Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 187 - Kabur


__ADS_3

Mendengar ada yang berseru padanya, Saga pun menoleh kebelakang dan menatap ke arah sumber suara, lalu bertanya, "Siapa kamu?"


"Nama saya, Yayan. Saya dikirim oleh Ketua Handi untuk melayani anda." Kata orang itu.


"Aku tidak perlu dilayani. Kembalilah." Kata Saga dengan dingin.


Tapi, Yayan yang tetap tidak ingin pergi pun berkata, "Saya harus melaksanakan perintah Ketua Handi, tolong jangan usir saya."


Menghadapi Yayan yang bersikeras tidak mau pergi, akhirnya, Saga lah yang memutuskan untuk mengabaikannya dan pergi.


Tapi, ke mana pun Saga pergi, Yayan terus mengikutinya dan salalu berada di belakangnya, seolah-olah tidak ingin sampai kehilangan Saga.


"Bagaimana aku bisa pergi dari tempat ini tanpa ketahuan?!" Pikir Saga.


Saga yang saat ini sudah mulai merasa geram, sangat ingin sekali menghempaskan orang ini dengan ekornya.


Namun, ada banyak pasukan Iblis yang saat ini sedang bolak-balik berpatroli.


Tentu saja Saga tidak ingin bertindak gegabah. Dia pun memikirkan cara supaya bisa menjauhkan Yayan.


"Aku lapar. Carikan aku makanan." Kata Saga.


"Baiklah, saya akan mencarikannya," kata Yayan. Setelah berkata seperti itu, dia pun segera menghentikan beberapa penjaga yang sedang berpatroli dan berkata, "Kalian segera bawakan makanan segar kemari."


"Baik." Kata para beberapa penjaga serempak, yang saat ini sedang berpatroli dan berjalan di dekat Yayan. Setelah itu, para pasukan itu pun segera berlari menuju ke mercusuar, sedangkan Yayan masih mengikuti Saga.


Tak lama kemudian, para penjaga itu membawa Ikan dan Udang segar, dan dengan hormat meletakkannya di depan Saga.


Lalu terdengar suara Yayan yang berkata, "Ini adalah Ikan dan Udang yang baru saja ditangkap hari ini, semuanya masih segar. Anda bisa memakannya tanpa perlu khawatir."


Saga, "....."


"Apa aku benar-benar tidak bisa membuatnya menjauh dariku?!" Pikir Saga.


Setelah Saga selesai memakan Ikan dan Udang, dia pun melanjutkan lagi berkeliling di tempat ini. Tentu saja masih bersama dengan Yayan yang sampai sekarang masih terus mengikuti Saga, dan dengan hangat sedang memperkenalkan beberapa tempat kepada Saga.


...........


Pada saat ini, Ubur-ubur raksasa yang berada di atas danau, tubuhnya kini menjadi semakin terang. Tubuh tembus pandangnya terlihat berkilauan, yang menandakan kalau saat ini hari sudah mulai gelap.


Lalu terdengar suara Yayan yang berkata, "Sudah gelap. Lebih baik anda segera kembali ke kamar anda, karena nanti malam Ketua Handi akan datang untuk makan malam dengan anda."


Tapi, Saga sama sekali tidak ingin kembali. Dia melangkahkan kakinya dan berjalan menuju ke hutan.


“Hutan akan sangat berbahaya saat di malam hari, bahkan untuk klan Iblis. Sebaiknya anda jangan ke sana. Akan lebih baik jika anda segera kembali ke kamar anda. Jika anda sampai tidak bertemu dengan Ketua Handi, dia pasti akan sangat marah." Kata Handi yang mencoba untuk mencegah supaya Saga tidak pergi ke hutan.


Tapi, Saga semakin mempercepat langkah kakinya, tanpa pernah sekalipun menoleh kearah Yayan.


"Hari ini adalah hari terakhirku. Aku harus segera pergi dari sini!" Batin Saga.


Yayan yang saat ini sama sekali tidak bisa menghentikan Saga, dia pun segera meminta bantuan kepada para penjaga yang saat ini sedang berjalan dan berpatroli di dekatnya, "Bantu aku untuk menghentikan keponakan Ketua Handi!"


Mendengar itu, para penjaga itu pun segera menghentikan langkah mereka.


"Ada apa?" Tanya salah satu dari penjaga yang mengenal Yayan.


Yayan yang saat ini mulai merasa cemas pun berkata, "Perintah dari Ketua Handi, supaya jangan sampai Saga pergi dari sini. Segeralah kalian hentikan dia!"

__ADS_1


Begitu para penjaga mendengar kalau itu adalah perintah dari Ketua mereka, para penjaga itu pun segera bergerak dan mencoba untuk menghadang Saga.


Saga yang saat ini telah di hadang, menatap mereka tanpa ekspresi dan berkata dengan dingin, "Aku hanya ingin berjalan-jalan, tidak akan pergi kemana-mana. Kalian semua menyingkir saja, dan jangan membuat keributan."


Lalu terdengar Yayan yang berkata dengan tergesa-gesa, "Anda boleh keluar dari hutan, tapi tidak boleh terlalu jauh dari pintu masuk ..."


Tapi dia segera menyesalinya, begitu dia selesai mengatakan itu.


"Kenapa aku malahan mengatakan hal seperti ini?!" Pikir Yayan.


Kemudian, dengan merasa bersalah, dia pun menatap Saga yang ekspresinya terlihat sangat dingin, lalu berkata, "Tidak ada lagi yang bisa dilihat di hutan, selain hanya ada beberapa pohon. Sebaiknya anda ikut kembali dengan saya."


Pada saat ini, Saga sedang melihat ke sekelilingnya.


"Para pasukan iblis ini telah mengepungku dari berbagai arah. Jika aku tetap memaksa, peluangku untuk menang hampir tidak ada. Tapi, jika aku menyerah di sini, itu sama saja dengan membuang-buang kesempatan terakhirku. Selain itu, jika aku sampai gagal dan tertangkap lagi, paman Handi pasti akan semakin waspada. Hal itu akan membuatku lebih sulit lagi untuk bisa pergi dari sini." Pikir Saga.


Setelah mempertimbangkan semuanya dengan cermat, akhirnya Saga pun membuat keputusan.


"Kita kembali saja."


Mendengar apa yang Saga katakan, Yayan pun merasa sangat senang dan berkata, "Akhirnya anda memutuskan untuk kembali. Baguslah!"


Melihat Saga yang telah berjalan untuk kembali, para penjaga yang sebelumnya mengepung Saga pun segera membubarkan diri mereka.


Tepat pada saat ini, tiba-tiba saja Saga berbalik dan bergegas berlari dengan secepat kilat menuju ke dalam hutan!


"DRAP! DRAP! WUSSSH!"


Melihat hal ini, wajah Yayan pun segera berubah.


"Tidak! Kembalilah!" Seru Yayan kepada Saga.


Pada saat ini, pohon-pohon yang semula diam tak bergerak, tiba-tiba saja semua pohon itu tampak hidup, dan mendekati Saga.


Jalan yang awalnya kosong, kini telah terhalang oleh pepohonan.


Bunga berwarna ungu tua pada masing-masing pohon, kini seolah sedang berlomba-lomba untuk bermekaran, untuk segera menyebarkan aroma yang mematikan saraf.


"PUFF! PUFF! PUFF!"


Saga yang terkejut dan sama sekali tidak mengetahui tentang hal ini, tanpa sadar telah menghirup aroma yang dikeluarkan oleh bunga-bunga itu. Dan dengan cepat, kini tubuhnya telah ambruk ketanah karena kehilangan daya dan sama sekali tidak bisa dia gerakkan.


"BRUK!"


Melihat hal ini, membuat Yayan merasa sangat cemas saat melihat Saga yang sudah tak berdaya tergeletak ditanah, yang kapan saja bisa segera menjadi hidangan para tanaman kanibal.


"Gawat!"


Ketika dia hendak bergegas untuk menghalangi tanaman-tanaman itu supaya tidak melukai Saga, tiba-tiba saja dia melihat sosok yang dikenalnya sedang bergegas menuju ke hutan dengan sangat cepat!


"Itu ..." Gumam Yayan.


"WUSSSHHHH!"


Begitu sosok itu tiba, para tanaman kanibal itu pun segera bisa merasakan adanya bahaya. Mereka semua segera berhamburan, untuk bisa segera menuju kepada sosok itu!


"BUK BRAK! BUK BRAK! BUK BRAK!" Suara dari pohon-pohon yang saat ini sedang berlompatan.

__ADS_1


Sebelum para pohon kanibal sempat mendekati sosok itu, sosok itu segera mengangkat tangannya, dan terlihatlah gumpalan udara yang bercampur dengan debu dan pasir, yang membentuk seperti bilah yang tajam. Tak lama kemudian, gumpalan udara itu pun segera melesat dan membelah beberapa pohon kanibal yang ganas itu, hingga menjadi berkeping-keping.


"CRAK! CRAK! CRAK! CRAK!"


Pohon-pohon kanibal itu bisa bersuara seperti makhluk hidup, dan mengeluarkan tangisan sedih dan melengking.


"KIIIIKKHH!"


Hal itu membuat banyak dari pohon-pohon itu sangat ketakutan dan buru-buru mundur untuk memberi jalan.


Sosok dingin itu pun berjalan mendekati Saga yang tergeletak di tanah, menatapnya, dan bertanya dengan suaranya yang terdengar dalam, "Aku sudah memberikanmu waktu satu hari untuk mempertimbangkannya. Apakah seperti ini caramu menjawabnya?"


Saga yang saat ini masih tergeletak di tanah, muka pucatnya kini semakin terlihat pucat.


"Sialan! Jelas-jelas aku masih sadar dan semua inderaku masih berfungsi dengan sangat baik. Tapi kenapa aku tidak bisa menggerakkan tubuhku?!" Batin Saga.


"Aku sangat kecewa padamu." Kata Handi yang lanjut berkata lagi.


...........


Kini Saga telah dibawa kembali ke Mercusuar oleh Handi.


Meskipun jendela kamar Saga telah dirusak, tapi sosok dingin itu sama sekali tidak berniat untuk memperbaikinya.


Pada saat ini, dia sedang menatap Saga yang kini tergeletak di tempat tidur.


"Aku tahu, kamu bersikeras pergi dari sini karena pasanganmu. Aku juga laki-laki. Aku juga mengerti, para laki-laki tidak bisa meninggalkan pasangannya untuk waktu yang lama. Lagi pula, kini kamu telah terikat oleh kontrak pasanganmu." Kata Handi.


Saga bisa merasakan saat ini tangan dan kakinya sudah bisa digerakkan, tapi masih belum memiliki kekuatan untuk mengangkat tubuhnya sendiri.


"Jangankan lari. Duduk saja aku tak memiliki daya." Batin Saga.


Lalu, terdengar suara Handi yang saat ini sedang berkata kepada Yayan yang ada di belakangnya, "Bawa kemari."


"Baik." Setelah berkata seperti itu, Yayan pun segera mengeluarkan semangkuk cairan dengan warna yang sangat aneh dan dengan hormat menyerahkannya kepada Handi.


"Silahkan Ketua!"


Handi pun segera mengambil mangkuk itu, dan mendekatkannya kepada Saga sambil berkata, "Ini adalah ramuan air melupakan cinta. Setelah kamu meminum ini, kamu bisa memutuskan kontrak pasanganmu dengan betina itu. Mulai sekarang, kamu akan bebas."


Lina yang hingga saat ini masih terus bersembunyi di balik jubah Saga, langsung kaget saat mendengar apa yang Handi katakan.


"Bagaimana bisa sosok dingin itu sampai bisa memiliki ramuan air melupakan cinta?!" Batin Lina.


Saat melihat sosok dingin itu sedang memaksa supaya Saga meminum ramuan itu, lina pun mencoba untuk keluar dari balik jubah Saga.


Tapi, Tampaknya Saga tahu apa yang akan Lina lakukan.


Tiba-tiba saja Saga mengangkat tangannya dan menekannya di dada, untuk mencegah supaya Lina tidak melongok keluar dari balik jubah Saga.


"Jika Lina sampai keluar di saat-saat seperti ini, paman pasti akan segera membunuhnya!" Pikir Saga.


Meskipun dengan susah payah Saga mengangkat tangannya yang sama sekali tidak bertenaga, tapi setidaknya cukup untuk menekan si bunga putih kecil supaya tidak mengeluarkan suaranya.


Pada saat ini, Saga mencoba untuk memuntahkan air melupakan cinta itu dari tenggorokannya, tapi gagal.


Melihat hal ini, Handi pun menatap Saga dengan dingin sambil berkata, "Jangan melawan, lupakan dia. Di sini adalah rumahmu, akulah satu-satunya keluargamu, aku tidak akan menyakitimu."

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, efek dari ramuan itu pun segera bekerja, yang membuat kepala Saga kini terasa sangat pusing. Selain itu, tubuh Saga terus-menerus mengeluarkan keringat, seperti spons yang telah penuh menyerap air.


__ADS_2