Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 142 - Hadiah Pertemuan Kita


__ADS_3

Meskipun telah mendengar apa yang Uriel katakan, Martin Nouh tetap bisa menebak, "Asal-usul anak ini yang sebenarnya pasti tidak biasa."


Namun karena Uriel dan Lina tidak mau mengatakan yang sebenarnya, Martin juga tidak ingin mempersulit orang lain, dan topik tentang itu pun berhenti.


Kemudian Martin tersenyum lembut dan berkata dengan suaranya yang terdengar hangat, "Terima kasih. Sekarang aku merasa jauh lebih baik."


Lina mengeluarkan rumput kerang yang sudah dikeringkan dalam jumlah yang besar.


"Obat herbal ini dapat menyembuhkan batuk anda, cukup merendamnya dalam air hangat. Setelah meminum dua cangkir setiap hari, tenggorokan anda akan terasa jauh lebih baik."


Melihat itu, Martin menunjuk ke meja yang ada di sampingnya.


"Letakkan saja di sana."


Rumput kerang yang Lina keluarkan dalam junlah yang banyak, hampir bisa digunakan selama lebih dari setengah tahun.


Tak lama kemudian, imam besar pun datang bersama dengan dua utusan.


Di tiga kota pusat, ada tiga kuil, yang masing-masing dipimpin oleh seorang imam besar.


Imam besar di Kota Matahari adalah Orc jantan yang bertubuh tinggi dan tampan. Dia selalu terlihat tersenyum. Meskipun sudah memasuki usia paruh baya, temperamennya terlihat lembut dan juga anggun. Membuat orang lain mudah untuk menyukainya.


Namanya adalah, Alan Rebes.


Alan Rebes mengenakan jubah yang berbeda dengan yang lainnya dan di lehernya terdapat Liontin Batu Kristal berwarna emas.


Ada lebih dari selusin pelayan yang ikut berjalan di belakangnya. Sebelum memasuki pintu, kebanyakan dari mereka segera berhenti dan hanya dua dari mereka yang tetap ikut berjalan di belakangnya.


Saat tiba di dalam kamar, kedua petugas itu segera menghentikan langkahnya, meletakkan satu tangan di dada mereka dan membungkuk.


Alan Rebes tidak perlu memberi hormat. Dia langsung berjalan menuju ke samping tempat tidur. Kemudian dia berkata dengan nada suaranya yang terdengar khawatir, "Rajaku, kudengar anda batuk darah lagi?"


Uriel segera membantu ayahnya untuk duduk.


Lalu Martin berkata, "Tidak perlu khawatir. Sekarang aku sudah lebih baik."


"Wajahnya masih terlihat sangat pucat, tapi suaranya tidak serak seperti sebelumnya." Alan yang melihat hal itu pun segera bertanya dengan heran, "Kondisi anda terlihat lebih baik. Apa yang sudah terjadi?"


Martin berkata sambil tersenyum, "Mungkin obat yang anda berikan untuk saya bekerja dengan sangat baik."


Tapi Alan Rebes merasa ragu.


"Benarkah?"


Memang Alan lah yang sudah meresepkan obat-obatan itu. Tentu saja dia juga tahu efek dari obat-obatan itu.

__ADS_1


"Paling-paling obat-obatan itu hanya bisa menghangatkan tubuhnya, tapi tidak bisa sampai menyembuhkan penyakitnya."


Seolah-olah tidak mendengar pertanyaan Alan, Martin berkata dengan penuh rasa syukur, "Saya telah sakit untuk waktu yang lama. Untungnya saya telah disembuhkan oleh anda, dan masih dapat hidup sampai sekarang. Terima kasih banyak!"


Lalu Alan Rebes menekan satu tangannya di dadanya.


"Semua ini adalah berkah dari sang Dewa."


Kemudian Martin mengangguk sambil berkata, "Terima kasih kepada para Dewa."


Lalu Alan Rebes meminta para utusan untuk membawakan semangkuk Obat.


"Rajaku, ini adalah air suci yang diberikan oleh para Dewa. Jika anda meminumnya, anda seharusnya bisa tidur dengan nyenyak dan terhindar dari penderitaan dan rasa sakit."


Setelah meminum air suci itu, Martin Nouh pun segera merasa sangat mengantuk.


Para pelayan segera membantunya untuk berbaring.


Kemudian yang lain mengikuti Alan Rebes keluar dari kamar Raja.


Saat telah berada di luar kamar, Alan melihat ke arah Uriel dan tersenyum dengan ramah.


"Saya belum melihat anda selama tiga tahun ini. Saya tidak menyangka kalau roh Binatang Buas anda telah meningkat lagi. Anda memang layak mendapatkan gelar keluarga kerajaan Kota Matahari yang paling jenius!"


Uriel sedikit mengangguk, kemudian berkata, "Imam besar terlalu memuji saya."


Uriel menyentuh kepala gadis kecilnya.


"Ya, dia biasa dipanggil Lina. Dia adalah pasangan saya."


Alan mengeluarkan sepasang anting-anting bertatahkan Kristal biru.


"Kali ini saya harus buru-buru untuk pergi. Saya tidak membawa sesuatu yang berharga. Kristal ini akan dianggap sebagai hadiah pertemuan kita untuk anda. Saya harap anda menyukainya."


Lina mengulurkan kedua tangannya untuk mengambil Anting-anting itu.


"Anting-anting yang sangat indah, terima kasih banyak atas kebaikan anda."


Lina berpikir setelah berkata seperti itu, Alan akan segera pergi, tapi kemudian Alan berkata lagi, "Pakai lah sekarang. Pasti cocok untuk anda."


"Tapi saya tidak mempunyai lubang telinga." Jawab Lina.


"Ketika seorang wanita telah tumbuh dewasa, dia akan dibantu oleh kerabatnya atau orang yang lebih tua, untuk membuatkan lubang di telinga," lalu Alan Rebes memandangnya. "Apakah orang tua anda tidak memberitahukan hal itu?"


"Orang tua saya sudah pergi lebih awal, jadi saya tidak tahu banyak hal," jawab Lina lirih.

__ADS_1


"Maaf, kata-kata saya mengingatkan anda dengan hal-hal yang menyedihkan."


Lina menggelengkan kepalanya kemudian berkata, "Tidak apa-apa, semuanya sudah berlalu, tidak masalah."


"Bagaimana jika saya yang membantu anda membuatkan dua lubang di telinga anda?" Tanya Alan Rebes sambil tersenyum. Kemudian dia berkata lagi, "Uriel dibesarkan olehku. Bisa dibilang aku juga setengah dari tetuanya. Jika aku membantu anda membuatkan lubang telinga, seharusnya tidak masalah buat anda."


Lina tidak pernah menyangka kalau Alan akan mengajukan hal seperti itu, hal itu membuat Lina sedikit terpana, tidak tahu bagaimana harus menjawabnya.


Melihat gadis kecilnya yang terlihat bingung, Uriel membuka suara untuk membantunya.


"Lina sangat takut sakit, lupakan saja hal untuk membuat lubang telinga, pokoknya tidak memakai juga tidak masalah."


"Tapi jika anda tidak memiliki lubang telinga, anda tidak akan bisa memakai Anting-anting yang indah ini." Ucap Alan Rebes.


Mendengar itu, Lina pun cepat-cepat berkata, "Tidak, tidak, saya tidak apa-apa."


Alan menunjukkan ekspresi penyesalannya dan berkata, "Yah, karena anda sudah bersikeras menolaknya, semuanya terserah pada Anda." Dia berhenti berkata sejenak, kemudian melihat Anting Kristal Biru yang ada di tangan Lina dan berkata lagi, "Sayang sekali anda tidak bisa memakai anting-anting ini. Bagaimana kalau saya memberi anda beberapa hadiah yang lain?"


"Tidak perlu repot-repot. Saya bisa menyimpannya dan memakaikannya pada putri saya, saat putri saya telah tumbuh dewasa," jawab Lina sambil tersenyum. Lalu dia berkata lagi, "Jika putri saya tahu kalau Anting-anting ini adalah Anting-anting pemberian dari imam besar, dia pasti akan merasa sangat terhormat."


Pujiannya jelas menyenangkan untuk di dengar oleh Alan Rebes. Alan pun berkata sambil tersenyum, "Anda terlihat sangat cantik."


"Terima kasih atas pujian anda." Jawab Lina.


Setelah itu Alan Rebes menatap Uriel dan tiba-tiba saja bertanya, "Anda kembali ke Kota Matahari dengan tiba-tiba. Anda pasti menghadapi beberapa kesulitan di luar?"


"Memang benar saya dalam masalah, tapi hal itu bukanlah masalah besar. Saya bisa menyelesaikannya sendiri," jawab Uriel.


"Meskipun anda tidak memiliki hubungan darah dengan saya, tapi sejak kecil anda sudah saya perlakukan seperti anak saya sendiri. Jika anda mengalami kesulitan, tolong beri tahu saya. Saya akan mencoba yang terbaik untuk membantu anda."


Di hadapan Alan Rebes yang berkata dengan perhatian, Uriel pun menganggukan kepalanya sambil berkata, "Akan saya ingat."


"Yah baiklah. Saya harus kembali dulu, saya juga akan selalu ada di kuil, saat saya sedang bebas."


Mendengar itu, Uriel pun mengangguk. "Kita akan bertemu lagi."


Setelah itu Alan Rebes pergi bersama para pelayannya.


Ketika mereka semua telah berjalan jauh, Lina menoleh ke arah Uriel dan bertanya dengan suara lirih, "Apakah kamu tidak mempercayai imam besar itu?"


"Bagaimana kamu tahu soal itu?" Uriel balik bertanya.


"Aku bisa merasakannya." Jawab Lina.


Meskipun komunikasi antara Uriel dan Alan tampak sangat harmonis, indra keenam dan sensitifitas wanita tetap bisa menangkap jejak sesuatu yang salah.

__ADS_1


"Alan Rebes sepertinya dengan sengaja atau pun tidak sengaja sedang menguji Uriel. Dan Uriel juga selalu menjaga kewaspadaannya tanpa cela, selalu menjaga kata-katanya setiap kali dia menjawab pertanyaan dari Alan Rebes." Pikir Lina.


Jika Uriel benar-benar mempercayai imam besar, dia pasti tidak akan menjaga sikapnya sampai seperti itu.


__ADS_2