
Tercium bau yang sangat kuat pada tubuh Lina, bau itu adalah bau Uriel. Dari bau tersebut, Wiro dapat mengetahui kalau gadis kecil ini telah k*w*n dengan pria itu, bahkan lebih dari sekali.
Saat itu juga, amarah Wiro pun meledak. Sifat temperamentalnya langsung ke tingkat puncak.
Dia melihat Uriel yang ada di sebelah Lina. Tanpa berbasa basi, Wiro langsung melayangkan tinjunya dengan kecepatan tercepatnya, dan sepenuh tenaganya ke arah kepala Uriel.
"HIAH!"
Bagi Uriel yang memiliki Roh Binatang Bintang Tiga, tentu saja dapat menghindarinya dengan mudah. Dia hanya meliukkan kebelekang sebagian tubuhnya, dengan kedua kakinya yang masih tetap berada di posisinya berdiri.
Kali ini Uriel tidak diam saja, dan tidak membiarkan dirinya dihajar, seperti pada saat Wiro menghajarnya karena telah menyakiti Lina.
Wiro sangat marah, dia berkata, "Dasar b*j*ng*n! Kau sudah mengambil kesempatan saat aku tak berada di rumah, dan diam-diam meniduri Lina!"
Itu adalah malam pertama bagi Lina. Pertama kali yang berharga.
Tanpa serigala itu duga, apa yang dia inginkan, telah direnggut terlebih dulu oleh harimau yang ada di depannya.
Hal itu lah yang membuat Wiro sangat ingin membunuh si harimau.
Uriel pun berkata dengan tenang, "Aku dan Lina adalah pasangan, k*w*n adalah hal yang wajar."
"Bukan hanya kau saja! Lina juga milikku! Kenapa kau yang pertama kali merenggut milik Lina yang sangat berharga?! Apa kau lupa dengan apa yang sudah kau katakan?! Kau bilang kita harus bersaing secara adil! Kau benar-benar b*j*ng*n, Uriel!"
Selesai mengatakan itu, Wiro segera melayangkan tinju dan tendangannya bertubi-tubi kearah Uriel. Mereka melompat kesana kemari, dari dinding ke dinding di dalam gua serigala.
"HUH!"
"BRAK!"
"DESS!"
Uriel masih hanya menghindar, tidak membalas serangan Wiro sekalipun.
"Aku dan Lina k*w*n, karena kami sama-sama saling mencintai."
"Omong kosong! Lina tidak akan mungkin mau bercinta denganmu!" Bantah Wiro.
Kini Wiro sudah semakin menggila.
"HIAH!"
Dia terus merangsek maju, dengan sepenuh kekuatannya yang dia pusatkan pada pukulan dan tendangannya, dan terus dia layangkan ke tubuh Uriel.
Dia bersumpah, akan mengalahkan si harimau b*j*ng*n itu, dengan seluruh kekuatannya.
"HIAT!"
"RASAKAN INI B*J*NG*N!"
Uriel masih tetap tidak melawan balik sekalipun, dia hanya sesekali menangkis serangan-serangan dari Wiro.
"TAK!"
"TAP!"
Saat Wiro berhenti menyerang dan akan merubah wujudnya ke bentuk roh binatangnya, saat itu juga Lina tiba-tiba berlari dan berdiri di depan Uriel.
"Hentikan, Wiro!"
Wiro yang mendengar suara Lina, segera membuka matanya dan melihat gadis itu sudah ada di depannya.
"Lina, cepat kamu menyingkir! Aku ingin menghabisi b*j*ng*n ini!"
Lina kemudian berkata, "Jangan menyalahkan Uriel. Aku menyerahkan diriku kepada Uriel dengan sukarela. Jika kamu ingin marah, marahlah padaku."
__ADS_1
Meskipun Wiro dalam keadaan marah, tetapi dia juga merasa sangat sedih.
"Lina, kenapa kamu selalu melindunginya? Apa hanya dia saja yang ada di hatimu?"
"Tentu saja tidak!" Jawab Lina lantang.
Wiro tetap tidak percaya.
"Kamu hanya menyukainya dan tidak menyukaiku, jadi kamu mengambil kesempatan saat aku tidak ada di rumah, dan diam-diam k*w*n dengannya!"
Lina menarik tangan Wiro, kemudian berkata, "Bukan seperti itu ..."
Wiro mengibaskan tangannya, "Kamu tidak perlu menjelaskannya padaku, bagaimanapun juga, kamu tidak menyukaiku sama sekali."
Setelah mengatakan itu, dia berbalik dan segera berjalan pergi tanpa melihat ke belakang.
Lina pun menjadi sangat tertekan.
"Aku sudah membuat Wiro marah lagi.."
Uriel mengusap pelan kepala gadis kecilnya, dan berkata dengan suara lembut, "Tidak usah terlalu dipikirkan. Karakter Wiro memang sedikit tidak sabaran. Saat dia sudah tenang, dia pasti tidak akan marah padamu lagi."
...........
Kemenangan Wiro kali ini, tidak hanya berhasil merebut kembali barang-barang mereka, tetapi juga membersihkan klan Serigala Air Hitam secara menyeluruh.
Sayangnya, Heli Belang memanfaatkan kekacauan itu untuk menyelinap melarikan diri, dan tidak ada yang tahu keberadaannya sampai sekarang.
Nama suku Serigala Batu kini menjadi terkenal karena perang ini. Semua suku di daerah Sungai Hitam kini tahu, bahwa para Orc Serigala Batu, adalah segerombolan tentara gila yang tidak pernah takut mati dalam perang. Hal itulah yang membuat mereka menjadi sangat takut pada suku Serigala Batu.
Setelah melihat musuh mereka kalah, klan Mustang yang juga sebagai salah satu pemenang, kini bisa bernafas lega.
Meskipun kemenangan mereka cerah, namun, di baliknya ada darah yang menumpuk tak terhitung banyaknya.
Jasad para Orc yang tewas dalam perang, tertutup oleh salju dan tidak ada tulang yang tersisa.
Di antara para Orc yang terluka ini, beberapa dari mereka yang mengalami luka ringan, telah pulih dengan sendirinya karena fisik mereka yang kuat.
Namun, bagi beberapa Orc yang terluka parah, mereka belum bisa menyembuhkan diri mereka sendiri, tetapi harus menjalani penanganan yang serius.
Banyak yang berpikir, kalau para Orc yang terluka parah ini mungkin tidak akan bertahan lama.
Sayangnya, Sito Gering sudah tidak ada. Kini sudah tidak ada Dukun di suku Serigala Batu. Tidak ada yang bisa menyelamatkan mereka.
Bayangan kematian pun menghantui para Orc Serigala Batu, yang membuat semangat mereka mulai turun.
Wiro memerintahkan kepada beberapa Orc untuk menggali gua besar, dan mengirim semua Orc yang terluka parah ke gua itu. Di satu sisi untuk kenyamanan merawat mereka, di sisi lain juga untuk mencegah wabah penyakit menyebar setelah kematian mereka.
Saat Lina pergi mencari Wiro, dia menemukan Wiro sedang berada di tempat para Orc yang terluka parah.
Di situ dia melihat pemandangan yang menyedihkan dari para Orc yang terluka, hal itu telah membuat Lina menjadi merasa simpati.
Lina kemudian bertanya dengan sedikit tidak sabar, "Apa kamu punya anggur dan buah harum segar?"
Mendengar Lina yang bertanya seperti itu, Wiro segera menatapnya dengan dingin.
"Jika kamu ingin makan buah harum segar, bukankah kamu bisa meminta ke harimau itu untuk mencarikannya? Bagaimanapun juga, hanya dia satu-satunya yang ada di hatimu."
Lina tidak menjawabnya, dia hanya berkata di dalam hati, "Sepertinya dia sedang sangat cemburu."
Tapi kemudian, Wiro berkata kepada Rei, "Ambilkan anggur dan buah harum segar, bawa kemari."
Rei hanya menjawab singkat, "Ya."
Dua tong anggur yang diberikan oleh Heli Belang telah hilang. Untungnya, setelah mereka berhasil menyerang suku Serigala Air Hitam, Wiro menemukan banyak anggur di suku tersebut, dia memerintahkan kepada para Orc yang dia bawa, untuk sekalian memindahkan dan membawa semua tong anggur itu ke Gunung Batu.
__ADS_1
Untuk menghindari supaya mereka tidak kedinginan dan membeku, dalam perjalanan mereka kembali ke Gunung Batu, mereka meminum sebagian anggur tersebut. Dan sekarang, yang tersisa tinggal dua puluh an tong.
Rei telah kembali dengan membawa seember anggur, meletakkannya di depan Lina dan meletakkan sekantong buah di atas tong.
Saat Rei kembali, Wiro pun hanya diam dan tidak melihat kearah Lina lagi.
Kini Lina merasa tidak berdaya dibuatnya. Dalam hatinya, dia berbicara, "Ada banyak orang di sini. Sebaiknya aku menunggu nanti malam untuk menjelaskan padanya."
Lina kemudian berjongkok, dan melihat korban yang terdekat dengan posisinya saat ini.
Dari dada orc tersebut, terlihat luka yang menganga lebar, yang tidak diobati dan mengeluarkan darah, sepertinya juga disertai dengan infeksi. Suhu tubuh Orc itu pun panas seperti terbakar dan sedang tak sadarkan diri.
Kemudian Lina berkata kepada Wiro dan Rei, "Kalian bantu aku memeganginya, aku akan mencoba menangani lukanya."
Mendengar Lina berbicara seperti itu, Rei pun sangat terkejut.
"Apa kamu tahu cara mengobati?"
Lina bukanlah seorang dokter, tetapi di buku kulit bergambar, di situ tertulis berbagai macam tumbuhan yang bisa untuk mengobati. Selain itu, semua orang di masyarakat modern juga tahu sedikit pengetahuan medis. Bisa dibilang, Lina bukan tidak tahu sama sekali tentang cara mengobati.
Dia ragu-ragu sejenak sebelum menjawab, kemudian dia berkata, "Tahu sedikit."
Di bawah bimbingan gadis itu, Wiro dan Rei, memegangi tubuh Orc yang terluka, untuk mencegahnya bergerak-gerak karena merasakan sakit saat diobati. Hal itu dilakukan supaya lukanya tidak terbuka lagi, dan tidak mengakibatkan cedera yang lain.
Kemudian Lina membasahi kulit binatang dengan anggur, dan dengan hati-hati menggosok luka pria tersebut.
Konsentrasi anggurnya tidak tinggi, tetapi ketika menyentuh luka, sensasi perih masih bisa membuat Orc yang tidak sadarkan diri bereaksi.
"Tahan yang kuat, jangan biarkan dia bergerak-gerak lagi." Perintah Lina kepada Wiro dan Rei.
Mereka pun segera memeganginya dengan lebih kuat lagi.
Setelah Lina selesai membersihkan lukanya, Lina mengoleskan buah harum segar yang sudah dia kunyah, dan membalurkannya ke luka pria tersebut, lalu membalutnya dengan kulit binatang yang telah dipotong memanjang.
Dengan cara yang sama, dia membalut luka ke lebih dari selusin lainnya.
Lina menunjuk ke korban yang menderita demam tinggi, lalu berkata kepada Rei, "Kamu cari beberapa orang lagi untuk membantu, suruh mereka membasahi kulit binatang dengan anggur, kemudian suruh mereka menyeka di bagian dahi dan sendi-sendi tubuh mereka yang demam tinggi. Ulangi beberapa kali, sampai suhu tubuh mereka turun."
Rei mengangguk, "Aku paham."
Kemudian Lina berpikir sejenak dan berkata, "Juga, suruh mereka untuk banyak makan buah beri merah. Buah itu sangat baik untuk mengembalikan energy dan darah mereka."
Rei berkata, "Baiklah."
Dukun dari suku Mustang juga mengatakan supaya lebih banyak makan buah beri merah bagi yang terluka, tetapi dia tidak mengatakan kegunaan dari buah beri merah tersebut. Mungkin dia enggan memberi tahu orang lain apa yang dia ketahui.
Apa yang telah dilakukan Lina, kini bisa dibilang kalau dia sangat tahu ketrampilan medis.
Rei tiba-tiba merasa akan adanya harapan.
Setelah membalut begitu banyak Orc yang terluka, Lina pun merasakan dirinya benar-benar kelelahan.
Tiba-tiba Wiro berjongkok di depannya, sambil memunggungi gadis itu dan berkata kepadanya, dengan nada suaranya yang memaksa, "Cepat naik!"
Lina pun terkejut, kemudian bertanya, "Apa kamu mau mengantarkan aku pulang kerumah?"
"Tidak usah bicara omong kosong. Cepat naik!" Perintah Wiro dengan sedikit canggung.
Melihat penampilannya yang canggung, Lina pun tidak bisa menahan tawanya.
Lina kemudian naik ke punggung Wiro, dengan kedua tangannya yang memeluk leher Wiro dari belakang.
Tanpa Wiro duga, Lina memberi kecupan di daun telinga Wiro.
Seketika itu juga telinga Wiro pun memerah.
__ADS_1
Untuk menghindari supaya Lina tidak mengetahui kalau saat ini dia sedang malu, dia pun menoleh kebelakang, dan memelototi Lina dengan ganas.
"Jangan merayuku!"