
Kristal yang termurah adalah yang tidak berwarna, yang lebih mahal dari itu adalah yang berwarna hijau, kemudian diikuti oleh biru, kuning, oranye, merah, ungu, hitam, dan emas.
Satu Kristal merah bernilai lima ratus batu tak berwarna.
Dan saat ini di tangan Leon terdapat lima Batu Kristal merah, yang setara dengan dua ribu lima ratus Batu Kristal tidak berwarna.
Apa yang Leon lakukan sudah membuat semua Orc yang hadir di situ tercengang.
"HAH!"
Banyak Orc yang memandang Leon untuk melihat siapa gerangan sultan lokal tersebut.
"Siapa dia?"
Banyak hadirin yang saling berbisik. Penampilan Leon memang terlihat sangat luar biasa, tapi ada juga yang beranggapan kalau Leon sangat aneh, dan orang-orang juga bisa melihat kalau dia adalah Orc luar. Kini banyak Orc yang sedang membicarakan tentang asal-usulnya.
"Aku belum pernah melihat orang itu."
"Iya. Sepertinya dia memang bukan asli dari kota ini."
Lina dan Uriel hanya terdiam, mereka berdua memainkan peran mereka, sebagai orang yang sedang memakan biji bunga matahari.
Setelah beberapa saat tercengang, Orc laki-laki yang bertanggung jawab atas jalannya acara pelelangan segera berseru, "Untuk saat ini, penawaran tertinggi adalah lima Batu Kristal merah. Apakah ada orang lain yang berani dengan harga lebih tinggi dari yang sekarang ini? Satu kali lima! Dua kali lima!"
Begitu kalimat itu selesai diucapkan, seorang Orc jantan yang juga sedang duduk di tribun mulai meneriakkan harga yang lebih tinggi.
"Aku punya delapan batu merah!"
Apa yang sudah pria itu katakan membuat semua orang kembali terkejut!
"Wah! Pria ini lebih sultan daripada pria yang tadi!"
Lina yang juga sedikit terkejut, menoleh untuk melihat kearah Orc yang baru saja ikut menawar. Seorang Orc muda dengan bulu merah, di sepuluh jarinya dipenuhi dengan cincin kristal merah.
"Bau-baunya, sepertinya dia itu tiran lokal."
Orc itu terlihat tampan, tapi ekspresi arogan di wajahnya terlalu sulit untuk dikalahkan.
"Yah, sepertinya dia jauh lebih buruk dari Leon!"
Leon hanya melirik Orc jantan itu, kemudian dia pun segera berseru dengan suaranya yang terdengar nyaring, "Sepuluh Batu Kristal merah!"
Pihak lain segera ikut menawar lagi, "Tiga belas Batu Kristal merah!"
Leon lanjut berseru, "Aku akan memberimu lima belas!"
"Aku akan memberimu dua puluh!"
Setelah mendengar itu, kini di wajah Leon mulai terlihat raut kemarahan. Wajahnya mulai terlihat memerah, dan alis kecilnya saling tertaut.
"Aku berikan tiga puluh!"
Pihak lain langsung kembali mengajukan penawaran lebih tinggi lagi, "Aku berikan lima puluh buah!"
Saat ini kembali sedang terjadi kegemparan.
"Hah?"
"Bunga benang emas hanyalah sebuah bunga langka, dan bentuknya juga tidak terlalu indah. Kenapa mereka terus saling menawar, dengan harga yang setinggi langit?!" Pikir beberapa Orc yang hadir di acara pelelangan.
__ADS_1
Bahkan Orc laki-laki yang bertanggung jawab atas pelelangan, juga tidak menutupi ekpresi kegembirannya.
"Penawaran yang begitu tinggi, dengan begini aku bisa mendapatkan bonus yang sangat tinggi!"
Pada saat ini Leon juga ingin menawar lagi, tapi segera dihentikan oleh Lina.
Lina menggelengkan kepalanya, kemudian berkata, "Harganya terlalu jauh dari target, meskipun kamu membelinya, tapi pasti akan menjadi kerugian yang sangat besar."
Uriel juga ikut berkata, "Saat kita sampai di Kota Matahari, kita bisa pergi ke pelelangan yang ada di sana. Acara pelelangannya lebih besar dari yang ada di sini. Dan juga ada lebih banyak barang yang dilelang. Mungkin saja di sana kita bisa menemukan bunga benang emas."
Secara alami Leon juga tahu kalau harganya sudah tidak sepadan lagi. Tapi Leon tidak tahan dengan sikap arogansi dari pihak lain. Dia pun mengangkat sudut mulutnya dan tertawa, "Jangan khawatir, aku tidak sebodoh itu, aku tidak akan melakukan hal seperti ini dengan asal-asalan. Aku hanya ingin bermain-main dengan Orc sombong itu!"
Lina sedikit heran saat mendengar apa yang Leon katakan. "Apa yang akan kamu lakukan?"
"Kamu lihat saja," kemudian Leon segera lanjut untuk menawar, "Aku akan berikan lima puluh satu Batu Kristal merah!"
Dengan cepat pihak lain terus ikut beraseru untuk menawar, "Aku berikan enam puluh Kristal merah!"
Leon juga tidak ingin kalah dan lanjut menawar lagi, "Aku berikan enam puluh satu!"
"Tujuh puluh!"
Tidak peduli seberapa banyak yang telah ditawar oleh pihak lain, Leon selalu hanya menambahkan satu kristal merah.
"Tujuh puluh satu!" Seru Leon.
Hal itu telah membuat pihak lain marah dengan caranya yang terlihat seolah sedang main-main, dan segera menyerukan penawaran tertingginya, "Seratus Batu Kristal merah!"
Semua Orc semakin terkejut.
"Seratus kristal merah?"
"Orc itu menghabiskan seratus Batu Kristal hanya untuk membeli bunga?"
"Hal seperti Ini sangat konyol sekali!" Pikir Orc yang lainnya lagi.
Menghadapi sorot mata sultan lokal yang seperti sedang menantang dirinya, Leon mengangkat salah satu sudut mulutnya dan tersenyum.
Orc yang bertanggung jawab atas pelelangan masih menunggu untuk waktu yang lama, tapi tidak juga melihat Leon menawar lagi.
"Satu kali seratus!"
"Dua kali seratus!"
"Apakah anda tidak akan menawar lagi, tuan?"
Leon menjawabnya sambil tersenyum, "Yah, aku menyerah. Bunga ini aku berikan kepada orang b*d*h, yang tidak tahu tempat untuk menghabiskan uangnya."
Begitu pria itu mendengar ejekan dari Leon, dia mulai terlihat sangat marah. Kemudian dia segera bangkit dan berkata dengan nada suaranya yang terdengar sangat marah, "Kau yang b*d*h! Seluruh keluargamu juga b*d*h!"
Mendengar itu, Leon segera menoleh, dia pun menatapnya sambil tersenyum dan bertanya, "Si b*d*h sedang memarahi siapa?"
"B*d*h sedang memarahimu!" Tanpa dirinya sadarai, Orc laki-laki itu menjawab pertanyaan Leon dengan segera.
Apa yang sudah Orc muda itu katakan, segera membuat para Orc yang hadir tertawa.
"HAHAHA!"
Pada saat itu juga, dia baru menyadari apa yang baru saja dirinya katakan. Dia pun memarahi dirinya sendiri dan terengah-engah.
__ADS_1
"B*NGS*T!"
"Jika bukan karena adanya aturan yang tegas dalam pelelangan, bahwa tidak dibolehkan ada perkelahian, aku pasti sudah akan bergegas untuk bertarung dengan Orc b*ngs*t itu!"
Kemudian dia segera menunjuk ke arah Leon dan berseru, "Kamu tunggu saja, ini semua belum berakhir!"
Tapi Leon tetap memakan biji bunga matahari dengan santai, tanpa memikirkan ancaman dari pihak lain.
Melihat penampilan sultan lokal yang sedang marah-marah, Lina merasa sedikit simpati padanya.
"Kasihan sekali, dia telah dipermainkan di depan umum!"
Lelang berikutnya adalah budak.
Lina sama sekali tidak tertarik, dia pun langsung berdiri.
"Ayo kita kembali saja."
Uriel segera melipat selimut bulu yang mereka jadikan sebagai alas untuk duduk, kemudian berjalan menuruni tribun dengan Lina di dalam pelukannya.
Begitu mereka berjalan keluar dari area tambang, mereka bertemu dengan pemuda berbulu merah itu lagi.
Di belakangnya, kini telah ada lebih dari selusin Orc yang terlihat kuat. Semuanya dari mereka adalah pembunuh.
Melihat hal itu, Lina segera berkata kepada Leon, "Apa yang tadi aku katakan benar kan! Kemampuanmu untuk menarik kebencian orang lain terlalu kuat. Kamu bisa menarik begitu banyak musuh hanya dalam hitungan menit saja. Lain kali, sebaiknya kamu tetap berada di rumah saja, jika tidak ada yang harus dilakukan. Tidak usah kemana-mana dan merugikan orang lain."
Suara Lina terdengar sangat lembut, dan pria muda itu tahu kalau itu adalah suara perempuan.
"Meskipun betina itu terbungkus jubah bulu dan aku tidak bisa melihat seluruh wajahnya, tapi dari matanya saja bisa terlihat dengan sangat jelas. Dia pasti wanita yang cantik!"
Sebelumnya, laki-laki itu sama sekali tidak memperhatikan tentang keberadaan Lina dan Uriel. Dia hanya ingin memberi Leon pelajaran dan akan membuatnya mengerti, betapa menyedihkannya bila berani mengganggu dirinya!
Tapi pada saat ini dia baru menyadari keberadaan Lina. Sultan lokal itu pun tiba-tiba saja berubah pikiran.
Kemudian dia berkata kepada Leon dan Uriel, "Jika kamu meninggalkan gadis ini sekarang juga, aku pasti akan pertimbangkan untuk melepaskan dirimu!"
Lina tercengang saat mendengar kata-katanya. Dia pun segera menunjuk dirinya sendiri.
"Apakah yang kamu maksud itu aku?"
Penampilan terkejut gadis kecil itu juga terlihat sangat imut, matanya menatap dengan bulat, terlihat seperti kelinci yang sedang ketakutan.
"Namaku Yudi. Aku putra dari penguasa di kota ini. Jika kamu bersedia pergi bersamaku, aku janji, kamu pasti akan menikmati semua kemegahan dan kekayaan di sisa hidupmu."
Baru pertama kali Lina menghadapi situasi yang seperti ini.
Pada saat yang sama dia juga akhirnya bisa mengerti, kenapa Yudi bisa sampai membayar dengan harga yang begitu tinggi, hanya untuk membeli bunga benang emas.
"Ternyata dia adalah anak dari pemilik Kota Kristal Merah ini, pantas saja dia bisa begitu bebas menghabiskan uangnya."
"Maaf, aku tidak tertarik, aku tidak akan pergi bersamamu."
Saat mendengar dirinya ditolak, wajah Yudi langsung terlihat sangat buruk.
"Kita lihat saja! Kau pasti akan mau!"
Setelah berkata seperti itu, Yudi segera mengedipkan mata pada para preman yang ada di belakangnya.
"Beri kedua laki-laki itu pelajaran yang keras. Kemudian bawa gadis yang tidak tahu berterima kasih itu kepadaku!"
__ADS_1