
Lina tidak tahu bagaimana dia harus menjawab pertanyaan wanita itu, dia pun hanya bisa berkata yang sebenarnya, "Mungkin, soalnya aku tidak makan bambu.."
"Selain Panda, memangnya siapa lagi yang mau makan bambu?!" Setelah berpikir seperti itu, dia pun seperti teringat akan sesuatu, "Tunggu dulu! Barusan Uriel bilang kalau Vanda adalah wanita dari keluarga Beruang bambu. Beruang bambu.. Beruang bambu.. Bukankah itu nama lain dari Panda?!"
"AH!" Lina pun merasa sangat terkejut.
"Kalau tidak salah, Panda adalah harta nasional di Negara China! Aah! Aku memang sangat beruntung memiliki kontak dekat dengan harta nasional seperti Panda?!"
Saat ini Vanda menyadari kalau mata gadis mungil yang ada di depannya itu tiba-tiba saja berbinar, seperti sedang terbakar oleh nyala api, dan sedang menatap langsung ke dirinya. Melihat itu, Vanda pun segera bertanya, "Kenapa kamu melihatku seperti itu?"
"Harta nasional, harta nasional! Aku sangat ingin menyentuhnya!" Setelah bergumam seperti itu, Lina pun merentangkan tangannya, dan dengan lembut menyentuh lengan Vanda sambil tersenyum konyol.
"Karena kamu sangat imut."
Jika di dunia modern, saat mendapat perlakuan seperti itu oleh orang asing, mungkin Vanda akan berteriak, "Tolong! Di sini ada orang aneh!"
Namun ini di dunia Orc. Meskipun Vanda merasa kalau sikap pihak lain agak aneh, dia tidak perlu merasa takut.
Bagaimanapun juga, keduanya adalah wanita, jadi dia merasa tidak apa-apa jika ada yang menyentuhnya!
Sambil memakan rebung yang terasa sangat lezat, Vanda bertanya, "Berapa banyak rebung yang kamu bawa? Aku ingin membeli semuanya. Harganya bisa kita negosiasikan."
"Kamu bisa membeli rebung sebanyak yang kamu mau, tapi ada syaratnya." Ucap Lina kepada Vanda.
"Katakan."
"Maukah kamu merubah wujudmu ke wujud binatangmu dan membolehkan aku untuk menyentuhmu?" Pinta Lina kepada Vanda.
Mendengar itu, Vanda pun berpikir, "Gadis kecil ini benar-benar aneh!"
Namun demi untuk bisa memakan rebung lagi, Vanda memutuskan untuk menyetujui syarat dari pihak penjual, dan menunjukkan bentuk binatangnya.
Melihat ada seekor Panda yang kini sudah ada di depannya, Lina tidak bisa menahan dirinya lagi. Dia segera memegang lengan Panda itu, mengusap-usap bulunya, dan wajahnya kini penuh dengan kebahagiaan.
"Ukurannya lebih besar dari Panda yang sering aku lihat di TV TV. Tubuhnya bulat dan penuh dengan bulu-bulu yang lembut. Sebagian besar tubuhnya berwarna putih seputih salju. Hanya anggota badan dan lehernya yang berwarna hitam, dan ada khas mata panda hitam di kedua matanya yang ikonik."
"Aahh! Kamu benar-benar sangat cantik! Uuh! Jika aku adalah Panda jantan, sudah pasti aku akan menikahimu!"
Saat Uriel dan Azka mendengar apa yang baru saja Lina katakan, ekspresi wajah mereka langsung berubah rumit.
Azka sudah tidak bisa menahan dirinya untuk segera bertanya kepada kakak laki-lakinya, "Bisakah perempuan menyukai sesama perempuan juga?"
Suasana hati Uriel saat ini sedang agak rumit.
"Aku sendiri juga tidak tahu."
Saat ini Vanda bertanya dengan penuh semangat, "Bisakah kamu menjual rebungnya sekarang?"
__ADS_1
Lina berkata sambil terus memeluk tubuh Vanda, dia merasa enggan untuk melepaskannya, "Oke, berapa banyak rebung yang ingin kamu beli?"
"Aku akan membelinya sebanyak yang aku mau."
Jika soal makanan, mata Vanda akan selalu bersinar.
Lina masih mengambil kesempatan untuk menyentuh cakar Vanda yang besar dan berbulu, sambil berkata, "Jumlah barang-barang itu relatif banyak, kali ini kami tidak membawanya, semuanya kami letakkan di tempat teman, aku akan kembali ke tempat temanku untuk mengambil barangnya terlebih dulu, baru kemudian bisa menjualnya kepadamu, oke?"
"Kalau begitu kamu harus mempercepat prosesnya! Begitu kamu sudah mengambil barangnya, tolong segera beri tahu aku. Aku akan selalu ada di rumah, sambil menunggu kabar baik darimu."
Kali ini Lina menepuk cakar si Panda, "Jangan khawatir, aku pasti akan memberitahumu."
Setelah berpisah dengan Vanda, Lina mengikuti Uriel dan Azka kembali ke istana.
Saat ini Uriel sedang menggandeng tangan Lina. Gadis itu baru saja menyentuh harta nasional yang legendaris, yang membuatnya terlihat sangat bersemangat. Gadis itu juga berjalan sambil terus melompat-lompat di sepanjang jalan.
Uriel menatapnya sambil tersenyum, kemudian membuka mulutnya untuk bertanya, “Kamu terlihat sangat senang?”
“Tentu saja, aku baru saja menyentuh Panda. Itu benar-benar Panda! Aah!”
“Panda apa?” Tanya Azka yang ikut heran dengan apa yang telah Lina katakan. Lalu ia lanjut berkata lagi, "Dia itu Beruang bambu! Mereka terlihat besar dan gemuk, tubuhnya besar seperti bola rambut, dan mereka juga sangat malas. Selain makan atau tidur setiap harinya, mereka seperti tidak lagi mengejar kehidupan!"
"Kamu bahkan tidak bisa melihat kalau itu adalah harta nasional. Kamu layak menjadi lajang seumur hidupmu!" Ucap Lina kepada Azka.
"Harta nasional?" Azka memikirkan kebodohan Beruang bambu dan tidak bisa menahan tawanya. "Beraninya kamu menyebut mereka itu sebagai harta nasional? Kamu itu terlalu naif. Hahaha!"
Semasa Lina masih sering menonton TV, sering kali dia menonton program fauna, tentang Panda besar yang cantik dalam program itu.
"Hewan besar terindah di dunia adalah Panda!"
Saat Azka melihat kalau Lina sangat menyukai Beruang bambu, dia tidak lagi melanjutkan perdebatannya dengan Lina. Pada saat yang sama, diam-diam dia sedang memikirkan sesuatu, "Betina kecil ini sangat menyukai Beruang bambu. Mungkin ini adalah titik masuk yang bagus untukku."
...........
Setelah Kembali ke rumah, Lina dan Uriel memasukan semua barang yang telah mereka beli ke dalam ruang penyimpanan, dari cincin yang mereka pergunakan.
"Vanda ingin membeli rebung dari kita, tapi kalau kita tiba-tiba saja mengeluarkan rebung dalam jumlah yang banyak, bisa-bisa hal itu akan menjadi bahan pertanyaan orang-orang yang berada di sini."
Dengan kata lain, imam besar yang berpengetahuan luas dan banyak akal, bisa dengan mudah menyadari tentang keberadaan ruang penyimpanan.
Uriel berpikir sejenak, setelah itu berkata, "Panggil Leon untuk membantu kita."
"Hah?" Lina sangat terkejut saat mendengar apa yang baru saja Uriel katakan.
Lalu Uriel berkata lagi dengan hati-hati, "Kita bisa mengatakan kalau ada alat ajaib yang Leon miliki, yang bisa untuk menampung banyak hal. Dengan begitu, bisa untuk menghindari kecurigaan orang lain terhadap kita."
Tapi saat mendengar hal itu, Lina mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Apakah dengan begitu, tidak akan membawa masalah bagi Leon?"
"Kekuatan Leon cukup kuat, bahkan imam besar pun pasti tidak berani menyinggung perasaannya. Dan dia juga biasanya jarang sekali muncul, meskipun jika ada seseorang yang ingin mencari masalah dengannya, mereka pasti akan kesulitan untuk menemukan dirinya." Ucap Uriel.
Lina pun berpikir, "Aku rasa itu ide yang bagus."
Saat telah malam hari, Uriel membawa Lina ke puncak Gunung Suci lagi, di situ lah Lina mulai meniup piccolo yang diberikan Leon kepadanya.
"CIIT CUIT CUIT CICITCUIT!"
Suara suling terdengar sangat jernih dan nyaring, persis seperti kicauan burung. Jika ada orang yang mendengarnya, mereka pasti tidak akan bisa membedakannya.
Tak lama berselang, terlihat sosok merah menyala yang melesat turun dari langit, dan mendarat tepat di depan Lina.
"WUSSHH!"
"TAP! TAP!"
Lalu sosok itu mengulurkan tangannya untuk menyentuh si pria kecil yang ada di kepala Lina, dan kemudian jarinya bergerak turun mengusap pipi Lina. Kemudian berkata sambil tersenyum, "Gadis kecil, akhirnya kamu memanggilku."
Mendapat perlakuan seperti itu, Lina pun segera menyeka tempat yang habis disentuh oleh Leon, dan wajahnya tidak merasa malu.
"Tidak bisakah kamu bicara dengan baik-baik? Dan juga jangan selalu menggerakkan tangan dan kakimu seenaknya!" Tapi kemudian dia berhenti dan segera menjelaskan tentang kenapa Leon diminta untuk datang kemari.
Setelah mendengar semua penjelasan dari Lina, Leon pun tertawa licik sambil berkata, "Kamu boleh meminta bantuanku, tapi harus ada bayarannya."
Lina sudah tahu kalau Leon pasti akan bereaksi seperti ini, dia pun bertanya tanpa ekspresi terkejut, "Apa yang kamu inginkan?"
Lalu Leon melihat cincin yang ada di jari manis Lina dan berkata, "Apa kamu masih mempunyai cincin seperti itu? Berikan padaku satu."
Mendengar itu, Lina segera melangkahkan kakinya pelan-pelan untuk mundur dan segera menatap Leon dengan tatapan waspada.
"Benda ini tidak bisa diberikan kepadamu."
Semua barang-barangnya juga telah dia masukan ke dalam ruang penyimpanan, kecuali dirinya sendiri, Saga, Wiro dan Uriel, benda ini benar-benar tidak bisa diberikan kepada orang lain!
Melihat reaksi Lina yang begitu besar, Leon tidak hanya tidak berubah pikiran, tapi malahan menjadi semakin tertarik.
"Jangan khawatir. Aku tidak tertarik dengan rahasia yang ada dicincin itu. Aku hanya merasa penasaran. Aku hanya ingin sebuah cincin yang bisa aku mainkan dijariku. Mungkin aku akan mengembalikannya padamu saat aku sudah merasa bosan."
Tapi Lina menggelengkan kepalanya, kemudian berkata, "Tidak, cincin ini memiliki arti khusus, tidak bisa diberikan begitu saja kepada orang lain."
"Apa maksudmu?" Tanya Leon dengan heran.
"Cincin ini adalah cincin ikatan. Jika kamu memakainya, itu artinya kamu telah menyepakati kontrak dengan kami. Dan kamu juga tidak bisa melepas cincin ini sampai kamu mati."
Lina berpikir setelah dia mengucapkan kata-kata ini, Leon pasti akan berubah pikiran.
__ADS_1
Tapi dia tidak tahu, kalau saat ini rasa minat Leon terhadap cincin itu sangat kuat.