Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 44 - Besar dan Bulat


__ADS_3

Kini, di sekitar Heli Belang dan Josh, ada sekitar lima puluh Orc lebih. Karena dia sudah berani melintasi gunung, dengan hanya membawa sejumlah kecil orang untuk menuju ke Gunung Batu, dia juga pasti akan kesulitan.


Untuk lebih amannya, Wiro turun gunung dengan membawa lebih banyak Orc dari pada mereka.


Dari tiga ratus Orc pria yang ada di suku serigala batu, Wiro membawa hampir dua ratus dari mereka.


Bahkan jika Wiro disergap saat sedang berada di jalan, jumlah Orc yang dia bawa sudah cukup untuk membuat lawan mereka mundur.


Seluruh Gunung Batu kini serasa menjadi jauh lebih dingin dan sepi, semenjak kepergian Wiro.


Lina yang sudah tertidur selama dua hari, dia akhirnya bangun dihari ketiga.


Begitu dia terbangun, dia memegang tangan Uriel dan berkata dengan penuh semangat, "Pergilah ke gua, selamatkan Saga. Dia sedang terluka dan membutuhkan pertolongan."


Uriel memeluknya dan membelai punggungnya dengan lembut, untuk menenangkan suasana hati gadis kecilnya.


Ketika Lina mulai sedikit tenang, Uriel mulai bertanya kepadanya, "Siapa itu Saga?"


"Dia itu Ular Piton. Dia terluka parah demi menyelamatkanku. Dia memintaku untuk pergi mencari bantuan dan menyelamatkannya. Pergilah dan selamatkan dia di gua!"


"Sepertinya kamu begitu peduli padanya?" Uriel bertanya dengan nada suaranya yang lembut dan dengan sedikit tersenyum.


Meskipun Lina sudah terbangun, tapi dia masih sedikit linglung. Dia tidak menyadari kalau Uriel sedang menggodanya. Kemudian Lina berkata lagi dengan cemas, "Dia terluka parah karenaku. Tolong, bantu aku menyelamatkannya!"


Uriel menundukkan kepalanya dan mencium kening Lina. Matanya terlihat sangat lembut tapi juga terlihat lelah, kemudian dia berkata, "Kamu boleh meminta apa saja yang kamu mau. Selama bisa aku lakukan, aku pasti akan melakukannya untukmu."


"Selama kamu tidak meninggalkan ku lagi."


Selama beberapa hari Lina menghilang, Uriel merasakan keraguan dan ketidakberdayaan yang belum pernah dia rasakan.


Dia bahkan tidak berani untuk memikirkan, jika gadis kecilnya benar-benar mati, bagaimana dia akan hidup jika tidak ada Lina?


Dia sangat percaya bahwa Lina masih hidup, dia terus berusaha untuk mencarinya, tidak makan atau minum dan juga tidak tidur.


Untungnya, dia berhasil menemukan Lina.


Lina sepertinya merasakan kegelisahan Uriel, dia kemudian memeluknya.


"Lengan Uriel terasa hangat dan nyaman seperti biasanya."


Dia bersandar padanya dan berbisik, "Terima kasih."


...........


Meskipun penyakitnya belum sembuh dan tubuhnya juga sangat lemah, Lina ingin ikut turun gunung bersama dengan Uriel.


Akan tetapi, baik Uriel Nouh maupun Sito Gering, mereka berdua tidak setuju dengan keinginan Lina yang masih sakit, untuk ikut turun gunung.


Tak berdaya, Lina hanya bisa melupakan keinginannya itu.

__ADS_1


Saga tidak mengenal Uriel. Untuk menghindari Saga akan memperlakukan Uriel sebagai pembohong atau musuh, Lina memberikan Liontin Permata Hitam yang diberikan Saga kepadanya, ke tangan Uriel.


"Saat kamu bertemu Saga, tunjukkan Liontin ini padanya, dia akan percaya bahwa kamu adalah keluargaku."


Uriel memperhatikan Liontin Permata Hitam yang ada di tangannya. Mata birunya berkedip dan kemudian bersinar.


"Ini adalah perhiasan berkualitas tinggi. Sepertinya, asal usul Saga tidak sederhana."


Meskipun Uriel sedang memikirkan tentang liontin itu, tetapi ekspresi di wajahnya tetap terlihat lembut. Dia menyimpan Liontin Batu Hitam itu dan berjanji, "Jangan khawatir, aku akan membawanya kembali untukmu."


Dengan tubuhnya yang masih lemah, Lina mengantarkan kepergian Uriel sampai ke depan rumah.


Sebenarnya Lina ingin mengantarkan Uriel sampai ke pintu masuk gua suku Serigala Batu, tapi Uriel melarangya.


Ketika Uriel sampai di pintu masuk gua suku Serigala Batu, dia melihat Rei sedang berdiri di sana bersama dengan dua puluh Orc lainnya. Masing-masing dari mereka membawa tas dan sepertinya mereka semua siap turun gunung, untuk melakukan perjalanan jauh.


"Apa kamu..? Uriel bertanya dengan sedikit ragu.


Dengan mantap Rei kemudian berkata, "Sang Dukun tua yang meminta kami datang kemari. Tidak aman bagimu untuk turun gunung sendirian. Kami juga akan pergi bersamamu."


Uriel tersenyum, "Terima kasih."


"Lina adalah teman dari keluarga kami dan kamu adalah pasangan Lina. Kedepannya, kalian berdua akan tinggal di suku Serigala Batu dan hidup bersama sebagai keluarga di sini. Dengan begitu, penting bagi kita untuk saling menjaga kan?"


Hati Uriel sedikit tergerak, "Baiklah."


Sebelumnya, dia hanya berencana tinggal di Gunung Batu untuk sementara. Setelah musim dingin berakhir, dia akan membawa Lina pergi dari sini.


Tetapi pada saat ini, bantuan aktif keluarga Serigala Batu, membuat Uriel merasakan adanya rasa saling memiliki di sini.


Hal itulah yang kini membuat Uriel merasa sedikit yakin, untuk tetap berada di sini.


...........


Kesehatan Lina masih belum pulih, jadi dia harus tinggal di rumah. Meli datang mengunjunginya dengan perutnya yang besar.


Perut Meli terlihat sangat besar dan terlihat bulat.


Meli berkata sambil tersenyum, "Aku hamil lebih awal. Sang dukun tua berkata padaku, kalau aku mungkin akan melahirkan sebelum musim semi tiba."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Lina sangat penasaran ingin menyentuh perut Meli yang bulat. Saat menyentuhnya, dia merasakan perut itu terasa hangat.


[[[ Hmm.. Apa iya sih gitu rasanya? ]]]


[[[ Yg tau komen di bawah ya.. bcnda.. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ ]]]


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Lina merasa sedikit iri, "Pasti bayinya akan sehat dan cantik."


Meli mengerutkan bibirnya dan berkata sambil tertawa kecil menggoda Lina, "Segeralah kamu meminta ketua Wiro untuk mengisi perutmu sampai penuh, berusahalah untuk segera hamil di musim dingin ini. Ketika musim semi tiba, nanti akan ada bayi yang cantik-cantik dan tampan!"


Tentu saja apa yang dikatakan Meli, membuat pipi Lina memerah karena malu.


Meli memiliki perasaan yang baik terhadap Wiro dan juga Uriel, tetapi bagaimanapun juga Wiro adalah kepala suku mereka. Tentu Meli lebih berharap Lina bisa memiliki anak pertamanya bersama Wiro. Jadi dia mengatakan banyak hal-hal yang baik tentang Wiro.


Lina tidak dapat menahan tawa gelinya, saat mendengar Meli yang terus-menerus membual tentang Wiro dan memuji-mujinya setinggi langit.


Meli baru bisa menutup mulutnya sedikit, sampai saat Sito Gering masuk dengan membawa jus yang baru saja dia peras.


Jus obat buatan Dukun tua itu rasanya sangat pahit.


Lina menjepit hidungnya dengan kedua jarinya, kemudian meminum obat itu dan cepat menelannya. Dengan cepat juga, kemudian dia memasukkan beberapa buah manis ke dalam mulutnya, untuk meredakan rasa pahit di mulutnya.


Sito berkata kepadanya, "Saat ini, kamu sedang tinggal di rumah sendirian. Aku juga tidak yakin dengan ini, apakah kamu ingin tinggal di rumahku untuk sementara waktu? Kamu tidak perlu takut, lagipula aku bukanlah orang yang jahat. Kamu bisa tenang tinggal sementara waktu ini di rumahku."


Lina menggelengkan kepalanya.


"Tidak usah. Aku ingin tinggal di rumahku saja."ย 


Ada bau Uriel dan Wiro yang melekat di rumah ini. Yang membuat Lina merasa sangat tenang dan nyaman.


Sito pun tidak memaksanya, "Tidak apa-apa. Aku yang akan datang menemuimu setiap hari. Jaga dirimu baik-baik. Jangan pergi kemana-mana dulu, atau kamu akan terkena penyakit yang lain lagi, sebelum sakitmu yang sekarang ini sembuh."


Meli juga berkata dengan senyumnya yang lebar, "Aku juga akan datang kesini setiap hari."


Lina kemudian melihat kearah perut Meli yang besar, dia merasa khawatir, "Kalau kamu terus bepergian, tidak baik untuk janinmu kan."


Meli melambaikan tangannya, "Tidak apa! Aku juga sangat kuat. Bukan masalah bagiku jika aku berjalan-jalan beberapa langkah."


"Itu juga baik untuk anak-anak dan wanita hamil, bila sering berjalan-jalan." Kata Dukun Sito.


Setelah mendengar penjelasan mereka, Lina mulai merasa sedikit santai.


Dalam beberapa hari ke depan, Sito Gering dan Meli akan mengunjungi Lina setiap harinya.


Lina sering pergi ke ruang bawah tanah mengambil beberapa makanan, untuk mentraktir mereka makan acar dan selai buatannya sendiri.


Meskipun Sito sudah tua, dia masih seorang Orc karnivora murni. Dia tidak suka makan hal-hal yang seperti ini.


Hanya Meli, yang juga seorang perempuan yang sangat menyukai selai dan acar ini. Terkadang, dia akan membawa selai hasil buatannya sendiri dan membandingkannya dengan selai yang dibuat oleh Lina.


Hubungan antara kedua wanita itu sangat baik.


Pada saat ini, sekelompok Orc ganas tiba-tiba bergegas ke Gunung Batu dan masuk ke wilayah Wiro Sanger.


Yang memimpin mereka adalah, Josh.

__ADS_1


Mereka kesini untuk membalas dendam. Selain itu, mereka juga datang untuk menjarah makanan. Jika memang memungkinkan, menguasai tanah kekuasaan Wiro juga ada dalam agenda mereka.


Mereka bergegas masuk ke gua para Serigala, membakar, membunuh dan menjarah sesuka hati mereka.


__ADS_2