
Pada saat ini, Lina dan Uriel kembali ke istana untuk mengemasi barang-barang bawaan mereka, tapi mereka tidak membawa banyak barang bawaan, jadi, mereka pun berkemas dengan cepat.
Uriel memasukan kantong kulit kecil ke dalam ruang penyimpanan, lalu dia berkata kepada Lina, "Aku akan pergi ke Kamar Dagang, untuk menyelesaikan urusan penjualan sayuran dan buah-buahan selama dua hari ini. Apa kamu ingin tetap di istana sampai aku kembali? Atau kamu ikut pergi denganku ke Kamar Dagang?"
Lina berkata, "Aku ikut denganmu pergi ke Kamar Dagang saja."
Lina tidak akrab dengan lingkungan di istana, dia pun merasa tidak memiliki rasa aman jika tinggal di istana seorang diri. Tapi jika bersama dengan Uriel, dia jauh lebih merasa aman.
Saat itu juga, Uriel membopongnya dan segera membawa Lina pergi. Tapi sebelum mereka keluar dari istana, Uriel berkata kepada Lina, "Wanita biasanya tidak menginjakkan kaki mereka di sana untuk menghindari masalah, karena ada begitu banyak orang di Kamar Dagang. Bagaimana kalau aku membawamu ke rumah Vanda si Beruang bambu? Apa kamu mau menunggu di sana sampai urusanku selesai?"
Saat memikirkan akan bisa melihat Panda lagi, Lina pun merasa sangat senang.
"Ya ya. Itu usulan yang bagus!"
Dalam perjalanan mereka keluar dari istana, Lina tidak bisa menahan pertanyaan yang sangat ingin dia tanyakan, "Kenapa kamu dan Azka membawa jenazah ayahmu ke atas gunung?"
"Menurut aturan di sini, setelah seorang Raja meninggal, jenazahnya akan dibuang ke Gunung Suci. Setelah itu, Dewa akan turun untuk mengambil roh mereka," kata Uriel mencoba untuk menjelaskan kepada Lina.
Lina yang setengah percaya saat mendengar hal itu pun segera bertanya lagi, "Apakah benar-benar ada Dewa dan roh?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu," jawab Uriel. Setelah jeda sejenak, lalu dia lanjut berkata lagi, "Tapi aku ingin saat ayahku meninggal, arwahnya bisa bersatu kembali dengan ibuku."
Sejak memasuki istana, Lina belum pernah melihat kakak tertua Uriel dan sang Ratu, dan juga tidak ada satupun dari keluarga Uriel yang membicarakan tentang hal itu dengannya. Meskipun Lina merasa bingung, tapi dia tidak punya niat untuk bertanya tentang hal itu.
Tapi Hari ini, untuk pertama kalinya Lina mendengar Uriel membicarakan tentang ibunya. Kini Lina tahu kalau ibu Uriel telah tiada.
Lina memeluk leher Uriel dan berkata dengan lembut, "Kedua orang tuamu pasti sangat bahagia, setelah mereka bersatu kembali."
"Aku juga berharap begitu.." Jawab Uriel.
...........
Rumah Vanda si Beruang bambu, berada di lingkungan para bangsawan.
"Dinding halaman rumahnya sangat tinggi! Di balik pagar rumahnya, aku bisa melihat halaman luas yang penuh dengan kebun bunga dan pepohonan."
Saat Lina melihat Vanda, dia sedang berbaring di tempat tidur gantung di bawah sinar matahari.
Hammock yang dia gunakan, terbuat dari kulit binatang yang diikat di antara dua pohon.
Tempat tidur gantung yang Vanda pakai untuk tidur, dibuat khusus supaya lebih kuat, karena tubuh Vanda yang gemuk.
Saat Vanda melihat Lina datang kerumahnya, dia pun segera duduk dari tempat tidur.
"Lina, aku tidak menyangka kamu akan datang ketempatku, ada apa?"
__ADS_1
Lina pun berkata sambil tersenyum manis, "Uriel sedang ada urusan. Bolehkah aku di sini sebentar sambil menunggunya, sampai urusan Uriel selesai? Aku pasti tidak akan mengganggumu."
“Tidak, apa! Aku malahan senang kamu bisa datang kemari." Setelah berkata seperti itu, Vanda meminta orang-orang untuk membentangkan selimut bulu di atasa rumput, lalu mempersilahkan Lina untuk duduk. Kemudian, para pelayan meletakkan buah-buahan yang segar di depan mereka.
Lina mengeluarkan biji bunga matahari goreng dan mereka pun mengobrol sambil makan camilan.
"Aku akan pergi hari ini," kata Lina kepada Vanda.
Mendengar itu, Vanda pun segera bertanya, "Mau pergi kemana?"
"Kami berencana akan pulang." Jawab Lina.
"Bukankah rumahmu di istana?" Tanya Vanda sambil mengerutkan alisnya.
Lina tidak menjawab pertanyaan Vanda, dia hanya menggelengkan kepalanya.
Sebenarnya, Vanda juga sangat enggan untuk melepaskan Lina, dia pun bertanya, "Apa kamu akan kembali lagi kemari?"
"Aku tidak tahu." Jawab Lina apa adanya.
Kota Matahari adalah kampung halaman Uriel, tempat di mana dia dibesarkan. Lina juga berharap, "Jika suatu saat ada waktu luang, aku ingin bisa kembali kemari. Tapi sekarang keadaannya menjadi rumit. Aku bisa kembali kemari atau tidak, itu semua tergantung pada Azka dan imam besar." Pikir Lina.
Vanda sedang merasa sedikit kecewa, "Jika kamu tidak akan pernah datang lagi ke Kota Matahari, itu artinya aku tidak akan bisa makan buah dan sayuranmu lagi dong?"
Bahkan keluarganya juga jatuh cinta dengan rasa buah dan sayuran milik Lina, hingga seluruh keluarga Vanda juga ikut memakannya.
Buah-buahan dan sayuran yang mereka timbun telah dikonsumsi dengan sangat cepat, dan diperkirakan akan segera habis.
Lina juga merasa sangat tidak berdaya, dia pun berkata, "Aku tidak bisa, Kota Matahari terlalu jauh dari rumah kami. Bahkan jika aku ingin menjualnya kepadamu, aku juga tidak bisa mengantarkan."
"Apakah sekarang kamu masih mempunyai buah dan sayuran? Terutama rebung. Aku ingin membeli lebih banyak lagi!"
Masih ada banyak persediaan di dalam ruang penyimpanan, tapi Lina merasa tidak nyaman jika dia mengeluarkannya sekarang. Jadi dia hanya bisa samar-samar berkata, "Tunggu sampai Uriel kembali, aku akan menanyakan tentang hal ini padanya."
Umumnya, para Orc betina hanya bertanggung jawab untuk makan, minum, dan bereproduksi. Sedangkan para Orc jantan bertanggung jawab atas pekerjaan rumah tangga. Oleh karena itu lah, Vanda tidak merasa ragu saat mendengar jawaban Lina yang seperti itu dan penuh dengan harapan, sambil menunggu kedatangan Uriel.
Kini mereka berdua pun menunggu kedatangan Uriel.
Tapi Lina tidak menduga, kalau orang yang datang bukanlah orang yang sedang dia tunggu.
"Azka?"
Hal pertama yang disukai Vanda dalam hidupnya adalah rebung, dan yang kedua adalah Azka Nouh.
Begitu Vanda melihat Azka datang, wajahnya langsung berubah sangat ceria dan tersenyum gembira.
__ADS_1
"Azka. Kamu datang kemari?"
Tapi kata-kata pertama yang Vanda dengar dari mulut Azka adalah, "Aku datang ke sini untuk mencari Lina. Bisakah kami bicara berdua saja?"
Mendengar hal itu, seketika senyum Vanda menghilang dan wajahnya terlihat seperti membeku.
Pertama-tama dia melihat kearah Azka, lalu melihat ke arah Lina. Setelah itu, dia seperti mengerti akan sesuatu, dan kemudian dia menangis.
"Kamu.. Kamu sudah menusukku dari belakang.. Huhuhuhuuu.."
Melihat Vanda yang menangis, Lina pun cepat-cepat menghiburnya.
"Vanda, jangan menangis. Hubunganku dengan Azka tidak seperti yang kamu bayangkan ..."
Tapi sayangnya Vanda tidak mau mendengarkan penjelasan Lina. Sambil menangis, diapun segera berlari pergi dari situ.
Lina segera mengulurkan tangannya untuk menahan supaya Vanda tidak pergi, sambil berseru, "Tunggu dulu. Jangan pergi!"
Meskipun tubuh Vanda gemuk, tapi dia bisa berlari dengan sangat cepat. Hanya dalam sekejap mata, keberadaannya sudah tidak terlihat lagi.
Di belakang Lina, Azka melambaikan tangannya untuk menyuruh semua pelayan pergi dari sini.
Kini hanya ada dua orang yang tersisa, Lina dan Azka.
Sekarang Azka telah berhasil naik takhta dan telah menjadi Raja yang baru untuk Kota Matahari.
Azka memakai kalung yang berbentuk seperti kacang polong yang melambangkan tahta, dan terlihat juga tato Harimau yang ada di dadanya. Bentuk tato Harimau itu persis sama dengan patung Harimau di gerbang istana, dan terlihat juga cakarnya yang tajam dan terlihat garang.
Di telinga kirinya, Azka memakai anting-anting berbentuk tetesan air dari safir sebening kristal. Bahkan seorang Lina yang tidak mengerti tentang safir pun dapat merasakan, "Betapa lembutnya energi yang dipancarkan oleh batu safir itu. Itu pasti batu yang berharga."
Azka sedang menatap Lina, mata birunya terlihat bersinar, tapi tidak sejelas seperti sebelumnya.
Sepertinya di dalam pikirannya, sedang ada beberapa hal yang lebih kompleks yang tidak bisa dipahami oleh Lina.
Karena Azka terlihat sangat mirip dengan Uriel, perasaan akrab membuat Lina tidak merasa takut.
Lalu Lina mengerutkan keningnya dan berkata, "Kamu kan tahu kalau Vanda menyukaimu. Kalau kamu mengatakan hal seperti itu di depannya, dia pasti akan salah paham tentang hubunganmu denganku. Nanti kamu harus menjelaskan semua kesalah pahaman ini pada Vanda, agar dia tidak sedih lagi."
Azka berkata, "Meskipun jika dia salah paham, hal itu tidak masalah. Bagaimanapun juga, aku tidak menyukainya. Aku tidak pernah ingin menikahinya."
Lina memikirkan tentang Vanda, "Gadis yang begitu cantik, yang sedang jatuh cinta dengan seorang laki-laki, tapi laki-laki itu tidak mencintai dirinya. Kasihan Vanda.. Tapi bagaimanapun juga, ini adalah masalah pribadi antara Azka dan Vanda."
Lina sebagai orang luar, tidak ingin banyak bicara soal urusan mereka.
"Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?" Tanya Lina kepada Azka.
__ADS_1