
Azka tidak menjawab pertanyaan Lina, tapi malah balik bertanya, "Aku dengar kalau kamu dan kakakku akan segera meninggalkan Kota Matahari?"
"Ya, kami akan pulang." Jawab Lina.
"Bukankah di sini rumahmu?" Tanya Azka kepada Lina.
Mendengar apa yang Azka tanyakan, Lina merasa ada yang lucu.
"Tadi Vanda juga menanyakan pertanyaan seperti itu padaku. Tapi aku bisa mengerti. Dia bertanya seperti itu karena dia bertanya dengan tulus, tapi apa yang kamu tanyakan berbeda dengan dia. Kamu sendiri juga yang paling tahu daripada siapa pun, kenapa Uriel dan aku buru-buru pergi."
"Aku tidak akan melakukan apa pun padamu. Kamu bisa tinggal di sini dengan tenang," kata Azka sambil menatap mata Lina. Lalu dia lanjut berkata lagi, "Lagipula, kita akan selalu menjadi keluarga."
Lina menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Kami tetap harus kembali, anak-anak dan teman-temanku masih menunggu kami untuk pulang ke rumah."
Azka, "....."
Setelah diam untuk sesaat, Lina lanjut berkata lagi, "Jika Uriel bersedia, dia bisa datang menemuimu di Kota Matahari setiap ada waktu. Jadi, hubungan antara kamu dan Uriel sebagai saudara tidak akan pernah terputus."
Tapi Azka menatapnya dan bertanya, “Bagaimana denganmu? Apa kamu tidak akan pernah kembali ke Kota Matahari lagi?”
Lina berpikir, "Aku benar-benar tidak ingin datang ke sini lagi. Di kota ini hanya ada Orc karnivora. Sayuran dan buah-buahan yang kami tanam, tidak terlalu banyak peminatnya di kota ini. Jika di sini ada lebih banyak Orc herbivora, aku pasti akan mempertimbangkan untuk kembali ke sini beberapa kali lagi, untuk melakukan bisnis."
Setelah berpikir seperti itu, Lalu Lina menjawab dengan maksud samar, "Tergantung situasinya."
Mendengar itu, Azka merasa tidak puas dengan jawaban dari Lina.
"Apa maksudnya dia mengatakan tergantung pada situasinya? Apa dia hanya asal-asalan menjawab pertanyaanku?"
Lalu Azka meraih tangan Lina, sambil mengerutkan keningnya dan bertanya, “Kenapa kamu selalu menolak permintaanku? Apakah di hatimu aku sama sekali tidak bisa menandingi kakakku?”
Lina merasa ketakutan dengan pertanyaan Azka yang tiba-tiba, hingga lupa untuk membebaskan dirinya. Lina pun menatap Azka sambil berkata, "Aku tidak berpikiran kalau kamu tidak bisa dibandingkan dengan Uriel ..."
Namun Azka tampaknya tidak mendengar apa yang Lina katakan, dia masih dengan agresif berkata, "Kamu dan orang lain berpikir kalau aku tidak sepintar dan sekuat saudaraku dan akan selalu menjadi yang kedua."
"Apa yang kamu bicarakan? Aku tidak mengerti sama sekali. Biarkan aku pergi." Ucap Lina.
Alih-alih melepaskan Lina, Azka mengambil langkah untuk semakin mendekati Lina dan menekan tubuhnya ke pohon, dengan tangannya yang kina telah dia rentangkan di kedua sisi Lina, untuk mencegah Lina kabur darinya.
Lalu dia menundukkan kepalanya, supaya lebih dekat dengan Lina, sambil berkata, "Aku sudah berusaha keras, tapi kalian semua selalu menutup mata, dan dimatamu juga hanya selalu ada Uriel."
Lina yang telah terjepit di antara Azka dan batang pohon yang keras, sudah tidak ada lagi celah untuk menghindar, dia hanya bisa berjuang untuk melepaskan dirinya dari belenggu Azka.
Tapi kekuatannya terlalu kecil untuk mendorong tubuh Azka.
__ADS_1
Lina mulai merasa sangat khawatir, hingga wajah kecilnya memerah.
"Azka, tenanglah! Tenangkan dirimu!"
Tapi Azka malahan mencubit dagu Lina dan memaksanya untuk mengangkat kepalanya.
"Tetap tinggal, dan jadilah pendampingku. Aku bisa memberikanmu kekayaan tanpa batas. Dan juga, bukankah kamu menyukai beruang bambu? Jika kamu tetap tinggal, setiap hari kamu bisa datang untuk mengunjungi Vanda."
Lina merasa kalau saat ini Azka seperti sudah sangat tidak normal. Dia sekarang seperti laki-laki yang pemarah, matanya penuh dengan kekejaman.
"Aku takut melihat dia yang seperti ini."
Lalu Lina berkata dengan suaranya yang terdengar bergetar.
"Aku kakak iparmu, mana mungkin aku bisa bersamamu ..."
"Tidak, aku tidak pernah menganggapmu sebagai saudara ipar," lalu Azka mencondongkan tubuhnya untuk semakin mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Lina, dengan tatapan mata birunya yang kini telah terkunci pada Lina. Kemudian dia berkata lagi, "Aku sangat menyukaimu. Aku ingin menjadi pasanganmu dan menghabiskan hidupku bersamamu."
Meskipun merasa sangat takut, namun Lina tetap berusaha untuk tetap tenang.
“Tidak, aku bisa merasakan, kalau kamu sama sekali tidak menyukaiku.”
Mendengar apa yang Lina katakan, membuat Azka terkekeh, "Kamu salah, aku sangat menyukaimu. Sangat menyukaimu!"
"Hm? Karena kamu tidak percaya kalau perasaanku padamu itu benar, aku akan membuatmu merasakannya sendiri." Kata Azka sambil tersenyum. Lalu tiba-tiba saja dia mencium bibir Lina!
Lina yang takut untuk membuka matanya saat mendengar apa yang Azka katakan, kini tengah berjuang mati-matian untuk melepaskan dirinya.
"Lwepwaskan! Jwangwan!"
Azka mengandalkan kekuatannya yang tinggi, untuk tetap memegangi Lina dan mengabaikan perjuangan dan perlawanan dari Lina.
Dia tetap memegang dagu Lina dengan satu tangan dan tangannya yang lain memegangi bagian belakang kepala Lina, memaksa Lina untuk menerima ciuman darinya, yang tidak begitu lembut.
Kini Lina mulai menangis.
"Aku tidak menyukai Azka. Aku juga tidak ingin dicium olehnya! Siapa yang akan menyelamatkanku?"
Pada saat ini, tiba-tiba saja si kuncup bunga kecil yang masih tertidur di kepalanya, mengangkat kuncup bunganya. Kelopaknya yang berwarna merah muda, dalam sekejap berubah menjadi hitam. Kini kuncup bunganya telah berkembang menjadi bunga teratai, yang ukurannya lebih dari sepuluh kali lebih besar dari sebelumnya, dan mencoba untuk menggigit kepala Azka dengan seluruh kekuatannya!
"AAA!"
Saat Azka merasakan adanya bahaya, dengan cepat dia segera melepaskan Lina, hanya untuk menghindari serangan dari si pria kecil.
__ADS_1
"HUP!"
Melihat hal ini, Lina segera mencoba untuk menyeka kelembaban di bibirnya, dan mengangkat tangannya untuk memberikan tamparan keras di wajah Azka!
"PLAK!"
"AH!" Hal itu telah membuat Azka terpana.
Ini adalah pertama kalinya dia ditampar wajahnya. Untuk sesaat, Azka tidak tahu bagaimana harus bereaksi.
Lina yang bibirnya digigit, kini terlihat merah dan bengkak, dan matanya juga memerah. Terlihat juga dua tetes air yang tergantung dari sudut matanya.
Saat melihatnya, Azka tiba-tiba merasa tertekan.
Dia tidak bisa menahan dirinya untuk segera mengatakan, "Jangan menangis.."
Lina menarik napasanya dalam-dalam, berusaha untuk menenangkan dirinya supaya tidak menangis! Kemudian dia berseru, "Aku tidak akan pernah menangis, untuk orang sepertimu!"
Pada saat ini, kuncup bunga kecil mengulurkan tangannya dan dengan lembut mengusap pipi Lina.
"Ibu, jangan sedih. Aku akan membantumu menghabisinya."
Tapi, bukannya Lina merasa senang saat mendengar itu, dia malahan sangat terkejut. Meskipun sekarang bukanlah waktu yang tepat, tapi Lina tetap bertanya kepada Kubucil, "Kamu? Sekarang kamu bisa mengatakan begitu banyak kata? Bukankah sebelumnya kamu selalu berbicara hanya sepatah dua patah kata?"
Dan bentuknya kini menjadi jauh lebih besar dari sebelumnya.
Lalu kuncup bunga kecil berkata dengan lembut, “Aku tidak hanya telah tumbuh dewasa dan bisa mengatakan banyak kata, tapi juga bisa melindungi ibu.”
Setelah mendengar itu, Lina mengusap kelopak bunga si kuncup bunga kecil, lalu menatap Azka dengan sorot matanya yang terlihat marah.
"Azka, aku tidak peduli bagaimana kamu sudah memperlakukanku, tapi Uriel pasti tidak akan pernah bisa begitu. Selain itu, dia selalu menjaga dan menganggapmu sebagai saudara. Jika dia sampai tahu pikiran dan hatimu yang gelap, apakah kamu bisa membayangkan akan seperti apa sengsaranya Uriel?"
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya," kata Azka dengan raut mukanya yang terlihat seperti mengiba.
"Jika itu memang benar, itu artinya kamu benar-benar binatang!" Ucap Lina tegas.
Lina sudah tidak ingin melihat Azka lagi. Setelah berkata seperti itu, dia menyentuh kelopak bunga si kuncup bunga kecil sambil berkata, "Kubucil, ayo kita pergi."
Sebelum pergi, si kuncup bunga kecil melambaikan daunnya yang tajam ke arah Azka.
"Jika kamu berani coba-coba mengganggu ibuku lagi, aku pasti akan mencabik-cabik dirimu!"
Setelah berkata seperti itu, dia berubah kembali ke wujud sebelumnya, si kuncup bunga kecil berwarna merah muda dan kembali bersandar di kepala Lina.
__ADS_1
Seolah-olah, keganasan yang tadi dia tunjukkan, hanyalah sebuah ilusi.