
Meskipun sangat senang bertemu dengan Lina, tapi saat Saga melihat betina kecilnya yang lucu kini berubah menjadi pohon kecil yang kekurangan gizi, suasana hati Saga segera menjadi rumit.
Lalu dia menjulurkan lidah ularnya dan melilitkannya pada pohon kecil itu, dan meletakkannya di atas tubuh ularnya.
“Bagaimana kamu bisa sampai di sini? Lalu, kenapa dirimu jadi seperti ini?”
Lina pun segera merentangkan ranting-ranting pohonnya untuk memeluk lidah Ular itu dan mengusap-usapnya dengan sayang.
"Semua upaya kerasku selama beberapa hari ini, akhirnya terbayarkan." Batin Lina saat mengusap-usap lidah Ular Piton itu.
Kemudian Lina berkata sambil tersenyum, "Aku mengejarmu sampai ke sini. Agar tidak ditemukan oleh pamanmu, aku memakan biji teratai dan berubah menjadi pohon kecil. Untungnya aku bisa berbicara, kalau tidak, aku tidak tahu bagaimana caranya supaya kamu bisa mengenaliku.."
"Meskipun aku tidak bisa melihat ekspresinya, tapi dari nada bicaranya yang terdengar riang, bisa aku rasakan kalau saat ini Lina pasti sedang dalam mood yang baik." Pikir si Ular Piton yang tak lain adalah Saga.
Tapi saat ini, suasana hati Saga sedang tidak terlalu baik.
Lalu dia memandang pohon kecil di depannya ini, dan berkata dengan sangat serius, "Apa kamu tahu bahayanya jika kamu melakukan ini? Bagaimana jika kamu sampai celaka di jalan?"
Lina pun menundukkan tubuh pohonnya, lalu berkata dengan suaranya yang terdengar sedih, "Aku mengkhawatitkan dirimu.. Aku khawatir kamu tidak akan pernah kembali lagi setelah di bawa pergi.. Pada saat itu, aku tidak memikirkan hal-hal lainnya.. Aku hanya ingin berusaha yang terbaik untuk mengejarmu, dan membawamu pulang.."
Saga sebenarnya ingin marah, tapi saat mendengar apa yang Lina katakan, matanya mulai sedikit terlihat basah.
"Lain kali, jangan pernah bertindak gegabah seperti ini lagi. Ingat?"
Sebuah kata peringatan, tapi sebenarnya perkataannya itu mengandung perhatian dan kelembutan.
Mendengar itu, Lina pun dengan patuh mengangguk sambil berkata, "Akan aku ingat."
Melihat Lina yang begitu menurut, Saga ingin segera mencium Lina.
Tapi, saat ini gadis kecil itu sedang menjadi pohon, dan dalam bentuk pohon yang mati dan tipis.
Setelah memperhatikannya untuk waktu yang lama, tapi dia masih tetap tidak bisa menemukan tempat untuk dia mendaratkan bibirnya. Pada akhirnya, Saga pun hanya bisa menggunakan lidah Ularnya untuk menjilati pohon kecil itu.
Karena merasa tidak puas, Ular itu pun bertanya, "Berapa lama lagi kamu bisa kembali ke wujud manusiamu?"
Lina hanya bisa menghitung ranting yang ada di tubuh pohonnya, karena, saat ini dia tidak memiliki jari. Tak lama kemudian dia pun berkata, "Seharusnya besok aku sudah berubah ke bentuk manusiaku."
"Kalau begitu, kita akan pergi besok." Kata si Ular Piton.
Terlalu berbahaya bagi gadis kecil ini untuk tinggal di klan Iblis. Saga merasa harus segera membawanya keluar dari tempat ini.
"Oke" Sahut Lina.
Setelah beristirahat satu malam, kini tubuh Saga telah sembuh, dan berubah kembali ke bentuk Orcnya yang sangat tampan namun berkespresi dingin.
Tubuh Saga yang tanpa sehelai benangpun, kini ada tepat di hadapan Lina. Meskipun Lina telah sering melihatnya, tapi dia tetap tidak bisa menahan rasa malunya.
Dia pun segera mengguncang-ngguncangkan ranting pohonnya dan berkata, "Pakai pakaianmu."
Mendengar itu, Saga pun mengambil jubahnya yang ada di meja dan mengenakannya dengan asal saja. Setelah itu dia duduk bersila di atas tempat tidur batu, sambil menatap pohon kecil yang ada di depannya.
__ADS_1
"Kenapa kamu masih belum juga berubah ke wujud manusiamu?"
Saga tidak memakai jubahnya dengan benar. Jubahnya hanya dia sampirkan di pundaknya, yang membuat otot-otot dada serta perutnya yang berotot bisa terlihat.
Tidak hanya itu saja, bahkan benda besar yang ada di antara kedua kakinya, juga bisa terlihat dengan sangat jelas.
Lina pun meliriknya sambil menjawab dengan asal, "Mmmm.. Duaa.. Eh maksudku, seharusnya tidak lama lagi."
"Apakah kamu akan berpakaian saat kamu kembali ke wujud manusia?" Tanya Saga.
Mendengar apa yang Saga tanyakan, Lina pun menjawabnya sambil berpikir, "Aku masih berpakaian saat aku berubah menjadi pohon.. Seharusnya, aku masih mengenakan pakaianku saat aku kembali kewujud manusia.."
"Oh." Ucap Saga dengan sangat singkat.
"Jika di dengar dari nada suaranya, sepertinya Saga merasa sedikit kecewa." Batin Lina.
Kemudian dia pun bertanya pada Saga, "Apa kamu benar-benar ingin aku telanjang saat aku menjadi manusia?"
"Ya," Sahut Saga dengan cepat, kemudian dengan jujur dia berkata, "Kamu terlihat semakin cantik saat telanjang. Aku tidak pernah bosan melihatnya."
Lina, "....."
Saga berkata dengan sangat jujur, hingga membuat Lina tidak memiliki alasan untuk menyalahkannya. Lagipula, memangnya apa yang salah dengan hal itu?
Pada saat ini, tiba-tiba saja Saga teringat akan sesuatu dan berkata, "Aku ingat kalau perkawinan pada tanaman bergantung pada serbuk sari. Bisakah kamu me ~ mekarkan bungamu?"
Lina, “.....”
...........
Akhirnya, efek dari bunga teratai itu pun menghilang.
Kini pohon kecil itu telah kembali menjadi seorang manusia.
Belum juga Lina sempat berdiri diam, dia telah lebih dulu diangkat dan dipeluk oleh Saga, dan bibirnya di ciumi dengan penuh n*fs* yang membara. Kini lidah mereka berdua pun mulai saling beradu dan bermain dengan panas. Hingga membuat napas keduanya tidak teratur, meskipun telah mengakhiri ciuman mereka.
Setelah itu Saga menurunkan Lina dan mundur sedikit, lalu melihat ke bawah untuk melihat bibir Lina yang kini terlihat sedikit bengkak. Bibirnya yang kemerahan, kini seperti buah merah yang sudah matang, tebal dan berair. Hingga membuat Saga hampir tidak bisa menahan keinginannya, untuk menggigit bibir yang merah dan menggairahkan itu.
Kemudian dengan lembut Saga mengusap-usap kulit pinggang Lina yang halus sambil berkata, "Haruskah kita pergi sekarang?"
"Ya," jawab Lina dengan tersipu. Kemudian dia bertanya, "Apa kamu ingin aku memakan biji teratai lagi dan berubah menjadi tanaman? Dengan begitu, tidak akan ada yang mengetahui diriku."
"Ya, tapi jangan jadi pohon mati lagi." Kata Saga.
"Terus? Kamu ingin aku menjadi tanaman yang seperti apa?" Tanya Lina dengan ekspresi bingungnya.
"Berubah jadi bunga. Bunga kecil yang bisa kubawa dalam pelukanku." Kata Saga.
Setelah itu, Lina pun segera mengambil dan memakan sebutir biji teratai, dan segera berubah menjadi sebuah tanaman dengan bentuk tangkainya yang pendek, dan terdapat dua daun pada bagian atasnya, dan juga ada sebuah bunga berwarna putih kecil tepat di ujung atas tangkai di antara dua daun itu.
Setelah Lina selesai merubah wujudnya, Saga pun mengangkat tanaman kecil itu dan mendekatnya ke dadanya, kemudian dengan lembut membelai-belai kelopak bunga putih kecil itu sambil berkata, "Indah, jauh lebih baik dari pada yang sebelumnya."
__ADS_1
"Aku tidak tahu kapan aku akan berubah menjadi manusia lagi, tapi sekarang aku telah menjadi bunga, dan bagi bunga, kelopak adalah tempat yang sangat sensitif." Batin Lina.
Bisa dibilang, kelopak bunga sama saja dengan beberapa bagian sensitif pada tubuh manusia. Saat Saga menyentuh tepat di kelopak bunga, itu sama seperti menyentuh bagian pribadi Lina yang tidak bisa diperlihatkan pada orang lain dengan sembarangan.
"Perasaan ini benar-benar seperti.. Uuuh.." Batin Lina.
Kemudian dia berkata dengan lirih, "Jangan sentuh kelopak bungaku lagi.."
"Baiklah." Jawab Saga.
Kemudian dengan patuh Saga segera menghentikan tangannya yang megusap-usap kelopak bunga Lina, lalu menundukkan kepalanya dan mengecup benang sarinya.
Rasa geli yang bercampur dengan suatu perasaan yang hangat yang tiba-tiba saja hampir memuncak, membuat Lina hampir menjadi gila.
"Ehhhhmmm.."
Jika dia bisa berubah warna seperti si Kubucil, pasti sekarang bunga putih kecil itu akan berubah menjadi bunga merah yang besar!
Lina yang kini sudah tidak bisa bersembunyi, hanya bisa memohon dengan suaranya yang terdengar bergetar, "Hentikan.. Aku tidak suka ini.."
Pada saat ini, Lina bisa merasakan dirinya sudah hampir meledak.
Jika Saga masih terus menggodanya, mungkin bunga putih kecil itu akan segera meledakkan kelopak bunga dan benang sarinya.
Setelah mendengar apa yang bunga kecil itu katakan, Saga pun segera menghentikan kecupannya.
"Maaf."
Kemudian dia segera mengenakan jubahnya, dan menyembunyikan bunga putih kecil itu di balik jubahnya, kemudian menunduk dan berkata, "Ayo kita pergi."
Saat Saga baru saja berjalan ke pintu, terdengar suara langkah kaki yang berasal dari luar pintu.
"DRAP! DRAP! DRAP! DRAP!"
Saat pintu kamar Saga di dorong terbuka dari luar, sosok dingin itu pun segera masuk.
Pada saat ini, sosok dingin itu sedang dalam wujud Orcnya.
Tubuhnya terlihat tinggi dan ramping, dengan penampilannya yang terlihat bersih dan tampan. Rambut panjangnya yang berwarna emas sedikit keriting, dan mata hitamnya sangat mirip dengan Saga. Sosok dingin itu mengenakan jubah berwarna hitam, yang terbuat dari benang hiu.
"Apa kamu akan keluar?" Tanya sosok dingin itu.
Saga pun menjawabnya dengan santai, "Hanya ingin jalan-jalan."
Sosok dingin itu pun menatap Saga dari atas ke bawah, lalu sedikit mengangguk dan berkata, "Sepertinya kamu sudah benar-benar pulih."
Saga, "....."
Mendengar itu, Saga pun tidak berkata apa-apa lagi.
Meskipun Saga seperti itu, tapi sosok dingin itu tidak memasukkannya kedalam hati. Lalu terdengar suaranya yang lanjut berkata lagi, "Boleh aku masuk? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu."
__ADS_1
Mau tak tak mau, akhirnya Saga pun membolehkan sosok dingin itu masuk ke dalam kamarnya.