
Bonny yang sudah tidak tahan melihat sayur itu pun akhirnya bertanya, "Apa daun ini bisa dimakan? Bolehkah aku mencobanya?“
"Ya, para wanita di suku kami sangat menyukai makanan seperti ini,” kemudian Uriel dengan santai mencabut sehelai daun dan memberikan kepadanya.
“Silahkan kamu coba.”
Gigi kelincinya tidak lagi bisa menahan godaan untuk mengunyah daun itu, dia pun segera memasukkan daun itu kemulutnya.
"Rasanya.. Tak ku sangka.. Manis dan menyegarkan.. Rasanya seenak buah-buahan itu!"
Bonny dengan cepat mengunyah sayur itu, dan dalam sekejap langsung dia telan. Setelah itu, dia menatap lagi ke arah sayuran yang ada di meja batu, dan bertanya dengan matanya yang bersinar, "Apa sayur ini juga dijual? Bisakah kamu menukarnya dengan rumput kerang?"
Kemudian Uriel berkata dengan ramah, "Bisa saja ditukar dengan rumput kerang, tetapi satu hal yang pasti, kita tidak hanya membutuhkan satu jenis herbal saja. Ketika jumlah rumput kerang sudah terlalu banyak, kami tidak bisa menerimanya lagi."
Mereka mengumpulkan herbal untuk berjaga-jaga dari hal yang tidak terduga. Tapi akan jauh lebih baik, apabila memiliki lebih banyak jenis tumbuhan herbal.
Mendengar apa yang dikatakan Uriel, Bonny pun merasa kecewa.
Mereka tinggal di tempat di mana terdapat banyak rumput kerang, tetapi untuk tumbuhan herbal yang lain sangat jarang.
Kemudian Bonny pun bertanya kepada Uriel tentang bentuk dan karakteristik beberapa tanaman herbal lainnya. Dia siap untuk melihat-lihat setelah kembali ke sukunya. Siapa tahu dia bisa menemukan salah satunya.
Di hadapan pelanggan besarnya ini, Uriel dengan murah hati mengeluarkan sepiring selada air dan memberikannya kepada Bonny.
"Ini untukmu. Ambil dan berikan kepada orang-orang di sukumu. Jika suka, kalian boleh membelinya."
Bonny dengan cepat mengambil selada air manis, dan menahan dorongan untuk memakan semuanya saat itu juga, sambil berkata dengan penuh semangat, "Terima kasih."
Uriel hanya mengganggukan kepalanya sambil tersenyum.
"Sayuran ini begitu enak, para Orc suku kelinci seharusnya sangat menyukainya."
Segera, para Orc kelinci bergegas kembali ke suku mereka, dengan membawa tas besar dan tas kecil.
Sebagian besar buah-buahan yang mereka pajang di kios sudah terjual, dan hanya tinggal sisa beberapa sayuran yang belum mereka keluarkan dari ruang penyimpanan.
Hasil ini sudah cukup bagi Lina. Lagi pula, tidak semua Orc mau memakan sayuran.
Melihat matahari yang sudah akan terbenam, Uriel dan Wiro mulai mengemasi barang-barang mereka dan bersiap untuk pulang.
Beberapa kali Lina mencoba untuk membantu, tapi dilarang oleh mereka berdua.
Wiro bekerja dengan cepat sambil berkata, "lihat lengan dan kakimu yang kurus, tidak ada kekuatan sama sekali. Hal yang semacam ini, biarkan kami yang melakukannya. Dan juga, kami jauh lebih cepat dari pada kamu."
__ADS_1
Uriel juga berkata kepada gadis kecilnya, "Duduk saja dan tunggu kami. Nanti kami akan membawamu keliling pasar, siapa tahu ada barang yang kamu suka."
Mendengar akan pergi berbelanja, Lina pun langsung bersemangat.
Setelah Uriel dan Wiro mengemasi semua barang-barang mereka, Lina memasukkannya ke dalam ruang penyimpanan. Kemudian Lina menggandeng tangan mereka berdua, dan pergi untuk berbelanja dengan penuh semangat.
Pasarnya sangat kecil, dan tidak banyak barang yang bisa dijual. Lina juga sedang merasa bosan akhir-akhir ini. Meskipun dia tidak membeli apa-apa, dia sudah sangat senang hanya melihat-lihat dan jalan-jalan saja.
Setelah berkeliling, Lina pun bertanya kepada Uriel, "Apa di sini tidak ada batu kristal?"
"Kristal adalah barang yang sangat berharga. Di pasar kecil seperti ini, jarang sekali ada batu kristal. Meskipun ada, palingan itu hanyalah kristal terendah yang tak berwarna." Jawab Uriel dengan lembut.
Lina pun merasa sedikit kecewa.
"Aku masih ingin mengumpulkan kristal dengan lima warna yang berbeda ..."
Dia baru mengumpulkan dua warna kristal, hitam dan yang tidak berwarna.
Mendengar perkataan Lina, Uriel mengeluarkan dua batu kristal dan menyerahkannya kepada gadis kecilnya.
"Ini adalah batu kristal yang telah aku simpan. Lihat, brangkali ada yang bisa kamu gunakan?"
"Kristal merah dan kristal biru?"
Meskipun tidak seberharga kristal hitam, tetapi kedua warna itu juga merupakan Batu Kristal tingkat sedang, yang juga sangat langka. Bahkan Wiro yang sebagai pemimpin klan, tidak memiliki Batu Kristal yang setingkat ini, dia hanya mempunyai Batu Kristal tidak berwarna. Tetapi Uriel dengan mudahnya mengeluarkannya dan memberikannya kepada Lina.
Lagipula, dia juga tidak terlalu memikirkan akan hal itu. Setelah dia menerima batu kristal tersebut, suara dalam benak Lina segera menginformasikan hasilnya.
"Anda telah mendapatkan Kristal Merah dan Kristal Biru. Kemajuan tugas anda saat ini adalah empat dari lima warna yang dibutuhkan."
Lina merasa sangat senang, dia berbicara dalam hatinya. "Sudah ada empat Batu Kristal, hanya kurang satu lagi, dan aku bisa menyelesaikan tugas!"
Wiro yang melihat Uriel memiliki dua batu kristal tingkat sedang di tangannya, segera merasa kalau dirinya sedang dibanding-bandingkan.
"Aku tidak menyangka kalau harimau ini memiliki Batu Kristal berwarna. Dia pasti sangat kaya!"
Dalam hati, Wiro tidak mau kalah dengan Uriel, dengan cepat dia berkata, "Dua hari lagi, suku Sungai Hitam akan membuka pasar, di sana pasarnya jauh lebih besar daripada di sini. Mungkin di sana kamu bisa mendapatkan Batu Kristal yang kamu cari."
"Bisakah kita pergi ke suku Sungai Hitam dan melihatnya?" Lina bertanya.
Dengan bangga Wiro mengangkat dagunya keatas dan berkata, "Tergantung pada suasana hatiku, jika aku dalam suasana hati yang baik, aku akan membawamu kesana."
Lina pun segera memeluk pahanya. Matanya mengerjap penuh harapan, dan dengan suaranya yang lembut berkata, "Wiro yang baik, tolong bawa aku kesana ya ..."
__ADS_1
Gadis kecil itu sangat menawan dan terlihat semakin imut. Lina sengaja menggunakan kesempatan ini, untuk menunjukkan kelebihannya.
Melihat Lina yang begitu menggemaskan, Wiro pun membuka mulutnya dan berkata, "Yah, baiklah. Aku akan membawamu kesana."
Lina pun tertawa dengan tawanya yang cerah dan penuh kasih.
"Terima kasih, Wiro! Kamu memang sangat baik.."
Mendapat pujian dari Lina, Ujung telinga Wiro segera memerah, tapi dia berpura-pura tenang sambil berkata, "Kali ini aku tidak bisa menolakmu!"
...........
Dua hari kemudian.
Wiro dan Uriel keluar bersama dengan Lina. Mereka akan pergi menuju ke pasar, di suku Sungai Hitam.
Wiro dan Uriel merubah wujudnya, ke bentuk hewan mereka masing-masing.
Harimau Putih bertanggung jawab mengamankan jalan di depan, sedangkan Serigala Perak bersama Lina yang ada dipunggungnya, mengikutinya dari belakang.
Letak suku Sungai Hitam berada jauh dari Gunung Batu, tetapi dengan kecepatan harimau putih dan serigala perak yang berlari sangat cepat. Mereka hanya membutuhkan waktu setengah hari, untuk mencapai Lembah Sungai Hitam.
Lina kini bisa melihat seperti apa sungai Hitam.
"Waah.. Sungainya lebar.. Aliran airnya juga mengalir dengan cepat. Kelihatannya sangat deras!"
Tidak jauh dari tepian Sungai Hitam, terdapat lebih dari selusin suku. Dan yang terkuat diantara kesemua suku tersebut adalah, suku Mustang.
Bazar yang akan Lina datangi, terletak di area terbuka dekat dengan wilayah suku Mustang.
Ada banyak sekali Orc di sini. Tidak terlihat ada kios yang terbuat dari rumah batu. Mereka semua menggelar kulit binatang di tanah, lalu meletakkan barang-barang yang akan mereka jual di situ. Sehingga terlihat agak berantakan.
Lina merasa kalau standar pengelolaan pasar di sini, tidak sebagus di Gunung Batu.
Kali ini, Lina membawa banyak buah dan sayuran. Mereka memilih tempat yang relatif bersih, menggelar kulit binatang, dan menata buah-buahan dan sayuran yang mereka bawa, di atas alas kulit binatang yang telah mereka gelar.
Uriel tinggal untuk menjaga lapak dan menunggu pembeli. Sedangkan Wiro membawa Lina untuk berjalan-jalan.
"Ayo kita keliling. Apa kamu ingin melihat-lihat?" Ajak Wiro kepada Lina.
Lina hanya menganggukkan kepalanya, dengan kedua mata bulatnya yang berbinar cerah.
Ada banyak orang di sini. Wiro takut bila Lina sampai pergi sendiri, jadi dia selalu menggendong Lina dalam pelukannya.
__ADS_1
Tubuh Lina terbungkus rapat oleh kulit binatang, hanya menunjukkan sepasang matanya yang bulat dan cerah.
Lina memeluk leher Wiro, sambil melihat-lihat ke sekelilingnya, dengan rasa ingin tahu.