuatan obat-obatan biasa. Selain itu, alkimia dapat memurnikan logam, mengubah struktur suatu zat, dan menghasilkan banyak karya magis melalui berbagai reaksi kimia."


Di dunia alkimia, tidak ada yang tidak bisa dilakukan. Bahkan jika Lina ingin membuat meriam, dia pasti akan bisa membuatnya!


Tapi tentu saja premisnya adalah, Lina haruslah menjadi seorang ahli dibidang alkimia.

__ADS_1


...........


Saat ini, diam-diam Lina tengah membuka buku manual alkimia lagi.


Butuh lima hari baginya, untuk bisa membaca dan memahami seluruh panduan.


Kemudian Lina memutuskan untuk melakukan eksperimen kecil-kecilan, untuk menguji bagaimana hasilnya.


Untuk menghindari adanya kecelakaan, Lina memanfaatkan kesempatan saat semua orang sedang istirahat makan siang.


Lalu Lina berlari sendirian menuju ke tempat terpencil, mengeluarkan cawan lebur dan mulai untuk meracik.


"Menurut resep di sampel di buku petunjuk, pertama-tama aku harus menuangkan air, lalu tambahkan batu kecil, tambahkan sepotong kecil tulang binatang, tambahkan dua serangga mati, dan kemudian memasukan secuil lumpur hitam ke dalamnya." Gumam Lina.


Lalu Lina menututup cawan tersebut, mundur dua langkah, dan selalu menatap cawan tersebut tanpa berkedip.


Pada saat ini, Uriel sudah selesai memanggang ayam. Dia melihat ke belakangnya, tapi tidak melihat ada Lina di belakangnya.


"Lina?"


Dia pun segera bertanya kepada orang-orang yang sedang bersamanya, "Apakah ada di antara kalian yang melihat Lina?"


Mendengar itu, Nano pun menunjuk ke arah sungai.


"Aku baru saja melihatnya pergi ke sana seorang diri."


Semua orang mengira dia hanyalah seorang gadis kecil yang suka bermain dan tidak terlalu memperhatikannya. Selain itu, dia tidak pergi jauh dan mereka masih bisa mendengar sedikit gerakan dari Lina.


Leon sudah sejak tadi selalu menatap ke arah ayam panggang. Saat dia mengulurkan tangannya hendak mengambil ayam panggang yang ada di hadapannya, Uriel segera menatapnya sambil berkata, "Jangan bergerak. Tunggu sampai Lina kembali."


"Yah," sambil tersenyum kecewa, dia pun segera menarik kembali tangannya, kemudian berkata, "Lebih baik kamu egera pergi mencari Lina. Barbekyu akan terasa tidak enak bila sudah dingin."


Setelah Lron berkata seperti itu, Uriel pun segera bangkit dari duduknya untuk mencari Lina.


Tapi, baru saja Uriel berjalan dua langkah, tiba-tiba saja terdengar suara ledakan keras!


"DUAAARRR!"


"Suara apa itu??" Tanya salah satu Orc anggota Kamar Dagang.


"Sepertinya ada yang meledak!" Jawab salah satu dari mereka juga.


"Iya, sepertinya itu suara ledakan!" Ucap salah satu Orc anggota Kamar Dagang yang lainnya.


Pada saat ini Uriel mengerutkan keningnya dan mulai merasa sangat khawatir.


"Asal suara ledakan itu berasal dari arah di mana Lina berada!"

__ADS_1


__ADS_2