Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 203 - Keras Seperti Batu


__ADS_3

Karena tubuhnya terlalu lemah untuk terbang jauh sambil membawa Lina, Leon pun menunda rencananya untuk segera kembali ke Gunung Batu. Jika dia memaksakan diri untuk terbang, tekanan pada ketinggian dan angin yang kencang pasti akan semakin memperparah kondisi tubuhnya.


Karena itulah, dia memutuskan untuk beristirahat dulu selama beberapa hari, dan membuat tempat tinggal sementara di sebuah pohon besar yang sangat rindang.


Ruangannya memang tidak luas, tapi setidaknya bisa untuk mereka berdua beristirahat memulihkan cedera mereka, sebelum mereka melanjutkan perjalanan mereka untuk kembali ke Gunung Batu.


Seprei bulu yang tebal, kini telah di gelar di ruangan yang sangat kecil itu. Dan juga, ada sebuah perapian kecil yang sangat sederhana di sudut ruangan. Sebuah hiasan dari bunga, secara khusus juga telah Leon gantung di dinding.


Tapi, setelah dia perhatikan lagi..


"Heh! Jelek sekali!"


Dia pun segera menurunkan kembali hiasan yang dia pasang dan membuangnya.


Kemudian, dia mencabut beberapa helai bulunya yang berwarna merah terang, dan menggantungnya di dinding ruangan, yang kini dia jadikan sebagai hiasan.


"Sudah kuduga, buluku memang yang paling indah!"


Pada saat ini, Kubucil bergerak dan dengan penuh kasih sayang mengusap-usap tangan Lina yang sedang berbaring dengan beralaskan seprei bulu, dan menggunakan bantal yang dia buat dari kulit binatang yang dia isi dengan beberapa daun.


"Ibu.." Ucap Kubucil dengan lirih.


Sejak Lina memasuki lautan kesombongan, Kubucil berada dalam keadaan tidak aktif, dan baru bisa kembali normal setelah mereka keluar dari tempat itu.


Mendapat sentuhan lembut dari Kubucil, Lina pun balas mengusap kuncup bunga Kubucil, sambil berkata dengan suaranya yang terdengar lembut, "Sayang.."


Leon yang sedang asik memandangi hiasan di dinding dari bulunya sendiri pun segera menoleh, saat mendengar suara-suara dari arah belakangnya. Saat dia melihat interaksi antara Lina dan si pria kecil, dia merasa, "Aku seperti sedang berada di rumah sendiri.."


Ruangan ini adalah tempat yang sudah dia bangun sendiri, dan mereka bertiga saat ini juga tinggal bersama di tempat ini.


...........


Pada saat ini, Lina yang tidak ingin membuat Uriel, Saga dan Wiro mencemaskan dirinya, menuliskan sebuah pesan untuk mereka pada sebuah lempengan batu, dan memberitahukan kepada mereka, kalau dirinya kini telah di selamatkan oleh Leon. Setelah itu, dia pun memasukkan kembali lempengan batu tersebut ke dalam ruang penyimpanan.


Tak berselang lama, Lina mendapat balasan pesan dari Uriel. Pesan pada lempengan batu itu berbunyi, "Di mana posisi kamu saat ini? Aku akan datang untuk menjemputmu."


Lina yang tidak tahu saat ini sedang berada di mana pun segera bertanya pada Leon, "Sekarang kita ada di mana?"


Tapi Leon sama sekali tidak menjawab pertanyaan Lina, malahan balik bertanya, "Memangnya kenapa?"


"Uriel ingin menjemputku." Kata Lina sambil mengguncangkan lempengan batu yang sedang dia pegang.


"Katakan saja padanya, supaya tidak usah khawatir. Saat lukamu benar-benar telah pulih, aku pasti akan membawamu kembali." Kata Leon kepada Lina.


"Mana mungkin aku akan membiarkan mereka menjemput Lina begitu cepat. Kesempatan untukku bisa berduaan seperti ini dengannya sangat langka. Aku harus bisa memastikan status kami dulu, sebelum kami kembali. Jadi, untuk apa gadis ini harus terburu-buru kembali ke Gunung Batu?!" Pikir Leon.

__ADS_1


Lina yang tidak ingin banyak berpikir pun segera menuliskan apa yang baru saja Leon katakan, dan memasukkan lempengan batu tersebut ke dalam ruang penyimpanan.


Setelah Uriel menerima pesan balasan dari Lina, dia sama sekali tidak mendesak supaya mereka cepat pulang, tapi dia menuliskan, "Baiklah, segera obati lukamu dan jaga dirimu baik-baik. Kami semua sangat merindukanmu." Uriel menuliskan ini, seolah-olah dia tahu apa yang sedang Leon pikirkan.


"Aku benar-benar ingin segera pulang! Aku juga sangat merindukan kalian.." Batin Lina.


Meskipun Lina telah rutin meminum obat-obatan, tapi luka di punggungnya masih juga belum pulih, seolah-olah obat-obatan yang dia minum tidak terlalu berpengaruh, dan proses penyembuhannya seperti sangat lambat.


Untung saja ada Bubu yang bisa menghalangi rasa sakit yang sedang Lina rasakan. Selain rasa sakit akibat dari dismenorhea, Lina juga meminta supaya Bubu juga menghalangi rasa sakit dari luka di punggungnya, yang terasa sangat sakit hingga terasa sampai ke dadanya.


...........


Karena setiap hari selalu mencium aroma darah segar yang baginya terasa manis, membuat suhu tubuh Leon meningkat, dan benda yang ada di antara kedua kakinya mengeras hingga sekeras batu, dan membuatnya merasakan sakit yang terasa sangat tidak nyaman.


"Jika saja gadis itu tidak terluka, sedari kemarin aku pasti sudah menindihnya!" Batin Leon yang saat ini sudah sangat gelisah, karena merasa sangat ingin menembakkan seluruh amunisinya, untuk melampiaskan hasratnya dan melemaskan juniornya yang sudah sekeras batu.


"Rasa ini benar-benar telah menyiksaku!" Batin Leon lagi.


Secara alami, Lina juga bisa menyadari dan mengetahui adanya perbedaan pada diri Leon.


Sebenarnya, saat ini dia lebih gugup daripada Leon. Setiap harinya, dia selalu merapatkan kakinya dan menutupi tubuhnya rapat dengan selimut, sambil kedua matanya selalu menatap setiap pergerakan Leon, karena takut jika tiba-tiba saja Leon akan menyergap dirinya.


Melihat keadaan Leon yang seperti sedang kesulitan, membuat Lina merasa sedikit simpati padanya. Dia pun memberanikan dirinya untuk memberikan saran kepada Leon, dengan sangat berhati-hati, "Kenapa tidak keluar saja mencari tempat, untuk menyelesaikannya dengan tangan.."


Mendengar itu, Leon pun segera menatap wajah Lina yang berkulit putih, lalu berkata dengan suaranya yang terdengar seksi, karena hasratnya yang saat ini sudah sangat memuncak, "Kamu pikir aku belum mencoba hal itu? Aku sudah mencobanya, tapi tidak berhasil. Sama sekali tidak mau keluar.."


"Memangnya apa lagi yang bisa dilakukan selain menahannya? Atau kamu mau membantuku menyelesaikan hal ini?" Tanya Leon yang sedang berharap.


Mendengar itu, Lina pun cepat-cepat menolaknya, "Tidak, tidak. Aku tidak sanggup melakukan tugas besar dan mulia seperti itu. Sebaiknya kamu cari orang lain saja!" Setelah berkata seperti ini, Lina teringat akan sesuatu, lalu dia lanjut berkata lagi, "Bukankah kamu pernah berkata kalau kamu memiliki kekasih? Temui dia dan mintalah bantuan padanya! Kamu kan memiliki sayap, meskipun jika kekasihmu berada jauh dari sini, tidak akan memakan waktu lama jika kamu terbang untuk menemuinya."


"Jika tidak mau membantuku menyelesaikan masalahku ini, tutup saja mulutmu!" Kata Leon sambil tersenyum menyeringai.


"Tapi ..."


"Jika kamu mengatakan satu kata lagi, aku akan segera melepas seluruh pakaianmu dan memasukkan benda kerasku, saat itu juga!" Ancam Leon yang segera menyela perkataan Lina.


Saat itu juga Lina tidak berani berkata apa-apa lagi, dan segera menutup mulutnya rapat-rapat, setelah mendengar ancaman dari Leon.


Karena sudah tidak sanggup lagi menahan hasratnya yang tidak juga bisa tersalurkan, Leon pun segera terbang keluar dengan marah.


"BLAK! BLAK! BLAK!"


Saat melihat Leon terbang pergi, Lina menganggap, "Dia pasti keluar untuk mencari tempat, bagi dia mencurahkan perasaannya.. Hihihi.." Gumam Lina sambil cekikikan.


Lina yang saat ini seorang diri dan mulai merasa bosan karena tidak melakukan apa-apa, akhirnya memutuskan untuk memanggil Bubu.

__ADS_1


"Bubu, bukankah kamu bilang kalau aku akan menjadi lebih kuat setelah membangkitkan Benih Suci? Sekarang katakan padaku, kekuatan seperti apa yang aku miliki?"


"Apakah anda tidak merasakan, kalau saat ini kulit anda menjadi semakin halus?" Kata Bubu.


Setelah mendengar apa yang Bubu katakan, saat itu juga Lina menyentuh wajahnya dan mencoba untuk merasakan kulitnya, "Hmmm.. Memang terasa semakin halus.. Hah?! Bukan seperti ini! Apa yang aku inginkan bukanlah kulit yang halus! Yang aku inginkan adalah menjadi lebih kuat dari aku yang sekarang!"


"Penampilan adalah senjata paling ampuh bagi wanita. Jika penampilan anda menjadi lebih cantik, bukankah itu artinya anda telah menjadi lebih kuat?"


Lina, "....."


"Cepat, tunjukkan wajahmu! Aku janji tidak akan sampai membunuhmu!" Kata Lina yang saat ini sudah mulai kesal dengan Bubu.


"Kedepannya, anda akan jadi lebih dan lebih cantik lagi, lebih dan semakin lebih menarik lagi. Bukankah itu sangat menakjubkan!" Kata Bubu.


Mendengar itu, Lina pun menggertakkan giginya dan segera bertanya, "Jadi maksudmu, satu-satunya kekuatan dari Benih Suci adalah merubah penampilanku menjadi lebih baik, gitu?!"


Jika itu masalahnya, Lina sangat ingin mengeluarkan Bubu dari otaknya, dan memukulinya hingga sangat parah!


"Anda tenang dulu. Itu baru salah satunya saja, masih banyak kekuatan yang lainnya." Kata Bubu.


"Apa lagi?!" Tanya Lina yang kini sudah semakin tidak sabar dengan Bubu.


"Anda bisa menyembuhkan luka dengan lebih cepat, memungkinkan anda untuk memiliki kemampuan berkomunikasi dengan tumbuh-tumbuhan, selain itu, anda juga bisa menyatukan kontrak antara Master dan Budak dengan tanaman. Dan, jika suatu saat nanti pohon ilahi telah berbunga, anda juga bisa memiliki tubuh yang abadi." Kata Bubu.


"Kalau memang begitu, kenapa tidak ada tanda-tanda lukaku bisa cepat sembuh?" Tanya Lina dengan penasaran.


"Ada syarat utama supaya anda bisa melakukan penyembuhan dengan cepat, yaitu, anda harus bisa berkomunikasi dengan tanaman. Dengan begitu, tanaman tersebut akan bisa memberikan sebagian dari vitalitas mereka, untuk membantu anda menyembuhkan luka dengan cepat." Kata Bubu.


"Lalu, bagaimana caranya supaya aku bisa berkomunikasi dengan tanaman?" Tanya Lina dengan ekspresinya yang terlihat sedikit bingung.


"Bagaimana saya tahu soal itu? Saya hanya sebuah program yang bahkan tidak memiliki bentuk." Jawab Bubu seenaknya.


Lina, "....."


Saat ini Lina merasa sangat ingin membawa serta Bubu, untuk jatuh ke dalam jurang yang sangat dalam!


"Kamu sudah membohongiku! Kembalikan sepuluh ribu poin tugasku!" Kata Lina dengan sangat marah!


"Jangan terlalu bersemangat seperti itu." Kata Bubu.


"Aku marah! Sangat marah! Cepat tunjukkan wajahmu! Aku pukuli kamu sampai babak belur!" Kata Lina yang sudah semakin kesal dan geram, sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Meskipun saya tidak tahu bagaimana caranya berkomunikasi dengan tanaman, tapi, ada orang lain yang tahu caranya." Kata Bubu yang mencoba untuk menghibur Lina.


"Huh! Apa kamu sedang berusaha untuk membohongiku lagi?" Tanya Lina dengan sedikit tidak percaya.

__ADS_1


"Saya ini ayah anda. Saya terlalu menyayangi anda. Mana mungkin saya tega membohongi anda?" Kata Bubu.


__ADS_2